Acara televisi

Alumni Akademi Fantasi Mengenang Perjalanan Mereka Menuju Puncak

AFI adalah pelopor acara TV di Tanah Air menggabungkan reality show dan adu bakat. Namun kini ada alumnus kini puasa bicara dengan media dan tak lagi di dunia hiburan. Seberapa riil konflik mereka di asrama?

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
28 November 2017, 9:38am

Ilustrasi oleh Dini Lestari.

Generasi kami setidaknya melakukan kebiasaan ini minimal sekali sepekan sekali tiap malam minggu: Satu, menangis di depan layar kaca. Dua, mencuri pulsa minimal 2000 perak dari handphone orangtua untuk kirim sms berupa “Ketik AFI (spasi) NAMA PESERTA kirim ke 3977.”

Setidaknya itulah yang disebut berulang-ulang oleh Adi Nugroho, presenter yang tiap malam minggu tampil necis di Indosiar sejak musim pertama membawakan program Akademi Fantasi Indosiar, pelopor melejitnya ajang pencarian bakat di Indonesia.

Akademi Fantasi Indosiar (AFI) merupakan fenomena. Jauh sebelum instagram, facebook, dan twitter melahirkan ‘seleb’, di Indonesia ajang pencarian bakat pernah begitu populer pada masanya. AFI mengadopsi konsep program La Academia di Meksiko dan Akademi Fantasia di Malaysia. Popularitas program ini di Indonesia membuatnya bisa bertahan hingga lebih dari empat musim. AFI musim 1 atau AFI 1 muncul di layar kaca akhir 2003, disusul musim-musim berikutnya hingga total mencapai 6 musim, terakhir tayang tahun 2013.

VICE Indonesia bicara langsung dengan para akademia AFI dari berbagai angkatan yang kini ada di ‘puncak gemilang cahaya’ versi mereka masing-masing. Bicara tentang masa karantina di asrama, kisah cinta antar akademia, kritik terhadap talent show itu sendiri, dan kehidupan baru yang mereka jalani kini setelah lepas dari asrama AFI 13-14 tahun yang lalu.

PETRUS KIA SUBAN (AFI 1)

Kesibukannya apa sekarang dan apakah masih berhubungan dengan nyanyi?
Aku sudah 5 tahun di Amerika Serikat. Sekarang tinggal di DC, cuma pengin balik lagi ke New York, karena aku juga sambil kerja kan yah, jadi supervisor di H&M di DC. Kalau saya sih sampai sekarang memang masih nyanyi. Sekarang sih masih proses ya, semoga saja bisa jebol di Broadway. Akhirnya sekolah lagi ikutan Broadway Dance Center, sekolah sih itu, dan sekarang coba-coba ikut audisi sambil masih sekolah juga. Saya juga ngajar anak-anak yang lahir di Indonesia maupun yang lahir di sini di Embassy Indonesia di DC. Jadi, Indonesian Kids Performing Art. Kita mengajar hal-hal tentang Indonesia. Salah satunya nyanyi, dan saya yang mengajari mereka menyanyi.

Dulu waktu masuk AFI umur berapa?
Umur 20. Awal masuk kuliah, lulus SMA, terus coba ikutan audisi. Dulu waktu awal ikutan audisi enggak into it, karena nyokap. Tapi bersyukur banget punya nyokap bawel, itu nyokap yang mau.

Kan ada tayangan AFI Daily, di mana kehidupan selama karantina ditampilkan di televisi. Itu se-real apa sih?
Waktu awal-awal masuk asrama, namanya kita orang awam ya, kita tahu studio TV, tapi kita enggak tahu yang namanya reality show. Pas masuk karantina, hari pertama, kedua kita enggak tahu kalau ada kamera. Kita masih ngupil, ngaca, sampai eliminasinya Yenny yang ketiga, pas kita lagi ngaca, eh kok ternyata ada kamera di belakang kaca. Sampai kita akhirnya kita nerawang, eh ternyata ada orang ngerokok di dalam. Kita pada kaget semua, “eh ada kamera kamera”. Karena kita pikir kamera itu cuma CCTV doang. Ternyata enggak, semua ada kameranya. Pokoknya semua kaca-kaca di belakangnya kamera. Sejak tahu ada kamera, berubah drastis. Jadi jaim.

