Pasang Surut Hidup Sang Presiden Tato Indonesia
Semua Foto oleh Iyas Lawrence.
Culture

Pasang Surut Hidup Sang Presiden Tato Indonesia

Bob Sick, seniman legendaris dari Yogyakarta, berupaya bangkit setelah mengalami kecanduan narkoba, trauma represi Orde Baru, hingga kejatuhan pasar seni rupa Indonesia.
16 Desember 2016, 1:28am

Hanya ada satu manusia yang memiliki gelar 'Presiden Tato Indonesia'. Dialah Bob Sick.

Saya mulai mengetahui Bob Sick saat menginjak bangku SMA di Yogyakarta, 12 tahun lalu. Waktu itu Bob Sick kerap menari di panggung pada saat band Teknoshit tampil, seperti orang kerasukan arwah leluhur. Setiap kali Bob Sick muncul di panggung, ajojing ke sana ke mari sesuka hati, perhatian penonton tercurah padanya. Lama-lama saya semakin tertarik mengetahui siapa sebenarnya sosok penuh tato itu. Sayangnya, cerita-cerita mengenai sosok Bob Sick hampir menyerupai mitos.

Alkisah, dia pernah menjadi musisi paling digemari di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta era 90-an, padahal tak becus memainkan alat musik. Seniman bernama asli Bob Yudhita Agung itu juga konon diculik militer beberapa jam pada periode genting reformasi 1998. Dua tahun lalu, sosoknya sempat meramaikan jejaring sosial dan media massa, lantaran ditolak sembilan biro perjalanan ketika ingin menunaikan ibadah umroh. Itu belum termasuk pertanyaan menggelitik, tato apa yang pertama kali dia buat, dari ratusan rajah yang kini memenuhi sekujur tubuhnya. Seniman lukis karismatik di Indonesia ini mengikhlaskan tubuhnya menjadi galeri tato berjalan.

Pertanyaan-pertanyaan itu mustahil terjawab, kecuali saya bertemu langsung Bob Sick. Persoalannya, dua tahun terakhir dia seakan menghilang, terutama setelah cerita umrah itu menyebar di dunia maya. Dia sulit ditemui walau kabarnya sempat menggelar pameran April tahun ini. Misterius.

Dari informasi seorang kawan, saya memperoleh titik terang. Saya menghubungi Iwan Wijono, sahabat Bob Sick. "Tahun kemarin dia itu harus terapi narkoba untuk satu tahun engga boleh pulang. Baru dua bulan sudah engga betah," kata Iwan.

Ternyata itu penyebab Bob Sick tiba-tiba 'hilang'. Kecanduan narkoba. "Mood-nya suka drop kalau sendirian dan engga bisa berkesenian. Jadi kita temani biar dia happy," ungkap Iwan.

Seperti itulah Bob. Meski sudah pernah overdosis tiga kali, dan semuanya hampir merenggut nyawanya, Bob tak pernah kapok mengonsumsi substansi adiktif: ekstasi, acid, sabu-sabu, heroin; sebut saja.

Sabtu siang kami meluncur ke rumah Bob di Jalan Godean, Yogyakarta. Rumahnya terletak di kompleks yang cukup asri. Ukuran rumahnya tergolong besar. Garasinya berubah fungsi menjadi tempat menyimpan semua perlengkapan melukisnya.

Bob memakai celana camo selutut dan kaos hijau. Sepatu boot tingginya nampak kebesaran di kakinya yang kurus. Kami duduk di studionya di lantai dua. Sambil ngobrol Bob tak henti-hentinya merokok sambil menutup hidung. "Langit-langit mulutku sudah engga ada, jadi kalau merokok harus menutup hidung biar asapnya nggak keluar lagi," kata Bob membuka obrolan.

Pemakaian zat-zat adiktif yang jor-joran juga membuat gigi Bob rontok, menyisakan beberapa saja. Dia lagi sibuk bolak-balik dokter gigi untuk mencabut sisa-sisa tersebut dan menggantinya dengan satu set gigi palsu. "Rumah ini aku beli dulu tahun 2008 pas booming karya," ujar Bob. Uang ratusan juta kala itu mudah didapatkan seniman asal Indonesia, karena karya-karya mereka dihargai mahal kolektor luar negeri. Kurang dari dua tahun, harga anjlok, membuat banyak pelukis kelimpungan akibat tak tertib mengelola duit. "Pasang surut seperti itu sudah biasa," imbuhnya.

Pasar memang tak bisa diprediksi. Meski pasar seni rupa sedang jatuh, hal tersebut tak pernah memadamkan semangat Bob. Dia masih tetap mencurahkan segalanya pada kanvas. Puluhan lukisan tersimpan rapi di lantai dua rumahnya. "Mungkin untuk pameran tahun depan," ujar Bob sambil menunjuk ke deretan lukisan karyanya.

Di luar adiksinya, Bob salah satu seniman yang berada di garda depan seni kontemporer Indonesia. Karya-karyanya menghiasi dinding galeri di pelbagai negara. Gambar-gambarnya biasa berupa manusia dalam proporsi yang aneh, surealisme dengan cipratan seni pop. Mirip coretan komik zine. Puluhan bahkan ratusan lukisan sudah dihasilkan. Harga lukisan Bob paling mahal dibanderol Rp150 jutaan. Beberapa kolektor baik dalam maupun luar negeri masih setia membeli karyanya. Lukisannya terakhir dibeli kantor agensi Saatchi & Saatchi, kata Bob.

