Film Indonesia

Ngobrol Bareng Sutradara Film 'Tilik' yang Membuat Netizen Murka Pada Sosok Bu Tejo

Tayang di YouTube membuat film peraih Piala Maya 2018 ini mendapat popularitas lebih besar, dan satu karakternya viral. Pesona terbesarnya adalah narasi perempuan berhak menentukan pilihan hidup sendiri.
19 Agustus 2020, 12:43pm
Film Pendek 'Tilik' peraih piala maya 2018 dan karakter Bu Tejo viral karena tayang gratis di YouTube
Cuplikan adegan Film 'Tilik' dari arsip Ravacana Films. 

Dua hari diunggah ke YouTube, film pendek berjudul Tilik meledak luar biasa. Setelah dua tahun diputar secara gerilya, rumah produksi Ravacana Films memutuskan film pemenang Piala Maya 2018 ini bisa ditonton cuma-cuma, sejak Senin (17/8), sekaligus memperingati hari kemerdekaan Indonesia ke-75.

Frasa “Bu Tejo”, nama karakter utama film, jadi trending di Twitter, menunjukkan kesan mendalam yang ditinggalkan karakter tersebut kepada para penonton film. Sementara videonya di YouTube nyaris meraup 300 ribu views dalam kurun 48 jam saja. Capaian yang menggembirakan untuk film pendek, yang lazimnya sebatas dinikmati penonton festival film independen.

Adapun banyak penonton yang geregetan dengan sosok Bu Tejo. Doi menjadi simbol emak-emak toxic dalam pergaulan paruh baya masa kini: sok melek digital, nyinyir, dan menggeluti olahraga lompat jauh ke kesimpulan.Bagi yang udah nonton, mungkin paham kenapa film ini dirilis bebas pada 17 Agustus. Mulut Bu Tejo emang keliatan merdeka banget kan?

Sorotan perhatian yang amat besar dari warganet membuat Wahyu Agung Prasetyo, sutradara film Tilik, bersyukur. Sebelum Tilik, sutradara yang pernah terlibat produksi FTV ini tercatat menelurkan film pendek bernas lainnya, seperti Mak Cepluk (2014), Singsot (2016), dan Anak Lanang (2017).

Hal lain yang membuat Agung bersyukur, ternyata dengan kekuatan dialog dan aktor mumpuni, masyarakat Indonesia betah-betah aja menghabiskan setengah jam waktunya mendengarkan emak-emak bergunjing di atas bak truk.

Saking ciamiknya akting Siti Fauziah Saekhoni sebagai Bu Tejo, sampai muncul kabar sang aktris kena “teror” beberapa netizen. Buset, udah mirip Jack Gleeson yang dibenci netizen, gara-gara meranin Joffrey Baratheon di serial Game of Thrones.

Berikut obrolan VICE bersama sineas lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini, membahas momen viral yang mendadak didapat film pendek ini, kesulitan mengarahkan aktor amatir, hingga gagasan yang sebenarnya hendak dia usung lewat Tilik.

VICE: Para aktor utama di “Tilik” terasa pas banget aktingnya. Mas Agung menemukan mereka di mana?
Agung: Aku sudah kenal para aktor yang meranin empat pemain utama film ini. Aku udah tahu track record keempat pemain tersebut. Jadi, enggak lama prosesnya. Sejak baca naskah filmnya, sudah mulai mengawang-awang tuh yang akan main adalah si ini, si ini, dan si ini. Cuma kami [Agung, Elena Rosmeisara sebagai produser, dan Bagus Sumartono sebagai penulis naskah] memutuskan tetap melalui tahap casting untuk lebih memastikan lagi. 

Jadi Anda emang sudah membayangkan Bu Tejo diperankan Siti Fauziah?
Untuk Mbak Ozie [panggilan akrab Siti Fauziah] ini sebenarnya yang mencetuskan pertama malah bukan aku, tapi produserku. Sehabis baca naskah, dia bilang peran ini yang cocok mainnya ya Mbak Ozie. Dia bersikeras, tapi aku belum dengan cepat menyetujui, aku masih membayang-bayangkan. Setelah kita coba casting Mbak Ozie, saya sadar kalau Elena emang benar. Tanpa ragu emang dia lah yang akan main Bu Tejo. Mbak Ozie udah memiliki 50 persen karakter Bu Tejo. 

Ngeliat reaksi internet, Bu Tejo kayaknya jadi simbol emak-emak menjengkelkan….
Orang aslinya ini basic-nya udah ngeselin, seolah karakter Bu Tejo ini udah mengakar di dia. Mbak Ozie aslinya secerewet dan senyablak itu juga. Aku pertama kali nonton rough cut-nya itu ketawa-ketawa dan gemes sendiri sama Bu Tejo. Makanya aku udah sangat amat yakin kalau karakter Bu Tejo akan sangat amat menggemaskan penonton, penonton akan terbawa emosi nih. Itu baru editan pertama.

