Perempuan Hebat di Masa Lalu

Kisah Ratu Mesir Kuno Nefertiti yang Karismatik Jadi Ikon Pujaan Masyarakat Modern

Sosok Permaisuri Agung ini terkenal karena memulai reformasi agama dan memimpin revolusi budaya. Bahkan Nazi Jerman pun terobsesi pada Nefertiti.

oleh Christobel Hastings
04 Mei 2019, 8:00am

Beyonce berusaha meniru gaya rambut Nefertiti dalam sampul album Lemonade.

Di suatu siang yang terik, Desember 1912, sekelompok arkeolog dari German Oriental Society (DOG) sibuk menggali Amarna. Kota di Mesir yang sudah lama terlupakan ini berada di tepi sungai Nil. Waktu itu, mereka berusaha mencari harta karun tersembunyi di bawah gurun pasir. Tak ada satu pun dari rombongan, termasuk ketua ekspedisi Ludwig Borchardt, yang menduga akan menemukan keajaiban lain.

Alih-alih harta karun, yang mereka temukan justru reruntuhan bangunan dari kedalaman kota hantu dari masa 3.000 tahun lalu. Bangunan tersebut adalah sanggar pemahat istana Mesir Kuno yang terkenal, Thutmose. Dia ditugaskan menciptakan prasasti-prasasti resmi kerajaan sekitar tahun 1350 Sebelum Masehi. Alat penggali tim Borchardt menyentuh benda keras, ketika semakin dalam menggali. Artefak itu ternyata adalah patung ratu Mesir Kuno.

Mereka menemukan patung Nefertiti yang terbuat dari batu kapur dan diwarnai dengan lapisan plester gipsum. Patung besar tersebut memiliki detail luar biasa: tulang pipi, hidung mancung, dan mata yang terbuat dari batu kristal. Patungnya mengenakan mahkota berwarna merah, hijau, biru dan emas. Warnanya masih memancar keluar meski berselimut debu dan tanah.

Borchardt segera menyadari siapa yang ada di hadapannya. "Tiba-tiba saja, kami menemukan karya seni Mesir paling agung yang pernah ada," tulisnya dalam catatan harian. "Kamu tidak akan bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Kamu harus melihatnya langsung."

Dia segera menemui pejabat Mesir pada 1913 untuk membahas pembagian artefak yang mereka gali. Tak jelas bagaimana prosesnya, patung Nefertiti oleh Mesir diserahkan ke Jerman. Borchardt menyimpan patung ini selama 10 tahun, karena tidak mendapat perhatian lebih lanjut dari orang Mesir.

Patung dada Nefertiti mulai dipamerkan di Museum Berlin pada 1924. Momennya tepat, mengingat makam raja Tutankhamun berhasil ditemukan dua tahun sebelumnya. Saat itu, ketertarikan dunia Barat terhadap peradaban kuno Mesir sedang mencapai puncaknya, karena berbagai laporan bombastis media massa.

Sosok Nefertiti dirayakan bak bintang film. Orang-orang modern terpikat dengan senyum tenangnya, dan bentuk wajahnya yang simetris dan proporsional, walau hanya dalam wujud patung. Joyce Tyldesley, arkeolog yang mendalami sosok perempuan kuno, menulis dalam bukunya Nefertiti's Face: The Creation of An Icon bahwa Nefertiti "sangat cocok dengan gaya art deco geometris penuh warna yang mulai menggambarkan kemewahan dan konsep glamor pascaperang dunia pertama."

Dia jadi ikon kecantikan bagi masyarakat modern. Terutama, kecantikan yang tidak melulu berkiblat pada kebudayaan ras kulit putih. Namun, kisah hidupnya jadi jarang diketahui orang, justru ketika sosok Nefertiti mulai tenar sebagai simbol kesempurnaan feminin.

