Pakar Psikologi Jabarkan Alasan Ada Ibu Bisa Tega Membunuh Anaknya Sendiri

“Sebagian besar dari mereka sangat menyesal telah membunuh anaknya dan mencoba untuk mengatasi penyesalan dengan cara apapun.”

|
20 Februari 2018, 9:46am

Foto ilustrasi via Shutterstock

Pertengahan April mendatang, publik Australia akan menyaksikan persidangan terbuka atas kasus kontroversial Maree Crabtree. Perempuan asal Brisbane berusia 51 tahun itu diadili atas tuduhan menyiksa dan menganiaya anak-anaknya sampai meninggal. Satu anak perempuannya yang difabel, Erin, 18 tahun, ditemukan tewas pada 2012. Sedangkan anak laki-lakinya yang juga difabel, Jonathan, 26, ditemukan tewas setahun lalu. Polisi menduga anak-anak Crabtree mengalami cacat akibat pemberian obat keras dalam durasi lama oleh sang ibu.

Sangat sulit membayangkan pemicu orang tua tega membunuh anaknya sendiri, tetapi "filicide", sebutan komunitas psikolog untuk tindakan ayah atau ibu membunuh darah dagingnya sendiri, bukan hal baru. Filicide terjadi sejak era manusia purba sampai sekarang. Bahkan filsuf kenamaan Aristoteles pernah menyatakan: “Harus ada hukum yang mengatur agar anak cacat tidak dibiarkan hidup.”

Banyak orang belum menyadari filicide adalah tindak kejahatan yang sering terjadi. Ada puluhan kasus di berbagai negara saban tahun. Sudah ada penelitian tentang rentetan kasus pembunuhan anak oleh orang tua, yang menyimpulkan bila pelaku pembunuh anaknya sendiri lelaki, itu cenderung akibat pembunuhan “tak disengaja” dan disebabkan oleh penggunaan alkohol dan obat-obatan. Sedangkan ketika ibu yang membunuh anaknya sendiri, motifnya cenderung berupa pembunuhan yang disebabkan oleh masalah kesehatan mental.

Di Amerika Serikat, penelitian dari Brown University yang terbit 2014 memetakan data dari periode 32 tahun terakhir. Kesimpulannya ada sekitar 500 kasus pembunuhan anak yang dilakukan oleh orang tua di Amerika Serikat tiap tahunnya.

Mengingat banyaknya kasus macam ini, tak perlu terkejut sih kalau ada pakar yang meneliti motif orang tua membunuh anak sendiri. Pakar bidang kajian psikologi kriminal ini adalah Dr. Cheryl Meyer. Spesialisasinya mendalami alasan ibu nekat menghabisi anak sendiri. Meyer telah mewawancarai puluhan ibu yang dipenjara akibat membunuh anaknya sendiri (bukunya yang mengulas topik sensitif tersebut sudah terbit). VICE mewawancarai Meyer, dosen jurusan psikologi di Wright State University, Ohio, melalui Skype, untuk memahami alasan kebanyakan ibu saat tega membunuh anaknya. Kami ingin tahu, apakah motif pelaku dipicu oleh kepribadian yang berbeda dari kebanyakan manusia, atau ada sebab-sebab lain.

Wawancara berikut sudah kami sunting agar ringkas dan lebih enak dibaca.

VICE: Anda mengumpulkan data para ibu di AS yang membunuh anak-anaknya sendiri. Anda lantas menemukan 1.000 kasus dalam rentang waktu 10 tahun. Bagaimana caranya anda mencari data dan menghubungi mereka untuk penelitian?
Cheryl Meyer: Saya dan tim mengunjungi Lapas Perempuan Ohio. Kami langsung saja bertanya sama sipir, “berapa jumlah narapidana di sini yang dihukum karena telah membunuh anak-anak mereka?” Pada saat penelitian kami dilakukan, ada 1.800 wanita yang dipenjara di sana dan 80 orang di antaranya dihukum karena telah membunuh anaknya. Ini menunjukkan bahwa kasus pembunuhan anak memang sangat sering terjadi.

Secara keseluruhan, kami mewawancarai 40 ibu. Sebanyak 40 orang kandidat lainnya tidak berpartisipasi dalam wawancara ini. Alasannya karena ada yang akan dibebaskan dari penjara atau mengajukan banding. Ada beberapa yang menolak diwawancara. Dengan wawancara ini, kami mencoba menggali informasi lebih rinci yang tidak ada di data. Fokusnya lebih cenderung ke “Apa yang membuat Anda membunuh anak, meskipun masa kecil Anda bahagia dan tidak bermasalah?” Atau, “Masa kecil Anda mungkin saja buruk, lalu momen apa yang pernah Anda alami dulu sampai akhirnya Anda membunuh anak Anda sekarang?”

Menurut anda, apa benang merah motif para pelaku? Kenapa mereka bisa bertindak beda sekali dari orang tua lainnya?
Itulah yang saya pikirkan sebelum mewawancarai mereka. Saya mengira mereka adalah orang-orang yang kejam dan menakutkan. Ternyata mereka sama sekali tidak seperti itu. Setelah wawancara pertama selesai, saya sempat membatin, “Saya sangat beruntung tidak pernah mengalami kondisi seperti itu!”

