BUKU

Hitler Memakai Manusia Serigala, Vampir, dan Astrologi Untuk Kuasai Jerman

Buku 'Hitler’s Monsters' yang baru terbit mengkaji hubungan erat petinggi Nazi dan dunia supernatural, serta program cuci otak rakyat.

oleh J. W. McCormack
03 Juli 2017, 7:16am

Dalam Hitler's Monsters, sebuah buku yang bakal segera dirilis tentang Nazi dan hal-hal supernatural di sekitarnya, Eric Kurlander menyigi kronologi naiknya popularitas Hitler saat dia mengeksploitasi ketertarikan publik jerman terhadap occultisme dan paganisme. Alih-alih menjadi rekaman bagaimana Hitler mematuhi tabel astrologi hingga mencapai kehancurannya, buku ini dengan ciamik menggambarkan sebuah kebudayaan yang menolak mentah-mentah sains dan memilih mengimani "border science" yang mengakar erat pada kepercayaan yang pegang. Pilihan ini memungkinkan petinggi Jerman saat itu mengukuhkan kepercayaan mereka terhadap superioritas ras tertentu sebagai sebuah mitologu. Border science—yang berbeda dari pseudosains—adalah istilah yang digunakan oleh kaum occultis untuk menyebut cabang-cabang "ilmu" seperti parapsikologi, astrologi dan ilmu nujum yang mendadak naik daun di masa pemerintahan Hitler.

Dalam bukunya, Kurlander mengutip penulis pro-Nazi Gottfried Benn, yang mengatakan, "cenderung terjadi kemunduran perkembangan intelektual ketika mereka yang tengah berebut kuasa...menengok ke belakang untuk menemukan kontiunitas mitikal." Dalam kasus Nazi, pernyataan ini merujuk pada manusia serigala, kecenderungan memilih sihir alih-alih sains dan komunitas Thule yang melacak asal-usul ras Arya sampai ke sebuah benua yang hilang. Oleh Kurlander semua ini disebut sebagai "supernatural imaginary."

Hitler's Monsters, yang bakal diterbitkan oleh Yale University Press 18 Juli mendatang, adalah sebuah cerita tentang gerakan romantik—gerakan populis völkisch—yang salah arah ketika grup paramiliter mengooptasi sihir dan religi dan secara efektif memunggungi fakta. Mereke memilih mempercayai "fantasi berbasis kepercayaan rasial" seperti World Ice Theory Hanns Hörbiger yang mengatakan bahwa ada sebuah lempegan es surgawi yang menjadi akar semua ilmu alam dan bisa menjelaskan sejarah panjang manusia. Kurlander juga dengan telaten merekam usaha-usaha yang dilakukan oleh petinggi Jerman seperti Reinhard Heinrich untuk mengusir kaum occultis dari Nazi. sayang, usaha ini nyata-nyata gagal lantaran agama Nazi yang jelas-jelas masa bodo dengan sains itu memang perlu mitos untuk menjustifikasi keberadaannya.

Berbeda dengan penggambaran penyihir Nazi ala Hollywood (Indiana Jones, Wolfenstein 3D, Hydra dalam Marvel Universe) atau kembarannya Golden Dawn di Inggris yang keliahatan jauh lebih jinak, sihir dan mistisisme Nazi jauh lebih berbahaya dari yang kita duga. Keduaya membentyk sebuah ideologi yang kebal terhadap kontradiksi logis dan mampu membuat populisme berbasis kepercayaan yang beradar pada mitos dan takdir yang diandaikan sama. Ketika akhirnya saya bisa ngobrol dengan Kurlander lewat sambungan telepon, makin jelas bahwa apa yang dikerjakan Kurlander tak bakal memenuhi buku-buku klenik murahan tentang Nazi yang kerap nongol di toko buku kesayangan kita semua. Buku Kurlander menunjukkan bagaimana sebuah negara yang berada dalam krisis bisa nekad memilih mitos buatannya sendiri alih-alih kenyataan dan bagaimana konsekuensinya.

VICE: Jadi, sejauh mana sebenarnya Hitler percaya kalau manusia serigala dan vampir?
Eric Kurlander: ada bukti yang menunjukkan banyak penduduk Jerman dan beberapa pentolan partai Nazi yang benar-benar percaya akan keberadaan makhluk serta kekuatan supernatural. Tak semua anggota partai Nazi percaya hal serupa, aku enggak berani ngomong begitu. Tapi, aku bisa bilang kalau kecenderungan macam ini lebih mudah ditemukan pada mereka ketimbang misalnya, orang-orang Inggris atau Amerika Serikat. Misalnya, bisa enggak kita ngebayangin Roosevelt atau Churchill menamai sebuah operasi militer dengan nama Project Werewolf?

