Film

Perempuan Sumba Adalah Karakter Terbaik Untuk Film Western

Berikut wawancara VICE Indonesia bersama sutradara Mouly Surya tentang gagasan mencampur feminisme dan genre ala film koboi di balik 'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak'.

oleh Rizky Rahad Dan Katyusha Methanisa
18 November 2017, 5:00am

Ilustrasi oleh Dini Lestari.

Apa kesamaan padang sabana di Sumba, Nusa Tenggara Timur, dengan gurun barat daya Amerika Serikat yang berbatasan dengan Meksiko? Bagi sutradara Mouly Surya, benang merahnya adlaah karakter manusia kuat yang hidup maupun menghidupi wilayah tak bertuan.

Toko utama fiksi genre western selalu koboi jago tembak. Mereka mewakili gagasan modernitas, yang berusaha menaklukkan barbarisme dan ketiadaan hukum di pelosok Negeri Paman Sam. Sementara di Sumba, karakter paling kuat adalah sosok perempuan. Mereka harus menghadapi berbagai rintangan patriarkis, bentuk lain barbarisme, dalam kehidupan sehari-hari—plus ketiadaan hukum yang berpihak pada perempuan.

Ide itu, diakui oleh Mouly, tak lahir dari observasinya sendiri. Garin Nugroho, sutradara senior Indonesia, yang pertama kali memberinya ilham. “Mas Garin tuh pernah bilang ke gue, ‘elo mesti liat perempuan Sumba itu gimana,’” ujarnya. “Gue ngerti yang dimaksud Mas Garin adalah perempuan yang blak-blakan.”

Gagasan itu mendorong Mouly melahirkan Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Cerita film ini tentang perempuan di pelosok Sumba membalas gerombolan perampok yang memperkosanya di rumah sendiri. Perjalanan si tokoh utama menuju kantor polisi dalam rangka menyerahkan diri malah berakhir penuh kejutan, disertai penataan adegan dan scoring stylish, sekaligus penuh humor-humor gelap yang membuat penonton termenung. Bagi mereka yang misoginis ataupun patriarkis, film bergaya western—lengkap sama adegan naik kuda, soundtrack ala Morricone, gurun, dan kantor polisi di antah berantah—ini memiliki dosis kekerasan dan sadisme ringan yang akan sangat-sangat mengganggu.

Film panjang ketiga sepanjang karir Mouly tersebut sukses mengantarnya bertualang ke pelbagai ajang festival film sepanjang 2017. Karya besutan rumah produksi Cinesurya ini sebelumnya mampir di Festival Film Cannes, lalu ke Melbourne Film Festival, dan dua bulan sebelum akhirnya tayang di jaringan bioskop Tanah Air, Marlina menghampiri penonton Toronto International Film Festival.

Mouly sedang serius menyambangi layar laptop ketika kami temui di ruang kerjanya, di dalam kantor Cinesurya, kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Perempuan kelahiran 10 September 1980 sempat diharapkan almarhum ayahnya menjadi jurnalis. Kini, dia memilih menggambarkan realitas lewat medium sinema.

Debutnya pada 2008, Fiksi, membuat Mouly diganjar penghargaan sutradara terbaik dalam gelaran Festival Film Indonesia. Reputasi Mouly sebagai sutradara yang berusaha mencari ide cerita berbeda pun ditabalkan sejak itu. Setelah Fiksi membahas tragedi dan pembunuhan berlatar rumah susun, Mouly menggarap What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013), membahas dunia para difabel dengan sudut pandang unik.

Melanjutkan rekam jejak itu, Mouly kembali memilih tema tak biasa untuk Marlina. Dia menyodorkan kisah perempuan Sumba yang digencet habis-habisan oleh patriarki lalu melawan balik, dalam format cerita ala western. Kritikus film di Variety menjuluki eksperimentasi Mouly ini sebagai “satay western”, antitesis genre ‘spaghetti western’ yang dipopulerkan Sergio Leone awal dekade 70’an.

Sepanjang obrolan, Mouly menjabarkan apa saja motivasinya menggarap Marlina, pendekatan sinematik yang ingin dia capai sebagai sutradara, dan alasan yang mendasari ketertarikannya mengoplos feminisme dan genre Western.

Berikut cuplikan obrolan Mouly dan VICE Indonesia.

Cuplikan adegan diunggah seizin Cinesurya.

VICE: Bisa diceritakan seperti apa proses awal mengembangkan naskah Marlina?
Mouly Surya: Ide cerita awalnya dari Mas Garin [Nugroho]. Dia cerita perempuan Sumba yang didatengin perampok, diperkosa, lalu menggal kepala perampoknya, dan membawa kepala itu pergi ke kantor polisi. Saat itu gue merasa ada batasan tersendiri antara gue sama Marlina yang enggak bisa gue jelasin. Ketika gue mencoba menulis draft skenario awal, tiba-tiba rasa berjarak itu melahirkan sebuah obyektivitas yang fresh. Tiba-tiba gue menemukan cara baru untuk relate to the film, maksudnya gue kepikiran, 'apa gue bikin jadi film Western aja ya?' Pertama kali ke Sumba, gue mikir, wah ini lanskapnya Western banget gitu. Akhirnya elemen-elemen ini membantu gue relate sama Marlina.