1525097695616-1024px-Akhenaten_Nefertiti_and_their_children
Sebuah hieroglif menggambarkan Akhenaten, Nefertiti, dan tiga anak mereka. Foto via Wikimedia Commons.

Tyldesley menegaskan obsesi masyarakat modern yang hanya terpaku pada kecantikan Nefertiti "mempengaruhi pemahaman kita tentang masa lalu Mesir." Meskipun asal-usulnya tidak diketahui, setidaknya pakar berhasil menemukan bukti meyakinkan bahwa Nefertiti—yang namanya berarti “kecantikan hakiki”—adalah permaisuri agung dan istri utama Firaun Amenhotep IV yang memerintah Mesir pada abad ke-14 SM.

Ketika Amenhotep IV berkuasa, pasutri muda itu memindahkan ibu kota dari Thebes ke Amarna. Mereka membangun kota baru dari awal. Ini bukan satu-satunya perubahan besar yang mereka ciptakan. Pada tahun kelima berkuasa, sang Firaun menuai kontroversi dengan memperkenalkan agama baru, menggantikan teologi yang bertahan sejak 2.000 tahun lamanya.

Dengan menggunakan kekayaan dan kekuatannya, Amenhotep IV meninggalkan penyembahan dewa-dewa tradisional yang berkepala binatang. Dia mengajak rakyat Mesir ganti memuja Aten, sang Dewa Matahari. Aten digambarkan sebagai piringan matahari yang dikelilingi sinar cahaya. Aten menawarkan kehidupan kepada dunia melalui perantara Amenhotep, Nefertiti, dan putri mereka. Amenhotep kemudian mengganti namanya jadi Akhenaten, dan melimpahkan wewenang luar biasa pada Nefertiti untuk menegakkan revolusi.

Bukti karakter kepemimpinan Nefertiti yang unik diukir dalam karya seni Amarna. Berbagai ukiran tersebut dianggap revolusioner, seperti agama baru yang mereka tawarkan pada rakyat Mesir Kuno. Nefertiti hidup dalam prasasti-prasasti kuno yang penuh ketidaksempurnaan. Salah satu reliefnya menggambarkan pasangan kerajaan yang berpelukan saat naik kereta kuda sembari Aten memancarkan sinarnya di atas langit.

Di lukisan lain, Nefertiti berkuda selama prosesi upacara. Ada juga prasasti yang menunjukkan betapa eratnya ikatan kekeluargaan mereka. Dalam gambar tersebut, Akhenaten dan Nefertiti tampak sedang menimang bayi-bayi perempuannya.

Tak semua ukiran sang ratu menggambarkan kebahagiaan rumah tangga mereka. Nefertiti juga menegakkan hukum dan memerintah rakyatnya. Dalam satu gambar yang ditemukan di Hermopolis, sang Permaisuri Agung berada dalam jajaran yang setara dengan para penakluk laki-laki. Dia tampak mengalahkan musuh Mesir dengan gada. Mengingat perannya sebagai wakil raja, maka tak heran kalau Nefertiti bisa mengambil alih kekuasaan.

Dalam ikonografi agama periode itulah status Nefertiti sebagai Permaisuri Agung benar-benar bersinar. Sang ratu sering digambarkan sedang menyembah Aten sendirian. Dia melakukan pemujaan di kuil khusus perempuan. Reliefnya bukan menunjukkan hubungan antara dewa dan umat manusia, melainkan menggambarkan Nefertiti sebagai bagian dari para ilah itu.

Relief dekoratif, yang diyakini berasal dari struktur Aten yang dibangun Amenhotep IV di Karnak, mengilustrasikan Nefertiti mengangkat tangannya secara langsung ke Aten. Peran seperti itu biasanya hanya diperuntukkan bagi raja. Namun, di sini malah Nefertiti yang berdiri paling depan. Gambarnya membuktikan seberapa besar pengaruh sang ratu pada saat itu.

