Iklan

Surat Terbuka Untukmu yang Membuatku Positif HIV

Tiap kali aku bercerita kepada seseorang tentang statusku sebagai orang dengan HIV, aku sebetulnya sedang memikirkan kamu. Itu bukan tentang kemarahan, apalagi dendam, melainkan hal-hal manis tentangmu yang membuatku tersenyum.

oleh Beau Newham
21 Juni 2019, 9:47am

Ilustrasi oleh Michael Docker

Saat kamu memberi tahu seseorang bahwa kamu HIV positif, ada satu hal yang pasti membuat orang itu penasaran: “Kok kamu bisa tertular sih?” Sebagian orang mungkin merasa nyaman untuk bercerita terang-terangan soal bagaimana mereka tertular virus tersebut. Sebagian lagi akan dengan sengaja meninggalkan rasa penasaran bagi orang yang bersikap sopan dan memilih tak bertanya. Meski begitu, dengan mudah aku menangkap rasa keingintahuan lewat sorot mata mereka. Dalam kasusku, setiap kali aku bercerita kepada seseorang tentang statusku sebagai orang dengan HIV, aku sebetulnya sedang memikirkan kamu. Itu bukan tentang kemarahan, apalagi dendam, melainkan hal-hal manis tentangmu yang membuatku tersenyum.

Hal itu membawaku pada ingatan soal kencan kedua kita. Saat itu, kita berdua menyantap hidangan Jepang di pinggiran Kota Denpasar. Rasa makanannya sih jauh dari enak. Aku ingat setiap suapan dari sajian di piring kamu, terlihat bagai suatu siksaan. Namun, kamu toh menghabiskannya juga, bahkan tak ada sisa sebutir nasi pun. Hal yang aku tahu, kamu tak ingin mengecewakan orang-orang yang telah memasaknya. Itulah momen ketika aku melihat bahwa kamu adalah orang yang baik. Sebaliknya denganku yang saat itu tak sanggup menuntaskan apa yang aku pesan. Kita berbincang panjang sambil makan. Aku memperhatikanmu sepanjang malam, yang tak berhenti bergerak ketika kamu bicara. Sesekali, kamu menyembunyikan tawa kencang di balik tanganmu. Aku melihatmu sebagai sosok yang begitu santun. Itulah hal yang melekat dalam ingatanku hingga saat ini.

Tak lama setelah perjumpaan itu, kita berpisah. Aku harus pulang ke Australia. Saat itu ada perasaan yang begitu aneh kurasakaan saat meninggalkan tempat yang kerap disebut sebagai Pulau “Cinlok” ini. Sebab, kali ini bukan teman kencanku yang pergi, melainkan aku yang harus meninggalkan Bali. Aku mendarat di Australia pada malam Natal, tapi menjelang Tahun Baru, aku justru terbaring di tempat tidur karena demam dan ruam. Tak lama, aku memeriksakan diri ke rumah sakit. Pada saat itu, tak ada sediktipun kekhawatiran soal HIV. Aku memang aktif secara seksual dan rutin melakukan tes. Aku sama sekali tak melihat ada hal-hal berisiko yang bisa membuatku tertular HIV.

Beberapa minggu kemudian, aku kembali duduk di hadapan dokter bersama dengan hasil pemeriksaan kesehatanku. Aku positif! Seketika aku merasa bingung sekaligus kesal. Biarpun aku tahu bahwa HIV itu dapat ditangani, hal itu bagai pukulan telak dan rasanya sangat berat bagiku.

Salah satu hal yang paling menggangguku adalah suatu ketakutan dalam diriku sendiri: jangan-jangan, aku telah menularkan virus itu pada orang yang aku sayangi, di tengah ketidaktahuan bahwa aku HIV positif? Pertanyaan itu terus menghantui sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk mengirimkan pesan singkat melalui WhatsApp kepada orang-orang yang pernah berhubungan seksual denganku.

Aku rutin memeriksa kesehatan setiap enam bulan. Jadi, aku bisa menerka siapa mereka. Ada tiga orang yang aku hubungi, termasuk kamu. Untungnya, mereka dapat memahami alasan mengapa aku memberitahukan soal statusku saat ini. Akhirnya, mereka memberanikan diri untuk tes tanpa mencari-cari kesalahan soal siapa yang telah menularkan siapa. Terkadang, menyalahkan orang lain atau marah adalah reaksi yang seringkali terlontar, tetapi kita telah sama-sama dewasa dan membuat pilihan. Momen seperti itu memang memberikan rasa tak nyaman sebagai bagian dari konsekuensi yang sudah terjadi. Namun, kemarahan hanya akan membuat kebisuan terus berlangsung. Memilih diam hanya akan memperburuk keadaan.

Hasil tes dua dari tiga orang tersebut ternyata negatif. Lantas, itu berarti kamulah yang positif. Ya, kamu yang memiliki senyum manis dan bersikap santun. Kita berdua terkejut. Itu terdengar tak masuk akal! Kita sama-sama merasa terluka. Namun, terlepas dari itu semua, kita tak punya pilihan selain berusaha untuk saling menguatkan. HIV tidak peduli siapa kita. Virus itu tak mau tahu seberapa santun atau seberapa manis orang yang akan mereka tulari, apakah mereka dicap “baik-baik” atau dicap “nakal”.

