Budaya

Lakon Travesti: Menyorot Para Lelaki Ayu di Panggung Ludruk

Tak banyak grup ludruk tersisa di Jawa Timur memberi ruang bagi anggota transpuan ataupun cross-dresser. VICE menemui dua grup yang masih mempertahankan tradisi lama tersebut.

oleh Reno Surya
08 Maret 2019, 9:50am

Semua foto oleh penulis.

Tirai panggung masih tertutup, kursi-kursi kosong menanti penonton. Hari itu hujan lebat mengguyur Kota Surabaya. Di balik panggung, riuh-rendah para pemain ludruk yang sedang merias diri, sembari bertanya kabar satu sama lain, bersaing dengan suara hujan. Kebanyakan yang bersolek di meja rias diterangi neon remang-reman adalah lelaki paruh baya. Beberapa menit lagi, di panggung, mereka sepenuhnya berubah jadi perempuan.

Sebutan untuk lelaki pemeran sosok perempuan, dalam seni tradisi khas Jawa Timur ini, adalah travesti. Tak banyak grup ludruk modern memberi ruang bagi travesti. Irama Budaya Sinar Nusantara termasuk yang masih mempertahankan tradisi tersebut. Grup ludruk berdiri sejak 1999 ini sebisa mungkin selalu memainkan 10 travesti tiap kali pentas dari rentang usia berbeda-beda. Mulai dari yang masih berusia 20-an, hingga yang sudah 95 tahun.

Keputusan itu berani, mengingat ludruk sendiri seni yang kembang kempis diimpit zaman. Banyak grup ludruk lain gulung tikar. Sementara Irama Budaya, di gedung pertunjukan bilangan Kusuma Bangsa, rutin menggelar pentas saban Sabtu.

Para travesti itu, di sisi lain, bersyukur pengelola Irama Budaya tetap memberi mereka kesempatan. Arik, travesti paling muda di Irama Budaya termasuk yang gembira masih bisa tampil rutin. Dia transpuan 27 tahun yang menjalani peran sebagai travesti sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Arik merasa panggung ludruk, sekalipun tak sepopuler seperti masa dia belum lahir, adalah medium yang membantunya merayakan identitas.

"Aku tahu bahwa ludruk sepi penonton. Aku sadar akan itu. Tapi, ludruk ini sebenarnya memudahkan aku coming out, untuk menjelaskan ke orang-orang sekitarku sampai menerimaku," kata Arik kepada VICE.

1552031415294-rsz_1dsc00051

Arik, dan kawan-kawan lain akhirnya selesai berdandan. Dengan balutan kebaya rupa-rupa warna, mereka tampak jelita. Sembari menanti tirai dibuka, para pemain ludruk itu bergurau. Arik oleh beberapa rekannya digosipkan dapat tawaran tampil di panggung lain dengan honor lebih besar, tapi malah memilih miskin seperti mereka.

Suryadi, travesti senior yang lebih akrab disapa Bu Sur oleh rekan maupun penonton, jadi yang paling sering melontarkan guyonan, termasuk menggoda Arik.

"Saya itu ngludruk sudah hampir lebih dari 50 tahun. Tapi sebelum pertunjukan, saya masih selalu ndredeg [tegang-red]. Jadi kami biasa mencairkan suasana dengan guyonan," ujarnya.

Tirai dibuka. Walau hujan, ternyata puluhan penonton menyempatkan hadir. Sebagian anak muda. Tepuk tangan membahana. Malam itu, Irama Budaya memainkan lakon Kecandak Kecanting.

Para travesti berlengak-lengok diiringi suara gamelan. Bu Sur bersama dan travesti senior lain ikut menari, walau tak selincah Arik. Sementara anggota tertua, Mak Unyil berada di tengah barisan dengan bibir kemerahan dan bedak tebal. Saya duduk di barisan kursi paling depan bersama Meimura, sutradara pertunjukan. Kepulan asap rokok meluncur dari Meimura sepanjang pertunjukan.

