Apa Sih Makna Punya Selera Musik 'Bagus'?
Musik

Apa Sih Makna Punya Selera Musik 'Bagus'?

Selama ini kita dibentuk lingkungan memilah mana musik bisa meningkatkan selera dan mana yang basic serta sebaiknya dihindari. Setelah dipikir lagi, perkara selera itu menyesatkan sih.
13 Januari 2018, 9:00am

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Pada pagi hari di ulang tahu ke-11, ibu memberiku hadiah. Bentuknya kecil, persegi dan tebal. Sebelum aku merobek kertas kado yang mengkilap, aku sudah tahu itu sebuah CD. Tapi CD apa? Avril Lavigne, kuharap. Atau album kedua Sugababes, yang pernah aku lihat diiklankan di TV. Mungkin kompilasi NOW?

Aku merobek selotipnya. Saat mengintip, yang kulihat dan menatapku balik bukanlah sesuatu yang aku harapkan atau kenal sebelumnya. Hanya ada sebuah bayangan hitam dan abu-abu dari satu lilin.

"Itu album Daydream Nation_-nya Sonic Youth!" Ibuku mengumumkan penuh semangat, seolah kata-kata itu masuk akal buat bocah sepertiku. "Mama tadinya mau menghadiahkan kamu CD album _Goo, tapi mama pikir kamu mungkin lebih gampang mendengarkan yang ini dulu."

Kami kemudian duduk di sofa, sambil mendengarkan tekstur rumit lagu "The Sprawl" yang lamban dan suram. Aku bertanya-tanya, bukan untuk pertama kalinya, mengapa orang dewasa suka membuat diri mereka depresi dengan cara mendengar musik seperti ini.

Perlu sepuluh tahun kemudian sebelum aku benar-benar menikmati album yang dianggap mahakarya Sonic Youth tersebut. Album itu baru bener-bener nampol pada tahun ketiga kuliah. Aku meletakkan kaus kaki di atas alarm kebakaran kamar asrama, lalu merokok nonstop seperti gothic yang menyedihkan sambil mendengarkan "Silver Rocket" yang menemaniku menggarap berlembar-lembar esai sampai tertidur. Aku mulai menyukai betapa suram album tersebut. Seluruh materi album Daydream Nation terasa seperti awan tebal, sedikit elemen erotika, film horor kelas-Z, atau referensi sci-fi cyberpunk yang tidak aku mengerti. Tapi nyatanya album ini bisa mengungkap sesuatu saban aku memutarnya.

Jujur, aku berterima kasih pada ibu yang membutuhkan waktu lama berharap aku akan mengerti keindahan Daydream Nation. Aku membayangkan pasti dia merasa puas saat akhirnya alasan album ini dianggap keren sampai ke aku. Sejak itulah, Daydream Nation menjadi standar yang kupakai untuk menjadi penanda apakah sebuah album masuk kategori "keren." Karakternya butuh waktu lama sebelum akhirnya album tersebut sukses mengubur dirimu dalam nuansanya; album itu harus kaya dan memuaskan; Bukan sesuatu yang ingin kau bilas atau segera dilepeh setelah rasanya basi dan tak memuaskan di telinga.

Aku bersyukur, karena kado itulah, ibu mewariskan padaku sebuah konsep berupa "selera musik". Ibu berharap dia berhasil memberiku selera yang "lebih bagus" dibanding anak-anak sebaya. Meski begitu, sebagai sesuatu yang subyektif, istilah "selera bagus" sering kali terasa berlebihan atau tidak dapat didefinisikan. Malah, istilah ini bermasalah. Seperti pernah dibahas panjang lebar di esai panjang the Guardian, selera gadis muda yang antusias pada boyband kerap dicemooh hanya karena dianggap mewakili contoh "selera buruk". Padahal, saat ada labelisasi macam itu, makna utama sebuah musik otomatis hilang.

Pers dan media musik sepanjang sejarah Abad 20 diwarnai upaya membentuk selera. Mengarahkan generasi baru mendalami musik yang keren, menghindari yang murahan dan ndeso atau katrok. Jurnalisme musik yang berusaha membentuk selera itu dipengaruhi sepenuhnya oleh bias kelas menengah (dalam konteks negara-negara Barat, agenda ini disokong terutama demografi kulit putih). Seiring aku dewasa, gagasan "milikilah selera musik bagus" semakin membuat aku merasa skeptis.

Siapa sih yang berhak mengatakan musik mana seharusnya kusukai atau tidak aku sukai? Begini, aku pasti bohong kalau bilang selera itu cuma omong kosong. Selera jelas-jelas membentuk pandanganku sebagai individu. Itulah kenapa ketika gebetanku membelikan tiket nonton konser Ed Sheeran ditambah kartu pos berisi pesan "Live, Love, Laugh" aku enggak akan menolak. Tapi apa sih sebenarnya "selera bagus" dalam musik? Dan apa yang sebenarnya kita maksud saat kita mengatakannya?

"Pertanyaanmu benar-benar rumit karena sifat arbitret dari sebuah selera?" kata Hattie Collins, editor di situs i-D dan penulis buku This is Grime. "Selera sebenarnya semakin demokratis di masa sekarang. Radio 1 dan Top of the Pops atau semua institusi yang dulu dipakai mempengaruhi selera orang telah berkembang atau tergerus pengaruhnya. Penyebab perubahan ini karena ada lebih banyak ketersediaan untuk menemukan seleramu melalui berbagai situs web atau YouTube atau playlist."

"Dulu kamu suka banget sama satu hal; Kamu adalah anak indie atau anak hip-hop atau suka garage atau apa saja," imbuh Collins. "Sekarang, ketika aku melihat anak muda, mereka jadi suka sama segala jenis musik, dari negara manapun, karena keterbatasannya tidak diatur oleh 'institusi mapan’ lagi."

