Tarung Kerbau

Melihat dari Dekat Adu Kerbau Brutal di Toraja

Festival kerbau atau Tedong Silaga digelar di Toraja demi menghibur keluarga yang tengah berduka. Kerbau yang diadu sampai berlumuran darah.

oleh Iqbal Lubis
11 Januari 2019, 11:50am

Semua foto oleh Iqbal Lubis

Dalam kehidupan orang Toraja kerbau adalah hewan yang sangat penting juga suci, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun kebutuhan upacara adat dan kebudayaan. Selain harganya yang mahal, kerbau juga dianggap sebagai hewan suci dalam upacara kematian. Orang Toraja juga menjadikan kerbau sebagai jagoan tarung dalam adat Ma’pasilaga Tedong yang artinya pertarungan kerbau.

Rafly Panggalo (16) dan tiga kawannya sibuk memilah rumput, buat memberi makan kerbau jagoan mereka. Hampir sebulan kerbau petarung itu tinggal di kandang berdinding karung dan berpancang bambu.

Menurut adat setempat, sudah keharusan menempatkan kerbau berlama-lama dekat arena aduan, biar para kerbau atau dalam bahasa lokal dipanggil tedong terbiasa dengan bau tanah di arena. Tujuannya, agar mereka mengira arena adalah rumah mereka.

1547200153321-tedong-silagaa
Selain jadi hewan aduan, Kerbau dalam adat Toraja adalah hewan kurban yang disembelih untuk mengantar arwah manusia menuju surga. Foto oleh Iqbal Lubis
1547200187214-Silaga-Tedong-11-3
Kerbau di pasar kerbau

Bagi Rafly dan teman-temannya, mengikuti tegong silada semacam upaya merawat adat dan budaya orang Toraja, sekaligus menjaga gengsi pertarungan. "Ini sudah kayak hobi, budaya, dan adat. Sangat banyak orang Toraja suka, tidak hanya orang tuam anak muda juga senang" ujar Rafly yang menggemari tedong silaga sejak masih sembilan tahun. Hari itu, saat VICE tiba, tedong silaga digelar di sebuah arena desa Toyasa Akung, Kecamatan Bangkelekila, Kabupaten Toraja Utara.

Tepat di bawah kaki gunung Sesean, arena berlumpur dengan pagar kayu sederhana dibuat keluarga Almarhum Dina Rantetampang (Ne Wina) yang hari itu akan menggelar upacara adat kematian rambu solo. Bagi orang Toraja, silaga tedong dianggap sebagai hiburan keluarga yang ditinggalkan.

“Silaga kerbau ini adalah bagian dari upacara rambu solo, kami menggelarnya untuk menghibur tamu dan keluarga yang sedang berduka.” Ucap, Pong Lora, salah seorang anggota keluarga yang berduka. Tedong silaga juga dilaksanakan sebelum upacara penerimaan tamu rambu solo digelar, tambahnya.

Ketertarikan masyrakat toraja terhadap adat ini juga ditunjukkan dengan membentuk komunitas yang berseliweran di dunia maya. Mereka yang ingin bertarung biasanya saling berkomentar di fanpage Komunitas Pencinta Tedong Silaga (KPTS) yang punya pengikut 73 ribu orang itu. Di grup itu pula pertarungan ditentukan, siapa melawan siapa pada tanggal berapa. Kerbau-kerbau aduan adalah hewan pilihan, mencakup bentuk fisik, nafas, dan tanda-tanda lain seperti tanduk kerbau. Kerbau-kerbau petarung ini bisa datang dari banyak tempat, umumnya dari Sumatra, Lombok, Kalimantan dan Luwuk.

Dalam acara Tedong Silaga ini kerbau yang bertarung diberi nama yang menarik serta unik, seperti Kamppa Tampo, penton, Dorce, Spartan, Syahrini dan Hammer dan lain sebagainya. Nama-nama ini membentuk sebuah komunitas mereka masing-masing. Saat hari pertarungan para anggota komunitas yang kebanyakan remaja dan anak muda ini menggunakan baju komunitasnya. Sebagian besar komunitas juga berasal dari satu kampung yang sama. Hal ini pula yang membuat pertarungan gengsi antara kampung ditunjukkan di arena tedong silaga.

1547203218033-Tedong-Silaga-9
Rafly memperkenalkan area tarung dengan mengajak kerbau peliharannya berkeliling
1547200279402-Tedong-Silaga-7
Tim Hammer berfoto bersama dengan kerbaunya serta seragam lengkap. Foto oleh Iqbal Lubis

Hammer adalah nama kerbau dari Rafly. Kerbau tersebut bukan miiknya melainkan milik seorang perantau toraja yang bekerja di Papua. Ia hanyalah seorang joki dan pawang tedong silaga. Tedongnya dinamakan Hammer karena gaya bertarungnya mirip palu yang menghantam-hantam lawan. Pertarungan hari itu telah disepakati lewat facebook anatara pemilik Hammer dan lawannya tim tedong makassar berkarya dari desa Saddan.


Tonton dokumenter VICE mengenai tradisi pemakaman Rambu Solo di Toraja:


Pertarungan kerbau terbagi-bagi ke dalam kelas-kelas. Ada kelas berat atau kelas mematikan bagi tedong yang sudah lama bertarung dan bisa sampai membunuh lawannya. Kelas menengah dengan jenis kerbau yang baru 10-an kali bertarung serta kelas pemula untuk kerbau-kerbau baru. Para penonton bebas memasang taruhan untuk setiap pertarungan. Biasanya, semakin tinggi kelasnya semkin tinggi nilai taruhannya. Judi berlangsung terbuka dan terang-terangan karena panitia memang memperbolehkannya.

1547200359441-Tedong-Silaga-12
Ratusan warga mengelilingi arena di Toyasa Akung Kecamatan Bangkelekila, Kabupaten Toraja Utara yang sesak dan berlumpur untuk menyaksikan adu kerbau. Foto oleh Iqbal Lubis
1547200405691-Tedong-Silaga-15
1547200765041-Tedong-Silaga-13
Foto oleh Iqbal Lubis


Tiga hari sebelum tedong silaga dimulai, kerbau-kerbau tersebut diajak berkeliling lapangan pertarungan. Lapangan yang digunakan sebagai medan tempur umumnya dalam kondisi basah dan berlumpur. Kerbau yang lari meninggalkan lawannya dianggap kalah. Bahkan dibeberapa pertarungan tak jarang ada kerbau yang langsung mati.

Dalam adat tedong silaga setiap orang yang menjadi korban atau terjadi kecelakaan saat tedong silaga berlangsung, menjadi tanggung jawab masing-masing. Panitia penyelenggara dan keluarga kedukaan tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu penonton ataupun masyarakat yang datang harus berjaga-jaga saat kerbau lari keluar arena pertandingan.

Setelah pertandingan selesai tim hammer keluar arena dengan tertunduk tanpa ada riak-riak kemenangan. Kepala Hammer tak henti-hentinya dielus Gandi Phillips, pemiliknya.

"Hammer kalah om matanya ditanduk, lawannya lebih besar," ucap bocah 8 tahun itu kepada VICE. "Tak papa om nanti masih bisa bertarung."

1547202860024-Tedong-Silaga-16
Wajah Hammer berlumuran darah akibat tandukan lawan yang mengenai bola matanya. Foto oleh Iqbal Lubis
1547200803142-Tedong-Silaga-14
Foto oleh Iqbal Lubis