Aku Menumpang Truk Trailer, Menjelajahi Jalur Paling Mematikan di Bali
Said mengemudikan truknya di lintas Gilimanuk-Denpasar. Semua foto oleh penulis.
Bali

Aku Menumpang Truk Trailer, Menjelajahi Jalur Paling Mematikan di Bali

Ratusan kecelakaan rutin terjadi saban tahun di jalur lintas Gilimanuk-Denpasar. Polisi membenarkan rute ini berbahaya. Lalu bagaimana para sopir truk bersiasat melintasinya?
24 April 2018, 5:52am

Umpatan Said Rifai membangunanku dari tidur lelap. “Diamput!” kata Said dalam nada tinggi. Tergeragap dengan mata masih sayu, saya kebingungan menoleh ke arahnya. Keringat dingin membasahi wajah Said, tangannya bekerja keras mengendalikan setir. Truk trailer buatan Eropa dengan 20 roda tersebut nyaris menabrak pengendara sepeda motor yang mendadak belok ke kanan. Said untungnya sigap membanting setir ke kiri, tapi ada bahaya lain segera mengancam. Truk trailer tersebut nyaris terperosok ke parit sedalam satu meter di kiri jalan, andai Said tak melakukan manuver cemerlang malam itu.

Beberapa jam sebelum diajaknya menghindari motor dan nyaris terperosok parit, saya bertemu Said di pelabuhan Ketapang. Kami sama-sama berencana menyeberang ke Gilimanuk, di sisi Bali. Said dan satu sopir pengganti, Partono, ditugaskan majikan mengantar besi beton (wiremesh) seberat 30 ton buatan Krakatau Steel untuk proyek pembuatan jalan Bandara Internasional Ngurah Rai. Said dan Partono bekerja untuk sebuah perusahaan ekspedisi khusus alat infrastruktur berpusat di Semarang.

Jumat siang, Said dan Partono berangkat dari Semarang menuju Mojokerto mengambil muatannya, sebelum bertolak ke Denpasar. Mereka berdua sampai di Banyuwangi keesokan harinya. Perjalanan Said dan Partono dari Mojokerto ke Banyuwangi menempuh waktu sembilan jam. Sampai di Banyuwangi pada pukul 22:00, Said dan Partono istirahat dulu sampai subuh, sebelum menyeberang ke Pulau Dewata. Karena mereka cukup santai, saya terpikir, bagaimana kalau menumpang truk Said saja.

“Kamu serius mau menumpang truk saya?” tanya Said dalam bahasa Jawa dengan muka terheran-heran, saat saya mengutarakan niat menumpang truknya.

Truk yang dikemudikan Said tengah diinspeksi.

Di tengah banyaknya moda transportasi saat ini, Said heran kenapa ada orang nekat menumpang sebuah truk sepanjang 16 meter dengan berat kosong 16 ton tersebut. Namun saya kadung berangkat ditugaskan kantor dengan satu misi: mengarungi jalur tengkorak yang membelah selatan Bali menghubungkan Gilimanuk, Jembrana, Tabanan, lalu Denpasar. Saya perlu mencari tahu, apa alasan jalur maut ini begitu terkenal di kalangan pengemudi.

Jalur lintas Gilimanuk-Denpasar sejatinya adalah jalan nasional satu-satunya penghubung Gilimanuk ke Denpasar. Rute ini dapat memberi jarak tempuh tercepat. Puluhan ribu kendaraan melintasinya setiap hari. Masalah utamanya satu: terlalu sering terjadi kecelakaan di lintas Gilimanuk-Denpasar, sampai-sampai warga menjulukinya jalur tengkorak. Di sepanjang jalan 127 kilometer itu, ratusan nyawa melayang setiap tahun akibat kecelakaan. Sempatkanlah googling sejenak, akan muncul 77.900 hasil pencarian yang semuanya berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas.

Pemerintah setempat sadar betul bahaya di jalur lintas Gilimanuk-Denpasar. Makanya ada usulan membuat jalan toll baru yang menghubungkan Ibu Kota provinsi dengan kawasan pelabuhan di ujung barat sejak 2012. Wacana ini masih tarik ulur. Pada 2015, studi kelayakan dilakukan, namun jalan tol tersebut tak kunjung terealisasi.