Benar juga ya.
Bagi kita, monster itu sudah hampr jadi semacam fenomena murahan. Orang-orang yang berdandan ala gotic kan enggak harus percaya kalau vampir adalah ras slavik dan Yahudi yang membanjiri Jerman untuk menghabiskan sumber daya dan mengotori ras Aryan. Nazi punya pandangan berbeda. Mereka percaya ada beberapa jenis monster baik seperti manusia serigala —makhluk dongeng yang konon melindungi Jerman dalam kondisi kritis—dan ada juga monster jahat, seperti vampir misalnya, yang dipercaya benar-benar ada.

Ada semaacam tren yang mengarah pada post-traditional spiritualism atai transendentalisme di Perancis dan Inggris (dan ada banyak buku yang membahas kecenderungan serupa di Jerman). Yang membedakannya dengan apa yang berkembang di Jerman adalah gerakan-gerakan ini bersifat pribadi dan apolitis. Ajaran-ajaran teosofi yang tengah populer di Amerika Serikat dalam kurun waktu yang sama misalnya hanya tumbuh subur di kamar-kamar pribadi, di hutan dan komunitas seniman tertentu. Ajaran anthroposofi occultis Rudolf Steiner, misalnya—yang punya pengikut di kawasan Inggris Rata dan Amerika Serikat—tak kunjung menjadi politis dan berbau rasial kecuali di Jerman dan Austria.

"[Joseph] Goebbels sampai membentuk tim berisi ahli astrologi yang bertugas menciptakan propaganda berdasar ramalan Nostradamus yang digunakan untuk kepentingan politik luar negeri."

Bisa tolong jelaskan bagaimana frost giant dan World Ice Theory berkaitan dengan semua hal ini?
Yang menarik dari imajinasi supernatural Eropa Tengah adalah semua ketertarikan atas hal-hal mistis macam Atlantis atau pencarian cawan suci menjadi kental dengan nuansa rasis dan hirarkis. Imbasnya, muncul kepercayaan akan benua hilang yang dikenal dengan nama Ultima Thule, atau Hyperborea, yang penting pengaruhnya dalam narasi kemurnia bangsa Arya. Tradisi Norse pada akhirnya juga masuk dalam World Ice Theory, yang diadopsi oleh Hitler dan Himmler sebagai kosmologi resmi Jerman. Saking percaya Hitler akan hal ini, dia tak membekali pasukannya di wilayah timur dengan perlengkapan yang memadai karena menurutnya orang Nordik jauh lebih tahan melawan dingin.

Anda menulis tentang bagaimana pemikiran völkisch, atau budaya dan mitos tradisional Jerman traditional German myth and culture, terpengaruh dongeng-dongen Brothers Grimm, gagasan bahwa hutan dihuni oleh banyak penyihir dan iblis
Aku tak ingin menunjukkan bahwa ada garis yang bisa kita tarik untuk membedakan mitologi völkisch dan pemikiran supernatural yang melahirkan Nazisme. Yang jelas keduanya saling berkelindan. Pertanyaannya adalah "bagaimana pemikiran völkisch dappropriasi oleh pemikir supernatural?". Yang jelas, sekali kamu menggunakan border sciene dan esoterisme untuk menyelesaikan pertanyaan pelik tentang ras dan asal usul etno historis, ada usaha apropriasi prinsip-prinsip pemikiran supernatural. Kenapa ini terjadi? Kerena ini bisa digunakan untuk merasionalkan atau "membuktikan" sebuah pemikiran rasial. Jadi, nazisme yang merupakan oplosan dari pemikiran rasis dan imperialis diikuat oleh borders science atau epistemologi esoterik.

