Travel

Berkunjung ke Kota Judi Perbatasan Kamboja Ibarat Mengintip Suasana Pasca-Kiamat

Saya mampir ke Poipet, kota penuh bisnis kasino perbatasan Thailand-Kamboja. Berada di sana ibaratnya main ke Las Vegas setelah kiamat menyapu Planet Bumi—menyisakan para kanibal.

oleh Caleb Quinley
22 November 2017, 8:20am

Semua foto oleh penulis.

Pengalaman saya berlibur ke Kamboja dimulai sedikit tidak menyenangkan. Saya sedang berada di Holiday Palace, kasino berpintu kaca yang menjulang di tengah Poipet—kota kumuh perbatasan Kamboja dan Thailand. Mata saya perih akibat debu merah yang menyelimuti kota, ditambah asap rokok memenuhi lobi hotel.

Saya tiba di Poipet beberapa jam sebelumnya, sesudah sukses menghindari aksi penipuan para calo perbatasan yang memenuhi jalur darat pintu imigrasi Thailand. Mereka membujuk turis non-Asia Tenggara lugu untuk mengurus visa masuk ke negara tersebut. Saya hampir saja memberikan 1.000 Baht (setara Rp412.000) kepada seorang lelaki yang mengaku bisa membantu saya mendapat visa. Tapi kemudian, saya berpikir dua kali dan berjalan masuk ke kantor imigrasi sendiri. Rupanya tak perlu bayar semahal itu. Ada banyak cara lain kalau kalian cuma ingin menghambur-hamburkan uang di Poipet.

Poipet adalah kota perbatasan yang juga menjadi sarang bisnis kasino terbesar Kamboja. Kota yang tidak dipelihara ini sarat kriminalitas. Kejahatan dan Kasino tentunya kombinasi resep yang buruk. Padahal ada 75 buah kasino di seantero Kamboja, mayoritas berlokasi di Poipet. Kebanyakan kasino di negara ini terletak di distrik perjudian di Poipet, Bavet, dan O Smach—semuanya berjarak dekat dari negara-negara yang lebih kaya seperti Thailand dan Vietnam. Di kedua negara yang disebut belakangan, perjudian terlarang. Tapi tentunya masih banyak warganya yang haus akan rasa tegang dari berjudi. Jadi mereka akan menyeberang ke Kamboja.

Saat saya datang, kota ini sedang dipadati turis Cina dan warga Thailand yang berusaha menguji peruntungannya di meja poker, mesin rolet, maupun dingdong. Asal kalian tahu, orang Thailand gemar sekali berjudi, walau hukum di negaranya melarang segala jenis taruhan. Banyak warga Thai rutin berjudi lewat sabung ayam hingga balapan kerbau. Bagi yang ketahuan berjudi akan dikenai denda besar, atau bahkan hukuman penjara bila terbukti jadi bandar. Makanya warga Thailand yang lumayan berduit memilih menyeberang ke Kamboja, negara yang melegalkanperjudian. Judi memberi pemasukan devisa mencapai US$2 milliar pada 2015—hanya sedikit lebih kecil dari Produk Domestik Bruto Kamboja satu dekade sebelumnya.

Setelah keliling-keliling, bisa disimpulkan bila Poipet merupakan salah satu kota teraneh yang pernah saya lihat. Kota ini pusat perjudian kumuh yang terletak di tengah salah satu negara termiskin di Asia Tenggara. Produk Domestik Bruto Thailand mencapai hampir US$6.000 per kapita tahun lalu. Tapi, menyeberang sedikit ke perbatasan, angka tersebut langsung anjolok hingga US$1.200 per orang, jauh sekali pendapatan orang Kamboja dibandingkan penduduk Thailand.

Rumah judi Poipet jauh dari imej mewah yang mungkin muncul di kepala ketika kita mendengar kata kasino. Kalau Makau adalah Las Vegas-nya Asia, maka kota seperti Poipet adalah versi Asia dari titik perhentian truk-truk besar yang tersebar di sepanjang jalan raya midwest, Jalur Pantura-nya Amerika Serikat. Rumah-rumah judi ini tidak lebih dari aula kumuh penuh asap rokok berisikan deretan penjudi yang bertaruh tanpa menunjukkan antusiasme sedikitpun.

