Iklan
Views My Own

Surat Terbuka Penggemar Badminton Buat Bung Valentino 'Jebret' Simanjuntak

Walau menggemari gaya Bung Valentino 'Jebret' memandu sepakbola, satu pemuda merasa ada yang salah saat gaya komentar heboh diterapkan buat pertandingan bulu tangkis. Berikut beberapa alasannya.

oleh Abdul Manan Rasudi
31 Agustus 2018, 8:29am

Foto kiri final ganda putra di Asian Games 2018 oleh Athit Perawongmetha/Reuters; Foto kanan dari akun instagram pribadi Valentino Simanjuntak.

Halo Bung Valens,

Apa kabar?

Saya orang Jawa yang terhitung ngefans sama sepak terjang bung selama berkarir jadi komentator olahraga di televisi. Semestinya, saya menyapa bung dengan sebutan Mas Valens di surat ini, karena saya jauh lebih muda dan itu sesuai norma kesopanan orang Jawa. Tapi, niat tadi saya urungkan, sebab "bung" adalah sapaan yang terasa lebih egaliter dan olahraga yang sering bung pandu adalah sepakbola, sejak dari sononya bernilai egaliter.

Sebelum kenal Bung di TV, saya tidak ingat ada komentator yang lebih ekspresif dibanding Bung Valens. Sebelum ada bung, sepakbola yang penting cuma pertandingannya. Komentator mah tugasnya bikin ngantuk. Kini, tayangan pertandingan sepakbola sudah mirip laboratorium penciptaan istilah olahraga. Tendangan PHP. Umpan Membelah Lautan, Gratifikasi Umpan atau sebut saja istilah sepakbola yang makin ngetren belakangan, semua itu hasil kerja keras bung mengomentari pertandingan di sepakbola kancah lokal. Saya yakin kalau ada yang bikin kamus istilah sepakbola modern Indonesia, Bung pasti jadi penyumbang lema paling banyak. Sumpah!

Saat melontarkan istilah-istilah tersebut, Bung secara tak sengaja memamerkan kemampuan berceloteh yang mengingatkan saya pada paduan bakat komentator olahraga, rapper, dan juru lelang. Bung Valens punya diksi yang lain daripada yang lain, kecepatan merapal kata-kata, kejelian menyampling lagu orang, hingga keberanian menggubah istilah anyar. Kalau boleh saya memberi usul, saya anjurkan Bung untuk menekuni hip-hop. Bung punya modal jadi rapper. Setidaknya, Bung sudah calon nama panggung yang gahar: MC Jebret!

Kekaguman saya makin tebal begitu Bung melebarkan sayap, menjadi pemandu pertandingan bulu tangkis Asian Games 2018 di Indosiar. Saya sadar ini lahan baru bagi Bung. Tapi, apa sih yang susah bagi lelaki bernama Valentino "Jebret" Simanjuntak. Layaknya di kancah sepakbola, di bulu tangkis bung juga pamer kemampuan merapal kata jebret bak berondongan AK-47.

Masalahnya satu sih bung. Bulutangkis sayangnya beda banget dari sepakbola. Kawan saya pernah berseloroh, nonton bulutangkis itu seperti nonton adu penalti sepakbola yang panjang sampai angka 21 tercapai—selisih dua angka jika terjadi setting.

Imbasnya, di bulutangkis, poin adalah keniscayaan dalam tiap kesempatan sementara dalam sepakbola, laga tanpa gol adalah sebuah kemungkinan. Bagusnya, Bung jadi punya kesempatan mengobral kata jebret saban kali pemain kita melancarkan smash. Jeleknya, nafas bung jadi terengah-engah dan kerap salah-salah mengucapkan nama pemain dst. Apalagi kemarin Bung siaran berjam-jam di Indosiar. Kalau segala macam smash—terutama di partai ganda putra—mesti Bung imbuhi kata "jebret" ya berabe. Bung bisa capek. Lah kalau Bung capek—apalagi cedera gara-gara keseringan teriak-teriak. siapa yang bisa menggantikan Bung sebagai komentator olahraga paling bergelora di Tanah Air saat ini?

Jadi, menurut hemat saya, Bung Valentino sepertinya harus menempuh opsi ekstrem jika mau langgeng jadi komentator bulutangkis. Opsi itu adalah mengganti gaya Bung memandu acara, menyesuaikan karakter cabang olahraganya.

Begini Bung, di kancah komentator bulutangkis, ada satu orang yang kerap dijadikan blue print komentator paling jempolan: Gillian Clark. Suara Oma identik dengan pertandingan superseries dan partai-partai yang dianggap penting oleh WBF. Contohnya partai-partai All England dan Kejuaran Dunia. Contoh videonya ada di bawah ini.

Gillian Clark semasa mudanya adalah pemain bulu tangkis. Spesialisasinya: ganda putri dan campuran. Prestasinya meski tak mentereng, sulit juga dianggap enteng. Sekurang-kurangnya, oma Clark pernah jadi kampiun kampiun ganda putri Eropa tiga kali bersama tiga pasangan berbeda di dasawarsa 1980-an. Dia bahkan sempat tembus final ganda putri All England pada 1984—meski gagal jadi kampiun.

