Iklan
Game

Lelaki India Kena Serangan Stroke Karena Kecanduan Main PUBG

Setelah tiap hari mabar melulu, remaja berusia 19 tahun mengalami pembekuan darah, penurunan berat badan, hingga dehidrasi akut.

oleh Shamani Joshi; Diterjemahkan oleh Jade Poa
04 September 2019, 6:17am

Foto ilustrasi main PUBG via Pexels.

Harus diakui, main PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) secara berlebihan dijamin ada dampak negatifnya. Kita wajib ingat sama kasus remaja yang kena serangan jantung usai bermain PUBG selama enam jam tanpa henti. Wajar pula kalau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sampai menyatakan kecanduan main game sebagai penyakit. Kasus terbaru ini membuktikan kekhawatiran tersebut. Seorang remaja di distrik Wanaparthy, Hyderabad, India menderita stroke setelah terlalu lama bermain PUBG.

Ternyata, bermain game terlalu lama dapat menyebabkan gangguan trombosis atau bekuan darah otak, menurut dokter di Rumah Sakit Sunshine, Hyderabad yang merawat lelaki berusia 19 tahun itu. Dia didiagnosis stroke pada 26 Agustus lalu, setelah lengan dan kaki kanannya mati rasa. Stroke seperti ini, yang menghalangi aliran darah dan oksigen ke otak, biasanya cenderung diderita kaum lansia. Para dokter menyalahkan adiksi PUBG atas kondisi kesehatan si lelaki.

Para dokter juga mengatakan karena laki-laki ini terlalu fokus main PUBG, dia sampai lupa makan dan akhirnya berat badannya turun drastis. Alhasil dia dehidrasi dan kekurangan nutrisi. "Kondisi ini menyebabkan pengentalan darah di otak, sehingga terjadi pembekuan darah," ujar Dr K Vinod Kumar, selaku dokter ahli gizi senior di Rumah Sakit Sunshine saat dihubungi media lokal.

Ibu sang pecandu PUBG mengakui anaknya rutin main PUBG dari pukul 9 pagi sampai pukul 3-4 sore tanpa henti. Dia biasanya istirahat sebentar untuk bekerja paruh waktu sebagai loper surat kabar. Ia seharusnya menjalani tahun kedua kuliah S1, tetapi selalu meluangkan waktu untuk bermain PUBG.

Remaja ini sekarang sudah pulih dan diizinkan pulang dari rumah sakit. Namun, kecanduan game mobile ini menjadi semakin lumrah di kalangan anak muda berbagai negara. Jumlah anak muda yang bermain game single-shooter kompetitif terus melonjak, sehingga menyebabkan gejala sakit kepala, muntah, tubuh kaku, sift lekas marah, dan kelesuan. Apakah melarang main game bisa jadi solusi? Sayangnya tidak. Para psikolog mengatakan kebijakan menyita ponsel remaja masa sekarang bisa menimbulkan reaksi agresif, bahkan gejala sakaw, sampai tendensi bunuh diri.

PUBG sempat dilarang di Negara Bagian Gujarat, India karena dinilai mengganggu keharmonisan rumah tangga. Negara lain seperti Nepal dan Irak juga memberlakukan larangan game kontroversial ini karena berkaitan dengan dampak-dampak negatif terhadap psikologi dan kesehatan pemainnya.

Namun, berbagai penelian lain termasuk oleh Oxford University, menyimpulkan bila game seperti PUBG punya efek positif, selayaknya “obat pencahar” emosional, dan tidak berkaitan dengan tendensi kemarahan atau kekerasan.

Follow Shamani Joshi di Instagram .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India.