Iklan
Merayakan Valentine

Sudah 2020 dan Masih Ada Aja Orang Indonesia Parno sama Hari Valentine

H-2 Hari Valentine, sejumlah daerah bergegas membuat imbauan untuk tidak merayakan hari kasih sayang serta tidak menjual alat kontrasepsi pada remaja. Makasih ya, berkat kaum parno kita jadi ingat mau valentine.

oleh Ikhwan Hastanto
12 Februari 2020, 8:14am

Sejumlah pelajar di Banda Aceh menggelar demonstrasi menolak Valentine pada 2018 lalu. Foto oleh Chaideer Mahyuddin/AFP

Kalau Hari Valentine bisa ngomong, mungkin dia bakal bertanya-tanya apa salah dan dosa yang udah dia perbuat kepada masyarakat Indonesia sampai-sampai diperlakukan begini nistanya.

Mungkin di kepala pemegang kebijakan, hari ini emang udah kadung dianggap bersinonim dengan hari seks bebas sehingga sejumlah perlawanan absurd perlu dicanangkan. Di Bandung misalnya, anak-anak SD dan SMP, yang bisa jadi belum paham apa itu Hari Valentine, dilarang tegas merayakannya oleh Dinas Pendidikan.

Larangan ini tertuang dalam surat edaran Disdik Kota Bandung yang ditandatangani Kadisdik Hikmat Ginanjar, tertanggal 10 Februari 2020. Surat itu ditujukan kepada semua kepala sekolah SD dan SMP negeri dan swasta di Kota Bandung agar menyebar informasi pelarangan perayaan Hari Valentine kepada murid-muridnya.

"Itu [Valentine] enggak ada di budaya kita dan enggak sesuai dengan norma agama. Surat sudah dibuat untuk SD dan SMP negeri dan swasta di Kota Bandung," ujar Sekretaris Disdik Kota Bandung Cucu Saputra kepada Republika.

Ia juga menyebut, ada sebagian pemuda-pemudi yang merayakan Valentine dengan pesta seks dan minuman keras. Untuk menutupi pemikirannya yang sempit, Cucu ngasih alasan paling klise sedunia: Hari Valentine enggak perlu dirayakan karena kasih sayang seharusnya diberikan setiap hari.

Pesta seks dan alkohol jelas tudingan sadis yang perlu bukti sih. Tapi ya kali niat mesum muncul setahun sekali doang. Mengingat usia remaja adalah usia pemberontakan, dilarang gini apa malah enggak bikin penasaran, Pak? Mending Hari Valentine jadi ajang sekolah dan disdik untuk ngajarin gimana cara ngerayain yang lebih berfaedah.

Yang lebih ngeselin lagi, Disdik Bandung akan menyerahkan kewenangan ke pihak sekolah gimana cara mengawasi siswa pelanggar larangan Valentine ini. Anjir banget, udah ngasih tugas, tapi enggak mau mikirin mekanismenya gimana.

Kalau Bandung terlalu parno sama pesta seks yang digalang anak SD, Makassar punya kekhawatiran serupa tapi tak sama. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Makassar Iman hud merespons bahaya Hari Valentine dengan mengeluarkan imbauan larangan penjualan kondom secara bebas oleh apotek dan minimarket. Ia minta kepada para pedagang kondom ini untuk meminta pembelinya menunjukan KTP.

“Yang bisa beli kondom seharusnya yang sudah menikah atau sudah dewasa, anak bawah umur yang berani melakukan tindakan asusila yang tidak boleh beli,” ujar Iman kepada Detik. Surat imbauan disebar 11 Februari 2020 demi mencegah perilaku seks bebas.

Menjelang tahun baru kemarin Satpol PP Makassar juga merazia penjualan kondom dan tisu mejik di sejumlah minimarket di areanya. Ini kenapa para satpol PP selalu mengaitkan perayaan hari besar dengan pesta seks sih?

Info lain yang rada enggak penting tapi kocak, akhir pekan lalu Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran Chapter Jakarta melakukan pawai untuk menyambut deklarasi Hari Indonesia Tanpa Pacaran yang rencananya akan ditetapkan pada 14 Februari, persis di Hari Valentine.

Tentu saja ide ini langsung jadi bulan-bulanan netizen.

Intinya, makasih ya buat semua kalangan yang parno sama Valentine. Berkat aksi dan kebijakan mereka, kita jadi tahu sekarang sudah pertengahan Februari. Lymayan lah, enggak harus nengok kalender. Sebagaimana nanti kita akan tahu sudah masuk Desember ketika orang heboh melarang ucapan Natal. Ciao!

Tagged:
indonesia
Bandung
valentine
The VICE Guide to Right Now
Budaya
Berita
Makassar
Agama
Hari Kasih sayang
Konservatisme
Budaya Kafir
Cinta itu Indah