Orang yang pertama kali saya wawancarai sebaya dengan saya, dan dia sangat pandai berbicara. Dia besar di keluarga menengah ke atas. Dia sangat cerdas, fokus pada pendidikannya, dan kondisinya sangat mirip dengan keluarga saya sendiri. Saat dia berusia 16 tahun, dia berhubungan seks dengan pria yang usianya jauh lebih tua darinya. Dia hamil dan mereka menikah. Mereka mempunyai tiga anak dan suaminya harus bekerja di luar kota setiap tahun.

Kira-kira di usianya yang masih 19 tahun, dia sudah mempunyai tiga anak dan suaminya selalu bertindak kasar kepadanya. Saat dia masih ikut suaminya berpindah-pindah tempat tinggal akibat pekerjaan, dia tidak bisa berhubungan baik dengannya. Suaminya pengguna obat-obatan dan sering gonta-ganti istri. Akhirnya, dia memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka dan pulang ke rumah. Dia mulai meneruskan pendidikannya di SMA dan mendapat pekerjaan. Dia dan ketiga anaknya tinggal di rumah orang tuanya, di ruang bawah tanah mereka yang lembap.

Saat dia berusia 19 tahun, dia berkencan dengan laki-laki lain. Suatu hari, dia menunggu kekasihnya pulang dan adik laki-laki kekasihnya ada di sana. Laki-laki itu membawa pistol dan berkata, “Kamu harus mau berhubungan seks denganku, kalau tidak aku akan membunuh anak-anakmu dan kamu akan menyaksikannya.” Laki-laki itu memperkosanya dan mengancam, “Jika kamu memberitahu orang lain, aku akan mengatakan kalau kamu memaksaku melakukannya dan kamu tahu itu dianggap pemerkosaan oleh undang-undang.”

Dia merasa hina dan putus asa. Dia merasa hidupnya tidak ada artinya lagi. Dia pun akhirnya berencana membunuh anak-anaknya dan dirinya sendiri. Dia sukses membunuh anaknya, tetapi gagal membunuh dirinya sendiri. Dia mendapatkan tiga hukuman seumur hidup.

Dia memberitahuku, “Saya tidak bisa membayangkan mati tanpa anak-anak. Makanya saya memutuskan untuk membunuh mereka. Lagipula, mereka akan tinggal dengan ayah yang selalu bertindak kasar jika mereka tetap hidup.”

Saat mendengar pengakuannya, saya membatin, ‘Ya Tuhan, ini bisa saja terjadi padaku.’

Apa perasaan dan pikiran yang berkecamuk di kepala anda selama wawancara?
Saya sangat bersyukur masa kecil saya tidak seperti mereka. Mereka memiliki orang tua yang belum siap menjadi orang tua. Pertanyaan pertama kami adalah, “Bagaimana masa kecil Anda?” Dan mereka akan menjawab seperti, “Yah, sepertinya sama saja dengan orang lain. Maksudnya, saya dilecehkan secara seksual sejak saya masih berusia lima tahun sampai saya meninggalkan rumah. Tapi selain itu, semuanya berjalan normal.”

Kami kaget mendengarnya dan menjawab, “Itu tidak normal sama sekali.” Namun, mereka memiliki pandangan yang sangat berbeda dari kita. Kita sangat beruntung tidak mengalami hal-hal buruk seperti itu. Jika mengalami hal yang serupa, saya tidak dapat membayangkan hidup saya akan seperti apa.

Para perempuan yang membunuh anaknya sendiri itu apakah memiliki semacam mekanisme penyesalan?
Ya. Ada beberapa yang tidak merasa menyesal sama sekali, tetapi sebagian besar dari mereka sangat menyesal telah membunuh anaknya dan mencoba untuk mengatasi penyesalan dengan cara apa pun yang mereka bisa. Contohnya seperti wanita pertama yang saya wawancarai. Ini kutipannya yang saya mengakhiri buku terdahulu:

Bagian terburuknya, saya merasa sudah terlalu menekan mereka agar saya tidak membenci diri sendiri. Saya tidak baik, tapi juga tidak buruk. Saya baik-baik saja. Saya membenci perbuatan saya, dan saya paham saya tidak dapat mengubahnya. Saya mencoba untuk melanjutkan hidup, dan berharap saya tidak menghina kematian mereka dalam prosesnya.

Para ibu yang pernah membunuh anaknya berdamai dengan dirinya sendiri pada tingkat yang berbeda. Dia sangat pandai dalam menanganinya, tetapi ada beberapa wanita yang masih terkejut atas tindakannya. Ini tampak seperti proses tahapan; Anda bisa melihat mereka berpindah dari satu fase ke fase lainnya.