Untuk urusan cuwawakan di depan mikrofon, pastinya Oma Gillian kalah jauh dari Bung Valens. Kecepatan bicaranya sudah luntur dan suaranya jelas enggak lantang—maklumlah beliau sudah berumur dan enggak punya bakat ngerap kayak MC Jebret. Alih-alih menggelora seperti Bung Valens, Oma Gillian lebih kedengaran seperti ngobrol santai dengan partnernya seperti Steen Pedersen, Kenneth Jonassen atau Jim Laugesen. Nah, lewat obrolannya ini—yang kadang kedengaran seperti percakapan orang ngintip daripada nonton bulu tangkis, penonton disuguhi amatan pertandingan dan teknik, trivia bulutangkis hingga humor secukupnya—seperti ledekannya pada smash ngaco Kevin Sanjaya Sukomuljo di final China Open 2016.

Satu lagi yang penting dari cara Gillian memandu pertandingan adalah Oma satu ini enggak instrusif. Kadang, beberapa poin dibiarkan begitu saja tanpa komentar sedikitpun. Cuma begitu ada pemain mempertontonkan permainan yang sensasional, dia dipastikan akan mengeluarkan catchphrase kesayangannya: "I don’t believe it!"—kalau bung nganggur, coba deh cari kompilasi "I don’t believe it" dari Gillian Clark di YouTube. Isinya puncak-puncak permainan badminton yang bikin Bung terbengong-bengong.

Nah Bung, ini mungkin kedengaran lancang, tapi saya sebagai seorang penggemar garis keras, menganjurkan Bung meneladani Oma Gillian. Saya paham banget sih, mengubah gaya itu bukan perkara gampang—melibatkan kemauan keras dan kesediaan mengorbankan ego. Tapi, balasannya setimpal kok Bung. Ingat bagaimana The Minions jadi kampiun All England tahun ini? Mereka yang dikenal kecepatannya itu, malah sengaja mengerem kecepatan mereka demi melayani permainan lamban Mathias Boe/Carsten Mogensen. Hemat kata, kalau mereka saja berani mengubah gaya, masa bung tidak sih?

Lagipula, asal Bung tahu, perubahan gaya Bung dalam memandu pertandingan bulutangkis akan mendatangkan setidaknya tiga keuntungan bagi Bung.

  1. Bung akan dikenal sebagai sosok egaliter di sepakbola dan bulutangkis. Sejumlah netizen mencak-mencak setelah Bung beraksi di Indosiar. Katanya, Bung dinilai kelewat ramai saat memandu pertandingan bulu tangkis. Tenang bung, mereka bukan hater. Mereka cuma berlakon seperti striker sepakbola yang ngambek karena enggak dikasih umpan padahal posisinya potensial banget untuk mencetak gol. Saya paham Bung selalu bergelora saat bertugas. Tapi, kalau bisa, kesempatan ngomong "jebret" kurang-kurangilah dikit. Penonton juga punya hak untuk berteriak seperti bung di depan TV. Takutnya kalau bung enggak berubah, bung bakal mirip striker yang selalu memonopoli bola dan jarang mau bagi umpan. Bung tahu itu kurang egaliter. Tak sesuai prinsip sepakbola—atau olahraga manapun.
  2. Basis penggemar Bung bisa melebar seandainya Bung Valens kaleman dikit. Memandu pertandingan bulutangkis dengan bersemangat memang mengasyikkan. Namun Bahrul Fuad, seorang pengguna Facebook, mengingatkan tugas host di TV semestinya merangkap sebagai mata bagi para penyandang tuna netra. Bung Valens agaknya mesti tahu jika kalangan pecinta badminton macam ini lebih nyaman dengan suara pembawa acara yang tenang, teratur dan deskriptif. Bung bisa banget kok melakukan ini asal Bung ikhlas enggak lebay ngumbar kata jebret, mengurangi istilah-istilah yang absurh (pukulan kepo, smash pakubumi) dan bicara dengan lebih teratur. Berat ya Bung? Tapi, masa sih enggak mau punya fanbase yang lebar, ya kan Bung?
  3. Berdasarkan hitung-hitungan ekonomis, perubahan gaya pastinya menguntungkan Bung. Ingatkan kalau saya sotoy, tapi kalau boleh tahu nih, di kontrak Bung sama stasiun TV apakah ada klausul menyebut berapa kali Jebret harus diteriakan satu tayangan kan? Artinya, jikapun bung diam-diam mengurangi penggunaan kata jebret (atau "rata kau!") selama memandu acara, bayaran bung enggak bakal dipotong kan? Misalnya enggak diatur, mending Bung curang saja dengan cara irit ngomong. Dengan demikian, Bung bisa menang banyak dan selamat dari kemungkinan jadi sasaran petisi online yang menggugat komentar Bung Valens karena tidak cocok sama nuansa pertandingan bulu tangkis.

Sekali lagi, semua ini hanya usulan seorang penggemar yang lama mengikuti kiprah Bung Valens. Mau dituruti syukur, enggak juga bukan masalah besar.

Malah, saya mendoakan Bung jadi komentator segala macam cabang olahraga. Barangkali setelah bulutangkis, Bung Valens bisa merambah MMA dan akan tercatat sebagai satu-satunya komentator yang berujar "Aih kena piting gemes dia sampai enggak bisa bergerak! Paait..paittt..paitt!!!"

Tabik Bung!


Abdul Manan Rasudi adalah mantan pemuda hipster yang kini hijrah menjadi penggemar badminton. Follow dia di Twitter, dan baca juga tulisan-tulisannya di VICE seputar musik dan badminton.

Tagged:
video viral
Olahraga
Televisi
Opini
Bulu Tangkis
Asian Games 2018
Valentino Simanjuntak
Komentator Olahraga
Gaya Komentator
jebret
bulutangkis VS sepakbola