Iklan
Fashion

Choker Tak Lagi Dianggap Keren

Kami menyelidiki alasan kain yang melilit leher ini tiba-tiba ga ngetren, padahal tahun lalu Rihanna dan jutaan perempuan lain masih memakainya.

oleh Sirin Kale
14 Juli 2017, 4:55am

Foto oleh Chloe Sheppard dari Polyester Magazine edisi lima.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Selagi saya menulis artikel ini, sebuah choker beludru berwarna hitam melingkar di leher saya. Ukurannya pas banget. Choker hitam ini dengan nyaman membungkus leherku, tanpa sedikit pun bikin tercekik. Lingkarannya cukup sempit hingga bisa dipakai dengan baju mana pun yang saya mau tanpa harus terlihat terlalu menonjol. Bulan lalu, saya dengan pede mengenakan choker ini ketika bertemu dengan ortu pacarku saat ini untuk pertama kali. Seorang teman yang sama-sama menonton Festival Glastonbury menyebut aku bergaya ala "shotta text" dengan chokerku. Bahkan saya memakai choker ini ke sebuah acara malam penghargaan (tapi, sayang saya tak menang satu pun penghargaan).

Choker adalah aksesoris serbaguna yang sayangnya sudah enggak musim. Pertanyaanya: kapan tren choker mulai perlahan mati? Ketika Lena Dunham ngetweet baru saja beli enam choker di toko online? Atau kita Forever 21, toko retailer kecintaan ibu-ibu dan dedek-dedel SMA, mulai menjajakan choker yang saking tebalnya hingga mirip penjepit leher? Atau tren ini mulai sekarat ketika semua kontestan acara reality show di seluruh penjuru dunia, mulai dari The Bachelorette versi Amerika Serikat hingga Love Island di Inggris, mulai memamerkan choker di leher mereka? Entahlah. Bisa jadi semuanya benar. Sidang pembaca, dengan sangat berat hati, saya harus mengatakan bahwa kita baru saja melewati era kejayaan choker—saatnya mencari aksesoris hip termutakhir. Dan harus kita akui, Broadly punya andil dalam kematian tren choker.

Pada bulan September 2016, kami menerbitkan sebuah artikel bertajuk "Why Every Single Person You Know Is Wearing Chokers Now." di dalamnya, kami menautkan kembali populernya choker dengan bangkitnya tren busana 90an seperti jeans berpinggul tinggi dan overall. Desainer seperti Alex Wang dan pesohor macam Rihanna, Gigi Hadid dan Kendall Jenner punya sumbangsih yang tak sedikit dalam menanjaknya popularitas choker.

Choker—yang pernah jadi cara santun untuk diam-diam bilang "leher gue bagus lo bentuknya"—nasibnya kini jadi aksesoris kesayangan ibu-ibu suburban yang doyan mengantar anaknya bermain bola sekaligus perhiasan favorit mbak-mbak penonton Coachella. Hampir semua orang yang saya kenal kini menganggap choker sudah ketinggalan zaman dan enggak keren lagi, kecuali—tentu saja—pacar saya. Baginya, choker kini sudah jadi perhiasan cupu tapi masih suka melihatnya melingkar di leher saya.

Di antara kolega kerja dan lingkaran pertemananku, ada sebuah konsensus tentang choker. Kira begini bunyinya: choker itu sudah enggak keren lagi, tapi kita bakal terus memakainya. "Sekarang, aku malu kalau pakai choker," ujar Zing. saya lantas menunjukkan sebuah choker hitam yang sudah kering setelah tak sengaja saya jatuhkan dalam secangkir kopi. Raut mendadak berubah gamang. "Kalau yang ini enggak terlalu mencolok sebagai aksesoris normal," ujarnya.

"Lace choker, contohnya," imbuhnya, "adalah perhiasan yang sekarang umum dipakai oleh mbak-mbak yang datang nonton Coachella. Mereka memadukannya dengan atasan fringed crochet, celana hotpant denim dan bindi," teman kerjaku, Claudia mengamini pendapat Zing—seperti saya, Claudia dalam waktu dekat ini tak mau kepergok memakai choker. "Aku bisa menunjukan kapan choker mulai enggak keren lagi: ketika aku melihat semua ibu-ibu di kawasan suburban memakai choker tiap kali keluar rumah. Tapi, keren atau enggak, aku bakal tetap memakai choker kesayanganku."

Banyak ornag yang aku wawancarai tentang choker percaya bahwa banyak orang membenci choker lantaran sebagai sebuah aksesoris, choker cenderung menipu. Istilahnya, choker adalah aksesoris yang digunakan oleh gadis-gadis baik-baik dan anak rumahan agar terlihat layaknya gadis yang "berani bertualang".

"Mereka ini tipe cewek yang mikir dirinya edgy padahal sebenarnya biasa saja," tulis teman kuliah saya, Mitchell "Choker adalah aksesoris yang sedang banyak dibicarakan, itu saja."

"Kalau kamu enggak pakai choker di kamar tidur, kamu harusnya enggak boleh pakai choker." tambah Zing, yang kerap terlihat menggunakan kalung BDSM. "Seperti namanya, Choker itu seakan-akan bisa digunakan untuk mencekik. Aku tak mau buang-buang waktu untuk perhiasan yang setengah-setengah macam lacy string choker. Bagiku, itu tanggung."

