Iklan
kesehatan

Benarkah Sering Minum Es Bikin Kita Batuk dan Pilek? Dokter Membantahnya

Perkara es ini dipercaya jutaan anak-anak Indonesia. Masa kecil kita yang polos rupanya penuh kepalsuan kawan-kawan...

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
12 Agustus 2017, 6:46am

Kolase foto oleh Jerome Paz dan Trey Ratcliff

Orang Indonesia punya sudut pandang unik ketika diminta menjelaskan penyebab badan kita sakit. Kadang, kepercayaan yang kita punya bener-bener beda dari pengetahuan medis dan pandangan banyak bangsa lainnya. Ambil contoh, soal masuk angin. Kata dokter, yang namanya masuk angin itu cuma mitos doang. Kasus serupa ada pada kepercayaan mengenai tindihan. VICE pernah menelusuri akar mitos orang yang tersadar saat tidur namun tidak bisa bergerak. Jangan lupa, kepercayaan medis keliru kayak begini ada banyak banget contohnya di Indonesia. Termasuk keyakinan kita bakal batuk, atau paling parah kena flu, akibat keseringan minum es. Eits, katamu, kalau itu logis lah. Jangan suka ngejek kearifan lokal deh. Emangnya minum es banyak-banyak ga bakal bikin kita sakit?

Sebelum menjawabnya, aku mau sedikit mengenang masa lalu. Mungkin pengalamanku sama seperti kalian. Pas aku belum sekolah, sampai mungkin kelas dua SD, ibuku selalu punya kambing hitam setiap ngelihat aku batuk-batuk. "Pasti gara-gara minum es!"

Aku emang demen banget makan es batu atau minum dikasih es. Dalam hati dulu, aku selalu ingin melawan kata-kata ibuku. Kayaknya gak mungkin es bikin aku batuk. Tapi, apalah aku di hadapan orang tua. Hanya bocah kecil tak berdaya dan hanya bisa menurut puasa es selama sekian hari.

Banyak minum es bikin batuk bukan cuma ibuku saja yang bilang begitu. Banyak orang di Indonesia mempercayai hal serupa. Lihat aja contohnya dari guyonan soal pantangan minum es dari medsos berikut:



Ini contoh lainnya:

Keyakinanku makin goyah, setelah kawan dari negara lain bengong mendengar aku sedang ngurangin minum es, supaya ga kena flu dan batuk. "Kenapa di Indonesia es sering disebut sebagai penyebab flu dan batuk?" kata dia polos, "Enggak kok."

Pasti ada yang berbohong. Apakah sobat bule itu hendak memperdayaiku? Apakah ini konspirasi para orangtua se-Indonesia? Pikiranku tidak tenang. Aku lantas menghubungi Andi Khomeini Takdir Haruni dari Ikatan Dokter Indonesia. Jawabannya membuatku melongo.

"Tidak ada korelasi langsung antara konsumsi minuman dingin, air es, dengan batuk pilek flu," kata Andi Khomeini. "Bukan suhu dingin juga yang menyebabkan orang itu flu dan batuk. Penyebabnya kan macam-macam, sebagian besar disebabkan oleh virus."

Menurut Andi, minum atau makan es hanya memperparah kondisi jika seseorang sudah terkena flu atau batuk. Penyebab utama flu biasanya adalah virus yang ditularkan melalui udara. Misalnya ketika penderita flu bersin, seseorang yang kebetulan menghirup udara itu dalam kondisi daya tahan tubuh yang lemah, rentan baginya terkena gejala serupa.

Andi menambahkan tidak semua orang dengan mudah terkena penyakit, sangat bergantung pada ketahanan tubuh masing-masing. "Jika pun ingin dikaitkan dengan suhu dingin maka pada saat itu pembuluh darah itu mengalami vasokonstriksi. Akibatnya pada saat pada saat perubahan cuaca menjadi dingin, atau minum air, terjadi kongesti, sehingga mukosa saluran napas menghasilkan lebih banyak cairan. Hal ini pun tidak terjadi pada semua orang," ujar Andi.

Kalaupun minum es seringkali bikin batuk di negara kita, Andi ingin kita fokus bukan pada es yang dingin tapi sumbernya: air. "Hal yang harus diperhatikan adalah higiene pada air/es yang disajikan," ujarnya. Kita tahu, kualitas air bersih di Indonesia, dan banyak negara asia, tidak terlalu bisa dibanggakan. Langsung minum air PAM di sini tanpa merebusnya sama aja cari penyakit.

Selain faktor 'minum dan makan es', tanpa sadar seringkali kita menyalahkan hal lain seperti, perubahan musim sebagai penyebab flu dan batuk. Padahal belum tentu begitu. Andi menjelaskan ada tiga hal yang mempengaruhi keadaan tubuh seseorang. 'Host' atau dalam kata lain ketahanan tubuh manusianya, 'agen', dalam konteks ini adalah penyakit berupa virus, bakteri, dan sejenisnya. Terakhir, faktor lingkungan. "Pada saat terjadi perubahan musim, sebagian orang yang daya tahan tubuhnya lebih sensitif terhadap daya tahan itu ya dia rentan untuk sakit," kata Andi.

"Coba kita perhatikan, ketika pergantian musim, memang banyak yang menjadi batuk dan flu, tapi kan enggak semua juga. Apakah satu Indonesia saat pergantian dari musim kemarau ke musim hujan jadi sakit semua? Kan enggak. Artinya kan ada orang yang daya tahan tubuhnya bisa mengatasi dan beradaptasi terhadap perubahan musim itu, sebagian lagi juga ada yang lebih lemah daya tahan tubuhnya."

Aku coba mencari informasi pembanding. Dokter spesialis anak di Jakarta, Dewi Purnama, semakin menegaskan penyebab batuk atau flu bukan konsumsi es. "Paling banyak disebabkan virus, bisa juga bakteri, atau alergi," kata Dewi ketika dihubungi VICE Indonesia. Dewi bahkan lebih sadis lagi mengomentari maraknya kepercayaan es memicu batuk pilek di negara kita. "Itu jelas cuma mitos awam karena kurangnya edukasi medis."

Oke ini engga adil. Aku cuma menghubungi dua orang, dua-duanya dokter pula. Pasti mereka bias dong sama pengetahuan medis yang berlaku universal. Coba aku kontak ibuku. Dia pasti bisa menjelaskan kenapa suka melarang aku minum es banyak-banyak.

Setelah kuhubungi via whatsapp, ibu membalas pakai emoticon tertawa.

"Itu alasan orangtua saja," balas ibu lewat whatsapp, "biar anaknya mau nurut."

Aku ikutan ketawa membaca jawabannya. Ketawa pahit.

Duh, hidupku (dan hidup kalian juga) semasa kecil dulu kok penuh kepalsuan.


Suka dengan artikel ini?

Aku punya obsesi menyelidiki kepercayaan yang banyak dimiliki oleh orang Indonesia terkait isu-isu kesehatan. Contohnya soal masuk angin dan fenomena tindihan. Sila dibaca ya!

Tagged:
indonesia
mitos
Batuk
dokter
Flu
Sains
Penyakit
Kepercayaan
Kearifan Lokal
Ikatan Dokter Indonesia
Minum Es
Pilek
Salah Kaprah