Ingat, hanya karena konsep "selera" sekarang makin demokratis, bukan berarti efeknya sudah hilang di masa Internet ini. Seperti yang dijelaskan Collins, selera kini semakin teroslir di level individual. Playlist memang mudah diakses asal punya kuota. Tapi mendengar playlist manakah kala mengakses Youtube, itu yang ditentukan selera.

Ada alasan di zaman kemudahan informasi kayak gini, sebagian orang masih mempertimbangkan selera dalam kehidupan sehari-hari. "Aku rasa selera orang dalam musik mempengaruhi cara orang lain memahami sosok tersebut secara kultural. Jika seseorang menyukai musik tertentu, kalian menduga mereka pasti menyukai jenis seni atau film tertentu pula," kata Collins.

"Contohnya kalau kau mengenal seseorang menyukai Young Thug, kayaknya dia juga bakal menyukai Kehinde Wiley. Tapi Anda hanya berasumsi bahwa jika mereka memiliki selera musik yang menarik, mereka juga akan memiliki pengambilan terhadap film yang menarik. Mereka tidak hanya akan puas menonton Dirty Dancing; Mereka juga ingin menonton Nocturnal Animals. Jadi, bagi aku, gagasan 'baik' dan 'buruk' ini lebih banyak tentang asumsi orang-orang tertentu tertarik melampaui musik yang diperkenalkan oleh budaya massa arus utama."

Dari sudut pandang ilmiah, bagaimanapun, gagasan tentang "selera yang baik" sebetulnya tidak dapat dipertahankan lagi. "Secara ilmiah, tidak ada cara objektif untuk menentukan, mendefinisikan atau mengukur rasa 'baik' atau 'buruk'. Itu sangat tergantung pada waktu, tempat, dan orang yang memberi definisi," kata Jonna Vuoskoski, guru besar yang mendalami bidang studi persepsi dan kognisi musik di Universitas Oxford.

Seperti Hattie, Jonna tidak hendak menghapus selera sebagai konsep sosiologis yang berguna dalam analisis perilaku konsumsi musik. Hanya saja, pemahaman kita yang keliru soal selera sudah menyesatkan selama ini. "Preferensi musik kami adalah hasil dari banyak faktor: Jenis musik yang kita terkena paparan di lingkungan kita, juga disposisi kepribadian kita," ia menjelaskan. "Selera musik memainkan peran penting dalam keanggotaan kelompok dan subkultur. Bermacam penelitian sosiologi telah mendokumentasikan korelasi yang konsisten antara satu ciri kepribadian dengan preferensi jenis musik tertentu. Misalnya, orang yang mementingkan 'keterbukaan terhadap pengalaman baru' cenderung memiliki selera musik yang lebih bervariasi, dan lebih memilih gaya musik yang kompleks dan reflektif. "

Ide ‘selera’ lebih bernuansa daripada hanya perkara satu set ketertarikan yang berperan sebagai penanda budaya. Terkadang, apa yang dianggap 'buruk' bisa menjadi 'baik' murni karena itu, dan sebaliknya. Ione Gamble, yang menjalankan majalah Polyester, yang memiliki tagline 'Have Faith in Your Own Bad Taste'. Media tersebut berpikir selera "baik" lebih tentang menjadi apa pun yang kamu inginkan.

"Kalau kamu masih muda, kamu di alam bawah sadar merasa harus mengikuti hal-hal apa saja 'baik' dan hal-hal apa saja 'buruk'; terutama jika kamu memiliki ketertarikan kreatif tertentu," katanya. "Aku mempelajari jurnalisme fashion di universitas dan dosen mengajarkan minimalisme Jepang dan semua hal bersih dan ramping yang seharusnya kamu sukai jika kamu merasa pintar. Gagasan kayak gitu kurasa sudah seperti arahan musik keren. Sebagaimana gagasan kamu 'seharusnya' menyukai musik yang bukan pop karena tidak intelektual."

Kata Jonna, tagline Majalah [Polyester] berasal dari kutipan John Waters. Bunyinya, 'miliki keyakinan pada selera burukmu sendiri, bikin kesal rekan-rekan, bukan orang tua Anda; Itulah kunci kepemimpinan.’

"Aku menganggap kutipan itu cukup membebaskan, karena jika Anda memiliki minat yang aneh atau bersandar secara alami pada hal-hal yang tidak dianggap 'keren', Anda sering dipermalukan. Jadi aku memilihnya sebagai tagline itu. Mudah-mudahan menginspirasi orang agar berani menyukai musik yang benar-benar mereka sukai dan tidak malu karenanya. "

Jadi ... apa arti dari memiliki selera musik yang bagus? Tidak ada jawaban yang pasti, benar begitu? Selera selalu berpegang pada standar-standar yang diterima umum. Namun standar tersebut berbeda untuk setiap orang, dan seharusnya memang keren untuk menyimpang dari standar arus utama secara aktif, bahkan jika itu berarti selera kamu biasa banget dan yang sering kamu dengar tiap hari adalah lagu-lagunya Sam Smith.

Seperti yang telah ditunjukkan oleh Ione sebelumnya, dan seperti yang dikatakan Hattie Collins, selera musik yang baik sebenarnya tentang bersikap jujur . "Bahkan jika pilihan musikmu tidak populer, tapi kamu mendalaminya dan kamu berpegang teguh pada senjatamu, itu sikap terbaik. Bagiku, itulah selera musik yang bagus. Jika kamu menyukai hal itu, dan sangat yakin pada alasanmu menyukai musik tertentu cukup sudah. Itu keren."

Follow Daisy di Twitter.