Iklan
Gulat Profesional

Tak Selalu Settingan, Kekerasan dan Risiko Cedera di Gulat Pro WWE Amat Nyata

Pegulat Becky Lynch mengalami gegar otak dalam laga 'Survivor Series'. Batas antara perkelahian betulan dan laga bohongan di WWE amat kabur.

oleh Ian Williams
25 November 2018, 11:15am

Cuplikan gambar via YouTube/WWE 

Faktor paling penting dari pertarungan gulat profesional sebenarnya bukan jatuhan-jatuhan indah mirip gerakan pebalet atau pameran kekuatan tubuh yang memukau, melainkan kekerasaan bohongan yang sudah diatur sebelumnya. Lewat adegan-adegan penuh kekerasan yang segala macam koreagrafinya itu, kita diberi gambaran kira-kira seperti apa brutalnya pertarungan yang "sesungguhnya."

Akan tetapi di saat yang sama, kita bisa dengan nyaman menontonnya karena jauh di dalam hati, kita sadar sepenuhnya, bahwa siapapun yang bergulat di dalam ring World Wrestling Entertainment (WWE) sudah berlatih mengontrol gerakannya, menarik pukulan sebelum benar-benar mengenai tubuh lawan, dan menahan agar benturan kepala yang bisa memicu cedera parah tak terjadi.

Kendati begitu, kadang, batas antara kekerasaan rekaan dan kekerasan betulan di atas ring gampang sekali terlewati. Contohnya dua insiden pertengahan November 2018. Simulasi kekerasan ala pro wrestling kadang menyebrang menjadi kebrutalan sungguhan bila tak dilakukan dengan hati-hati dan melibatkan rasa benci. Tentu saja, imbas dari kekerasan sungguhan dalam ring sangat berbeda dari yang apapun yang pernah kita saksikan di ring Pro Wrestling.

Insiden pertama terjadi pada laga yang mempertemukan David Arquette-Nick Gage dalam gelaran yang dipromotori Joey Jonela, LA Confidential, Jum’at pekan lalu. Joey Janela memang mengubah tiap akhir pekan menjadi empat gelaran terbesar WWE—minggu adalah waktunya Survivor Seriees—dan mengelolanya bak sebuah pertunjukan sirkus keliling. Dalam laga-laga inilah, Joey menyajikan laga 'pay-per-views' wajib tonton bebarapa tahun terakhir.

David Arquette bukan kandidat yang pas untuk dipertemukan dengan pegulatd dalam sebuah dream match. Namun, aktor berusia 47 tahun ini dalam enam bulan terakhir punya kisah yang paling menarik dalam sejarah pro wrestling. Barangkali kita semua lupa. Arquette sebenarnya pernah dirayu menjadi juara dunia WCW justru ketika popularitas WCW sedang melempem. Pemberian gelar Juara Dunia pada Arquette sebenarnya cuma akal-akalan untuk menarik perhatian pecinta pro wrestling. Dan benar saja, untuk beberapa saat, cara ini lumayan efektif. Akan tetapi, kejayaan Arquette malah jadi salah satu faktor paling penting dalam kehancuran WCW.

Arquette sepanjang hidupnya menggemari pro wrestling dan dalam 18 tahun terakhir, dia sudah mencak-mencak tentang perannya sebagai fan yang menurutnya mencederai tradisi pro wrestling itu sendiri. Lebih dari itu, Arquette menganggap dari masalah ini adalah dengan benar-benar berlatih menjadi pro wrestling. Arquette lantas merambah kancah gulat indie untuk bersenang-senang dan memberikan kembali apa yang dia dapatkan dari gulat. Setelah melakukan semua ini, nama Arquette mencuat dan respon penggear pro wrestling bergeser dari perhormatan setengah-tengah menjadi apresiasi tulus terhadap mereka berdua.

Janela membooking Arqutte untuk bertarung dalam death match pertamanya melawan Nick Gage, juara kelas berat pertama CZW. Gage adalah seorang petarung death match legendaris dan terdakwa perampokan bank. Gage, seperti petarung pro wrestling lainnya jelas tak berbahaya. Bedanya, dia punya aura mematikan yang tak dimiliki pegulat lainnya.

Aura inilah yang bikin laga melawan Arquette apa yang selama ingin ditunjukkan Janela: di satu sisi, pertarungan ini akan terkesan absurd dan tak sedikitpun lucu lantaran Arquette yang membunuh WCW akan dihadapkan dengan pegulat beringas Nick Gage, sementara itu, ini adalah pertarungan ideal mempertemukan dua petarung yang mati-matian mempertahankan reputasinya.

Pertarungan antara keduanya berjalan seperti pertarungan detah match biasa, sampai sebuah insiden mengerikan terjadi. Gage mengambil lampu neon yang sudah sudah patah. Dia lantas menggesekkan ujung tajam dari neon itu ke jidat Arquette. Arquette menjerit dan tampak panik, menggapai badan Gage dan nyaris menjatuhkannya. Akibatnya, ujung lampu neon bergeser ke bawah dan nyaris menggurat otot leher Arquette. Darah pun deras mengalir dari dua luka di tubuh Arquette.

Apa yang terjadi setelahnya jelas tak ada dalam skenario. Setelah berhasil mengunci Gage dengan satu tangan—sementara tangan lainnya berusaha menghentikan pendarahan, Arquette berusaha memiting yang jelas tak mau menyerah begitu saja. Arquette berusaha keluar masuk ring dan Gage pura-pura menyerangnya. Sampai di sini, Arquette rupanya sudah jengah. Dia kembali masuk ring dan menghajar lawannya dengan bangku dan berusaha menantang Gage untuk kembali bertarung—kali ini tanpa skenario. Sejurus kemudian, Gage membanting Arqutte layaknya seorang pejudo dan mematikan pergerakannya. Pertarungan berakhir pun disudahi.

Jika tak punya fobia akan darah, silakan tonton cuplikan momen-momen berdarah dalam laga Gage vs Arquette—terutama yang diambil oleh penonton. Reaksi kedua petarung saat kekerasaan sebenarnya terjadi di luar skenario kentara sekali—dari bingung, takut hingga geram dalam tempo dua menit saja. Ini jelas sangat manusiawi sekali dan transisi yang cepat dari gerakan terskenario menjadi gerakan bertarung sesungguhnya menunjukkan perbedaan kemampuan di antara keduanya.


Saksikan dokumenter VICE mengenai gulat pro penuh darah dan kekerasan di pedalaman AS:


Kekerasaan yang tak sengaja terjadi dalam sebuah pertandingan yang berskenario terjadi dalam gelaran Smackdown Live minggu lalu. Dalam laga yang mepertemukan petarung dari SmackDown dan Raw women itu, Nia Jax meninju petarung perempuan paling diperhitungkan di WWE saat ini, Becky Lynch. Jax punya bobot sekitar 68 kg dan berdiri tak lebih dari 15 cm dari Lynch. Tak ayal, pukulan Jax mematahkan hidung Lynch dan menyebabkan gegar otak.

Meski sempat terkapar, Lynch tetap melanjutkan pertarungan. Saat berdiri, mukanya penuh darah. Dalam sekejap, ini jadi imej yang ikonik dalam kancah pro wrestling: Becky Lynch, juara Smackdown perempuan, bangkit dan mengejek lawannya dengan muka penuh darah lalu mundur setekah meluncurkan sejumlah serangan. Lynch juga tampak merentangkan tangannya sambil menghujani lawannya dengan serangkaian sumpah serapah.

