jalan-jalan sendiri
Foto dari pexels.com akun Subham Dash
liburan akhir tahun

Para 'Solo Traveler' Menjelaskan Apa Sih Enaknya Jalan-Jalan Sendirian

Wisata bukan cuma tentang cari foto-foto apik di medsos. Bagi para pelancong solo ini, jalan-jalan sendiri adalah upaya mengenal diri dan sekitar lebih dalam lagi.
15 November 2018, 11:40am

Biasanya, kalau kita baru menemukan trailer film keren yang sedang ditayangkan atau dapat selebaran promosi diskon di restoran enak, pasti yang pertama kali dilakukan adalah nyari teman untuk pergi barengan. Ada perasaan janggal aja kalau harus melakukan aktivitas-aktivitas ini sendirian, takut garing sendiri. Padahal, kalau dipikir-pikir, ketakutan untuk bersenang-senang sendiri ini sebetulnya nggak logis (Ini 2018 cuy! Waktunya kita mulai self-care. Eeeaa...) Alasan ini juga yang membuat tak sedikit orang otomatis menggelengkan kepala kala memikirkan konsep ‘ solo travelling’, alias jalan-jalan ke tempat asing sendirian. Makan sendiri aja bete, apalagi melancong sendirian! Hiiiiy..

Bukannya seharusnya solo travelling justru bisa lebih seru daripada bepergian dengan teman-teman yang terkadang suka membuat gemas karena tingkah-tingkah rewel mereka saat jalan jalan? Atau justru makin garing?

Untuk mencari tahu apa asyiknya solo travelling, kami berkolaborasi dengan Bookinglokal.com -situs jalan-jalan baru yang membantu pelancong mencari akomodasi semurah mungkin- mewawancara tiga orang yang ketagihan berpergian sendiri. Simak obrolan kami dengan mereka di bawah ini

Famega Syavira Putri

Perempuan yang akrab dipanggil Fame ini adalah penulis Kelana, buku 264 halaman yang merangkum pengalaman Fame menyusuri jalan darat dari Sumatra hingga Afrika. Ia menyambangi 18 negara, 44 kota, dan berjalan sepanjang 23.181 kilometer seorang diri selama kurang dari lima bulan. Ketika berkelana, Fame adalah orang yang terbuka pada spontanitas dan kurang suka jika semua terlalu terencana. Simak obrolan kami dengan Fame untuk mengetahui lebih jauh apa sih yang mendorongnya untuk melancong ke mana-mana seorang diri?

VICE: Jalan-jalan dulu baru kepikiran bikin buku, atau memang dari sebelum perjalanan sudah tahu akan bikin buku?
Famega: Aku memang lebih pengen jalan-jalan dulu dan waktu itu pun memang belum tahu bahwa aku akan sampai ke Afrika pada akhirnya. Jadi pokoknya aku mau jalan darat, tujuan pertamanya sih ke Rusia, mungkin juga sampai negara Eropa lainnya. Jadi awalnya belum kepikiran untuk bikin buku.

Awal mula suka melakukan perjalanan?
Jadi Kelana itu perjalanan darat yang benar-benar jalan darat. Sebelumnya aku kalau bepergian ya naik pesawat, mungkin sebulan atau dua bulan. Aku suka jalan-jalan karena memang aku suka baca dan aku juga wartawan, jadi aku ingin mengalami pengalaman langsung dari apa yang aku baca itu.

Kenapa perjalanan darat sih?
Selama ini kan waktu jalan-jalan itu aku selalu menuju suatu tempat naik pesawat, pas eksplor di sana baru jalan darat. Pas menyusuri jalan darat itu aku suka banget ketemu dengan orang, misalnya pas aku hitchhiking numpang mobil orang ke mana-mana. Selama melalui perjalanan itu aku merasa bahwa highlight perjalanan itu adalah orang-orang yang aku temui. Perjalanan darat itu memaksa aku ketemu orang lebih banyak dibanding kalau aku naik pesawat. Waktu itu juga aku lagi punya banyak waktu luang, jadi aku rasa jalan pelan-pelan itu menyenangkan, totalnya menghabiskan 4,5 bulan.

Akhir tahun ini ada rencana solo travelling?
Ada, inginnya ke Banda Neira. Agustus kemarin sebenarnya udah sempat sampai di Ambon, mau lanjut ke Banda tapi lagi enggak ada pesawatnya. Banyak tempat menarik di sekitar Ambon, kayak Seram atau Buru. Gue ingin ke Banda juga karena baca biografinya Hatta. Emang sudah lama ada rencana ke sana tapi selama ini belum ada yang menggerakkan. Nah pengalaman ke Ambon kemarin itulah yang menggerakkan. Kalau ke sana sih inginnya sampai dua minggu, atau minimal seminggu lebih lah.

