Asian Games 2018

Salah Satu Biang Kerok Asian Games Sepi Penonton: Banyak Tiket Prioritas Buat Pejabat dan Pengurus Atlet

Manajemen distribusi tiket Asian Games di Jakarta-Palembang rutin menuai keluhan. Inasgoc segera membantah sempat ditegur komite olimpiade gara-gara banyaknya kursi kosong.

oleh Adi Renaldi
28 Agustus 2018, 6:59am

Seorang penonton pertandingan cabang olahraga atletik pada 25 Agustus 2018 duduk di tengah kursi kosong Stadion Gelora Bung Karno. Foto oleh Issei Kato/Reuters.

Demam Asian Games 2018 melanda masyarakat Indonesia. Tak terkecuali bagi Adelia Putri, karyawan perusahaan konsultan pemasaran di Jakarta Selatan. Dengan keinginan menggebu mendukung timnas bulu tangkis Indonesia, sejak jauh hari Adelia memesan tiket secara online. Ia tak menemukan kesulitan berarti saat memesan tiket lewat Kiostix, penyedia layanan pembelian tiket yang menjadi rekanan penyelenggara Indonesian Asian Games Organizing Committee (Inasgoc). Tiket berupa e-voucher seharga Rp200 ribu segera ia kantongi.

Sayangnya kepraktisan membeli tiket online hanya kesemuan belaka. Adelia serta ribuan pembeli tiket lain, masih diwajibkan menukar e-voucher tersebut dengan tiket resmi di gerai Kiostix di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Harapan menghindari antrean dengan membeli secara daring harus pupus. Penukaran tiket tersebut berakhir dengan kekacauan dan antrean amat panjang.

"[Mekanisme] penukaran tiketnya enggak jelas," tutur Adelia kepada VICE. "Dari pihak panitia enggak memberikan informasi apapun, enggak ada petunjuk atau informasi yang jelas, dan antrean panjang enggak bisa dihindari."

Setelah kelar mengantre lebih dari empat jam, apa yang didapat Adelia malah membuatnya makin menggerutu. Alih-alih mendapat tiket resmi, Adelia hanya mendapat kertas dengan tulisan tangan berisi nomor tribun dan nomor kursi. "Lebih bagus tiket pasar malam karena kesannya resmi. Ini cuma tulis tangan dan enggak yakin ini resmi apa bukan," tandas Adelia.

Adelia masih bisa dibilang beruntung dapat menyaksikan pertandingan bulu tangkis secara langsung di Istora Senayan. Hal sebaliknya justru menimpa Christian Budi, karyawan di perusahaan kontraktor Kelapa Gading. Christian tak mendapat tiket kendati berusaha membeli via online maupun on the spot.

"Entah apa saya kurang cepat bergerak atau lagi apes, tiket bulu tangkis cepet banget habis,” keluh Christian. "Padahal saya udah mempersiapkan semuanya. Tetep aja enggak dapet. Beberapa kali ada kendala server dari pihak kiostix."

Christian masih berusaha untuk mencari tiket di lokasi pertandingan, tapi harus pulang dengan tangan hampa. Ia hampir membeli tiket dari tangan calo, namun harga yang naik hingga empat kali lipat membuatnya urung merogoh kocek.

"Tiket di calo bisa sampai Rp800 ribu, gila aja. Kalau kayak gini udah mending streaming aja di rumah," kilah Christian.


Tonton dokumenter VICE soal atlet paralimpik yang curhat soal perjuangannya hidup di Jakarta yang tak ramah difabel:


Harga tiket Asian Games dengan kisaran Rp75 ribu hingga Rp250 ribu termasuk murah bagi masyarakat Indonesia, jika diasumsikan Upah Minimum Regional di kisaran Rp3,5 juta. Inasgoc mengklaim bulu tangkis menjadi salah satu cabang olahraga yang menjadi favorit masyarakat dengan 5.000 tiket terjual setiap harinya. Persoalannya kendala mendapatkan tiket yang dirasakan masyarakat rupanya berbanding terbalik dengan keadaan saat pertandingan berlangsung. Di tiap sudut tribun penonton terdapat banyak kursi kosong. Beberapa cabang olahraga yang menjadi favorit warga seperti voli, sepak bola, basket, atletik, dan badminton termasuk kategori amat susah mendapatkan tiketnya.

Hal tersebut tak cuma terjadi di pertandingan favorit masyarakat. Di hampir semua pertandingan olahraga di ajang Asian Games tampak sepi pengunjung, meski tiket susah didapatkan. Beberapa cabang olahraga yang masih asing di telinga masyarakat seperti kabbadi, rugby, kurash, sambo, rollerskate, seperti tak mampu menarik minat pengunjung. Di Palembang, Inasgoc sampai berusaha keras memobilisasi pelajar untuk meramaikan pertandingan Asian Games.

Kosongnya bangku penonton di hampir seluruh cabang olahraga yang dipertandingkan membuat Inasgoc kabarnya ditegur Komite Olimpiade Asia (OCA). OCA melalui surat resminya menuding Inasgoc memberikan perlakuan khusus kepada para pengurus kontingen cabang olahraga dengan memberi jatah kursi, dibandingkan mengutamakan penjualan tiket untuk masyarakat.

"Kami menyaksikan banyaknya kursi kosong di pertandingan Asian Games 2018 yang tengah berlangsung karena diperuntukkan untuk pengurus federasi olahraga lokal," tulis direktur jenderal OCA Husain Al Musallam dalam suratnya. "Hal ini menimbulkan kebingungan dan tidak tampak layak untuk disiarkan ketika terlalu banyak kursi kosong."

Direktur Media dan Hubungan Masyarakat Inasgoc M. Danny Buldansyah menampik tudingan kalau OCA menegur mereka. Dia menyatakan masalah utama distribusi tiket lantaran komite penyelenggara Asian Games tidak bisa memprediksi kebutuhan tiket masyarakat. Menurut Danny, beberapa kursi sudah disediakan untuk tamu undangan seperti pejabat negara dan pengurus kontingen asing. Selain itu, panitia mengatur agar di tiap venue tersedia 20 persen alokasi kursi cadangan.

Danny sekalian menyanggah ada permainan dalam pengadaan tiket Asian Games. Ia mengatakan bahwa tiket pertandingan kebanyakan telah terjual habis meski venue tampak sepi. Saat ditanya sepinya pertandingan Asian Games di Palembang, Danny bersikeras bahwa semua tiket dari awal telah terjual habis.

"Kursi kosong itu bukan berarti enggak laku," kata Danny saat dihubungi VICE Indonesia. "Misalnya gini, dari kontingen Jepang dia memborong 200 tiket untuk pengurusnya, tapi ketika pertandingan tidak semuanya hadir. Kami jelas tidak bisa memprediksi atau mengatur itu. Kami juga mengundang sejumlah pejabat dan ternyata banyak sekali yang tidak datang."

Menurut Danny, keterbatasan kapasitas venue pertandingan juga berimbas pada keterbatasan tiket. Beberapa cabang olahraga yang diadakan di lokasi dengan kapasitas minim membuatnya tampak sepi.

"Antusiasme masyarakat yang berjumlah puluhan bahkan ratusan ribu itu tak sebanding dengan kapasitas bangku stadion, seperti Istora, yang hanya sanggup menampung 7.166 orang," kata Danny.

Namun persoalan tiket tidak cuma berhenti di sulitnya mendapat tiket dan 'kursi hantu'. Kebingungan segera muncul ketika beberapa orang memiliki tiket dengan nomor kursi sama.

Ditanya apakah para calo masih memborong pembelian tiket sehingga membuat banyak kursi kosong, Danny tidak mengiyakan atau menampik. Dia hanya mengatakan pihaknya bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk memberantas praktik calo. "Kami jamin akan menindak tegas calo. Makanya kami lebih mengedepankan penjualan online," kata Danny

Danny mengatakan kini Inasgoc telah bekerjasama dengan tiga penyedia jasa e-commerce untuk melayani pembelian tiket online tanpa harus ada sistem penukaran e-voucher. Danny mengatakan 80 persen penjualan tiket kini dilayani via daring, dengan 20 persen disediakan untuk pembelian on the spot. Harapannya selain mengurangi praktik calo juga mengurangi antrean.

Menanggapi hal tersebut baik Adelia dan Christian berharap seharusnya pihak komite penyelenggara Asian Games mengutamakan antusiasme masyarakat terlebih dulu, baru pengurus federasi cabang olahraga asing maupun lokal, serta pejabat.

"Kalau memang itu kursi buat pengurus kontingen, nyatanya banyak yang enggak dateng kan?" kata Adelia. "Jadi mendingan buat warga yang memang pengin nonton dong."