Warga sekitar Gilimanuk yang saya temui paham betul betapa ‘angkernya’ jalur tengkorak Denpasar-Gilimanuk. Yanto, petugas pelabuhan Gilimanuk, mengaku menyaksikan sendiri ngerinya jalur tersebut. Jalan sempit yang menanjak dan berkelok membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi dan keahlian pengendara. Dulu dia melihat truk tronton menggasak bus pariwisata. Kedua kendaraan tadi ringsek tak berbentuk. Dari pengalaman tersebut, Yanto paham, baik kondisi badan dan performa pengendara harus optimal. “Salah sedikit saja, bisa tamat riwayat Anda,” kata Yanto. “Badan saya harus fit kalau hendak menempuh jalur tersebut,” ungkap Yanto.

Siapa sangka, Said ternyata bersedia memberi saya tumpangan. Said berasal dari Alas Roban, Batang, Jawa Tengah. Bertolak belakang dari ukuran truknya yang segede gaban, perawakan Said kurus kecil. Tingginya sekira 160 cm dengan berat 50 kilogram. Usianya baru menginjak 26 tahun dan belum berkeluarga, apalagi berpacaran. Ia belum kepikiran mencari pacar, kata Said, karena repot harus sering-sering ditinggal menyopir. Sudah tujuh tahun Said mengoperasikan truk trailer.

Ia hanya menghabiskan satu tahun di bangku SMA dan memilih bekerja serabutan. Awalnya ia bekerja sebagai kuli di proyek-proyek sekitaran Jakarta dan Yogyakarta. Setahun menjadi kuli, Said bekerja sebagai kernet truk dan bus selama dua tahun sebelum memberanikan diri menjadi supir. Maklum, banyak tetangganya yang berprofesi sebagai supir. Said mengaku tertarik setelah diajak oleh salah satu tetangganya untuk menjadi kernet.

“Saya suka berkeliling,” kata Said. “Dengan menjadi supir saya enggak perlu bayar untuk bepergian. Malah saya dibayar.”

Selama jadi kernet, ia mencuri ilmu dari para supir. Tidak ada teori yang didapat, Said langsung praktik mengemudikan truk di jalan raya. Ia mengaku hanya membutuhkan waktu tiga bulan untuk belajar sebelum berani mengemudikan truk sendirian.

“Saya sampai dipangku oleh supir ketika belajar mengendarai truk,” kata Said. “Setelah tiga bulan belajar saya sudah bisa membawa truk. Saya malah belum pernah menyupir kendaraan kecil. Dari dulu selalu bawa trailer.”

Kini dalam sebulan Said bisa empat hingga tujuh kali mengantar barang. Di sela hari-harinya menerjang aspal, Said menyempatkan pulang ke kampungnya, setidaknya sehari dalam sebulan. Perjalanan terjauh yang pernah ditempuhnya adalah membelah Sumatera menuju Medan, mengantar berkotak-kotak ikan tuna.

Said dan rekannya Partono adalah roda geligi kecil dari sebuah mesin logistik yang rumit. Dari data BPS, ada 7,1 juta truk komersial lalu lalang di Indonesia. Para supir ini seperti bekerja di belakang layar, mendistribusikan barang konsumsi hingga peralatan berat. Saat ini pemerintah tengah menggenjot arus distribusi logistik lewat jalur laut. Data Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia mencatat distribusi logistik lewat jalur darat mencapai 2,5 juta ton per tahun atau 57 persen dari total rantai distribusi logistik di Indonesia. Jumlah tersebut sangat jauh dibandingkan arus distribusi logistik lewat laut baru mencapai 194,8 ribu ton per tahun.

Sabtu pagi itu sambil ditemani kopi hitam manis dan sebatang rokok kretek cengkeh, Said dan Partono mulai melakukan inspeksi truk. Inspeksi rutin tersebut diperlukan setiap kali menempuh jarak jauh. Truk tersebut dibuat pada 2006, ukurannya termasuk tua buat kendaraan ekspedisi. Klien terkadang tidak mau menyewa angkutan yang sudah tua. Usia maksimal truk yang aman paling tidak lima tahun. Said sendiri heran mengapa klien yang sekarang tidak mempermasalahkan usia truk yang hampir menginjak 12 tahun itu.