Jalanan di luar kasino penuh anak-anak pengemis dan pemulung menarik gerobak kayu berisikan sampah dan materi daur ulang. Keluar dari jalan utama, kamu akan menemukan jalan tanah penuh debu, dikelilingi tenda terpal di tengah puing-puing aspal setengah jadi. Pemandangan ini tentu saja mencengangkan, mirip gambaran kota-kota kecil dalam film pasca-kiamat Mad Max.

Saya mencari-cari hotel atau hostel untuk menginap malam itu, tapi tidak lama kemudian menyadari Poipet sama sekali tidak memiliki tempat penginapan. Kebanyakan orang hanya melewati separuh malam di kota ini dalam perjalanan ke Siem Reap atau bar backpacker di Ibu Kota Phnom Penh. Mereka yang memilih tinggal di Poipet hanya memiliki satu tujuan—berjudi. Jadi, tentu saja satu-satunya tempat penginapan di kota ini adalah kasino-kasino tersebut.

Saya memilih Holiday Palace karena lokasinya yang strategis dan foto-foto kamarnya terlihat mendingan dibanding yang lain. Mereka juga mengiklankan diri sebagai hotel terbaik di area tersebut, dengan rating lima bintang (yang belakangan saya nilai menipu). Kenyataannya, kamar yang ditawarkan tidak senilai dengan harga 3.000 baht (setara Rp1,24 juta) semalam, tapi siapa juga sih yang ke Poipet nyari kamar hotel bagus? Saya meninggalkan tas di kamar, dan kembali menyusuri aula judi. Mata saya kembali perih akibat debu merah yang senantiasa bertiup.

Saya jalan-jalan sedikit di sekitaran hotel, sambil terus mengucek mata, dan menemukan sebuah tempat makan yang terlihat ramai dengan penduduk lokal. Karena saya tidak bisa berbahasa Khmer sama sekali, saya memesan makanan dengan cara menunjuk. Saya memilih babi rebus dengan kubis dan beberapa sayuran lain yang tidak saya kenali. Makanannya disajikan dengan porsi nasi yang luar biasa banyak, ditemani oleh saus ikan dan potongan cabai.

Saya mulai melahap makanan tadi, kemudian menyadari semua orang memperhatikan saya—bule backpacker yang tak jelas juntrungannya di sana. Empat lelaki terlihat sedang mabuk total di meja plastik di belakang saya makan. Ada paling tidak 30 kaleng merah ABC Stout tergeletak di atas meja mereka. Wajah mereka merah sekali. Mereka saling berteriak satu sama lain.

Di sebelah meja saya, dua lelaki sedang main catur penuh konsentrasi. Saya berusaha mengambil beberapa foto, tapi kamera saya langsung menarik perhatian yang negatif. Dalam sekejap, seorang lelaki menyambangi saya dan berteriak “No photo! Photo no good!”


Baca juga wawancara VICE dengan pengusaha bisnis judi asal Indonesia di perbatasan Kamboja:

Seorang lelaki lain lantas mendatangi ke meja saya penuh percaya diri dan melontarkan pertanyaan dalam bahasa Khmer, yang tentunya tidak saya mengerti. Saya menatapnya dan mengatakan “Saya tidak bisa berbicara bahasa Kamboja.” Kemudian dia beralih menggunakan bahasa Inggris sempurna dan membalas, “OK, tidak apa-apa. Kebanyakan orang kulit putih biasanya bisa berbahasa Kamboja. Saya pikir mungkin kamu bekerja untuk LSM atau semacamnya.”

Lelaki tersebut mengatakan namanya adalah “Mr Short". Dia mengaku bekerja sebagai seorang fixer, pemandu, sekaligus sopir taksi selama hampir sepuluh tahun. Kami berbicara selama satu jam selagi Mr Short menjelaskan detail Kota Poipet, lengkap dengan deskripsi lokasi-lokasi terbaik untuk mengambil foto dan memperingatkan saya untuk berhati-hati, terutama di malam hari.

Poipet memang memiliki reputasi buruk karena tingginya tingkat kejahatan. Di kota ini, seorang remaja backpacker Inggris pernah disergap dan kabarnya dibunuh dalam kasus pencurian yang terjadi 2004. Pelakunya masih belum terungkap hingga sekarang. Kriminalitas serius macam itu hanya satu dari sekian kasus kejahatan lainnya yang terjadi di Poipet setiap tahun. Seorang pengusaha Jepang ditembak mati di luar kasino setelah menang besar. Seorang lelaki menghajar saudara kandungnya sendiri sampai mati menggunakan pipa besi. Ratusan penipu internet ditangkap dalam penggerebegan rumah kos.