Hampir semua teman-temanku juga merasakan hal tersebut. Editorku ketawa terus, produserku ketawa terus, penulisku juga ketawa ngakak terus. Pada saat itu, kami yakin film ini bisa menghipnotis penonton dengan karakter Bu Tejo.

Sejak awal yakini bisa sampai seviral ini?
Sejujurnya kami tidak memprediksi bakal seviral dan se-trending ini. Pergerakan anak-anak film pendek seringnya dipandang sebelah mata. Cuma memang entah kenapa, saat kami ingin merilis kemarin, kami coba atur strategi sebab kami percaya ini bakal jadi “sesuatu” nih.  Menurut kami, film ini mewakili banyak orang yang ketemu karakter Bu Tejo atau karakter ibu-ibu lain di hidupnya. Walaupun enggak pernah ikutan budaya tilik, tapi minimal ada kedekatan antar penonton dengan karakter. Ini yang kami percayai bisa relate ke banyak masyarakat indonesia. 

Ada bayangan sejak awal menayangkan gratis film ini akan membuatnya viral?
Kami sedikit banyak mengetahui strategi promosi. Cuma jujur aja, kami enggak punya modal dibandingin promo layar lebar. Jadi, kami mengandalkan relasi dan teman-teman untuk nyebarin. Ternyata, bisa heboh, bersyukur banget. Spotlight sampai segininya, luar biasa lah. Yang lebih membanggakan, ternyata film pendek bisa juga seviral ini, serame ini jadi perbincangan publik.

Bagaimana cara anda dan kru menangkap momen ghibah ibu-ibu yang terasa natural itu? Apakah membiarkan mereka improvisasi?
Hampir semuanya ada di script sih. Sekitar 90 persen lah. Memang ada improvisasi kecil-kecilan yang dilakukan mereka, lebih ke gimana dialog tersebut mereka translate ke dalam bentuk dialog sehari-hari, seperti ditambah imbuhan dan penekanan intonasi tertentu. Jadi, kesannya dialog lebih natural.

Tapi secara konteks, semua sama kayak di script-nya, enggak ada yang terlepas. Aku tuh kalau bikin film, dialog enggak harus plek-ketiplek dengan yang dilafalkan. Nah, pemain-pemain ini menerapkan hal kayak gitu lah. Tidak benar-benar mematok pada naskah, tapi ini semua sesuai naskah.

Apa alasan anda mengajak melibatkan banyak pemeran amatir?
Extras memang diperanin warga desa asli sana. Kami memang punya strategi buat ngajakin mereka terlibat biar mereka punya pengalaman baru, ilmu baru. Mas Gotrek [pemeran sopir truk] ini emang baru main film, tapi udah punya background sebagai pemain ketoprak di kampungnya. 

Enggak ada masalah mengarahkan extras saat proses syuting?
Aku tuh sebenarnya rileks aja sih. Aku punya treatment pokoknya mereka ini enggak usah akting yang berlebihan, enggak perlu. Sewajarnya dan seperti biasanya ghibah saja gimana. Mereka memahami itu dengan baik. Maklum lah, kan emang udah passion ibu-ibu buat ghibah hahaha..

Mereka udah paham ceritanya seperti apa, bagaimana sepanjang film mereka akan ngrasani uwong [ngomongin orang lain], dan mereka menerima arahan itu dengan baik. Aku sangat terbantu sama empat pemain utamaku ini sih. Mereka udah sering main film, jadi emang udah lihai menjiwai karakter masing-masing.

Meski ada bagian yang para extras kelihatan bingung waktu ada dialog. Tapi, malah makin lucu sih melihatnya hahaha…
Nah ya itu dia. Ada beberapa yang tampak bingung pas dialog itu pasti. Ada beberapa yang inisiatif merespons juga dan itu di luar kontrolku. Aku lebih menyelamatkan karakter utama, kan. Untuk extras mengalir begitu saja.  Aku tidak mau intervensi mereka terlalu banyak. Ketika mereka sudah paham cerita dan alurnya seperti apa. Ya sudah. Lakukan dengan yang biasa kamu lakukan aja. Yang penting jangan noleh kamera, jangan melihat frame, jangan melakukan tindakan-tindakan ekstrem.