Penyesalan macam itu bukankah sangat mungkin dipengaruhi fakta dia dipenjara cukup lama?
Ya, dia sudah dipenjara selama 25 tahun di sana. Orang-orang yang pertama kali dipenjara pastinya akan memberontak dan mencoba untuk membebaskan diri. Dia sudah mencoba melarikan diri beberapa kali, tetapi akhirnya dia berhenti mencoba dan sadar dia tidak akan pernah bisa keluar dari penjara. Penjara sudah menjadi rumahnya.

Adakah kondisi mental tertentu yang membuat perempuan terdorong berani membunuh anaknya sendiri?
Saya teringat dengan seorang wanita yang kira-kira masih berusia 20 tahun. Dia menangis sepanjang wawancara. Dia sangat sedih dan kesal pada dirinya sendiri. Dia tidak menyangkal bahwa dia telah membunuh anaknya, dia benar-benar sedih karena telah melakukannya dan dia tidak akan pernah bisa melihat anaknya lagi.

Tapi, ada fase lain juga. Ada fase di mana mereka benar-benar marah dengan persidangan dan hukuman yang mereka jalani. Mereka tidak menyadari kalau mereka telah melakukan kejahatan.

Ada ironi yang menyedihkan. Wanita yang anak-anaknya tewas karena kelalaian atau penyiksaan – misalnya mereka memukul anak sampai mereka menabrak dinding dan kepalanya retak dan mereka mati – cenderung mendapatkan hukuman yang lebih singkat, tetapi tidak memiliki penyesalan sama sekali. Saya pikir mereka tidak merasa bertanggung jawab atas kematian anaknya. Misalnya, ‘Ayahku mengomeli saya, jadi saya mengomeli anakku dan itu hanya kecelakaan saja.’

Narasumber anda rata-rata menyesal. Tapi apakah mereka merasa sedih?
Mari kita ambil contoh si perempuan yang sudah dipenjara selama 25 tahun. Dia sudah melewati masa berduka, dan sekarang dia mencoba untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Dia berkata, “Saya harap saya bisa bertemu lagi dengan mereka.” Dia menyesal telah melakukannya, tapi saya rasa dia sudah tidak berduka lagi. Saya menyimpulkan perasaan berduka muncul pertama kali; mereka berduka dan baru merasakan penyesalan setelahnya. Itu adalah dua proses yang terpisah baginya.

Orang awam mungkin menduga kalau ibu yang tega membunuh anak sebagai sosiopat, tapi kalau melihat temuan anda, mereka masih merasa menyesal.
Dua kategori utama yang kami temukan adalah ibu yang membunuh karena niat. Satu lagi yang membunuh karena lalai. Ibu yang lalai tidak berniat melakukannya. Contohnya seperti ibu berusia 25 tahun yang memiliki lima anak. Dia tidak selesai sekolah, dia tidak tahu bagaimana menjadi orang tua; Dia tidak diurus dengan baik oleh orang tuanya dulu. Ayahnya tidak memberi dukungan. Mungkin suatu hari nanti, anaknya yang lebih tua merawat adik-adiknya. Dia menjawab telepon dan lupa kalau anaknya masih ada di bak mandi. Anak itu pun tenggelam.

Para ibu yang membunuh karena niat biasanya mengalami gangguan kejiwaan sehingga terkadang mereka tidak menyadari apa yang telah mereka lakukan. Mereka benar-benar sakit jiwa. Kondisinya bisa sementara, bisa juga tidak. Contohnya, depresi postpartum terjadi sementara, dan mereka akan sangat menyesal setelah melewati masa depresi. Ketika mereka masih mengalami depresi, mereka membunuh anaknya karena percaya anak itu adalah setan.

Wanita yang membunuh anak karena niat sangat berbeda dari kelompok lainnya. Usia mereka sudah lebih tua. Mereka berkeinginan untuk mengadopsi atau mempunyai anak. Orang-orang menganggap mereka orang tua yang sempurna, sampai mereka mengatakan, “Saya tidak percaya dia membunuh anaknya. Dia orang tua yang baik.”

Artinya, dari semua napi yang diwawancarai, ibu yang membunuh karena niat adalah mereka yang justru tahu bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik.
Sayangnya demikian. Asal Anda tahu, [wanita-wanita itu] tidak hanya membunuh salah satu anak; mereka membunuh semua anaknya. Memang ada yang membunuh dengan pisau atau senjata api; tetapi mereka lebih sering membunuh dengan cara mencekik, meracuni atau menenggelamkan anak-anaknya.

Kebanyakan ibu yang membunuh karena niat memiliki penyakit jiwa. Saya teringat kasus Susan Smith, yang menenggelamkan kedua anaknya di kolam, memiliki riwayat masalah kesehatan mental yang serius tetapi dia tidak rajin mengunjungi psikiater. Saat kecil dia pernah dilecehkan secara seksual, akibatnya dia depresi dan ingin bunuh diri.

Begitu pula kasus Andrea Yates, pelaku kasus pembunuhan anak paling terkenal di AS. Dia sih benar-benar mengalami gangguan jiwa. Saya meninjau setumpuk rekam medisnya. Yates adalah ibu yang baik dan menyayangi anaknya, tetapi dia mengalami psikosis postpartum. Orang-orang tidak percaya saat mengetahui kasus ini.