Ketika hari beranjak siang, fan belt yang menghubungkan radiator dan dinamo truk yang dikendarai Partono agak berisik, menandakan ada gangguan yang harus cepat diselesaikan. Ia menghabiskan waktu berjam-jam, namun tak menemukan letak permasalahannya. Fan belt tetap berbunyi. Sambil mengumpat, Partono menyerah dan beringsut menuju warung kopi sebelah.

Partono berusia 67 tahun. Ia bekerja sebagai sopir sejak akil baligh. Sama seperti Said, badannya kecil dan kurus. Ketiga anak Partono sudah sukses semua menjadi dokter spesialis bedah, dosen biologi, dan perwira angkatan darat. Ongkos pendidikan mereka dari hasil kerja kerasnya mengemudikan truk. Usia Partono jelas tidak muda lagi, namun di dunia yang ia geluti tak pernah mengenal masa pensiun selama badan masih sanggup menghadapi kejamnya jalan raya. Keluarganya sampai memprotes keputusan Partono yang menolak pensiun.

Said dan Partono mempersiapkan truk di area parkir Pelabuhan Gilimanuk.

“Saya bingung kalau berdiam diri di rumah,” kata Partono. “Tidak ada yang bisa dikerjakan. Cuma ini [menjadi supir] yang saya tahu. Tapi Lebaran tahun ini saya sudah memutuskan mengundurkan diri. Saya sudah mengirim surat ke perusahaan. Anak-anak saya sudah cerewet semua.”

Said dan Partono dijadwalkan berangkat menuju Denpasar pada pukul 18:00 WITA dengan kawalan petugas patroli jalan raya (PJR). Truk muatan berat tidak bisa seenak perut melintas di jalan raya. Truk hanya boleh melintas di jam-jam tertentu dan harus melapor kepada otoritas jalan raya setempat. Untuk memperoleh kawalan PJR, Said dan Partono membayar masing-masing Rp1,6 juta, termasuk jasa timbang muatan.

Pukul 17:30 WITA, dua petugas PJR datang. Said dan saya langsung melompat ke dalam kabin truk. Tinggi truk tersebut tiga meter, butuh kehati-hatian untuk naik ke dalam kabin. Ukuran kabin tersebut cukup luas dengan lebar dua meter lebih. Interiornya khas kabin supir truk jarak jauh. Di lantai berwarna abu-abu tersebut berserakan botol-botol kopi instan dan air mineral, serta berbungkus-bungkus rokok. Di belakang kursi ada tempat tidur kumal terbentang. Sarung biru yang berfungsi sebagai penahan dingin di malam hari teronggok begitu saja di sudut kasur. Di dinding kabin tergantung jaket coklat bulukan dan handuk kotor. Melalui sinar matahari yang masuk, saya bisa melihat debu beterbangan dari kursi dan kasur. Entah kapan terakhir kali kabin tersebut dibersihkan. Jika memang pernah dibersihkan.

“Saya sudah enggak hafal jalan di Bali,” kata Said sambil mengaktifkan GPS di ponselnya. “Terakhir saya ke sini tiga tahun lalu, itupun saya sempet nyasar.”

Ketika saya ceritakan bahwa jalur tersebut rawan kecelakaan, Said hanya manggut-manggut. Tidak ada kekhawatiran di mukanya. Seolah ia percaya dengan jam terbangnya yang sudah tinggi.

Said menginjak pedal gas dan memundurkan truk dengan pelan. Partono mengikuti dari belakang, sementara mobil sedan PJR mengawal di depan. Baru beberapa meter keluar dari area pelabuhan, mobil PJR tersebut segera menepi dan tak lagi mengawal.

“Tidak ada yang lebih bikin kesal di jalan selain polisi,” kata Said dengan sinis. “Di Sumatera, polisi bisa minta pungli berkali-kali.”

Suasana di kursi kemudi Said.