Marlina adalah cerita fantasi balas dendam di tengah masyarakat patriarkis. Kira-kira dari film ini realitas Indonesia seperti apa yang hendak kamu sorot?
Intinya tentang situasi ekstrem di tengah masyarakat pedesaan. Situasi-situasi riil yang mungkin terjadi 10 tahun lalu saat masih ada kesusahan akses dan hukum. Gimanapun akhirnya fight to survival itu penting, apalagi buat orang Indonesia. Kebanyakan dari kita ketika dihadapkan pada ketidakadilan bersikap, "Ya udah deh, kita terima aja." [Film] ini menurut gue berusaha mengatakan kebalikannya sih. [Karakternya] tidak begitu saja menerima nasib, mencoba mencari cara keluar dari situ. Gue melihat film ini sebagai sebuah perayaan. Kebetulan ada isu-isu dunia sekarang dari maraknya pelecehan seksual di dunia ini, sekalian mungkin kita bisa look back. Pas gue baca gimana cara perempuan [korban pelecehan seksual di industri film Hollywood-red] melawan balik, gue jadi inget Marlina.

Apa saja pengaruh latar sosial Sumba terhadap narasi dan bentuk film ini?
Mas Garin tuh pernah bilang ke gue, "elo mesti liat perempuan Sumba itu gimana." Gue ngerti maksud Mas Garin adalah perempuan yang blak-blakan. Gue inget banget, di hotel pernah ada ibu-ibu teriak dari ujung jalan marahin siapa gitu. Gue jujur mencoba cari esensi karakter kayak gitu, esensi realitasnya. Gue nggak mau menjadikan karakter [si ibu] stereotype. Jadi ya, akhirnya gue mix and matching aja sih. Dari karakter-karakter perempuan dari Sumba coba direlasikan aja ke ceritanya. Pastur yang ngobrol sama gue sih menjelaskan di Sumba memang sangat patriarkis. Itu memang sistem yang ada di kultur mereka. Tapi kalau kita lihat di Jawa juga seperti itu. Saat kita membicarakan sistem budaya, hampir semua yang di Indonesia seperti itu. Perempuan diharapkan ada di dapur dan masuknya lewat dapur, sedangkan laki-laki menjadi pemimpin keluarga yang sangat patriarkis. Ini tentang kekuatan seorang perempuan dalam kehidupan sehari-hari dia. Makanya ini cerita seorang perempuan biasa di pedesaan, tidak berpendidikan, tetapi dia mau survive.

Sebenarnya ada banyak cara kan untuk memfilmkan Marlina. Kenapa harus memakai gaya cerita Western?
Gue enggak menemukan genre-nya dulu baru ceritanya, malah sebaliknya lho. Sejak awal ada cerita, terus gimana caranya gue menyampaikan ke penonton. Terutama penonton yang sama kayak gue, yakni anak kota. Cerita yang dikasih Mas Garin ke gue itu lokal banget. Bukannya enggak bagus ya, but it's still very local. Ketika elo aplikasikan ide cerita tadi ke logika umum, mungkin enggak masuk akal. How could this happen? Maka gue harus menjelaskan setting dan menegaskan hal-hal yang kayak di film tuh memang bisa terjadi di latar sosial kayak gitu. Selanjutnya, gimana cara gue ngejelasin yang rumit tadi tanpa perlu panjang-panjang bikin dokumenter? Gimana caranya gue bisa cerita dan orang bisa menerima logika yang ada di situ?

Salah satu jawabannya adalah mengaplikasikan ide cerita Marlina ke dalam sebuah genre Western. In the middle of nowhere, tempat yang sangat pelosok, mungkin cuma ada seorang sheriff sebagai penjaga tertib hukum. Sesuatu yang enggak masuk akal tadi, tentang perempuan yang membunuh perampok, ketika dimasukkan kotak genre tadi, that makes sense. Maksudnya penonton jadi bisa menerima premis ceritanya sebagai fabel. Mungkin tidak terlalu realistis, tapi setidaknya dalam waktu satu setengah jam, elo bisa menangkap inti ceritanya. Kan enggak mungkin dalam satu setengah jam elo ke Sumba, ngecek realitas di sana, terus balik lagi dan nerusin filmnya.

Dengan bantuan gaya penceritaan Western, gue pengen penonton tahu lebih banyak dari karakter di film itu sendiri. Karena genre Western ada pakem ceritanya, kita udah tau kalo sesuatu akan terjadi, dan kita tinggal menunggu kapan 'itu' terjadi. Bahkan tokoh Marlina sendiri belum tahu dia akan membunuh [penjahat].