"Travesti adalah identitas dari kesenian ludruk. Nah, kalau sampai ini dihilangkan bagaimana? Di dalam kesenian, kita enggak memandang gender. Kita sama di hadapan seni," ucap Meimura di tengah-tengah pertunjukan. "Kayak Mak Unyil tuh, meskipun udah umur segitu, kami masih memberi ruang. Ini adalah sebuah tanda jasa, karena masih mau bertahan."

1552036027056-DSC00105

Mak Unyil, sebagai anggota tertua grup ludruk Irama Budaya, dikenal beberapa penonton. Berulang kali namanya dipanggil. Dia mesam-mesem saja.

Sejarah kelahiran travesti simpang siur, karena ada berbagai versi. Sebagian beranggapan travesti dihadirkan sebagai akal-akalan menyiasati norma masyarakat Jawa Timur awal Abad 19, yang menganggap pamali jika perempuan tampil di atas pertunjukan.


Tonton dokumenter VICE soal tradisi cross-dresser lengger lanang di Banyumas yang sempat diberangus Orde Baru:


Beberapa pegiat ludruk lain menyatakan travesti lahir pada menjelang revolusi kemerdekaan. Terutama saat penjajahan Jepang hingga dua kali agresi Belanda. Di masa kacau itu, ludruk dipakai para pejuang sebagai media komunikasi menyulut semangat melawan penjajah hingga ke pelosok-pelosok desa. Karena berbahaya mengajak perempuan berkeliling banyak daerah, akhirnya para pelaki memerankan sosok lawan jenisnya.

"Mulanya travesti bukan transpuan. Tapi lebih layak disebut sebagai cross-gender. Karena, pada saat itu para pejuang kan melakukan ‘pencerahan’ lewat ludruk, sampai ke pelosok-pelosok desa. Nah jadi laki-laki lah yang berangkat," kata Meimura. "Di ludruk ini, pemain dituntut bisa berperan sebagai apa saja. Termasuk menjadi perempuan."

Travesti mulai terpinggirkan ketika banyak grup ludruk terjun ke bisnis rekaman kaset pada dekade 80'an. Tawaran rekaman dari Radio Republik Indonesia dan label Nirwana Records memberi sumber penghasilan lebih pasti bagi kelompok ludruk. Perempuan jadi lebih menjual. Kalau dengan medium suara, travesti tidak bisa berganti suara secara luwes agar terus menyerupai perempuan.

Alasan lain menghilangnya travesti adalah keterlibatan tentara dalam pengelolaan grup ludruk. Setelah Tragedi pembantaian komunis pada 1965, berbagai jenis kesenian rakyat segera dikendalikan oleh militer. Alasannya, organisasi underbouw Partai Komunis Indonesia, yakni Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), dituding menyusupi berbagai kelompok ludruk seantero Jawa Timur. Komando Distrik Militer di level provinsi, maupun organisasi ketentaraan di tingkat kabupaten/kecematan, menjadi patron baru kesenian ludruk. Sejak itulah anggota transpuan, atau berpenampilan kemayu, tak boleh lagi muncul di panggung.

1552036081808-DSC00155

Malam itu penonton lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Namun, Maemura mengaku khawatir karena pada tahun ini grup ludruknya tak lagi diberi subsidi oleh pemerintah kota Surabaya. Demi melanjutkan hidup, ia sekalian tak memungut karcis masuk pada pengunjung. Baginya, yang penting ramai dulu agar semangat teman-teman tetap terjaga.

Ini bukan tahun pertama ludruk Irama Budaya mengalami masa-masa kelam. Jauh sebelumnya, keadaan lebih buruk ketimbang sekarang. Menurut pengakuan Bu Sur, pernah dalam satu pekan ia hanya menerima upah Rp10 ribu bermain ludruk, karena penonton amat sepi. Untuk membeli beras saja tak cukup.