Jalur Gilimanuk-Denpasar tergolong sempit, lebarnya cuma enam meter. Ukuran truk trailer Said segera memenuhi separuh lebih badan jalan. Menyalip kendaraan di depannya saja tentu butuh perhitungan matang mengingat panjang truk yang dikendarainya. Di sana-sini aspal jalan mengelupas dan bergelombang. Saat naik kendaraan seberat itu, goncangan di dalam kabin langsung terasa. Said menjelaskan truk tersebut dilengkapi suspensi di dua roda depan, jika tidak, maka goncangan bakal lebih terasa lagi. Rata-rata truk buatan Eropa, seperti yang dia kendarai, telah dilengkapi suspensi hidrolik. Sementara, ketika mengendarai truk trailer buatan Jepang, ia harus mengikat perutnya menahan goncangan. “Biar enggak turun berok,” candanya.

Di kiri-kanan jalur Gilimanuk-Denpasar, kita akan melihat beragam pohon kelapa, akasia, jati, ataupun beringin. Sesekali tampak pura dan rumah warga di sepanjang jalan. Dari Kabupaten Jembrana, di selatan jalan, deretan pantai berpasir putih menawarkan pemandangan Samudera Hindia seperti memanggil untuk dijamah.

Rata-rata jam kerja supir yang dianjurkan adalah empat jam sehari, untuk kemudian beristirahat beberapa jam, sebelum melanjutkan perjalanan. Kenyataan jauh panggang dari api. Industri logistik adalah dunia keras. Perusahaan kadang menuntut kecepatan pengiriman barang yang tak masuk akal. Padahal, kecepatan maksimal yang bisa ditempuh trailer dalam keadaan jalan ramai, cuma 40 km/jam. Di tol, truk tersebut dapat dipacu hingga 70 km/jam.

“Para supir berkejaran dengan waktu,” kata Said. “Tak ada waktu untuk bersantai, kecuali ketika macet dan sedang menunggu di pelabuhan.”

Said terbiasa berkendara 10 jam nonstop demi mengejar tenggat pengantaran. Hiburan Said selama mengemudi pun minim. Buat menahan kantuk Said cuma mengandalkan minuman manis dan rokok. Sesekali ia memutar musik mulai dari lagu daerah Minang, pop, sampai musik metal lokal.

“Lagu minang enggak bikin bosan,” kata Said sambil mengeraskan volume suara. “Soalnya saya enggak paham bahasanya. Musiknya enak buat sambil jalan.”

Tak pelak, gaya hidup para supir yang berantakan memicu serangkaian penyakit mulai dari diabetes, obesitas, gangguan jantung, hingga wasir. Said tahu risiko tadi, namun tak memiliki pantangan apapun ketika makan. Ia mengaku belum mendapat masalah kesehatan sejauh karirnya menjadi pengemudi.

Untuk perjalanan menuju Denpasar, Said mendapat uang operasional dari perusahaan sebesar Rp5,5 juta. Uang tersebut digunakan untuk bahan bakar, membayar biaya penyeberangan, makan, dan pungutan lainnya. Jika masih ada sisa dari uang operasional, Said berhak mengantonginya. Ia tidak menerima gaji bulanan selayaknya karyawan selain insentif dan sisa uang operasional. Insentif diukur berdasarkan kilometer yang ditempuh dalam satu kali perjalanan. Ia mengaku bisa mengantongi insentif maksimal Rp200 ribu sekali perjalanan. Ia mengeluh insentif yang terus menurun setiap tahun alih-alih naik. Beberapa tahun lalu, dia masih bisa mengantongi Rp500 ribu sekali jalan menempuh rute jarak jauh.

Arus lalu lintas ramai lancar di ruas Gilimanuk-Denpasar.

Menjadi supir truk adalah jalan hidup sunyi, begitulah kata Said. Ia mengaku terbiasa mengemudi sendirian tanpa kernet. Said ingat ketika ia mengalami kecelakaan gara-gara mengantuk. Saat itu truknya terjebak macet di sebuah persimpangan jalur kereta api. Saat matanya terpejam. Tiba-tiba “bruk!” truk Said menabrak dua kendaraan yang berhenti di depannya. Kernet yang seharusnya terjaga untuk mengingatkan supir, justru tertidur dan tak sadar truk tersebut menabrak. Sejak saat itu Said memilih berkendara solo mengarungi Jawa, Bali, serta Sumatera.

