Daging Buatan

Berkomitmen Tak Lagi Makan Daging? Tenang, Alternatif Nabati di Asia Melimpah Kok

‘Daging nabati’ diramal bakal semakin populer di Asia, dan bisa membuat masa depan konsumsi kita lebih berkelanjutan.

oleh Edoardo Liotta
15 Juni 2019, 7:51am

Kiri: Screenshot dariYoutube. Kanan: Courtesy of Shiok Meats.

Beyond Meat, perusahaan daging nabati asal Amerika Serikat, mengguncang pasar saham. Penawaran Saham Perdana (IPO)dari perusahaan ini pada Mei 2019 melonjak 600 persen dari target awal, menarik perhatian para investor dan menjadikannya perusahaan dengan IPO terbaik 2019.

Dampak industri 'daging' berbahan nabati ini diramal bakal punya pengaruh besar di Asia. Maka tak heran jika Beyond Meat sudah mulai menawarkan produk-produknya di supermarket lokal, dan kemungkinan akan semakin memperluas distribusinya. Sejak awal Juni, CFO Beyond Meat Mark Nelson mengatakan kepada CNBC bahwa konsumsi daging di Asia terus bertumbuh. "Ada kebutuhan untuk gawat untuk [perusahaan] ini. Maka itu, saya akan gencar untuk memasuki pasar Asia ini."

Selain Beyond Meat, ada juga Impossible Foods, perusahaan daging nabati lainnya yang dikenal dengan produk buatannya, Impossible Burger, yang kini disukai di Singapura dan Hong Kong. Burger vegannya terkenal karena seperti "berdarah” hal yang tentunya menarik perhatian pecinta daging dan vegan yang kangen rasa daging, tetapi terlanjur berkomitmen sama pilihan konsumsi ramah lingkungan.

Buat vegetarian yang ingin menikmati suguhan tanpa merasa bersalah, solusi daging nabati cocok banget. Tapi, daging macam ini bukan cuma buat vegan. Memilih alternatif daging nabati bukan sekedar selera pribadi. Dengan memilih daging berbahan nabati, kalian sudah peduli dan terlibat aktif mengatasi masalah global.

Berbagai laporan menyatakan, kalau kita tidak melakukan apa-apa untuk melawan perubahan iklim, peradaban manusia berpotensi berakhir pada 2050. Berhenti mengkonsumsi daging dapat memperlambat terjadinya fenomena ini. Bukan rahasia kalau industri peternakan menyebabkan 91 persen penggundulan hutan di Amazon dan menimbulkan paling sedikit 51 persen emisi gas rumah kaca . Angka itu jauh lebih besar dari emisi yang dikeluarkan alat transportasi seperti pesawat. Artinya, kalau kita berhenti mengkonsumsi daging, jumlah emisi gas rumah kaca bisa dipotong hampir lima puluh persen.

Nyatanya, konsumsi daging global justru sedang naik. Laporan Charting Asia’s Protein Journey oleh Asia Research and Engagement menyatakan konsumsi daging dan hidangan laut di Asia akan naik sebanyak 78 persen pada 2050. Dengan lonjakan sebesar itu, industri peternakan yang problematis akan semakin memburuk dan menghancurkan lingkungan kita.

Meski begitu, perusahaan-perusahaan Barat seperti Beyond Meat dan Impossible Foods tentu saja belum bisa mengatasi masalah pasokan di seluruh benua, apalagi Asia. Burger, daging cincang, dan sosis tidak akan memenuhi selera Asia yang beragam. Untuk mengurangi atau menggantikan konsumsi daging di Asia, harus ada alternatif terlokalisasi.

Untungnya, saat ini ada berbagai perusahaan yang sedang menangani isu ini. Singapura kini menjadi pusat startup yang fokus pada daging tiruan, karena pemerintah Singapura memberi insentif kepada pengusaha baru. Contohnya, Karana, perusahaan berbasis di Singapura, memanfaatkan nangka sebagai alternatif daging sesuai dengan selera Asia. Nangka sudah sering dinikmati warga Indonesia sebagai pengganti daging, oleh karena itu nangka dapat diadaptasi sesuai dengan selera lokal.

Lalu ada Shiok Meats, perusahaan daging berbasis sel, Mereka beternak udang di sebuah laboratorium menggunakan sel induknya. Shiok Meats memilih untuk mengolah udang karena populer di seluruh Asia Tenggara, dan akan berkespansi dalam pengolahan krustesea berbasis sel lainnya.

Mungkin ini bukan satu-satunya cara untuk mengatasi masalah peternakan. Daging tiruan sudah sering terlihat dalam masakan vegetarian dan dalam ajaran agama Buddha, tetapi alternatif baru ini merupakan pilihan lebih sehat dan beragam dibandingkan pengganti daging tradisional.

Dengan hadirnya puluhan perusahaan daging berkelanjutan seantero Asia, serta konsumen yang semakin sadar dan terbuka, ada potensi merevolusi seluruh rantai makanan jadi lebih ramah lingkungan.

Follow Edoardo di Twitter dan Instagram .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.