Berjarak 51 kilometer di sebelah barat daya kota Surabaya, tepatnya di Mojokerto, kelompok ludruk lain berusaha sekuat tenaga mempertahankan eksistensi. Ini grup ludruk tertua di Jawa Timur yang masih bertahan. Namanya Karya Budaya. Anggotanya sudah dua bulan lebih tak manggung, mereka tak seberuntung Irama Budaya. Edi, ketua ludruk Karya Budaya, menanti saya di teras kediamanya di Desa Jetis, yang berada persis depan sanggar.

Karya Budaya didirikan orang tua Edi pada 1959. Ciri khas dari kolektif ludruk ini adalah jumlah travestinya. Dari 30 anggota aktif, 28 diantaranya adalah transpuan. Bagi Edi, memang ini adalah mandat yang harus terus dijalankan.

"Kalau misal kita enggak memberi ruang untuk teman-teman trans lagi, lalu mereka akan bagaimana? Mau kembali ke jalan? Enggak, saya enggak pengen seperti itu. Karena bagi kami, ludruklah yang membantu teman-teman ini untuk diperlakukan secara setara. Di dalam kesenian, tidak ada istilah gender," kata pria yang akrab disapa Cak Edi ini.

Ia paham ada sebuah risiko besar yang harus ia pikul ketika memberi ruang teman-teman transgender. Di tengah masyarakat yang kian konservatif, Edi tak jarang harus berhadapan dengan pelbagai tudingan yang dilayangkan pada kelompok ludruknya, terutama dari warga luar desa tempat tinggalnya. Biasanya, persepsi negatif malah justru datang dari warga diluar desanya.

Warga desa Jetis turut bangga dengan kiprah Karya Budaya. Para travesti diperlakukan warga selayaknya manusia biasa. "Kami juga membina teman-teman. Saya sadar, bahwa ludruk tidak mampu menghidupi jika sebagai penghasilan utama. Jadi, mayoritas mereka buka salon, atau menjadi make-up artist.Teman-teman travesti itu solidaritasnya sangat kuat. Kalau ada anak baru, butuh pekerjaan, ya ditampung. Diajari sampai bisa, sampai punya salon sendiri," ujar Edi.

Berbeda dari Irama Budaya, ludruk Karya Budaya hanya bisa manggung jika ada yang mengundang mereka. Tak jarang, beberapa pemain ludruk Karya Budaya harus hijrah ke Surabaya jika ingin merasakan rutin pentas.

Edi memberi kelonggaran bagi para anggota Karya Budaya apakah bersedia tampil atau tidak. Dia sadar honor Rp200 ribu sekali tampil sama sekali tidak cukup menghidupi anggota. "Mereka bisa dapat uang berkali-kali lipat kalau merias pengantin. Jadi memang saya suruh untuk enggak tampil dulu. Karena, saya sudah senang kalau melihat teman-teman itu bisa hidup layak. Itu sudah lebih dari cukup bagi saya," kata Edi.

Dia berharap, suatu saat, travesti bisa menjadi dirinya sendiri bahkan di luar panggung. Dia resah, melihat beberapa tahun terakhir transpuan dan komunitas transgender sering dipersekusi, bahkan oleh aparat pemerintah.

1552036415983-rsz_dsc00085

"Kita harus tempatkan teman-teman ini di posisi yang sama. Sama-sama manusianya seperti kita," kata Cak Edi. "Nah pemerintah malah memberi ruang untuk persekusi, membasmi, atau apalah itu, enggak menawarkan solusi yang nyata."

Bu Sur, di sisi lain, tak berharap muluk-muluk soal penerimaan masyarakat terhadap travesti. Dia cuma punya satu keinginan: terus punya tenaga memadai merawat seni ludruk.

"Dulu memang kita hidup dari ludruk. Tetapi sekarang malah kita yang menghidupi ludruk," ujar Bu Sur sembari terkekeh. "Tapi saya tetap bertahan. Alasannya apa? Kalau nanti ludruk itu sampai benar-benar tidak ada, kita sama saja kehilangan warisan nenek moyang. Itu hal paling berharga yang saat ini saya punya."