Views My Own

Begini Pengalamanku Melakukan Aborsi Secara Mandiri di Indonesia

Tabu dan stigma aborsi di negara ini bercokol kuat. Aku masih beruntung menemukan obat via Internet yang bonafide. Tapi bagaimana banyak perempuan lain, yang tak seberuntung diriku?

oleh Satira
26 Juni 2019, 10:29am

Ilustrasi oleh Yasmin Hutasuhut.

Empat tahun lalu, aku melakukan aborsi secara mandiri di kamar indekos. Aku melakoninya ditemani pasanganku, orang yang bertanggung jawab "menanam benih" dalam rahimku. Saat itu, aku menggunakan obat aborsi yang kubeli sendiri melalui transaksi online.

Keputusan mengakhiri kehamilanku tidak mudah. Saat pertama kali melihat dengan mata kepala sendiri hasil testpack dengan dua garis merah itu, aku tahu duniaku bakal berubah selama-lamanya. Tapi aku tahu pilihan harus diambil. Jujur saja, aborsi adalah pilihan akhir, tapi bukan pilihan pertamaku.

Setelah positif hamil, aku segera melakukan konsultasi dengan menelepon hotline khusus yang memang membantu menangani kasus-kasus kehamilan tidak direncanakan (KTD) seperti ini. Setelah menangis seharian sambil melakukan riset-riset yang diperlukan, akhirnya aku memberanikan diri untuk menelepon hotline tersebut. Aku ingin tahu, tersedia pilihan apa saja untuk hidupku dan hidup si calon janin di masa depan.

Suara laki-laki menyapaku ramah. Ia menanyakan siapa namaku, apa keluhanku, dan bertanya balik kira-kira apakah ada yang ingin aku tanyakan. Semua hal yang dia utarakan hanya mengonfirmasi apa yang sebelumnya sudah kudapatkan dari hasil riset pribadiku di internet.

Ia memberitahu kalau aku punya setidaknya tiga pilihan. Pertama, tetap melanjutkan kehamilanku dan merawat bayiku kelak. Aku tidak bisa mengambil pilihan ini, karena aku merasa belum pantas menjadi orang tua. Pilihan kedua yang ia beritahu adalah aku bisa meneruskan kehamilan ini dan memberikan anakku kelak pada orang yang ingin mengadopsi. Pilihan ini tentu saja tidak aku ambil karena menurutku sistem adopsi di Indonesia tergolong rumit dan tidak bisa menjamin anakku baik-baik saja kelak. Pilihan terakhir adalah melakukan aborsi. Setelah menimbang-nimbang, aku memantabkan diri, mengambil opsi paling menyakitkan itu.

Aku berbincang lama bersama pasangan, sehari sebelum kami sepakat melakukan tindakan aborsi. Waktu itu usia kehamilanku memasuki minggu keenam. Masih cukup awal dan menurut kajian ilmiah masih cukup aman jika ingin melakukan aborsi medis menggunakan obat-obatan.

Menurut Women Help Women, waktu terbaik melakukan aborsi medis adalah sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu. Di atas itu, tidak dianjurkan menggunakan konsumsi pil atau dengan bantuan tenaga klinis terkait. Selama ini, dikenal dua metode aborsi medis. Cara pertama adalah menggunakan kombo dua jenis obat, sedangkan yang satu lagi hanya menggunakan satu jenis obat saja.

Misoprostol dan mifepristone. Itu nama dua obat yang membantuku mengeliminasi kehamilanku. Harganya lebih terjangkau dibanding harus pergi ke klinik-klinik aborsi ilegal di beberapa tempat, yang biasanya mematok harga mahal. Lagipula, sudah menjadi rahasia umum bila resiko tinggi mengancam jika nekat melakukan aborsi melalui klinik-klinik aborsi ilegal tersebut.

Aku lalu melakukan pembelian obat aborsi setelah browsing beberapa saat di Internet. Aku bertanya pada dua toko sekaligus buat membandingkan harga. Jujur saja, aku memilih toko yang menjual harga termurah. Cukup mengisi nama dan alamat tujuan, transfer sejumlah uang sesuai perjanjian, transaksi pembelian obat aborsi medis tuntas. Tak sampai seminggu, obat aborsi medis pesananku datang dalam bungkus cokelat. Label “baju” tertulis pada bungkus paket. Pil pesananku ditempel di sebuah karton dan diselipkan di dalam bungkusan kain yang datang bersama paket tersebut.

Kalau tidak salah ingat, layanan yang diberikan oleh online shop itu ada dua macam. Satu disebut “paket miso”, berisi 12 butir misoprostol dan dijual dengan harga Rp400 ribu. Pilihan lain adalah paket kombo seharga Rp600 ribu untuk empat buah misoprostol dan satu butir mifepristone. Aku memilih paket yang kedua, karena ingin memastikan prosesnya berjalan lancar.


Tonton dokumenter VICE menyoroti proses bedah untuk mengobati korban praktik khitan perempuan:


Masih menurut Women Help Women, kombinasi penggunaan Mifepristone dan Misoprostol memiliki tingkat efektivitas hingga 98 persen. Sementara dengan menggunakan misoprostol saja tingak efektivitas sebesar 84 persen. Sebetulnya keduanya sama-sama memiliki persentase efektivitas yang tinggi dan aman. Tapi aku memilih kombinasi yang pertama karena ingin merasa lebih tenang dan yakin keberhasilannya akan tinggi. Aku memilih percaya pada keterangan tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat mengeluarkan panduan melakukan tindakan aborsi aman. WHO merekomendasikan penggunaan misoprostol dan mifepristone sebagai cara paling disarankan buat mengeliminasi kehamilan. Menurut International Women’s Health Coalition, jutaan perempuan di dunia telah melakukan aborsi aman dengan metode medis ini, sejak pertama kali mifepristone diperkenalkan pada akhir dekade 1980-an.

Berdasarkan petunjuk Women Help Women, mifepristone idealnya diminum 24 jam sebelum tindakan aborsi dilakukan. Aku mengonsumsi obat tersebut dan tidak merasakan efek samping apapun. Fungsi obat ini menghentikan hormon yang penting selama perkembangan di masa kehamilan. Mifepristone juga membantu uterus lebih reseptif terhadap misoprostol. Sedangkan fungsi obat yang kedua, misoprostol, adalah memicu timbulnya kontraksi pada uterus dan mendorong keluar jaringan kehamilan.

Aku lalu pergi menonton film di bioskop demi menghilangkan kecemasan yang kurasakan setelah menenggak obat pertama. Percuma. Kepalaku tetap penuh pikiran. Malamnya, aku berbincang dengan "cangkang" yang mulai terbentuk di dalam rahimku ini. Aku meminta maaf padanya dan mengatakan aku belum siap menjadi orang tua. Kubilang, "semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan, tapi tidak sekarang." Aku menangis dan akhirnya tertidur kelelahan.

Setelah 24 jam berlalu, aku menyiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk memulai prosesnya. Beberapa hal yang kusiapkan di antaranya pembalut dan kompres hangat. Aku mengikuti petunjuk pemakaian dan menaruh empat buah misoprostol di bawah lidahku dan membiarkannya larut. Rasanya hambar sekali, seperti kapur. Tiga puluh menit berlalu dan aku masih belum merasakan apapun.

Sesudah tiga jam, baru terasa efeknya. Perutku rasanya melilit tidak karuan. Rasanya lebih parah dari sakit menstruasi yang biasa aku alami. Mau bagaimanapun posisi duduk dan tidur yang aku cari, rasa sakit melilit itu tetap kurasakan. Aku berusaha mencari distraksi dengan nonton film dan serial yang membuat tertawa. Hasilnya nihil.

Pasanganku sabar menemani dan membantu semua kebutuhanku. Aku menahan sakit sambil menggenggam tangannya dan sempat berpikir menyerah saja. Padahal aku tahu tidak ada yang bisa dilakukan, toh obatnya terlanjur dikonsumsi.

Setelah beberapa jam sakit makin menghebat. Aku lantas lari ke kamar mandi karena tidak tahan lagi. Entah apa yang kucari atau ingin kulakukan saat itu tapi instingku bilang aku harus ke kamar mandi. Dengan perut masih melilit aku terduduk lemas di toilet. Saat itulah, gumpalan merah besar keluar. Aku lalu menekan tombol flush dan keluar dari kamar mandi. Perlahan-lahan rasa sakit yang kurasakan mereda, hingga akhirnya hilang sama sekali. Aku tidak ingin merasakan perasaan dan sakit seperti itu lagi.

Stigma negatif terhadap aborsi masih sangat besar di Indonesia. Akses-akses perempuan terhadap fasilitas kesehatan khusus untuk aborsi aman masih terbatas, apalagi kalau kita belum menikah. Hasilnya, klinik-klinik aborsi ilegal dan penjualan obat aborsi ada di mana-mana. Penjualan obat ini pun beragam, mulai dari yang palsu dan memakan banyak korban hingga yang terpercaya dan akhirnya bisa membantu perempuan-perempuan sepertiku yang ingin mengalami kehamilan tanpa direncanakan. Aku beruntung berhasil menemukan penjual online yang menyediakan obat aborsi sungguhan. Tapi, bagaimana dengan banyak perempuan lainnya, yang tidak seberuntung aku?

Empat tahun sudah berlalu sejak aku melakukan tindakan aborsi mandiri. Selama itu pula beberapa teman perempuanku mengalami hal yang sama datang kepadaku. Mereka meminta saran. Aku memberitahu mereka semua yang kutahu. Mulai dari hasil pencarianku di Internet dulu, semua risikonya, hotline KTD ini, hingga tempat pembelian misoprostol dan mifepristone yang terpercaya. Sisanya, kuserahkan pada mereka.

Satu hal yang pasti, aku tidak pernah menyesal. Karena ini adalah jalan terbaik yang bisa kuambil demi kebaikan semua.


*Penulis menggunakan pseudonim untuk melindungi privasinya

Views My Own' adalah ruang di VICE Indonesia untuk opini, komentar peristiwa, serta analisis pribadi seputar topik penting ataupun kontroversial yang perlu diketahui anak muda. Anda punya esai atau opini yang ingin dibagikan pada khalayak luas? Silakan kirim email berisi ide tulisan itu ke surel indonesia@vice.com.