Film

'The Killing of a Sacred Deer' Film Horor Artsy Yang Unik Banget

Menyusul kesuksesan ‘The Lobster’ (2015), sutradara Yorgos Lanthimos membahas film terbarunya, sebuah thriller gelap dibintangi Nicole Kidman dan Colin Farrell.

oleh Katherine Gillespie
15 November 2017, 6:51am

Kebayang enggak kalau sosok laki-laki remaja sebetulnya menakutkan? Setelah menonton The Killing of a Sacred Deer, kamu mungkin berpikir ‘kenapa sih gak lebih banyak film horor menampilkan tokoh antagonis laki-laki remaja?’

Dalam film ini, aktor muda Barry Keoghan (yang juga bermain dalam Dunkirk) memerankan Martin, remaja 16 tahun berperilaku mengerikan yang gemar mendendam—biarpun sutradara Yorgos Lanthimos tidak kunjung membeberkan betapa mengerikan sifat karakter ini sampai filmnya lebih dari setengah jalan.

Ada satu hal yang lebih mengerikan dari cerita horor menampilan bocah remaja marah yang ingin balas dendam: rumah sakit yang dihantui arwah. Masalahnya, The Killing of a Sacred Deer memiliki dua elemen tersebut. Film ini menampilkan sebuah rumah sakit besar yang terlihat mahal dan bersih, diisi oleh ahli bedah jantung dunia seperti Steven Murphy, yang dimainkan dengan terampil oleh Colin Farrell. Para ahli bedah ini memiliki kekuasaan seperti Tuhan, namun anehnya seorang bocah remaja mengetahui banyak rahasia pribadi Steven dan berusaha memerasanya.

Kami tidak bisa membeberkan lebih banyak lagi tentang plot film yang aneh, tapi intinya kehidupan nyaman Steven dan keluarganya—Nicole Kidman memainkan peran sebagai istri Steven, bernama Anna, yang juga berprofesi sebagai dokter. Hidup keduanya dihancurkan oleh seorang bocah berjerawat yang memegang prinsip keadilan diambil dari mitologi kuno Yunani.

Film ini judulnya terinspirasi naskah drama karya Euripides berjudul Iphigenia in Aulis. Ceritanya tentang panglima perang Yunani kuno, Agamemnon, yang tidak sengaja membunuh seekor rusa suci milik Dewi Artemis. Guna membayar dosanya, Artemis meminta komandan mengorbankan anaknya sendiri. Tokoh ahli bedah Colin Farrell—yang mungkin sepanjang hidupnya tidak pernah tahu rasanya kehilangan kendali—mengalami dilema yang sama di hadapan Martin.

Kemiripan ini bukan kebetulan, tapi sutradara Lanthimos bukanlah seorang filsuf, tapi lebih seorang penulis dan sutradara yang kembali menanyakan pertanyaan kuno dengan cara yang baru dan aneh.

“Kami merujuk ke kisah itu dalam film sebagai pengingat bahwa banyak orang telah mempertanyakan isu yang sama selama ini, dan banyak dari mereka tidak berhasil mendapatkan jawaban yang memuaskan,” kata Lanthimos saat diwawancarai VICE lewat telepon.

Lanthumos, yang menerima nominasi Oscar berkat film berbahasa Inggris pertamanya, The Lobster (2015), adalah sosok sutradara nyentrik berbakat. Bersama rekan penulis naskah Efthymis Filippou, dia seringkali menyusun skenario berdasarkan ide kecil yang berceceran. Dia tidak pernah membuat narasi besar dari awal supaya filmnya utuh dari awal sampai akhir. “Hal-hal kecil seperti pecahan cerita yang entah kenapa terasa menarik, mengandung elemen perilaku manusia,” ujarnya. “Daripada menciptakan titik akhir atau pertanyaan sentral.”

Apabila The Lobster (yang juga menampilkan akting keren dari Farrell) merupakan sebuah komedi gelap yang absurd, The Killing of a Sacred Deer sejatinya adalah film horor. Jadi elemen perilaku manusia yang ditampilkan jauh lebih gelap—jangan ngarep ada elemen nyentrik dari hubungan romansa modern deh. Adegan awalnya langsung menampilkan darah manusia dan sudah pasti kamu akan merasa tidak nyaman sepanjang film ketika Farrell mulai perlahan-lahan berubah dari sosok yang menawan menjadi menakutkan. Sama seperti di kehidupan nyata, batas antara dua kepribadian ini sangat tipis.

Sebagai sutradara yang lihai membangun atmoser kelabu di layar, Lanthimos menjaga ketegangan film horor berdurasi dua jam dengan cara membeberkan plot perlahan-lahan. Pergerakan kamera selalu dilakukan penuh perhitungan agar mendapatkan efek yang maksimal. “Saya ingin kameranya menjadi seperti entitas yang berbeda dalam film, sesuatu yang mengikuti karakter dan mengamati mereka dari atas dan bawah, demi mendapatkan sisi yang asing,” ungkap Lanthimos.

Setiap elemen dari film ini sangat diperhitungkan dan disengaja. Skripnya, misalnya: Farrell, Kidman, dan Keoghan harus menampilkan dialog yang sangat dingin dan tidak ramah. Mereka tidak berbicara seperti manusia normal. Lanthimos mengaku tidak banyak mengatur aktor-aktornya. Sebaliknya, dia memaksa para pemeran berakting sedemikian rupa karena cara krakter mereka ditulis. Hasilnya, yang dia harapkan adalah “presisi, canggung, lucu, gelap, dan jujur.”

Farrell dan Kidman masuk ke dalam peran mereka secara sempurna, meniru sikap dingin dan kaku para kaum elit suburban Amerika. Namun wajah mereka mulai terurai ketika kehidupan mereka yang sempurna diganggu oleh kehadiran Martin yang sangat mengatur. Biarpun saya tentunya senang menonton orang-orang tajir dan berkuasa mengalami karma, film ini tidak segitu hitam dan putih. Memang betul, pasangan utama film ini menyebalkan, tidak sensitif, tipe kelas atas yang memaksa anak-anaknya masuk ke paduan suara dan kelak menjadi dokter—tapi rasanya mereka tetap tidak layak diberikan stres fisik dan mental yang dilempar Lanthimos dan Filippou. Eh tapi apa iya begitu?

The Killing of a Sacred Deer menawarkan simbolisme aneh yang tidak nyaman. Film ini memiliki cukup elemen narasi tradisional untuk menjaga perhatian penonton, namun sesungguhnya menyajikan atmosfir ambiguitas yang menegangkan dan mungkin didesain untuk membuat penonton Hollywood yang terbiasa dengan akhir film yang jelas untuk merasa tidak nyaman.

Lanthimos tidak terang-terangan membenarkan bila itu tujuannya. Dia hanya mengaku ingin menciptakan karya yang bisa mempengaruhi penonton—dia ingin memberikan kekuasaan kepada penonton untuk mengambil makna dari filmnya manasuka.

“Saya tidak pernah berpikir menggunakan metafora, atau sengaja menciptakan asosiasi-asosiasi sendiri,” ujarnya. “Saya hanya menampilkan sebuah situasi yang kompleks dan berharap berbagai peristiwa muncul dengan sendirinya. Yang paling penting bagi saya, penonton mendapatkan jeda dan celah saat menikmati film, sehingga mereka bisa menciptakan kesimpulan sendiri. Saya tidak mau film saya berpura-pura memiliki satu kebenaran makna untuk semua orang.”

Follow Kat di Twitter