Semua foto oleh Iorgis Matyassy 

Kisah Aristokrat Spanyol yang Merasa Berhak Menjadi Raja Prancis Selanjutnya

Kami menghabiskan waktu seharian bersama Louis “Raja Louis XX” Alphonse, pewaris takhta dalam kerajaan Prancis yang sudah lama mati, dan juga para pendukungnya.

|
Jul 30 2018, 11:09siang

Semua foto oleh Iorgis Matyassy 

Orang Prancis baru saja melakukan perayaan istimewa awal bulan ini. Perayaan ini diadakan untuk menyambut kepulangan Louis Alphonse, Duke of Anjou, aristokrat Spanyol yang mengklaim bahwa dia harus menjadi raja Prancis berikutnya.

Kendati Prancis sudah beralih ke negara republik dan terkenal dengan sejarah mengeksekusi raja, beberapa penduduknya ingin bertemu calon Raja Louis XX. Awal Juli ini, sekitar 150 pendukung loyal Louis Alphonse berkumpul di 1st Arrondissement Paris untuk menyambutnya. Maksud kunjungannya kali ini yaitu untuk merayakan peringatan dua abad pemulihan patung leluhur Alphonse, Raja Henry IV, yang dirusak saat Revolusi Prancis dan dibangun kembali di jembatan Pont Neuf.

Alphonse, yang saat ini tinggal di Spanyol, adalah keturunan laki-laki tertua Raja Louis XIV. Dia adalah leluhur Louis XVI, raja Prancis terakhir sebelum jatuhnya monarki dan salah satu raja yang dieksekusi saat Revolusi Prancis. Louis Alphonse juga sepupu kedua Felipe VI, raja Spanyol saat ini.

Alphonse mengambil swafoto bersama penggemar

Duke of Anjou bukan satu-satunya yang berhak mendapatkan takhta kerajaan Prancis. Henri d'Orléans, Count of Paris, adalah keturunan adik Raja Louis XIV, Philippe d'Orleans. Klaim takhta pria berusia 85 ini yaitu karena kerabat jauh Louis Alphonse, Philippe V, melepaskan haknya atas takhta kerajaan Prancis ketika dia menjadi Raja Spanyol pada 1700.

Namun, orang-orang yang berkumpul di Pont Neuf ini tidak memedulikan klaim d’Orleans. Mereka lebih mendukung Louis Alphonse sebagai Raja Louis XX. Jean, mahasiswa S3 jurusan hukum konstitusional, adalah salah satu pendukung Alphonse yang turut menghadiri perayaan tersebut. Pria 31 tahun ini melalaikan “kewajiban keluarganya” dan naik kereta dari Marseille demi bertemu Alphonse. “Ini hari penting. Pewaris takhta kerajaan Prancis pulang ke tanah airnya,” ujarnya. Meskipun dia baru pertama kali menghadiri perayaan ini, Jean mengaku bahwa dia dan “keluarga besarnya di Provence adalah royalis.”

Seiring dirinya tumbuh dewasa, Jean akhirnya memantapkan keyakinannya bahwa monarki ala Prancis adalah satu-satunya sistem yang cocok dengan masa depan manusia. “Saya sudah berpikir matang-matang tentang hal ini,” katanya. “Saya sadar sistem yang ada sekarang bertahan lama karena pemimpin-pemimpin yang kuat, masalah ini tak akan terjadi selamanya. Presiden kita tak dipilih oleh suara terbanyak lagi, belum lagi kalau kamu menghitung orang-orang yang abstain,” lanjutnya.

Olivier

Alphonse sampai di Pont Neuf beberapa saat kemudian, disambut kibaran bendera, sorak sorai dan teriakan “Panjang Umur Paduka Raja!” Setelah singgah sejenak di sebuah kopi terdekat, para pendukung Alphonse mengiringinya di seberang Pont Neuf, sementara lagu arak-arakan King Henry IV mengalun keras dari seperangkat speaker. Mayoritas orang yang hadir di sana hari itu berubah agak emosional melihat calon raja mereka berjalan melintas Paris. Namun, ada yang tak cukup puas dengan merasa emosional belaka. “Ini kali pertama saya bertemu King Louis,” kata Olivier (23) yang menjadi pendukung Alphonse lantaran punya kecintaan mendalam pada sejarah. “Semuanya terasa riang, tapi saya merasa sambutannya bisa lebih megah. Upacara penyambutan ini kehilangan kemegahannya.”

Olivier, yang berencana masuk angkatan bersenjata setelah menamatkan studi S2 sejarahnya, mengaku keluarganya bukan royalis, tapi mereka mendukung apa yang dilakukannya.

Sekian pidato dan pelemparan karangan bunga kemudian, kamu sudah berada di sisi lain jembatan. Louis Alphonse menyalami pendukung, mencium anak-anak dan para lansia, berswafoto sambil cas-cis-cus dalam bahasa Perancis dengan sedikit aksen Spanyol. “Ini pertama kali saya bersalaman dengan orang yang sangat penting,” ujar Louis (19 tahun) salah orang dalam kerumunan penyambut Alphonse. “Berswafoto dengannya saja sudah bikin saya emosional.”

Selagi orang-orang bergegas mencari panganan yang disediakan di Balai Kota, saya ngobrol dengan Eric, seorang guru sejarah berumur 36 tahun, yang keukeuh bahwa raja Prancis akan naik tahta pada waktu yang tepat. “Monarki akan dibangkitkan kembali oleh elit politik—enggak dalam waktu dekat sih, tapi saat semuanya sudah kacau balau.” Dan, sepertinya, Eric tak mengada-ada.

Dalam sebuah wawancara pada Juli 2015 dengan surat kabar mingguan Le 1, presiden Prancis saat ini Emmanuel Macron mengklaim warga Prancis masih terjebak nostalgia terhadap sosok raja. “Yang kita rindukan dalam kancah politik Prancis adalah sosok raja,” kata Macron. “Pada dasarnya, orang Prancis tak pernah sepenuhnya mau menyingkirkan raja Prancis.”

Seperti Eric, banyak orang yang datang hari itu bakal sumringah jika Prancis kembali ke sistem pemerintahan monarki. Akan tetapi, mengacu pada jajak pendapat yang digelar 2007 lalu, hanya 14% warga Prancis yang mendukung bangkitnya keluarga kerajaan Prancis. “Kembali ke sistem monarki tak otomatis kembali ke sistem feudal loh,” lulusan Sastra Latin, Avery (22). “Saat aku menjelaskan pendapatku di depan orang, mereka kelihatan terbuka dan kayaknya aku tak kedengaran bloon-bloon amat.”

Malam itu di Champs-Élysées, kerumunan pendukung Louis Alphonse menerobos sekerumunan besar orang yang sedang hanyut dalam perayaan kemenangan Prancis di Piala Dunia 2018 diiringi tiupan terompet yang membahana. Andai saja kalian tak tahu konteksnya, bisa jadi semua orang ini terlihat seperti sedang menyambut kedatangan Alphonse.

Scroll terus untuk melihat foto-foto kunjungan Louis Alphonse.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE FR


Avery
More VICE
VICE Channels