Ke Banda Neira nanti juga sendiri?
Berangkatnya sendiri, tapi di sana nanti bakal ketemu teman-teman. Soalnya waktu kemarin ke Ambon, kenalan dengan teman-teman di sana yang bisa diajak main. Bisa juga diajak ke Banda. Mereka sudah sering ke Banda, kadang-kadang mereka juga buka paket wisata. Jadi paling nanti di sana main sama mereka, mereka juga punya banyak teman di Banda.

Kalau mau jalan-jalan sendiri kamu bisa mendadak pergi gitu enggak? Siasatin budgetnya gimana untuk jalan-jalan yang dadakan begitu?
Kalau untuk menyiasati budget, jalan-jalan di Indonesia sebenarnya enggak ada yang mahal. Penginapan seratus ribu pasti ada. Uang yang dihabiskan di hari-hari pas kita wisata itu sebenarnya sama saja dengan biaya sehari-hari di Jakarta. Yang mahal itu cuma tiketnya aja.

Iyos Kusuma

Solo travelling itu bebas drama!” kata Iyos ketika ditanya apa sih yang membuatnya suka jalan-jalan seorang diri. Ia mengaku enggak punya alasan muluk-muluk semacam mencari jati diri, mengenal diri lebih dalam, atau semacamnya. Mantan wartawan Kompas TV yang kini bekerja di agency ini memilih jalan sendiri ke mana-mana karena tak ada momen-momen kesal nungguin partner kita beres mandi atau teman kita mau sebats dulu. Ia menulis pengalamannya di guratankaki.com. Simak obrolan kami dengan Iyos berikut ini:

Pertama kali solo travelling, motivasinya apa sih?
Kuliah semester tujuh, ke Jogja. Waktu itu gue stress, habis ngurus acara di kampus. Pas selesai, gue langsung mikir ‘udah, gue mau liburan sendirian. Nggak mau ketemu orang.’ Kebetulan karena yang dikunjungi itu Jogja, nggak begitu takut karena udah familiar banget.

Lebih suka mana, solo travelling atau jalan-jalan segerombolan?
Sebenernya nggak ada satu yang pasti gitu, sih. Tapi kayaknya semakin ke sini semakin cenderung suka jalan jalan sendirian. Ada kemewahan tersendiri karena kita bisa mengatur kapan kita mau berkomunikasi dengan orang lain. Gue sehari-hari kerja, komunikasi dengan orang sepuluh sampai dua belas jam koordinasi ini itu kayaknya udah cukup, hahaha. Butuh waktu sendirian dan membatasi komunikasi.

Apa sih yang lo dapetin dari solo travelling?
Haha, berat euy pertanyaannya. Mungkin, semacam melatih kebiasaan diri untuk independen dalam mengambil keputusan dan pilihan. Ini karena semua persiapan diurus sendiri dan dinikmati sendiri. Kalau ada apa-apa, ditanggung sendiri. Gue juga nemu banyak spot-spot yang nggak terlalu ramai dan turistik, tapi indah. Contoh tempat yang underrated kayak gitu menurut gue Taman Nasional Tanjung Puting di Kalteng. Menurut gue, ini bisa jadi solusi ketika kita bosan liburan ke gunung, pantai, atau kota-kota lain, karena ini ada hutan dan sungai-nya. Kita makan, mandi, dan tidur diatas perahu kecil. Enggak sepopuler Labuan Cermin atau Derawan di Kalimantan, tapi sebenernya layak banget buat dicoba!

Kalau akhir tahun ini ada rencana jalan-jalan? rencannya mau ke mana?
Ada sih rencana, tapi belum memutuskan. Setelah natalan nanti baru mutusin, maunya random aja, diputusin kalau sudah mau pergi. Kemungkinan besar sih naik gunung lagi. Atau jalan-jalan ke kota kecil yang bukan kota turis. Dulu juga pernah kayak gitu, random jalan-jalan ke Blitar. Kotanya enak dan sepi. Tahun ini mungkin mau coba ke Cirebon. Kan kotanya enggak begitu kota turis tuh, enggak kayak Jogja atau Bandung. Kalau naik gunung kepikirannya ke Argopuro, karena itu kan treknya panjang, mumpung liburnya panjang jadi sayang kalau enggak dimanfaatin.