Bersama kawan-kawannya dia pernah membentuk grup band Steak Daging Kacang Ijo, yang membuatnya jadi legenda kampus ISI Yogyakarta. Penulis Puthut EA menyatakan band ini sangat tidak kompeten secara musikalitas, tapi dinantikan publik Yogyakarta karena aksinya nyeleneh. "Steak Daging Kacang Ijo selalu ditunggu-tunggu penampilannya, baik di kampus ISI maupun di kampus-kampus lain. Sebetulnya mereka tidak benar-benar memainkan musik. Kadang Bob membacakan puisi, sementara yang lain asyik genjrang-genjreng sesuka hati," ujarnya.

Pada 2012 Bob menggelar sebuah pameran yang paling berkesan buatnya. Pameran tersebut juga bertepatan dengan rilisnya buku "Bob Sick, I'm A Living Legend" - sebuah catatan perjalanan hidupnya yang penuh liku. Acara digelar di Galeri Nasional, Jakarta, dan Srisasanti Gallery, Yogyakarta, buku tersebut ludes.

Tak berapa lama Widi Benang datang sambil membawakan jajanan. Sisi melankolis Bob tampak nyata begitu Widi ada di sampingnya. Mereka bertemu beberapa tahun lalu saat Widi sering membantu Bob mengadakan pameran. Bob dan Widi menikah pada 2007, lalu bercerai penghujung 2015. Keduanya masih tinggal satu atap. Hubungan mereka sangat harmonis walaupun tak lagi berstatus suami-istri.

Jalan hidup Bob memang penuh kejutan. Menjelang kejatuhan Presiden Soeharto, Bob bergabung dengan kolektif Taring Padi yang lantang mengkritik kondisi sosial politik. Beragam demonstrasi dia ikuti, kanvas-kanvasnya menjadi corong protes keras terhadap rezim. Tak heran dia menjadi incaran aparat. Dia pernah diculik oleh militer dan mengalami kekerasan pasca Soeharto tumbang. Beberapa tulangnya patah.

Bob menolak membahas pengalaman tersebut. Tak jelas alasannya. Sepertinya hal tersebut ingin dia kubur dalam-dalam. "Cuma diculik beberapa jam," ujar Bob pelan.

Kendati antimiliter, Bob malah jatuh cinta dengan senjata. Puluhan senjata replika terpajang di studionya. Dia juga memiliki beberapa senjata asli yang tersimpan rapi di rumahnya. Sudah tiga tahun belakangan dia tergabung dengan Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin). Dia resmi mengantongi izin memiliki senjata dan berburu.

"Panjang ceritanya. Tapi aku jadi suka dengan senjata. Aku ikut penataran dan latihan berburu. Tapi aku lebih suka menembak target," kata Bob. Awalnya saya agak sangsi jika Bob masih sanggup menembak dengan kondisi fisiknya saat ini. Seakan bisa menebak pikiran saya, buru-buru Bob menambahkan. "Justru aku malah lebih jago menembak target."

Dua tahun lalu tiba-tiba saja Bob ingin menunaikan umrah. Tak ada alasan aneh-aneh dari keinginan itu. Bob hanya ingin mengunjungi Tanah Suci Makkah dan berziarah. Keinginan tersebut tak berjalan mulus. Dia ditolak sembilan agen travel sebelum diterima oleh yang kesepuluh.

"Aku engga tahu alasannya kenapa. Aku cuma nyuruh seseorang buat mengurus semuanya, katanya sembilan agen travel dilewati," kata Bob.

"Apa ditolak gara-gara tato?" saya bertanya.

"Bisa jadi."

Bob sudah tak ingat lagi kapan tepatnya dia bikin tato pertama kali. Mungkin selepas SMA. Semua nampak samar dalam ingatannya. Saya mengamati tato-tatonya. Bagian yang belum ditato cuma telapak kaki dan alat vitalnya.

"Bagian mana yang paling sakit ditato?"

"Di bawah mata. Ini paling sakit karena kulitnya tipis."

Sosok Bob sangat lekat dengan tato. Dia membiarkan tubuhnya jadi kanvas hidup bagi seniman-seniman yang sedang belajar menato. Kalau pun bosan, Bob cuma bikin tato baru untuk menutupi yang lama.

Bob sebetulnya anak keluarga yang cukup kaya. Orang tuanya dulu pernah menuntut Bob jadi pengusaha minyak, meneruskan bisnis keluarga. Namun Bob menolak dan lebih memilih jadi seniman. "Mendapat tentangan keluarga itu pasti," ujar Bob pendek.

"Kalau kamu jadi di perminyakan, kayak apa jadinya ya?" kata Widi membayangkan.

"Ya engga bakal ketemu kamu," jawab Bob enteng.

Kami tertawa. Matahari sudah tergelincir ke Barat. Saya berpamitan. Bob masih melinting rokok untuk kesekian kalinya, lalu melambaikan tangan, memasang senyum. Pasang surut kehidupan tak pernah membuatnya lupa berbahagia.