Foto dari Yale University Press

Artinya, bisa dibilang para pemimpian Nazi cuma mencomot takhayul yang mereka anggap sejalan dengan ideologi partai?
Ya, dalam banyak hal sih seperti itu. Sebenar isi doktrin-doktrin ini sangat populer pada masanya di Jerman dan Austria. Banyak di antaranya bahkan ditoleransi dan sempat diadopsi oleh Hitler seperti kepercayaan parapsikologis tentang telepati, astrologi dan teknik water dowsing. Karena kini kamu berada dalam alam pemikiran esoterik di mana materialisme Yahudi dan rasionalisme "bebal" tak lagi berarti, pikiranmu terbuka terhadap gagas tentang Reich yang berumur ratusan tahun, "sains" yang rasial dan seterusnya. Waktu itu, status border science bukannya masih jadi bahan perdebatan antara ilmuwan ternama seperti Einstein, Freud atau Heisenberg. Ilmuwan mainstream pada saat itu, utamanya dari luar Jerman, sudah jelas-jelas bilang "ya ampun, border science itu enggak ada bukti empirisnya. Tapi, pernyataan macam ini dengan enteng ditampik oleh petinggi Nazi seperti Himler dengan berkata "Ah anda saja yang tak bisa menerima cara pandang lain."

Apa ini artinya kita tak bisa lagi melihat astrologi sebagai takhyul yang bebas nilai?
Nah, ini pertanyaan bagus. Pada tahun 1941, ada perdebatan sengit di dalam partai Nazi menyangkut pertanyaan seperti ini tentang astrologi. Tak cuma wakil Hitler, Rudolf Hess, yang pergi jauh-jauh ke Skotlandia untuk melakukan perundingan damai dengan Inggris gara-gara ahli astrologi kepercayaannya bilang demikian, Heinrich Himmler juga memiliki seorang penasihat astrologi bernama Willem Wulf, seorang seniman kapiran yang jadi pakar astrologi gara-gara pernah membaca jurnal Leonardo da Vinci dan sadar hal ini bisa menghasilkan uang. Bahkan, menteri propaganda Nazi Joseph Goebbels, yang harusnya lebih waras dari yang lain, menganggap pakar astrologi punya peran penting dalam kepentingan politik. Goebbels sendiri bahkan membentuk tim berisi ahli astrologi yang bertugas menciptakan propaganda berdasar ramalan Nostradamus yang digunakan untuk kepentingan politik luar negeri.

"Saking percayanya Hitler pada World Ice Theory, dia tak membekali pasukan Jerman di wilayah timur dengan perlengkapan yang memadai, karena menurutnya orang Nordik jauh lebih tahan melawan dingin."

Ada kesalahankaprahan dalam penggambaran ketertarikan Nazi terhadap occultisme yang ingin kamu koreksi?
Yang menjadi masalah menurutku adalah orang-orang yang berbusa-busa ngomong tentang holocaust dan memfantasikannya sebagai peristiwa puitis yang mengubah melampui peristiwa sejarah lain. ini yang bikin runyam. Orang-orang ini tak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini karena mereka tak bisa membandingkannya dengan genosida lain atau pembantaian etnis yang kelak terjadi. Bagi mereka, holocaust ada di luar sejarah. Masalah yang sama bisa kita temukan dalam karikatur hubungan Nazi dan occultisme yang berada di luar semua realitas, kita tak bisa belajar apapun untuk mencegah munculnya permasalah serupa saat ini.

Pelajaran apa yang bisa diambil pembacamu menyangkut penggunaan mitologi sebagai perangkat propaganda oleh Nazi?
Menurutku, pembaca bisa belajar bahwa di masa krisis, pemikiran supernatural dan berakar paa kepercayaan tertentu yang diangap sebagai "sesuatu yang ilmiah" akan menghasilkan konsekuensi politis dan sosial paling buruk. Aku tak mengatakan bahwa ini adalah fenomena khas kaum sayap kanan—ingat, fasisme punya elemen pemikiran sayap kiri juga. Yang aku coba katakan adalah baik kaum konservatif atau liberal harus bisa mengenali ketika kemunculan fenomena "alt-right" atau orang-orang yang mengambil keputusan di ranah sosial dan politik berdasarkan kepercayaan tertentu, alih-alih sekumpulan bukti empiris, bakal menyubur proyek radikal untuk mengeyahkan etnis dan penganut agama tertentu. Ada banyak kesamaan antara argumen yang membela alt-right, ajaran fundamentalis agama dan doktrin yang melahirkan Nazisme hampir satu abad yang lalu.

Esai dan wawancara J. W. McCormack terbit di Conjunctions , Culture Trip , New York Times, dan New Republic.

Hitler's Monsters: A Supernatural History of the Third Reich karya Eric Kurlander telah diterbitkan Yale University Press pada 18 juli 2017.