Kejadian ini ramai ditanggapi oleh publik pro wrestling. Imej Lynch yang bangkit dengan muka berdarah menjadikannya kandidat kuat penggati Stone Cold Steve Austin. Dan bagi sebagian orang, ini adalah momen penting dalam sejarah pro wrestling. Untuk pertama kalinya, seorang petarung perempuan mewujudkan basa-basi korporat WWE tentang petarung perempuan yang akan merevolusi pro wrestling. Lewat apa yang dia lakukan minggu lalu, Lynch seakan berkata “Gue juga bisa berdarah, bisa merasakan sakit dan bisa menjual tiket sebanyak petarung pria atau, lebih dari itu, membuat pertarungan antara pegulat pria terkesan cemen.“

Akan tetapi, Lynch juga harus menanggung sejumlah konsekuensi nyata. Dia semestinya akan bertarung melawan juara Raw Women Ronda Rousey—petarung perempuan pernah bergelut di kancah tarung betulan UFC—dalam Survivor Series. Sayangnya, laga menarik ini dibatalkan karena Lynch mengalami gegar otak.

Sebagai gantinya, kita akan disuguhi pertarungan antara Rousey dan Charloye Flair. Tapi tetap saja, yang harusnya ada di atas ring adalah Lynch. Lagi-lagi ini tak akan terjadi karena dalam pertarungan betulan kadang kita cuma butuh satu pukulan keras untuk menjungkalkan lawan.

Jax, sementara itu, tak merasa bersalah sedikitpun. Kini, rekaman penonton dari insiden tersebut menyulut debat seru di dunia pro wrestling. Publik ramai memperbincangkan pukulan yang dilayangkan cuma sebuah kesalahan prosedur atau Jax malah benar-benar berniat melakukannya. Chris Jericho dalam podcastnya menduga Jax sengaja melayangkan bogem mentah ke muka Lynch. Ini tak mengherankan. Lynch hanyalah korban terbaru Jax yang punya catatan panjang sebagai petarung pro-wrestling yang ceroboh.

Apapun alasannya, pukulan sudah dilayangkan dan cedera yang diderita Lynch bukan lah rekaan. Kendati bergulat menuruti skenario, petarung pro wrestling juga akrab dengan cedera—mulai dari patah tulang hilang ligamen yang robek. Cuma, itu kan bagian dari risiko pekerjaan mereka—samalah seperti atlit cabang olah raga manapun. Beda kasusnya dengan cedera yang disebabkan oleh pertarungan betulan.

Cuma, jujur saja deh, cedera yang disebut terakhirlah yang diam-diam kita nikmati. Celakanya, penyelengara pro wrestling sepertinya tahu benar tentang hal ini. Makanya, tak usah kaget jika hari-hari ini insiden yang melibatkan Arquette jadi trending topic di Twitter. Jangan juga sok kaget jika jumlah penonton laga besutan Janela akan melonjak setelah insiden ini terjadi. Pun, bukan suatu kebetulan jika WWE akan memanfaatkan insiden dalam laga Lynch vs Jax. sebuah rumor mengatakan bahwa Jax mendapatkan sanksi lantaran pukulan ke wajah Lynch.

Akan tetap rumor tinggal rumor semata. Buktinya, dia masih turun dalam laga Survivor Series dan jadi petarung yang terakhir tersisa di ring. Jax jelas dicela oleh penonton malam itu. Cuma saya yakin kenikmatan tersembunyi dalam celaan yang dilontarkan malam itu. Pasalnya, penonton kita punya sosok yang mereka benci. Dosanya: memboge mentah Lynch, petarung kesayangan publik WWE saat ini.

Semua ini mengarahkan saya pada satu kesimpulan: jarak antara kekerasan semu dan kekerasaan hakiki di imajinasi penggemar pro wrestling tak sejauh yang kita kira. Ada semacam kenikmatan saat kita membayangkan berbagai macam kekerasan betulan yang menyusup dalam laga-laga pro wrestling seperti saat kita menyaksikan Jax menonjok Lynch dan David Arquette mencoba membalas tindakan Nick Gage.

Pendek kata, kita sebagai penggemar WWE bergidik melihat konsekuensi sebuah pertarungan betulan, tapi diam-diam menikmatinya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports

Tagged:
WRESTLING
WWE
Kekerasan
Olahraga Palsu
becky lynch
nia jax
Settingan
Drama Televisi