Perubahan hidup setelah AFI?
Enggak ada privasi lagi. Kan memang pilihan kita untuk ikutan. Dulu sampai kesel juga orang sampai tahu nama kita, jadi kita enggak bisa berbuat yang aneh-aneh. Saya pernah juga ditangkap polisi, waktu itu ditilang. Saya diminta tanda-tangan sama polisinya, enggak jadi ditilang.

Kompetisi seketat apa di asrama?
Waktu kita lagi dikarantina, kan ada eliminasi, itu nangis beneran loh. Nangisnya benar-benar, sampai akhirnya kita mikir enggak ada kompetisi lagi. Karena mikirnya, kita akan kehilangan orang. Saking tiap eliminasi nangis-nangis banget. Akhirnya dbangun sifat kompetitifnya dengan cara para fans diundang. Masing-masing mulai ada jeaolusy. Sampai eliminasi kelima, itu kita benar-benar nangis. Setelah Icha keluar, mereka yang sudah lulus eliminasi itu diundang lagi, eh dandanan mereka keren semua. Dari situ, tangis-tangis kita udah selesai.

Dulu waktu Grand Final AFI 1 kan Kia sering banget dibanding-bandingkan dengan Very yang jadi juara 1. Reaksi Kia gimana?
Ternyata juara dua itu adalah berkat, lagu yang dipakai jadi video klip adalah lagu saya yang Harus Sampai di Sini. Ternyata jadi juara dua bukan akhir, tapi malah beginning for my career. Kedua, soal bayar pajak. Kan dia (Very) dapat mobil, saya dapat motor, ya pajak saya lebih kecil dari dia dong. Sisanya uang cash hahaha. Jadi karena bayar pajak, uang cash-nya lebih banyak hahaha. Ya bagus deh gue juara dua. Ternyata tuhan ngasih gue juara dua juga luar biasa. Jadi justru setelahnya panen duit. Ya luar biasa, dulu zaman kuliah dapat duit sendiri ya bangga. Yang bikin aku sedih sih tapinya, orang melihat Very jadi berdasarkan latar belakang. Cuma ya, mau gimana? Itulah dunia showbiz.

Apa setelah AFI gabung manajemen tertentu?
Saya setelah acara dikontrak tiga tahun, yang lain ada yang 2 tahun. Pas tahun pertama, managerialnya itu bagus. Nah tahun kedua karena sudah mulai banyak AFI yang lain, AFI 2, 3 karena dia buatnya enggak per tahun. Karena dalam 1,5 tahun itu sudah ada tiga angkatan. Tahun kedua sudah mulai turun, tahun ketiga makin parah lagi. Sudah masing-masing walaupun masih dikontrak. Kan kalau Indosiar kan dari TV, manajemennya Indosiar juga, yasudah siapa yang mau megang. Kalau acara off air siapa yang mau megang? Sudah mulai cabut-cabutan orang, ya sudah mulai jatuhlah itu.

VERI AFFANDI (AFI 1)

Seiring dengan banyaknya berita yang memanfaatkan namanya sebagai daya tarik berita berjudul menyesatkan dan merugikan namanya, Very sempat ogah diwawancara selama tiga tahun terakhir. Wawancara bersama VICE adalah wawancara pertama dalam tiga tahun terakhir.

Bisa dibilang nama Very AFI masih sering muncul di berita. Ternyata, Very enggak mau diwawancara media dalam tiga tahun terakhir. Ada apa?
Saya merasa kecewa dengan media yang menjual judul kemudian mengobrak-abrik isi. Sementara mereka enggak tahu saya seperti apa, dan kehidupan saya seperti apa. Paling tidak, dengan adanya statement seperti itu, orang akan berpikir kalau mereka baca di luaran sana macam-macam ada yang positif maupun negatif itu enggak ada sumbernya. Coba kalau kamu google saya, berita apa yang muncul?

Kegiatan saat ini sibuk apa? Masih berkaitan dengan nyanyi?
Sekarang produksi usaha makanan di rumah manajer saya. Jadi kalau produksi by order. Saya kalau sekarang sudah enggak mau punya tempat (usaha). Saya juga punya rencana untuk bisnis sama keluarga, tapi itu masih dibicarakan. Sesekali on air, off air. Tapi off air masih lebih banyak daripada on air sih. Kalau on air terakhir di acaranya TVRI di Syiar Syair. Mulai dari 2013 TVRI sudah langganan terutama untuk mengisi acara Ramadan. Tiap tahun sih nama programnya berbeda.

Masih nempel banget enggak sih embel-embel AFI di belakang nama Very?
Beberapa tahun lalu saya pernah bikin grup vokal untuk edutainment anak. Di tengah-tengah grup dengan nama Sunshine, orang-orang masih melihat saya sebagai Very AFI. Dulu kita pernah nanya ke produser kita, namanya Mas Andi Januar, “Mas sampai kapan kita boleh bawa nama AFI ini?”. Dia bilang bahwa kita semua dikontrak sehingga kita ber-12 juga berhak untuk pakai nama AFI, enggak masalah. Kalaupun nanti kontraknya sudah selesai, nama AFI ini tetap bakal nempel sama kita. Jadi ya sampai kapanpun kita mau menggunakan nama AFI, selagi kita mau meskipun sudah selesai kontrak, tetap enggak masalah buat Indosiar. Karena kenalnya pasti Lastmi sebagai Lastmi AFI, Smile sebagai Smile AFI, Rini ya Rini AFI, Very ya Very AFI.

Banyak orang yang enggak punya pengalaman masuk dunia showbiz secara instan ikut kompetisi, dan keluar tanpa mengerti iklim dan persaingan dunia showbiz yang katanya “jahat”. Apa Very dapat pelajaran soal me-manage karir? Sehingga enggak dilepas begitu saja?
Menurutku satu yang belum dapat sih, beda dari zaman kita di AFI dulu, saya rasa ini yang lebih penting daripada bagaimana cara kita me-manage diri di dunia showbiz. Yang saya enggak lihat di tempat lain adalah, psikologis. Saya beruntung waktu itu di AFI ada sesi psikologisnya, sehingga yang terpenting itu pola pikir kita. Kita mau jadi seperti apa, di situ dibentuknya. Kalau misalnya orang-orang sekarang ikut kompetisi biar terkenal, maka selanjutnya saat namanya meredup dia akan melakukan apapun yang penting terkenal. Kalau dia diberikan dasar psikologi tentang kepribadian, tentang bagaimana menyikapi hidup, siapa diri kamu, apa keinginan kamu, saya rasa, orang itu akan jadi punya bekal setelahnya akan jadi seperti apa.

NIA KARTIKA PUTRI (AFI 2)

Apa kesibukan Nia AFI, apa masih berhubungan dengan nyanyi?
Kalau sekarang nyanyinya masih karena udah hobi dan passion. Jadi, kalau ada tawaran nyanyi off air sering diambil. Jadi kemarin ada acara nyanyi di nikahan, launching produk. Nyanyi off air masih, tapi sekarang lebih fokus jalanin bisnis kebetulan Nia jalanin bisnis online di bidang kecantikan.