1525097761073-1200px-WLA_brooklynmuseum_sandstone_Nefertiti
Ukiran diduga kuat menggambarkan wajah Nefertiti, perkiraan dibuat pada kurun 1352-1347 Sebelum Masehi. Foto oleh Steven Sandoval via Wikimedia Commons.

Berdasarkan semua penggambaran itu, cukup ironis ketika tak ditemukan catatan apapun tentang Nefertiti sesudah Akhenaten meninggal. Apakah dia akhirnya memimpin Kerajaan Mesir sendirian? Apakah rakyat berhenti menyukainya? Yang terpenting, di mana makamnya? Belum ada yang berhasil menemukan makam, kuil, atau tugu peringatan untuk Nefertiti sampai sekarang. Akhir hayatnya yang tak jelas memicu perdebatan tak berkesudahan.

Banyak teori yang muncul karenanya. Yang kita tahu hanyalah Mesir kembali menganut kepercayaan aslinya pada masa kepemimpinan Tutankhamun, sementara ibu kota baru dan dewa matahari perlahan dilupakan. Penguasa baru Mesir yang dendam dengan rezim Nefertiti menghancurkan berbagai karya seni di Armana. Aksi vandalisme terjadi di mana-mana. Tiga puluh tahun kemudian, kota tersebut runtuh menjadi gumuk pasir.

Tetapi Nefertiti tidak dilupakan begitu saja. Pada akhirnya, penemuan patung dada Nefertiti membangkitkan masa kejayaannya yang kontroversial. Sejak dipamerkan untuk pertama kalinya pada 1923, Mesir telah berkampanye agar patungnya dikembalikan.

Jerman, yang bersikeras memperoleh artefak tersebut secara legal, terus menolak. Pada zaman rezim Nazi, Hermann Goering mengusulkan pengembalian Nefertiti kepada Mesir, tetapi Hitler tidak setuju: "Saya takkan pernah menyerahkan kepala sang ratu," kata pemimpin Nazi itu dalam sebuah surat balasan kepada pemerintah Mesir.

1525097733568-maxresdefault
Iman memerankan Nerfertiti dalam video klip lagu Michael Jackson "Remember the Time."

Di luar museum, Nefertiti sebagai ikon telah melampaui Mesir dan Jerman. Lagu Lauryn Hill dari tahun 90-an berisi lirik macam ini: “You can't match this rapper slash actress/more powerful than two Cleopatras/bomb graffiti on the tomb of Nefertiti.” Dalam video klip “Remember the Time”-nya Michael Jackson, model legendaris Iman berperan sebagai ratu sang firaun yang terlihat bosan. Pada 2012, Isa Genzken memamerkan reproduksi patung Nefertiti, dilengkapi dengan aksesoris kacamata.

Penggambaran Nefertiti di ranah budaya pop mengungkap pengaruhnya di ranah politik. El Zeft, seniman jalanan asal Mesir, menstensil patung dada Nefertiti sedang memakai masker gas, yang kemudian menjadi ikonografi feminis pada revolusi 2012.

Lalu ada Beyoncé, juga seorang ratu, yang saat manggung di Coachella mengenakan penutup kepala berhiaskan berlian yang mengingatkan kita semua akan Nefertiti, sebagai simbol pemberdayaan perempuan kulit hitam. Pada 2018, Rihanna tampil di sampul Vogue Arabia, keputusan yang dikabarkan dibuat editor Manuel Arnaut demi upaya mempromosikan keragaman.

Warisan estetis kekuasaan Nefertiti takkan terlupakan dalam waktu dekat. Sebagai penemuan arkeologis, dia abadi. Namun, selain kecantikannya, kita tidak boleh lupa jika terdapat kisah yang membuat takjub. Dia seorang ratu yang memicu reformasi religius, memimpin revolusi kebudayaan, dan sangat mungkin pernah menguasai Mesir secara absolut di tengah budaya patriarki para firaun.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly