Iklan
Sepakbola

Hanya Di Livorno, Komunisme dan Sepakbola Sukses Berjalan Beriringan

Livorno adalah antitesis industri sepakbola modern. Sikap suporter klub Italia itu, yang kiri mentok, menjadi lawan ideologi kanan ekstrem yang sedang menguat di kancah politik Eropa.

oleh Callum Hamilton
24 Maret 2019, 3:00am

Para suporter Livorno beraksi di stadion. Foto dari screenshot YouTube.

"Perang nuklir tak bisa dihindari lagi. Umat manusia akan jadi korban. Perang nuklir bakal menghancurkan kekayaan kebudayaan umat manusia. Hal ini sangat mungkin terjadi. Perang nuklir akan menciptakan neraka di bumi. Tapi satu hal yang pasti, perang nuklir tak akan sanggup memusnahkan komunisme."

Kalimat ini dilontarkan pada 1962. Pernyataan tersebut diucapkan seorang pesepakbola berdarah campuran Italia-Argentina: Homero Rómulo Cristalli Frasnelli.

Orang tak banyak mengenal lelaki dengan nama sepanjang itu. Dia sendiri lebih kondang dengan nama samaran J Posadas. Saat dia mengucapkan pernyataan bombastis itu, Piala Dunia tengah digelar di Chile, tak jauh dari perbatasan negara asalnya Argentina. Posadas meninggalkan kenangan manis di Argentina. Namanya selalu disebut saat suporter Argentinos Juniors bernostalgia. Meski cemerlang di lapangan hijau sebagai penyerang tengah, Posadas meninggalkan karirnya di klub demi mendalami poltik.

Kalau dipikir-pikir memang aneh. Sebagai sebuah cabang olahraga yang kental dengan kelas pekerja, sepakbola ternyata tak terlalu akrab dengan sosialisme. Kalaupun ideologi itu diadopsi, yang merasuki sepakbola bukan jenis sosialisme "ramah". Yang kerap terjadi adalah oplosan sepakbola dengan bentuk sosialisme yang sangat militan.

Posadas, salah satu pesepakbola paling kiri sepanjang Abad 20, tak menemukan banyak teman sepemikiran, bahkan di antara sesama atlet yang setuju pada cita-cita ideologi kiri. Dari segelintir orang yang sepaham dengan Posadas, mereka jenis yang sangat gigih mengamalkan ajaran komunisme.

Bertahun-tahun setelah pengaruh Posandas meredup dalam gerakan kiri global, Paul Breitner yang terinspirasi Posadas membawa buku Posadas soal ajaran komunis ke lokasi latihan skuad timnas sepakbola Jerman Barat. Gagasan Posadas lantas menyebar ke klub atau akademi pelatihan sepakbola lain di Eropa, walau tak sampai jadi fenomena sosial. Kau bisa kok menjadi komunis sekaligus orang yang menyukai sepakbola.

Dari sekian klub yang menggabungkan komunisme dan sepakbola, ada satu memilih terus bertahan sampai sekarang—meneruskan semangat Posadas. Bahkan setelah Uni Soviet dan blok timur bubar jalan, sebuah wilayah di Italia masih mengamalkan perkawinan antara olahraga dan nilai perjuangan kelas. Kota yang dimaksud adalah Livorno, dan kesebelasan yang secara struktural resmi menganut komunisme garis keras bernama AS Livorno.

Satu masalah dasar ketika kita mengawinkan politik dan sepakbola biasanya begini: sehebat apapun idealisme yang dianut satu klub, suporter dan khalayak tak akan peduli jika prestasi klub tersebut semenjana.

Artinya, usaha sebuah klub menyebarkan idealisme politik akan mubazir jika skuadnya berisi pemain kacangan. Inilah yang dialami Livorno selama dekade ‘70an. Ironisnya, Livorno berhasil membentuk skuad yang lumayan punya taji sepanjang awal 2000'an—dipimpin pahlawan lokal Cristiano Lucarelli—ketika idealisme komunis yang pernah dipuja di klub itu sedikit dikompromikan.

Setidaknya, komunisme dan sepakbola di Livorno tak pernah benar-benar pudar. Apalagi ketika Livorno sempat kembali ke Serie A pada 2013, melalui babak playoff. Livorno kala itu kalah berebut posisi promosi otomatis dari Hellas Verona—klub rival yang pendukungnya rata-rata mendukung ideologi politik kanan ekstrem.

1553325104663-Livorno
Suporter Livorno di curva nord Stadion Armando Picchi.

Satu hal yang membedakan Livorno dari klub-klub "kiri" lainnya di Eropa adalah praksis ideologinya sangat serius. Livorno tak sekadar mengibarkan bendera merah di lapangan. Penggemar AS Livorno tak berniat cari sensasi seperti suporter St Pauli yang sering memakai topeng Guy Fawkes. Mereka juga tak berusaha 'politically correct' kayak suporter Glasgow Celtic. Terinspirasi oleh Posadas, segenap pendukung Livorno tak mau mengamalkan komunisme setengah-setengah.

Livorno adalah klub yang tiap tahun merayakan hari lahir Joseph Stalin, mendiang diktator Uni Soviet, dengan koreografi tifo yang khas. Mereka menjembreng spanduk penghormatan ketika Hugo Chaves meninggal. Penggemar Livorno pernah dengan lantang menyanyikan “Silvio Pedofilo” sepanjang laga melawan AC Milan, klub kaya milik Silvio Berlusconi—mantan PM Italia korup yang pernah tersangkut skandal seks dengan anak di bawah umur. Hanya di kandang Livorno pula, kalian selalu mendengar lagu 'Bella Ciao' yang liriknya adalah komitmen melawan ketidakadilan penguasa dan borjuis, berkumandang sebelum peluit memulai pertandingan.

Livorno satu-satunya klub yang suporternya menggelar momen mengheningkan cipta bukan untuk mengenang 17 tentara Italia yang gugur di Nasiriyah, saat invasi Irak 2003, melainkan buat warga sipil yang tewas dalam perang tersebut. Klub dan suporter Livorno membenci perang dan nalar imperialisme yang melatari invasi Barat ke Irak.

Kenapa suporter Livorno mempertahankan ideologi komunis, padahal Italia di masa sekarang dikenal sebagai negara yang penduduknya tertarik populisme, fasisme, dan ideologi anti-imigran? Untuk memahami politisasi di kancah sepakbola Italia, kita harus menengok jauh ke belakang. Tepatnya sejak Abad 15, ketika Wangsa Medici yang menguasai kawasan Florence mengubah Livorno jadi kota pelabuhan kosmopolit. Orang dari latar belakang agama, kelas sosial, dan ras disambut terbuka di kota itu. Livorno menjadi salah satu kawasan di Italia yang percaya pada nilai-nilai kebersamaan, egalitarianisme, dan kesetaraan. Prakondisi itu membuka ruang bagi perkembangan konsep sosialis—dan pada akhirnya komunis—saat partai komunis pertama Italia didirikan pada 1921 oleh Antonio Gramsci dan Amadio Bodega di Livorno.

Satu dekade kemudian, fasisme menguasai Italia. Rezim Benito Mussolini menyeret bangsa pencipta Pizza itu ke perang demi perang. Italia kalah dalam Perang Dunia II. Tapi komunisme terus ditekan. Partai konservatif masih menguasai Italia pasca 1945, dan menekan aspirasi gerakan kiri. Penduduk Livorno, yang amat berkomitmen pada nilai-nilai kesetaraan dan perjuangan kelas, menyalurkan rasa frustrasi itu lewat simbol yang bisa mereka dukung bersama: lewat tribun sepakbola.

Bisa dibilang, Livorno adalah Posadas versi klub sepakbola. Gigih, berkomitmen, kepala batu.

Posadas sendiri adalah tokoh komunis yang romantik. Dia terjun langsung dalam Revolusi Kuba dan membantu pembentukan rezim komunis di negara tetangga Amerika Serikat itu. Posadas termasuk yang percaya Perang Dingin adalah perang suci yang harus dimenangkan. Komunisme, di masa itu, sedang dalam puncak kepercayaan dirinya. Penganut komunisme dekade 50'an seakan 'berdakwah' laiknya orang kulit putih Eropa yang menyebar agama Kristen ke berbagai wilayah jajahan beberapa abad sebelumnya. Misionaris Kristen dan Komunis, sayangnya, sama-sama tak segan bertindak brutal dalam mewujudkan apa yang mereka percayai.

Komentar lebay Posadas soal akibat Perang Nuklir menyiratkan tiga hal sekaligus: paranoia, ketakutan, sekaligus ketakjuban manusia kiri atas Perang Dingin. Posadas jadi nabi bagi banyak penganut ideologi kiri di Eropa. Pemikiran mantan pesepakbola yang banting setir jadi politikus itu punya pengaruh lebih banyak pada kelas pekerja Eropa. Posadas adalah inspirator yang membuat banyak orang Benua Biru, termasuk penggemar sepakbola, percaya revolusi ala Kuba bisa mereka tiru.

Italia, sayangnya, punya takdir berbeda dari Kuba. Pada dekade 60'an, gerakan antikomunis berjuluk Operation Gladio menggalang kudeta senyap, memaksa sejumlah menteri sosialis di Italia mundur dari jabatannya. Insiden itu membuat gerakan kiri di Italia mengkonsolidasikan diri. Mereka jadi sangat militan. Sebagian suporter sepakbola berideologi kiri, yang bermimpi bisa mendirikan rezim mirip Kuba di Eropa terinspirasi manifesto Posadas, harus menghadapi realitas pahit. Mereka mengubah obsesi mewujudkan egalitarianisme lewat lapangan hijau.

Tak ada satu gerakan kelas pekerja di Italia yang tak melibatkan sepakbola. Imbasnya, politik pun merasuk ke stadion. Begitu Brigate Rosse, sebuah organisasi paramiliter marxis, menggelar sejumlah aksi teror di Italia, kelompok ultras—pendukung garis keras sebuah klub yang biasanya fasis—segera merespons langkah mereka.

Lekatnya sepakbola dengan idealisme tertentu juga tampak pada pakaian yang dikenakan para suporter. Jika suporter sepakbola berhaluan kanan ekstrem biasa memakai kaos hitam dan jaket bomber, maka suporter Livorno mengadopsi seragam Viet Cong dan Shining Path. Dalam sekejap stadion-stadion sepakbola di Itallia dipenuh atribut khas brigate dan commando.

Jika kalian berkunjung Armando Picchi, stadion kadang Livorno saat ini, dress code pendukungnya yang kiri banget masih sangat mudah dijumpai, apalagi di kalangan penggemar garis keras di Curva Nord.

Seragam ini—ditambah dengan koreografi yang khas—menciptakan sebuah teater akbar di stadion. Namun, memandang kelompok ultra dari seragamnya yang megah belaka akan mengesampingkan betapa multidimensi budaya ultras—dan biasanya bicara ultras melulu soal kekerasan yang mereka lakukan.

Suporter Livorno jelas tak sekadar berkutat pada kekerasan. Mereka berkomitmen membangun jejaring dengan kelompok-kelompok sayap kiri dan progresif seluruh dunia. Ultras Livorno mendukung gerakan separatis Irlandia Utara (IRA), gerakan kemerdekaan Palestina, terlibat aktif dalam proses pemulihan pasca gempa Haiti (yang dipimpin rezim sosialis) dengan mengumpulkan sumbangan di stadion. Salah satu kelompok suporter terbesar Livorno, Brigate Autonome Livornese (BAL), turut menjalin kerja sama dengan suporter klub lain yang mendukung cita-cita kiri serta antifasis. Dua di antaranya adalah AEK Athens dan Olympique Marseille.

Banyak klub di Italia juga mendapat dukungan kelompok sayap kiri. Namun kebanyakan dukungan tak bersifat ideologis. Tak ada, misalnya, dukungan kelompok kiri segamblang Livorno bisa kita jumpai di AS Roma. Padahal dulu AS Roma pernah dikuasai kelompok kiri saat rival sekotanya Lazio sedang fasis-fasisnya.

Pada dekade 80an, tatanan masyarakat Italia berubah dan sepakbola kembali terseret di dalamnya. Selama dekade tersebut, neoliberalisme menguatkan cengkramannya. Sementara sentimen negatif terhadap para imigran memicu perubahan drastis dalam lanskap politik di Italia. Seperti sebelumnya, kelompok-kelompok ultras membebek. Gaya berdandan ala commando dan brigate segera dianggap ketingalan zaman dan estetika banyak kelompok ultras kini berkiblat ke Inggris.

Tren macam itu tak pernah terjadi di Livorno.

Salah satu alasan kenapa suporter Livorno setia pada komunisme, karena sejak awal ideologi itu menjadi dasar kebijakan dan pengelolaan klub. Simbol kepalan tangan kiri khas sosialisme adalah wujud kebanggan orang-orang Livorno. Tak heran bila simbol percampuran sepakbola dan ide-ide politik kiri di Italia adalah Cristiano Lucarelli.

Striker legendaris itu rela bayarannya dipotong agar bisa tetap bermain di Livorno sembari mempraktikan idealisme kirinya yang ekstrem. Semasa masih menjadi striker, Lucarelli dikenal sebagai perwujudan seorang ultras yang bermain di lapangan. Dia ultras sayap kiri yang tidak sekedar mendukung klub di bangku stadion, tapi sekaligus menjebol gawang lawan (total Lucarelli mencetak 102 gol sepanjang karirnya untuk Livorno).


Tonton dokumenter VICE soal rivalitas sengit Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic:


Livorno kini terdegradasi ke Serie B, setelah sempat anjlok ke Lega Pro. Tapi kegigihan dan komitmen klub ini pada ideologi kiri terus bertahan. Mereka adalah sisi lain dari militansi, ideologi dan estetika mayoritas kelompok ultras di Italia yang lebih mirip seperti panggung teater.

Penduduk Eropa mungkin sedang tertarik pada populis sayap kanan sekarang. Italia sejak 2017 dikuasai oleh koalisi partai populis anti-imigran dan anti Uni Eropa. Namun kita harus ingat, akan ada satu sudut Negeri Pizza itu yang percaya pada cita-cita alternatif. Cita-cita komunisme yang egaliter.

Romantisme dan sikap kepala batu itu bisa kalian saksikan di tiap koreografi Marxis hadir dari tribun stadion Livorno.


Follow Callum dan ajak dia ngobrol soal sepakbola di Twitter: @Callum_TH

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Denmark