Tak semua—tentunya—meninggalkan choker. "Aku punya choker kulit kepang dengan gesper perak." demikian komentar rekan kerjak, Diana. "Sayangnya, aku enggak pakai sekarang." tatkala saya bertanya pada Tish Weinstock, editor fitur i-D, dia menjawab dengan mengaku bahwa dirinya "kelihatan lebih keren kalau pakai choker." sebuah pertanyataan yang sama sekali tak saya ragukan.

Dalam beberapa komunitas tertentu, choker adalah perhiasan wajib—seperti beberapa aksesoris lainnya.

Pada bulan Juli 2016, Polyester majalah fashion queer menerbitkan sebuah editorial yang menampilkan seorang model mengenakan kalung BDSM bertuliskan "NOT A SUB." Tulisan ini pada dasarnya mempermainkan estetika BDSM—seperti subktultur underground lainnya. Yang menarik, tulian ini secara tidak langsung mengenalkan choker ke kalangan pembaca yang lebih luas. Choker kini jadi bahan pembicaraan kalangan mainstream, sesuatu yang merugikan komunitas asli di mana choker berasal.

"Choker secara tradisional, dalam konteks fashion, adalah tindakan subversif terhadap norma sosial sekaligus pengakuan terhadap sebuah subkultur," Jelas Ione Gamble, editor-in-chief Polyester. "Sayangnya, setalah choker dikooptasi sebatas sebagai tren, aksesoris ini kehilangan konteks penting yang melatarbelakangi kelahirannya, serta akarnya dalam fashion dan komunitas fetish. Sekarang choker malah jadi parodi dari arti sesungguhnya perhiasan ini."

Saya membeli sebuah kalung BDSM kulit dari Etsy di bulan yang sama ketika edisi Polyester itu. Alhasil, saya jelas tak bisa mendaku menjadi pakar zeitgeist penggunaan choker. Maka, untuk bisa sepenunya paham kenapa choker tak keren lagi, saya mengambil langkah favorit saya: bertanya pada beberapa orang—yang pastinya lebih keren dari saya—untuk menjelaskan fenomena yang tak saya pahami ini.

Foto Jovana oleh Rikalo via Stocksy.


"Pada umumnya, choker punya era keemasanya tersendiri. Setelah dicolong dari komunitas BDSM yang secara eksplisit menggunakannya, choker diadopsi oleh influencer mainstream dan pada akhirnya, dipuja oleh para gadis belia," ujar Emily Gordon-Smith dari agensi peramal tren, Stylus. "Yang menarik adalah para gadis belia mungkin tak paham asal muasal choker. Ini menunjukan bahwa tren bermula dari kelompok niche sebelum kemudian menyebar ke kelompok yang lebih luas. Dalam dunia fashion, ini adalah salah satu contoh tren jangka pendek—yang mungkin bakal muncul lagi di masa depan."

Seperti tren lainnya, jika kita cukup sabar untuk menunggu, choker pasti bakal ngetren lagi. Aida Manduley pertama kali mengenakan Choker di Puerto Rico dekade 90-an, sebelum kemudian choker ngetren lagi pada awal 2000-an. "Trennya mulai dari2003 atau lebih lah, aku mulai mengenakan choker hitam yang sepintas mirip tato...dan terus mengenakannya. Aku dulu pernah suka choker dan kembali menyukainya sekarang," begitu komentarnya. "Aku merasa agak aneh jika tak memakai choker karena aku jarang melepasnya. Aku cuma melepaskan chokerku barang beberapa kali sejak tahun 2003!"

Manduley bercerita sebelum choker kembali "in", dirinya sering ditanya tentang choker yang dia kenakan oleh anak ajarnya di sebuah SMA."percakapannya jadi lucu. Dan bisa dibilang ini cara bisa aku gunakan untuk mendekati mereka. Ketika akhirnya choker ngetren kembali, aku punya koneksi yang erat dengan anak didikku karena beberapa dari mereka mengenakan choker." kenang Manduleu. "Kembalinya choker awalnya terasa ganjil karena beberapa orang menuding aku memakainya karena sedang ngetren, tapi ujung-ujungnya, pandangan macam itu toh enggak ada gunanya. Yang penting adalah aku punya aksesoris yang benar-benar aku suka. Kadang ada yang mengenakan choker, kadang juga ada yang melepasnya."

Seperti Katy Perry, Choker bisa kembali pulih setelah diekspos habis-habisan dan cool lagi dengan satu syarat: bentuk dan penampilannya perlu dirombak. "Aku tak yakin bentuknua akan benar-benar berubah, cuma perlu sedikit modifikasi," jelas desainer fashion dan peramal tren busana Geraldine Wharry. "Choker harus kelihatan lebih nyeni—mungkin harus agak dipotong, atau harus ada eksperimentasi dengan bentuknya."

Untuk sementara, kita bakal terus mengenakan choker dengan alasan kita terus nyalip mobil lewat jalur transjakarta—karena kita sudah terbiasa dan enggak tahu harus bagaiamana lagi. Saya barangkali bakal bereksperimen memakai choker berwarna emas untuk mengganti choker hitam yang saya pakai saat ini. Tapi saya tahu apa? Choker tak menghilang dalam waktu dekat meski sudah kepalang mainstream.

Meski tren choker sedang sekarat, tapi kita toh masih bisa berteriak: panjang umur choker!

Tagged:
Rihanna
Budaya
Tren Sesaat
Gaya Busana
choker
Aksesoris