Melihat twit Mas Agung, Benarkah Mbak Ozie sampai diserang netizen gara-gara peran ini?
Kemarin malam itu sempet kejadian ada yang upload foto Mbak Ozie sama anak dan suaminya. Karena kebetulan aku kenal semua sama mereka, aku langsung dichat personal sama suami Mbak Ozie. Dia merasa ini udah keterlaluan bercandanya karena terlalu mengekspos keluarga tanpa persetujuan mereka. Makanya aku nge-tweet itu dan menegur orang yang nge-post foto.

Susah ya ngontrol netizen Indonesia ini. Banyak banget yang aku takut bercandanya jadi kelewatan dan itu bahaya. Makanya dari kemarin aku ngontrol banget. Kami banyak dapet DM dan mention netizen yang minta akun Bu Tejo. Kami enggak respon sama sekali karena takutnya ada hal-hal yang tidak mengenakkan.

Di Behind the Scenes_**, saya melihat ada beberapa** _scene di luar bak truk yang akhirnya tidak terpakai…
Emang ada banyak yang kita potong. Saat adegan belum dipotong, kami merasa filmnya malah bertele-tele dan tidak fokus langsung pada konteks tiliknya ini. Contoh, ada cerita Dian jalan kaki di desa, Dian mampir ke rumah Fikri, dan adegan Bu Lurah masuk frame. Kami memutuskan untuk menghapus itu semua karena, menurut kami, value ceritanya akan lebih baik tanpa itu. 

Keputusan ini memotong durasi sampai 10 menit. Rough cut pertama yang kami preview itu durasinya 40-an menit, yang versi sekarang kan 32 menit. Kami menyikat itu atas dasar menajamkan filmnya. Ini cukup jadi perdebatan saat itu. Mana yang mau dibelain, segi produksi apa value fimnya? Ya kami mengutamakan value filmnya.

Bagian film favorit saya pribadi adalah gimmick klakson truk sebagai penanda penumpang harus menunduk sembunyi dari polisi. Saya baru tahu kalau ada kode-kode begini sebagai aturan tak tertulis para penumpang truk….
Kalau yang itu sih buatan kami sendiri. Jadi ceritanya, sebagai proyek film yang didanai Dinas Kebudayaan Yogyakarta, kami mendapatkan supervisi dari filmmaker senior Jogja. Mereka turut membantu kami mengembangkan ceritanya agar lebih baik dan matang. Adegan klakson itu muncul atas saran mereka sebenarnya.

Karena ada peraturan lalu lintas untuk kendaraan terbuka yang tidak boleh membawa penumpang, para senior memberi saran agar jatuhnya tidak masuk pelanggaran lalu lintas. Mereka usul konsep tilik di bak truk ini bisa disiasati sebagai keunikan cerita dan kelucuan. Kalau mau nekat menjenguk dan nekat menggunakan truk, maka harus ngumpet. Kami olah lah usulan itu. Akhirnya, adegan the power of emak-emak ini muncul [scene ditilang polisi]. Mas Bagus Sumartono sebagai penulisnya sangat lihai mengolah saran ini.

Emang sejauh apa mas Agung melakukan riset budaya untuk naskah _Tilik_**?** Jauh banget sih enggak. Tapi kami cukup tahu banyak lah. Penulisku juga kebetulan akrab dengan warga sana. Ide muncul pada 2016 dan baru kami eksekusi pada 2018. Karena kedekatan sama kampung tersebut, dalam waktu dua tahun itu dapat kesempatan main ke sana, ngobrol sama ibu-ibu di sana seputar tilik dan ikut terlibat ketika tilik. Saat itu, kami mengobservasi dan melihat bagaimana gerak-gerik mereka ketika tilik.

Ada satu komentar netizen soal pesan film ini yang kira-kira: “Baik sangka yang salah adalah baik, buruk sangka yang benar adalah buruk”. Emang sebenarnya, pesan apa yang mau Mas sampaikan, sih?
Pertama, jelas bahwa ketika kita menerima informasi/pesan/apapun dari orang lain atau internet, itu harus difilter dan divalidasi dulu sebelum disebarkan ke orang lain. Jangan sampai menyesatkan. Film ini bentuk kampanye perjuangan kami agar orang-orang melek terhadap informasi di internet dan sekitarnya. 

Kedua, aku pribadi ingin meyampaikan perempuan yang memiliki status single itu punya hak atas hidupnya dan menentukan apapun pilihannya. Makanya ending-nya kami buat seperti itu. 

Funfact: Ibuku, ibu produserku, dan ibu penulis skenarioku semuanya janda dan single. Status ini sering jadi momok dan gunjingan masyarakat. Makanya, narasi gimana perempuan punya hak menentukan pilihan hidupnya sendiri berusaha kami sampaikan betul lewat film ini. Jangan judge di permukaan kalau enggak tahu background story-nya atau baru melihatnya dalam waktu sangat singkat. Aku dan teman-teman sangat menarasikan hal itu.