Beyoncé Mewakili Tren Baru Ortu Membesarkan Anak Lepas Dari Stereotipe Gender

Dalam esainya pada majalah Vogue, Beyoncé bilang kalau dia membesarkan anak laki-lakinya supaya jadi "peka dan baik hati," lalu anak-anak perempuannya diajak memandang diri sebagai pemimpin.

|
09 Agustus 2018, 12:00pm

Pagi ini, Vogue merilis cerita sampul yang dinanti sejuta umat pada edisi September 2018 di mana Beyoncé diberi kuasa penuh dalam redaksi. Dalam esai personal, yang disampaikannya lewat seorang penulis, Beyoncé membocorkan aspek-aspek intim dari kehidupan pribadinya yang misterius: Dia ternyata senang dengan FUPA [Fat Upper Pussy Area - red] yang dia punya pasca melahirkan anak kembar, bahwa dia “datang dari garis keturunan hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak sehat,” dan dia membesarkan anak-anak perempuannya, Blue dan Rumi, dan anak laki-lakinya, Sir, tanpa memaksakan mereka mengikuti ekspektasi feminitas dan maskulinitas tradisional.

Tentang anak-anak perempuannya, Beyoncé menulis, “Mereka tidak perlu menjadi tipe orang tertentu atau menyesuaikan diri pada kategori tertentu. [...] Mereka bisa mengeksplorasi agama apapun, jatuh cinta dengan orang dari ras manapun, dan mencintai siapapun yang mereka inginkan.”

Dan dalam membesarkan Sir, “Saya mau dia tahu bahwa dia bisa jadi kuat dan berani, tapi dia juga bisa menjadi peka dan baik hati,” ungkap Beyoncé. “Saya ingin anak laki-laki saya untuk mempunyai kecerdasan emosional, sehingga dia bisa bebas untuk menjadi peduli, jujur, dan apa adanya. Sifat inilah yang diinginkan seorang perempuan dari seorang laki-laki, tapi kita tidak mengajarkannya kepada anak laki-laki. Saya harap anak saya tidak menjadi korban dan terperangkap dengan apa-apa yang didiktekan internet soal dia harus menjadi apa atau bagaimana dia harus mencintai.”

Pendekatan Beyoncé dalam mengasuh anak merefleksikan selebritas lainnya yang, dalam beberapa tahun terakhir, vokal soal mengasuh anak di luar stereotip gender.

Jada Pinkett Smith

Will Smith dan Jada Pinkett Smith, orang tua Willow dan Jaden Smith, telah secara terbuka mendiskusikan filsafat mereka dalam mengasuh anak dan peran gender, termasuk tantangan-tantangan yang mereka hadapi saat menerima pendekatan modern anak-anak mereka dalam hal ekspresi diri.

“Hadiah terindah yang saya bisa berikan kepada anak-anak saya adalah kebebasan untuk menjadi siapapun yang mereka mau,” ujar Will Smith pada BET. Dalam sebuah episode di Red Table Talk awal musim panas ini, Jada Pinkett Smith mengakui bahwa mengizinkan anak-anaknya untuk menemukan ekspresi gendernya tidak melulu mudah atau terasa alami bagi dia dan Will.

“Saat Jaden diminta untuk berpose untuk kampanye perempuan merk Louis Vuitton, tahulah, fashion gender fluid, Will menelepon saya,” ujar Pinkett. “Dia bilang, ‘Nggak. Anak gue gak boleh ada di iklan Louis Vuitton pakai rok. Enggak, pokoknya, enggak. Eh, apa ini ide bagus?”

Pinkett Smith akhirnya bilang ke Will, “‘Gini ya, Will. Inilah yang dia mau. Inilah ekspresinya.’ Dan akhirnya dia bilang, ‘OK deh, OK.’ Tapi itu sulit. Dia takut. Ini bikin dia enggak nyaman. Karena, tahulah, sebagai ayah, ekspektasinya adalah ‘macho, macho,’ ngerti kan?”

Angelina Jolie

Pada sebuah wawancara dengan Vanity Fair pada 2010, Angelina Jolie menceritakan bahwa salah satu dari enam anaknya, yang terlahir dengan nama Shiloh, sedang mengeksplor ekspresi gendernya. “Dia senang berpakaian seperti laki-laki. Dia ingin menjadi laki-laki. Jadi kita memotong rambutnya. Dia senang bergaya laki-laki. Dia merasa bagian dari saudara-saudara laki-lakinya.” Pada 2008, ayah sang anak, Brad Pitt, menyampaikan kepada Oprah bahwa anaknya sekarang ingin dipanggil dengan nama John, tetapi keluarganya sejak itu belum membuat pengumuman apakah dia seorang transgender.

Pink

Penyanyi Pink memiliki dua anak, Willow dan Jameson, dan dia membesarkan mereka tanpa label. “Kami adalah rumah tangga yang bebas label. Minggu lalu, Willow bilang dia akan menikahi seorang perempuan Afrika,” ujarnya kepada Sunday People pada 2017.

Sebagian besar orang menganggap komentarnya berarti dia membesarkan anak-anaknya dengan cara yang netral gender, tetapi dia mengklarifikasi kepada People pada bulan April bahwa bahkan “netral-gender” tetaplah label baginya. “Saya merasa bahwa netral-gender sendiri adalah sebuah label, sedangkan saya tanpa label. Saya tidak suka label sama sekali [...] Saya percaya bahwa seorang perempuan bisa melakukan apapun yang dia mau,” ujarnya. “Saya percaya bahwa seorang laki-laki bisa melakukan apapun juga. Jadi, saya punya anak cowok yang kotor-kotoran mains sepeda dan ada juga yang pakai rok. Semuanya OK-OK aja. Sesukanya lah. Jadi, inilah jenis rumah yang kita tinggali.”

Paloma Faith

Sejak Paloma Faith melahirkan anak pertamanya pada Desember 2016, dia menolak untuk berkomentar soal nama atau kata ganti anaknya, merujuk pada anaknya sebagai they/ them dalam Bahasa Inggris. Alasannya, katanya, adalah supaya bisa melindungi privasi sang anak, sekaligus memastikan bahwa “dia diberi segala kesempatan untuk menjadi individu yang dia inginkan.”

Dalam sebuah wawancara dengan The Mail, Faith bilang, “Saya bukannya menyangkal gender, tapi saya ingin anak saya merasa semuanya tersedia untuknya. Dan saya tidak akan mempermasalahkan jika dia tumbuh besar dan tidak merasa dekat dengan gender bawaan lahir, atau kalau dia homoseksual atau heteroseksual atau apapun.”

Zoe Saldana

Pada Juni 2018, Zoe Saldana menyampaikan pada People bahwa dia dan suaminya berniat untuk membesarkan ketiga anak laki-laki mereka di luar stereotip gender. “Kami membesarkan anak-anak kami di lingkungan yang luwes secara gender, di mana peran kita bisa bergantian,” ujarnya.

“Saat kamu memandang pengasuhan orang tua, kebanyakan adalah soal matriarki atau patriarki, dan anak mama atau anak papa—suami saya dan saya memandang itu semua konyol dan tidak sehat dalam perkembangan seorang anak. Kamu memberikan mereka pandangan yang terbatas dan terdistorsi soal peran perempuan dan laki-laki dalam keluarga.”