Dulu kan Nia dan Adit digosipkan pacaran waktu masih jadi akademia, bahkan sampai menikah dan punya anak dua. Beneran pacaran dulu?
Jadi, waktu di asrama, kita enggak pacaran. Kita temenan aja. Waktu itu Nia sudah punya pacar di Surabaya dan akhirnya harus putus sudah karena AFI. Adit ini memang salah satu yang paling sering curhat dan sharing. Mungkin kalau orang Jawa bilang, tresno jalaran soko kulino. Cinta datang karena terbiasa. Pas di asrama, karna Adit ini salah satu teman curhatannya Nia, dan kita enggak pacaran bahkan sampai selesainya AFI, kita kan dikontrak, konser ke seluruh Indonesia, keliling ke mana-mana, itu belum pacaran. Pacarannya baru bulan Desember 2004. AFI itu baru selesainya Juli 2004. Aku dan Adit itu masuk yang favorit. Jadi walaupun kita berdua enggak menang, enggak masuk tiga besar, tapi kita berdua jadi pasangan favorit dari Surabaya dan dapat hadiah juga.

Banyak yang bilang ikut AFI itu mengantarkan seseorang jadi bintang dengan cara cepat. Adakah kritik atau kekurangan yang dirasakan sebagai peserta dengan ikut ajang seperti ini? Misalnya setelah keluar para kontestan dibiarkan begitu saja tanpa dibimbing untuk bersaing di dunia showbiz?
Kenapa Nia enggak mau terlalu fokus ke sana setelah lepas kontrak, karena Nia mikir persaingan di dunia entertain dan banyaknya bibit muda yang pinter nyiptain lagu dan main alat musik, dan Nia memang enggak terlalu jago main alat musiknya, waktu itu juga nyelesain kuliah. Alhamdulillah bisa cumlaude dan fokus di kerjaan. Waktu itu sempat kerja di perusahaan yang bagus juga di Jakarta, dan bisnis. Jadi ya tergantung peserta itu, mau fight-nya di entertain atau bidang lainnya.

Adakah perubahan diri Nia, sebelum dan setelah AFI?
Yang pasti setelah ikut AFI, Nia jadi mandiri. Mandiri secara personal, dan mandiri juga secara finansial. Dulu anak mama banget, kuliah pulang ke rumah atau ikut-ikut kegiatan kampus aja. 12 tahun Nia di Jakarta, baru balik ke Surabaya setelah lahiran anak kedua. Secara finansial juga mandiri. Alhamdulillah bisa bayar uang kuliah sendiri. Alhamdulillah dari nabung, hasil AFI, nyanyi sana sini bisa beli rumah dan beli kendaraan sendiri, apalagi masih usia 21 tahunan. Jadi bangga banget dengan yang bisa Nia raih. Secara pribadi banyak pengembangan, kalau enggak mungkin cuma bisa jadi anak rumahan aja yang tahunya gitu-gitu aja.

RINDU FEBIANNE (AFI 2)

Aktivitas Rindu sehari-hari biasanya bagaimana? Apakah masih berhubungan dengan nyanyi?
Aku sekarang stay di Jakarta. Sejak nikah tahun 2011, kegiatan sehari-hariku full time house wife and mommy. Antar jemput anak sekolah dan sebagainya. Anak yang pertama cewek umur 4,5 tahun, yang kedua cewek juga umur 2,5 tahun. Nyanyinya udah off.

Rindu ngerasa pengajaran atau ilmu yang sampai sekarang membekas banget apa? Bagaimana AFI bisa mengubah kak Rindu baik secara pribadi maupun secara karir atau skill?
Aku enggak akan pernah bisa lupa deh pokoknya, dan pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari juga jadi beda. Misalnya dari ilmu vokal, yang dulu nya kalau nyanyi asal-asalan aja teriak-teriak. Semenjak belajar di asrama jadi lebih diatur lah, sesuai ilmu dikasih sama kak Ubiet, hehehe.. Sampai sekarang juga walaupun bukan nyanyi di event-event profesional, aku tetep mempraktikan ilmu-ilmu yang pernah didapat.