Di kota ini, ada banyak sindikat penculik menangkap pejudi yang tak kunjung hengkang walau duitnya habis. Banyak turis asing ditelantarkan ketika mereka tidak bisa membayar utang kepada kasino. Kota ini sekaligus jalur bagi salah satu pusat penyelundupan manusia terburuk di Asia Tenggara dan tempat di mana banyak penipu berusaha mengedarkan uang palsu. Intinya, kota ini adalah pusatnya semua perilaku kriminal dan busuk.

Saya bertanya ke Mr. Short cerita macam apa yang dia pernah dengar tentang kejahatan terorganisasir di Poipet. Ada beberapa orang, ujarnya, yang menguasai bisnis bawah tanah tanpa pernah tersentuh hukum. “Kadang ada beberapa lelaki yang masuk ke kasino, mengambil uang atau chips dan pergi,” ujarnya sambil berbisik-bisik. “Polisi juga tidak bisa berbuat apa-apa.”

Malam itu, setelah sedikit minum-minum, saya memutuskan datang kembali ke area kasino. Saya memilih kasino terbesar yang saya bisa temukan di pusat kota, yaitu Grand Diamond City Hotel and Casino. Kasino ini berupa gedung raksasa yang terlihat seperti pesawat luar angkasa diselimuti ribuan lampu emas. Mesin-mesin slot berjejer di kedua sisi tembok. Lelaki-lelaki tua tanpa ekspresi berdiri di hadapan mereka, tidak menunjukkan banyak emosi selagi mesin di hadapannya mengeluarkan efek sound yang konyol dan musik yang norak.

Meja blackjack penuh pejudi yang wajahnya datar. Ruangan meja poker dan rolet sangat tenang. Tidak ada musik, tidak ada gelak tawa, apalagi tanda-tanda kegirangan atau teriakan kekalahan. Aneh sekali, berbanding terbalik dengan nuansa yang saya lihat di kasino di AS atau Australia. Sepertinya tidak ada satu orangpun yang bersenang-senang selama berjudi di Poipet. Perjudiannya terasa palsu dan otomatis, seakan-akan pengunjung hanya datang untuk bertaruh dan menjaga interaksi dengan manusia lain seminimal mungkin.

Saya berjudi hampir satu jam lamanya, berusaha mengeluarkan uang sesedikit mungkin: menang sedikit agar saya bisa terus bermain hingga semua uang habis. Tempat tersebut terasa seperti mesin dan mati. Semua mesinnya bergerak secara otomatis. Mesin minumannya juga. Pertama kalinya seseorang berbicara ke saya adalah ketika sekelompok lima petugas keamanan berbadan besar mengelilingi saya setelah saya berusaha mengambil beberapa foto.

“Kamu harus ikut kami sekarang!” teriak salah seorang lelaki tersebut. “Kamu mengambil terlalu banyak foto! Kamu tidak boleh mengambil foto di dalam!”

Petugas keamanan menyita kamera Canon DSLR saya di gerbang masuk, tapi saya nekat mengambil foto lain pakai ponsel. Nampaknya pihak manajemen kasino tidak menyukai tindakan ini. Awalnya, petugas keamanan meminta ponsel saya, namun setelah saya menolak memberikan, mereka masuk ke album foto dan menghapus imej yang dianggap “terlalu sensitif.”

Lelah, kehilangan US$60, dan balik ke hotel tanpa foto apapun, saya memutuskan berhenti mencatat suasana kasino Poipet. Saya berjalan kembali ke kamar dan tertidur. Esoknya, saya mempersiapkan tas, lalu memesan taksi ke Siem Reap. Saya sudah muak dengan suasana kasino Kamboja.

Di luar hotel, saya menyadari bahwa para pejudi terlihat sama murungnya dengan orang lain di jalanan. Poipet mengisap semua kegirangan dari kegiatan berjudi. Barangkali seperti inilah suasana perjudian saat kiamat sudah menerjang bumi. Tidak ada lagi kesenangan. Yang ada hanya suasana murung, suram, dan menyedihkan.

Taksi saya tiba. Saya menjatuhkan rokok ke gundukan debu merah, masuk ke dalam mobil, lalu menyaksikan deretan kasino dan gubuk timah berlalu. Tak ada kasino lagi setelah mobil saya melaju ke dalam jantung wilayah Kamboja—menuju kota yang lebih baik dan ramah pada turis.