Lo percaya enggak sih kalo solo travelling itu bisa spontan pergi aja gitu?
Bisa. Tapi tetap aja butuh riset yang detail. Mendadak ataupun enggak mendadak harus tetap riset. Ya risetnya juga enggak perlu lama-lama banget sih. Googling seharian juga sudah cukup

Cukup tuh googling aja. Kalau wisata ke kota-kota kecil bukannya agak susah informasinya ya, biasanya di google juga enggak ada?
Iya memang google enggak begitu lengkap. Biasanya sih lihat-lihat blog orang yang sudah pernah ke sana, terus kita nanya lagi dari dia.

Apa strategi lo biar uang yang kita keluarin saat bepergian sendiri itu sesuai dengan perencanaan pas bikin budgeting?
Riset sedetail-detailnya. Kita harus tahu kalau mau ke mana-mana itu naik apa, harus tahu sampai harga dan jam-jam keberangkatannya. Biasanya yang bikin bengkak itu misalnya kita sudah sampai di suatu lokasi, enggak tahunya si angkot atau bus yang kita cari sudah enggak ada, jadi harus cari yang lain yang lebih mahal. Atau harus tambah menginap semalam.

Nadya Natasha

Awal-awal melakukan perjalanan seorang diri, Nadya Natasha alias Nanas mengaku takut. Tapi ia punya cara jitu menangkal takutnya. Nanas bawa boneka kecil ke mana-mana yang ia anggap sebagai teman perjalanan, walhasil rasa takut dan khawatir pun hilang. Lama-lama ia tak takut lagi dan menemukan obat yang lebih mujarab daripada bawa boneka kecil ke mana-mana, yakni ngobrol sama orang-orang di sekitar. “Jadi ada perasaan kalau ada apa-apa sama kita, pasti ada orang yang bakal nolongin,” kata Nanas. Simak obrolan kami dengan Nanas berikut ini

Halo, Nadya. Pertama kali solo travelling itu kemana? Dan gimana rasanya?
Pertama kali saat aku kuliah tingkat pertama, tahun 2013. Aku pergi ke Sawarna waktu itu. Waktu itu, aku pengen banget jalan jalan dan udah ngajak temen juga untuk ke Sawarna, karena Sawarna terhubung dari Jakarta tanpa harus naik pesawat. Tapi temen-temen aku nggak ada yang mau. Akhirnya aku pikir, f*** it, i’m just gonna go. Sebenernya aku takut juga, sampe-sampe aku bawa boneka kecil yang aku bawa kemana-mana. Lucu juga sih, kalau diinget inget. Aku mikirnya aku punya teman kecil di tas.

Tapi ternyata pas sampai di sana banyak orang baik, aku ngobrol-ngobrol sama orang lokal. Banyak orang yang sangat helpful, sampai pernah dianterin ke bandara saat nggak tau jalan. Ternyata setelah dijalanin, it’s not as scary as I thought it was going to be. Banyak orang yang sangat helpful, sampai pernah dianterin ke bandara saat nggak tau jalan. Sejak dari Sawarna aku pernah solo travelling ke Sumba, Dieng, Surabaya, Solo, dan negara Asia lainnya.

Budget jalan-jalan sendirian itu terkadang lebih mahal dari pada gerombongan, karena nggak bisa patungan akomodasi. Kenapa Nadya tapi ketagihan banget solo travelling?
Karena nggak ribet. Orang terkadang baru diajakin aja udah suka ngomong “mau sih, tapi.. Tapi.. tapi..” gitu. Kalau sendiri, kita bebas aja dan pasti jalan. Kita juga nggak usah mikirin apakah temen kita yang ikut sebenernya menikmati perjalanan. Terkadang teman juga pengen ke satu tempat, dan ketika dijalanin ternyata kita nggak enjoy. Sebenernya sih ketika aku travelling sama orang lain nggak pernah sampai sekesal itu, tapi tetap saja kalo pergi sendirian itu rasanya freedom banget. You can do whatever the hell you want.

Apa sih hal terpenting yang harus diinget orang yang mau solo travelling?
Jangan egois. Jangan selalu mikirin diri sendiri aja, harus sadar sama situasi dan sekeliling kita. Agak kontradiksi, karena konsep jalan-jalan sendiri itu sebenernya kan self-centered banget. Tapi ketika dijalanin, kita harus peka sama faktor-faktor dari lingkungan, kalau nggak bisa bahaya banget.

*Artikel ini adalah hasil kerja sama VICE X Bookinglokal.com, situs jalan-jalan baru yang fokus membantu para pelancong mencari akomodasi semurah mungkin. Kode di atas bisa kamu pakai untuk mendapatkan diskon langsung dari situs Bookinglokal.com