Terapi Seni

Mimpi Kak Toto dan Studio Seninya Memberdayakan Difabel hingga Penyandang Autisme

Seni Brut, nama aliran lukis itu yang kini berkembang di Jakarta, sejak awal diharap bisa menyalurkan kreativitas difabel. Brut merupakan sarana pembebasan sekaligus terapi buat mereka.
24 Januari 2020, 8:23am
Mimpi Kak Toto dan Studio Seninya Memberdayakan Difabel hingga Penyandang Autisme
Rama, salah satu murid Toto di Hadiprana Art Center Kemang, sedang melukis. Semua foto oleh penulis.

Pemuda itu sama sekali tak menghiraukan sekelilingnya. Dengan lihai dia menggerakkan kuas, meliuk-liuk di atas kanvas. Dia menuangkan cat akrilik berwarna biru muda ke atas palet dan sejurus kemudian mulai mewarnai kanvasnya. Namanya Rama. Usianya 22 tahun dan mengidap autisme. Sementara Timotius Suwarsito, sang mentor, terus mengawasi dan sesekali menyemangati Rama.

"Ayo Rama, masih ada waktu sejam buat menyelesaikan gambarnya," kata Timotius, yang akrab disapa Kak Toto.

Sudah setahun belakangan Rama belajar melukis di studio Outsider Art Shop, di bilangan Terogong, Jakarta Selatan, yang didirikan Toto 17 tahun silam. Kak Toto mengatakan, melukis menjadi sarana terapi buat Rama, sebagai tempat mencurahkan emosi dan kreativitas yang mungkin sulit diekspresikan bagi pengidap autisme.

"Rama waktu kecilnya masih suka nyerang, saya dicakar sampai berdarah. Digigit itu menjadi hal biasa, jadi makanan sehari-hari," kata Kak Toto tertawa. Lama kelamaan Rama mulai terbiasa. Dia mulai mencintai melukis dan mulai terbuka menjalin komunikasi.

Kak Toto sebetulnya berijazah sarjana ekonomi. Tapi berbelok 180 derajat ke dunia melukis setelah mendalami seni sebagai medium terapi. Pada 2003 dia mengajar anak berkebutuhan khusus di Hadiprana Art Center, Kemang, Jakarta Selatan.

Sejak didirikan pada 2003, Outsider Art Shop berdedikasi untuk menjadi ruang kreativitas bagi difabel dan anak berkebutuhan khusus. Studio itu menawarkan metode kesenian brut—sebuah aliran yang diperkenalkan oleh seorang berkebangsaan Swiss Adolf Wolfli (1864-1930) yang pada saat itu menjadi pasien tetap di sebuah rumah sakit jiwa pada 1899.

Wolfli menghasilkan 1.600 lukisan ilustratif dan menulis catatan hingga 25 ribu lembar. Karya-karyanya ditemukan oleh seniman asal Prancis Jean Dubuffet pada 1945, yang menyebutnya sebagai art brut, atau rough art dalam bahasa Prancis.

"Arti Outsider itu lebih luas," kata Toto. "Seni sebagai bentuk terapi untuk disabilitas apapun bisa. Karena art brut pada dasarnya bukan untuk gangguan-gangguan kejiwaan dan autisme saja."

Konsep seni outsider sendiri menawarkan cakupan yang lebih luas. Seni ini bukan hanya eksklusif milik teman-teman difabel atau berkebutuhan khusus saja, namun outsider art lebih sebagai seni yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak mengikuti ekspektasi sosial dalam hal nilai-nilai dan definisi seni ‘normal.' Sebagai bentuk terapi, seni brut seolah sebagai bentuk pembebasan, sebab tak ada aturan kesenian yang membelenggu.

Meski niatnya sebagai bentuk pembebasan, mengajar seni jelas bukan tanpa tantangan. Problem utamanya justru ada pada sikap orang tua dan pemahaman masyarakat yang keliru. Banyak orang tua yang justru menyembunyikan anak mereka yang mengidap autisme. Padahal jika didiagnosa secara dini, metode terapinya juga gampang dicari.

Problem kedua tak jarang orang tua memaksakan kehendak untuk anak-anaknya, yang justru tidak sesuai dengan bakat dan kemauan si anak. Akhirnya metode terapi justru kontraproduktif.

"Mengajar anak dengan autisme itu tidak susah bagi saya. Memberi pengertian ke orang tuanya itu sih yang paling susah," urai Toto. "Tugas besar saya justru mengedukasi orang tua agar mengapresiasi seni."

Jika berpikir bahwa seni brut adalah metode terapi belaka, itu salah besar. Hasil karya seni brut tak jarang dihargai mahal. Salah seorang siswa di studio Outsider pernah berhasil mengantongi Rp400 juta di sebuah pameran, kata Toto. Raynaldi Halim, salah seorang berkebutuhan khusus, masuk rekor MURI dengan hasil lukisan terbanyak. Raynaldi menghasilkan 1.111 karya dalam setahun.

Toto cuma berharap studionya bisa memberikan edukasi bagi masyarakat, bahwa seni tak melulu harus berarti lukisan berharga mahal. Seni juga berarti memanusiakan manusia, katanya.

"Belum ada lembaga formal dari pemerintah yang fokus mengurus seni sebagai medium terapi," kata Toto. "Ini sangat disayangkan."