“Mengantuk memang sangat fatal,” kata Said dengan pandangan tajam ke arah jalan. “Kadang kita enggak sadar kalau mengantuk. Saya tergolong beruntung baru sekali kecelakaan.”

Sambil sesekali mengobrol, truk Said melaju pelan melahap aspal. Dengan 12 persneling, saya pikir truk bisa melaju kencang. Rupanya, saat melewati tanjakan dengan kemiringan 15 derajat, truk tersebut berjalan bak siput.

Sebenarnya, bagi Said, muatan yang dibawanya tergolong ringan. Truk tersebut mampu membawa beban hingga 50 ton. Justru gara-gara beban yang ringan itulah, Said khawatir, truk tersebut selip ketika menanjak. Pendeknya, semakin berat beban yang dibawa, semakin kecil risiko truk tersebut mengalami selip ban ketika melalui tanjakan. Lagi pula dengan kondisi jalan yang ramai, mustahil bagi Said untuk menginjak pedal gas dalam-dalam.

Kendaraan kecil yang ugal-ugalan seperti mobil dan motor bisa menyalip dari belakang secara tiba-tiba dan berbelok tepat di depan truk. Hal tersebut yang harus diwaspadai supir truk ukuran besar seperti Said. Ada beberapa blindspot alias titik pengendara lain tak terlihat, yang harus dihindari sopir trailer. Letaknya berada dalam jarak hingga dua meter dari depan kabin, dan tepat di sebelah kiri supir. Buat menghindari blindspot, truk Volvo yang dikendarai Said dilengkapi enam spion. Tiga di kiri, satu di kiri atas depan kursi penumpang, dan dua di kursi supir.

Membawa truk trailer membutuhkan skill yang berbeda dengan kendaraan lain. Perhitungan cermat harus dilakukan setiap saat dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Di tikungan tajam, Said harus mengambil lajur kanan agar gandengan truk sepanjang 12 meter tersebut tidak tersangkut di pembatas jalan atau terperosok.

Saat mencapai kilometer 25 memasuki Kabupaten Tabanan, sehabis melewati sebuah turunan curam yang diikuti tikungan tajam, saya melihat dua truk besar terguling di kiri jalan. Tak jelas apakah truk tersebut mengalami kecelakaan tunggal atau bertabrakan. Said cuek melihat pemandangan itu, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Jantung saya berdegup kencang.

Data dari Polres Tabanan menyebutkan pada 2016 terjadi 122 kecelakaan yang menimbulkan 54 korban jiwa dan 153 lainnya luka-luka. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 167 kecelakaan dengan 92 korban jiwa dan 198 orang luka-luka.

“Kecelakaan yang terjadi paling banyak melibatkan pengendara motor dan mobil barang,” kata Kasat Lantas Polres Tabanan Kadek Citra Dewi Suparwati saat dihubungi terpisah. ”Kecelakaan yang terjadi banyak disebabkan oleh human error, seperti lengah dalam berkendara, mengantuk, melebihi batas kecepatan, dan karena kondisi jalan.”

Polres Tabanan sudah memetakan beberapa jalur yang rawan di wilayah hukumnya meliputi kilometer 25 dan 26 hingga kilometer 34 dan 35. Di daerah tersebut menurut, Kadek, terdapat tikungan tajam beruntun dan jalan yang bergelombang.

Ketika gelap semakin pekat dan temaram cahaya lampu menyeruak melalui jendela kabin, mata saya berangsur-angsur terpejam. Goncangan kabin truk dengan cepat membuai saya. Said terus menyalakan rokok buat mengusir kantuk dan dinginnya malam. Ia bisa tahan tidak makan selama ada rokok dan kopi dan tetap terjaga paling tidak selama beberapa jam ke depan.

Tengah malam Said membangunkan saya. Ternyata kami sudah sampai di Kuta. Perjalanan Gilimanuk - Denpasar normalnya butuh waktu tiga jam naik mobil biasa, jadi ditempuh selama delapan jam.

“Jangan kapok naik truk mas,” ujar Said tepat sebelum berpamitan. “Kalau sempat main-main ke Alas Roban.”

Saya berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Said di penghujung perjumpaan tersebut. Saya melompat turun, sementara Said kembali menembus gelapnya malam, menapaki setiap inci aspal yang seakan tiada pernah berakhir.