Seberapa berpengaruh sih adanya embel-embel AFI di belakang nama Kak Rindu? Efeknya sampai sekarang bagaimana?
Pengaruh embel-embel AFI sangat besar. Ketika kamu sebut nama RINDU, orang akan muncul di benak nya “AFI”, ya kan? Sampai-sampai gaya rambutku di salon-salon yg domisili di bandung kebanyakan, banyak di-request mau potong poni ala Rindu AFI. Hahaha. Namun terkadang lelah juga yaa AFI selalu dibandingkan dengan kompetisi serupa dari televisi tetangga sebelah nya.. Misalnya, selalu di banding-bandingin sama temen-temen IDOL lah, atau KDI lah. Bukan untuk hal negatif sih, tapi sensitif aja, jikalau kita salah-salah sebut atau berperilaku enggak baik kan, jadinya bawa-bawa nama stasiun televisi yang udah bikin progam acara kita tersebut.

PUTU SUTHA NATAWIJAYA (AFI 3)

Kalau sekarang kesibukannya gimana? Masih nyambung sama nyanyi dan musik?
Aku sih sekarang pekerjaan jadi video director di awal, cuma aku ngerjain video banyak selain video clip, digital. Mostly kerjaannya video sekarang. Iklan ada beberapa juga. Karena background pendidikan aku juga film, jadi masih nyambung. Nyanyi juga masih regularly. Sekarang nyanyinya lebih ke belakang layar, jadi production, nulis lagu. Kalau yang rutin itu nyanyi buat single dan iklan. Kalau off air masih ada, aku masih mau ngambil wedding juga, karena sepaket sama kerjaan video juga. Aku sebenarnya ngambil kerjaan video karena enggak mau jauh-jauh dari musik juga.

Apa embel-embel AFI masih nempel banget di belakang nama Sutha?
Sebenarnya kalau dibilang nempel, aku bilang sih lumayan nempel. Cuma banyak yang masih bilang “kayaknya pernah lihat ya mas?” Soalnya at that time kita exposure-nya tinggi banget. Kalau yang generasi sekarang kan enggak banyak yang tahu. Aku sih beruntung enggak terlalu nempel banget, karena semenjak kontrak di AFI beres, aku udah main di stasiun TV lain, main FTV gitu. Jadi sebagian besar orang tahunya aku itu pemain FTV bukan penyanyi.

Kamu percaya sama star syndrome, pernah lihat ada yang mengalaminya atau pernah diingatkan?
Itulah pentingnya ada Bunda Romi buat menjaga biar kita enggak kena star syndrome, karena itu memang ngaruh terhadap psikologi. Dari awal yang kita dari kampung terus tiba-tiba satu Indonesia tahu. Bahkan kalau dulu aku sempat ikut yang Southeast Asia. Dulu sih aku enggak terlalu peduli dengan hal yang seperti itu.

Seberapa riil drama di karantina AFI?
Mungkin yang gue bilang bakal membongkar rahasia reality show, hahaha... atau mungkin semua udah tahu juga. Elo kan ngeliatnya di TV bahwa asrama strict banget. Pas di sana, oke it’s a reality show, but still it’s a ‘show’. Jadi apa yang lo lihat di diary AFI itu tiap harinya, anjir fake banget itu mah. Karena kan kadang kita butuh drama untuk bikin rating naik, kadang itu dibuat-buat. Zaman gue, gue disuruh berantem sama Alvin. Seru tuh kayaknya. Waktu itu akhirnya [berantemnya] dimasukin ke kelas Alm Didi Petet. Buat gue, itu tuh ngaruh ke psikis orang-orang yang nonton. Itu kan bohongan, tapi kan orang yang nonton enggak tahu. Bokap gue ngamuk-ngamuk tahu gue berantem. Gue cuma bilang “itu bohongan kali Pah!”