Iklan
Pemilu Korut

Beginilah Proses Warga Korut Mengikuti 'Pemilu'

Lho, ini kan negara satu partai dan Kim Jong-un pemimpin tertingginya? Ternyata ada pemungutan suara tiap lima tahun sekali di Korut. 'Pesta demokrasi' sejenis selesai dilaksanakan 10 Maret 2019.

oleh Edoardo Liotta
13 Maret 2019, 9:18am

Screenshot via Youtube

Pada hari Minggu, 10 Maret 2019, Korea Utara menggelar pemilihan umum. Pada dasarnya, pemilu di Negerinya Kim Jong-un sekadar berfungsi sebagai dalih menggelar karnaval jalanan karena; 1) cuma ada satu partai di negara ini dan 2) posisi pemimpin tertinggi negeri itu hanya boleh dipegang Kim Jong-un serta dinasti keluarga Kim.

Kendati begitu, penduduk Korut tetap patuh pada imbauan pemerintah. Mereka berbondong-bondong datang mencoblos ke Tempat Pemungutan Suara. Tahun ini, mereka memberikan suaranya, dalam rangka memilih anggota badan legislatif setempat yang disebut Dewan Rakyat Tertinggi.

Sejujurnya, pengumuman ini tak terlalu penting, sebab terakhir kali Korut menggelar “pesta demokrasi” pada 2014, 100 persen suara dimenangkan para kandidat yang itu-itu saja. Bukan sebuah kejutan dalam sistem pemilu Korut.

Dewan Rakyat Tertinggi Korut memiliki 687 anggota dan bersidang beberapa bulan sekali untuk mengesahkan rancangan undang-undang. Beleid tersebut dibuat oleh Kim Jong-un bersama Komisi Urusan Negara, badan negara tertinggi di bawah sang diktator. Dengan demikian, Dewan Rakyat Tertinggi sebenarnya adalah badan legislatif yang ompong dan tugasnya cuma mengiyakan kemauan pemerintah.

Rakyat Korut tak punya kuasa menentukan siapa saja yang boleh duduk di lembaga legislatif ini. Mereka cuma bisa mencoblos dan mengumpulkan surat suara yang sudah terlebih dibubuhi nama anggota legislatif. Dalam teorinya, penduduk Korut bisa saja mencoret nama caleg tersebut. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, tak ada yang berani melakukannya. Mengingat pemberian suara tidak dilakukan secara rahasia, hal seperti ini sangat mudah dipahami.

Semua warga Korut yang berusia 17 tahun ke atas wajib memberikan suara. Meski begitu, pada pemilu 2014, total suara yang masuk hanya mencapao 99,7 persen. Sisanya suara yang tak masuk perhitungan, menurut kantor berita KCNA, karena ada sebagian penduduk Korut yang sedang “bepergian ke luar negeri” atau bekerja di kawasan “lepas pantai.”

Guna mempersipakan pemilu Minggu lalu, seorang petinggi Persatuan Perempuan Sosialis berusaha menjelaskan kenapa jumlah suara yang sangat tinggi dan pilihannya seragam.

"Kami menganggap semua orang di negara ini sebagai keluarga. Jadi, kami akan menyatukan pikiran kami dan mencoblos kandidat yang sudah disetujui," katanya, seperti yang dilansir dari the Guardian. "Kami cuma mengakui satu Pemimpin Besar Korut."

Pyongyang seakan berpesta besar-besar. Band-band manggung dekat TPS dan anak-anak berparade di jalanan mengenakan baju tradisional. Semuanya akan kelihatan baik-baik saja—bahkan menyenangkan—jika saja ini semua bukan bagian dari proses pemilihan anggota dewan legislatif yang sudah diatur semua oleh petinggi partai.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.

Tagged:
News
NORTH KOREA
Asia
kim jong-un
Berita
Diktator
Korea Utara
Pemilu
Politik Internasional
Pemilu Abal-Abal