Berarti niat pakai pola cerita Western adalah mengusung yang lokal menjadi lebih universal ya?
Iya, meskipun konvensi itu dimainkan juga. Maksudnya, 'dimainkan' dalam arti kata, people will call it feminist western. Fim Marlina ini western dan anti-western sekaligus. Kalian mungkin familiar sama beberapa elemen di dalamnya, tapi bisa juga enggak. Genre fiksi western sendiri kan sebetulnya sangat maskulin dan sangat misoginis. Jadi film Marlina mencoba membalik konvensi itu.

Sebagai auteur yang punya gaya sendiri, bagaimana caranya kamu mengadopsi genre yang sudah punya pakem cerita panjang, sejak era Spaghetti Western dan John Wayne?
Gue enggak pernah merasa sebagai auteur. Konsep itu bener-bener sesuatu yang enggak kepikiran di gue. Kalau elo tanya apakah I'm trying to be an auteur? Enggak juga. Maksudnya, di Fiksi gue dulu dianggap bikin film genre juga. Ternyata ada sesuatu yang keluar di situ. Waktu itu orang-orang bilang Fiksi tuh thriller, padahal ya enggak exactly a thriller. Lebih kayak drama psikologis yang ada sentuhan arthouse-nya. You may say it's auteur-ish, tapi gimana sih cara mendefinisikan auteur? Seorang sutradara yang punya gayanya sendiri kan. Dan gaya sendiri harus dibangun dari cara elo bercerita sih.

Kalau begitu, bisakah kamu jelaskan gaya tuturmu? Bagaimana cara seorang Mouly membedakan diri dari sutradara lain?
Kalo gue kilas balik nonton Fiksi, mungkin gue akan ngeliat film yang sedikit kaku, sangat formal, sangat metodikal. Tapi, bagaimanapun, gue ngerasa ada yang puitis dari film itu. Serta, gue itu jenis yang agak subtle dalam bercerita. Mungkin karakter samar dan halus dalam bercerita tersebut yang gue selalu coba pertahankan sampe sekarang. Enggak semua plot harus jelas, apalagi di Fiksi. Penonton bisa aja mikir, "Hmm, what happened there?"

Cuplikan adegan diunggah seizin Cinesurya.

Lantas, siapa saja sutradara yang berpengaruh buatmu?
Beberapa tahun belakangan, gue sangat suka karya-karya Abbas Kiarostami dan Michael Haneke. Ada bentuk gaya cerita dan kosa gambar yang kuat dari karya-karya sutradara yang biasanya gue suka. Hal itu ada di [Alfred] Hitchcock, ada di [Stanley] Kubrick, ada di Abbas Kiarostami, dan ada di Haneke. Haneke terutama ya, menurut gue dia kayak versi Eropanya Kubrick. Meskipun Haneke lebih arthouse. Padahal kita ngomongin sutradara dari era dan lokasi yang sangat beda. Kita ngomongin Amerika, Eropa, dan Iran. Tapi gue bisa melihat kesamaan.

Tahun ini dua sutradara perempuan Indonesia, termasuk dirimu, bisa menembus Toronto International Film Festival. Apakah menurutmu kesetaraan di kancah penyutradaraan dalam negeri makin oke?
Gue sama Dini [Kamila Andini- red] adalah filmmakers yang sangat berbeda dalam gaya dan latar belakangnya. Film-film kami beda banget. Plus, gue enggak pernah melihat diri ini sebagai sutradara cewek. Gue cuma ngelihat diri gue, penginnya jadi sutradara aja. Gue baru disadarkan kalau gue ini sutradara perempuan biasanya setelah gue udah rilis film. Selama proses produksi enggak pernah kerasa. Pada akhirnya, it's a label that people put on me. Mungkin sebutan 'sutradara perempuan' adalah cara bagi sebagian orang untuk memasukkan kita ke kotak-kotak tertentu. Mungkin seperti Marlina, [sebutan sutradara perempuan] bikin gua mikir gimana caranya gue survive di industri ini, gimana caranya gue survive membuat film ini. Ketika dibandingkan sama sutradara laki-laki, gue tersinggung. Emangnya gue ada di kompetisi yang beda dari mereka? I didn't see it differently. Why should other people?

Keresahanmu soal sebutan tadi bisa dipahami. Tapi harus diakui, industri film kebanyakan didominasi lelaki. Perempuan terlalu sering diseksualisasi. Makanya, kami ingin tahu bagaimana caramu menggarap adegan perkosaan dari sudut pandang perempuan di Marlina?
Saat gue menulis skenarionya, I know I have to do it right. Gue banyak membaca apa saja definisi perkosaan dari aspek hukum. Gue enggak berusaha bikin perkosaan yang berbeda di film ini. Gue malah mencoba membuatnya terasa otentik. I try to do some stuff to make it authentic and to say what I wanna say.

*Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas dan enak dibaca.