Aku berubah menjadi lebih takut ketika kamu mengabariku seberapa rendah angka CD4, yang menunjukkan level kekebalan tubuhmu. Ternyata, kamu telah lebih dulu terinfeksi. Virus itu mungkin sudah melekat di dirimu selama bertahun-tahun. Hanya saja kamu tidak tahu. Selama itu pula virus itu menggerogoti imunitas-mu. Dari situ, aku sadar, seandainya aku tidak tertular dan tidak memberi kabar bahwa aku positif dan meminta kamu untuk segera tes, mungkin ceritanya akan lain. Bahwa dalam ketidaktahuanmu itu, virus tersebut bisa membuat kesehatanmu menurun drastis. Aku membayangkan ha-hall buruk yang mungkin terjadi soal dengan rumah sakit dan kematian. Maka, diam hanya akan membuat kita kian terisolasi dan makin rentan.

Banyak orang menghindar untuk melakukan tes HIV. Karena sesungguhnya tes tersebut bukan hanya soal mengecek ada atau tidaknya virus dalam diri kita, tapi juga “tes terhadap moralitas” kita. Status positif ibarat menyematkan predikat “nakal” pada diri sendiri. Sosok yang kita sering stigma sebagai “tak punya moralitas”. Hal itulah yang kemudian kamu hadapi. Kamu bilang, kamu menghindari tes karena kamu takut. Kamu sendiri tak sanggup membayangkan sosok sepertimu - pria dengan latar belakang kelas menengah, mapan secara ekonomi, berpendidikan, romantis, dan monogami - bisa positif. Bersama dengan kebisuan itu, stigma justru membutakan kita.

Jika kita tidak bisa menyadari bahwa HIV dapat mempengaruhi siapa saja, bahwa yang diperlukan hanyalah sebuah pilihan berisiko yang kita atau partner kita lakukan, maka kita tidak akan dapat memutus rantai kematian akibat HIV. Dari situ, kita telah gagal dalam mengambil keputusan untuk melindungi diri kita maupun orang-orang yang kita cintai.

Kita telah melaluinya bersama-sama selama beberapa bulan terakhir. Melewati saat-saat sulit berbagai tahapan medis yang berlapis-lapis. Dalam waktu dekat, kekebalan tubuhmu akan kembali pulih. Jika beruntung, bisa jadi virus yang melekat pada tubuh kita itu akan sampai pada kondisi yang tidak terdeteksi lagi. Apa yang aku takutkan sekarang bukanlah kesehatanamu, melainkan stigma dari lingkungan di sekitarmu. Hanya 33% orang Indonesia yang percaya diri mengatakan bahwa mereka tidak dapat tertular HIV dari berbagi makanan dengan seseorang dengan HIV. Dengan tingkat miskonsepsi itu, aku khawatir dengan keadaanmu dan juga orang-orang lainnya yang hidup dengan HIV di Indonesia. Bagaimana kita dapat mengharapkan simpati ketika masih ada begitu banyak orang yang berprasangka sambil dibalut rasa takut?

Itulah sebabnya, aku berbagi kisah tentang aku dan kamu. Suatu cerita tentang HIV, seks, cinta, serta kencan yang aneh dengan makanan Jepang yang tidak enak. Bukankah kita membutuhkan lebih banyak cerita semacam itu? Karena stigma dan kebisuan bisa membuatku tak pernah lagi menghubungimu. Dan itu bisa saja membuatku berhenti melakukan tes dan juga menghentikan kehidupan yang sedang kita jalani. Itu bukan karena kita tahu HIV dapat dijinakkan. Namun, soal kebisuan dan ketidaktahuan yang dapat membawa kita lebih jauh pada prasangka dan diskriminasi.

Saat ini, kita memiliki obat yang jika dikonsumsi dengan benar, akan membuat kita bisa menjaga sistem kekebalan tubuh dan menghentikan kemungkinan penularannya kepada orang lain. Namun, kuatnya stigma terhadap HIV telah menghambat dampak baik dari inovasi tersebut. Kita perlu sadar bahwa kita punya tanggung jawab penuh untuk mengetahui status kita dan memastikan orang yang kita cintai juga mengetahui hal yang sama. Kita juga punya tanggung jawab untuk menghapus segala prasangka terhadap orang-orang yang hidup dengan HIV. Kita perlu menyanggah berbagai komentar yang penuh kebencian dan berhenti menebar ketakutan. Sebaliknya, kita justru perlu menyebarkan kepedulian dan simpati kepada mereka. Sebab, sesungguhnya, kita hanyalah orang-orang yang sekadar ingin hidup selayaknya manusia lain. Seperti kencan yang pernah kita lakukan malam itu, ada orang seperti kamu yang gemar bersikap sopan untuk menghabiskan makanan yang terhidang. Sementara lainnya, sepertiku, memutuskan untuk menyisakannya dan berterus terang bilang tidak enak.

Follow Beau di Twitter

Jika kamu memerlukan informasi lebih lanjut tentang HIV atau ingin melakukan tes, kamu bisa klik Gue Berani atau Update Status atau kamu dapat bertanya tanpa harus menyebutkan identitasmu melalui Line lewat Tanya Marlo. Buat kamu yang ingin tahu seperti apa kehidupan orang yang hidup dengan dengan HIV, kamu bisa menyaksikan Acep Gates on YouTube.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE AU.

Tagged:
HIV
Test
indonesia
PrEP
AIDS
LGBTQ
Cure
CD4 count