Iklan
The VICE Guide to Right Now

Aparat Indonesia Punya Ancaman Baru dari Udara: Balon-Balon Ilegal

Balon udara yang diterbangkan sembarangan berisiko bikin pesawat celaka. Peminatnya di Wonosobo membandel. Lebaran tahun ini, perang terhadap balon udara ilegal kembali dicanangkan pemerintah.

oleh Ikhwan Hastanto
10 Juni 2019, 11:19am

Kolase foto oleh staf VICE. Sumber: (kiri) oleh Darren Whiteside/Reuters; (kanan) Festival Balon di Filipina dari Wikimedia Commons. Lisensi CC 2.0

Pilot profesional seringkali menyaksikan benda langit yang tak dikenal (UFO). Pertemuan dengan UFO biasanya sangat membekas, sulit mereka lupakan. Nah, di Indonesia pilot-pilot juga bertemu benda asing di tengah perjalanan mereka. Sayangnya, boro-boro UFO, benda ini sangat dikenali dan kehadirannya justru bikin deg-degan. Benda itu adalah balon udara.

Rentetan insiden ini bermula dari tradisi unik perayaan Lebaran, dengan melepas balon udara berdiamater 7 meter yang biasa dilakukan warga Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pelepasan balon itu bikin pilot rute penerbangan dari dan menuju Yogyakarta deg-degan. Belasan pilot di rute ini melapor kepada otoritas lalu lintas udara Indonesia (AirNav) bahwa ada balon-balon udara yang muncul di ketinggian terbang pesawat mereka. Salah seorang pilot bahkan melihat 15 buah balon sekaligus.

Pada 5 Juni 2019 turut diberitakan 28 pilot yang melintas di atas Pulau Jawa melihat balon udara masuk ke jalur penerbangan pesawat komersial.

Kepolisian Wonosobo bergegas turun tangan. Seminggu setelah Idulfitri, razia polisi di kabupaten itu menyita 34 balon. Aparat sekaligus mencokok 6 orang yang menerbangkan balon tanpa izin dan tidak menuruti aturan. Dua tersangka di antaranya masih di bawah 17 tahun.

Tiga kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya Pekalongan, Wonosobo, dan Ponorogo mendapat perhatian khusus polisi dan Kementerian Perhubungan. Sebab, ada tradisi khas warga di tiga kabupaten itu menerbangkan balon udara dalam rangka merayakan Idulfitri.

Balon warna-warni lucu dengan diameter 7 meter dan tinggi belasan meter itu memang imut dan instagramable. Keimutan itu hilang, ketika balonnya melayang di ketinggian 20-30 ribu kaki yang mana merupakan ketinggian padat lalu lintas pesawat.

"Ketinggian itu merupakan jalur yang sama dengan yang digunakan oleh pesawat terbang. Kalau sampai tersedot ke mesin pesawat, bisa terbakar dan meledak," kata Nono Sunaryadi, selaku General Manager AirNav Indonesia cabang Yogyakarta kepada Beritagar.

Balon sejak lama ditakdirkan jadi musuh pesawat terbang. Ketidakakuran keduanya bisa dirunut ke era dua perang dunia. Balon yang didesain khusus dengan julukan Barrage balloon termasuk senjata yang digunakan melawan pesawat dive bomber.

Potensi risiko yang ditimbulkan oleh balon-balon perayaan Idulfitri membuat Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi khawatir. "Saya mengimbau dengan segala kerendahan hati kepada warga di Wonosobo agar menghentikan kegiatan itu," ujarnya di Jakarta, seperti dilansir Kompas.

Sebagai gantinya, Kementerian Perhubungan dan AirNav menawarkan ganti festival balon udara di Pekalongan dan Wonosobo pada 12 dan 15 Juni mendatang. Festival ini sudah diadakan sejak tahun lalu, demi mengurangi animo warga menerbangkan sendiri balon mereka.

Balon udara biasanya diterbangkan warga pada pagi hingga siang hari. Keramaian yang ditimbulkan lumayan menarik wisatawan. Tapi, lantaran tidak berizin sesuai UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, orang yang menerbangkannya berisiko dihukum penjara 3 tahun atau denda Rp1 miliar.

Bagi yang memang mempunyai passion akut menerbangkan balon udara setiap hari dan tidak sanggup harus menunggu digelarnya festival, pemerintah sebenarnya telah mengatur persyaratannya.

Nono mengatakan, seperti dikutip Detik, balon udara dipersilakan terbang dengan ketinggian maksimal 150 meter. Selain itu warna balon udara harus mencolok, garis tengah maksimal 4 meter, dan diikat dengan minimal 3 tali tambahan.

Masalahnya, di Ponorogo yang balon udaranya tidak mengganggu pesawat, ekses negatif tetap ada. Hingga 7 Juni, dilaporkan empat rumah rusak gentingnya karena tertimpa bangkai balon yang mendarat pas sekali di atap.

Hadeh... Orang-orang yang menerbangkan balon perusak rumah itu bisa jadi millenial tua, yang semasa kecilnya keseringan menggunakan kirov saat main Red Alert 2.

Tagged:
indonesia
Budaya
Polisi
Penerbangan
Kriminalitas
Lebaran
Balon Udara
Tradisi Lebaran
Keamanan Udara
Wonosobo
Balon Udara Ilegal