Resto Cepat Saji

Mengenang Tragedi Burger King 1999, Bocah Sampai Mati Gara-Gara Demam Pokémon

Bonus mainan dari Burger King kala itu memicu kepanikan massal dan korban jiwa. Kok bisa? Artikel ini menjabarkan ceritanya.

oleh Gigen Mammoser; ilustrasi oleh Lia Kantrowitz
08 April 2019, 2:10pm

Ilustrasi oleh Lia Kantrowitz

Menu khusus anak, biasa disebut Kids’ meal, di berbagai restoran cepat saji amat berjaya pada dekade 1990-an.

Kids’ meal standar biasanya terdiri dari burger (atau nugget ayam), kentang goreng, dan soft drink. Makanan ini sederhana dan cocok buat lidah anak-anak. Tren tersebut populer sebelum munculnya opsi-opsi “sehat” seperti irisan apel dan susu zaman sekarang. Membeli kids’ meal merupakan pengalaman penuh kebahagiaan. Rasanya buat anak-anak enak, tinggi kalori, diproduksi secara massal, dan berisi lemak jenuh berlimpah. Jangan lupa, faktor lain yang membuat kids’ meal sangat populer tentu saja mainan yang menyertai paket makanannya.

Beberapa mainan-mainan paling ikonik dari tahun 90-an—Teenage Mutant Ninja Turtles, Tamagotchi, dan tokoh-tokoh Disney—muncul di restoran cepat saji di berbagai negara. Siapa sangka, mainan dari resto cepat saji yang sekilas tak berbahaya dapat memicu insiden mengerikan yang terus dikenang sampai sekarang.

Insiden terburuk muncul dari hiruk-pikuk akibat seri mainan Pokémon yang dirilis Burger King pada 1999. Tahun itu, Pokémania sedang besar-besarnya. Popularitas tersebut mengorbankan nyawa beberapa bocah.

Majalah TIME memperkenalkan fenomena Pokémon asal Jepang ke publik Amerika Serikat, dalam edisi yang terbit 22 November 1999. Di sampulnya—yang biasanya dihiasi foto kepala negara, pemimpin keagamaan, atau pengusaha terkenal—muncul sosok Poliwhirl, salah satu pokemon terkenal.

“Bagi banyak anak-anak, Pokémon menjadi candu terbaru, melebihi kartu, video game, mainan, hingga film. Apakah Pokémon sehat bagi mereka?" begitu pertanyaan dari redaksi TIME.

Ingat ini masih 1999. Banyak media terasa agak ketinggalan zaman, memicu panik yang membuat beberapa orang tua berpikir ulang sebelum mengizinkan anak-anak mereka mendalami dunia Pokémon.

Kala itu, masalah keamanan dilihat secara psikologis: Bagaimana Pokémon mempengaruhi otak, sikap, dan perilaku anak-anak?: Mungkinkah obsesi pada slogan "gotta catch 'em all" akan merusak hidup generasi muda?

1501173402786-time-poliwhirl
Inilah sampul majalah TIME edisi 1999 yang mengabarkan Pokémania.

Sembari para orang tua, jurnalis, dan psikolog mempertimbangkan dampak buruk tren Pokémon, bahaya jauh lebih mematikan sedang muncul tanpa disadari. Pada 11 Desember 1999, Kira Alexis Murphy, berusia 13 bulan mati lemas di California Utara. Penyebabnya diduga mainan Pokémon dari kids meal Burger King.

Burger King menjalankan kampanye promosi untuk film Pokémon: The First Movie yang tayang pada 10 November 1999, sebulan sebelum Kira tewas. Promosi tersebut berlangsung selama 56 hari dari awal November hingga akhir Desember.

Hadiah kids meal Burger King pada periode dua bulan itu terdiri dari 57 macam mainan Pokémon. Agar promosinya lebih menarik, mainannya dikemas di dalam Pokéball merah dan putih yang sangat akrab bagi generasi muda—bola yang digunakan untuk menangkap Pokémon. Anak-anak dapat mengalami fantasi tiga-dimensional itu dan merasa bisa menangkap sendiri Pokémon yang mereka incar. Burger King berencana mendistribusikan lebih dari 25 juta mainan dengan format ini secara gratis, untuk setiap pembelian paket kids' meal.

Ternyata, terkait kematian Kira, mainannya bukan sumber masalah. Bayi itu tewas karena setengah dari Pokéball, yang diameternya hanya sekitar 7 centimeter, melekat pada wajahnya dan menutupi hidung dan mulutnya sehingga kedap udara.

Saat bayi malang itu kehabisan napas, ibu Kira, Jill Ann Alto, sedang mandi selama 20 menit. Ketika Jill keluar dari kamar mandi, anaknya sudah meninggal. Kedua kakak Kira, yang berusia empat dan lima tahun, menyaksikan kematian adik mereka.

"Saya keluar dan melihatnya dengan belahan bola menutupi mulut dan hidungnya," kata Jill kepada Los Angeles Times. "Saya harus mencabutnya dari wajahnya."

Komisi Pengawas Keamanan Konsumen AS (CPSC) campur tangan dan menganjurkan semua mainan tersebut segera ditarik dari pasaran ke produsen. Nyatanya, promosi bonus mainan itu terus dilanjutkan Burger King.

"Ketika ada konsumen yang tewas, perusahaann seharusnya sadar bila ada masalah serius," kata Ann brown, direktur CPSC dari 1994 sampai 2001, kepada Knight Ridder/Tribune Business News saat diwawancara pada Januari 2000. "Jangan menunggu sampai ada banyak bayi yang meninggal untuk melakukan penarikan produk yang bisa membahayakan konsumen."

Juru bicara Equity Marketing, produsen mainan kids meal yang bekerjasama dengan Burger King, buru-buru menyatakan mainan tersebut "memenuhi semua syarat keamanan federal." Charles Nicolas, juru bicara Burger King, mengatakan "bola Pokéball menurut aparat belum dipastikan sebagai penyebab [kematian] Kira."

1501171035925-Burger_King_Poke_Ball_Wikimedia-Commons
Inilah bonus mainan Pokéball dari Burger King yang harus ditarik dari pasaran. Foto via Wikimedia Commons.


Sepuluh hari kemudian, pada 23 Desember, peristiwa serupa terjadi. Anak perempuan berusia 18 bulan asal Kansas nyaris mati lemas. Ketika ayahnya mencabut Pokéball dari wajahnya, bibir anaknya sudah membiru. Setelah kejadian ini, publik mulai marah dan menuntut Burger King bertanggung jawab.

“Saat kami diberitahu mengenai adanya kasus kematian terkait mainan itu, kami sadar insiden ini bisa menjadi masalah nasional," ujar Brown, yang mundur dari CPSC pada 2001, kepada MUNCHIES. "Hal paling buruk yang bisa terjadi: waralaba makanan cepat saji, bukan hanya toko mainan, mendistribusi mainan tidak aman ini kepada jutaan anak."

Apa lacur, promosinya sudah terbukti sukses. Ada cabang Burger King yang menjual 1.000 kids meal per hari. Beberapa cabang dibanjiri anak-anak yang menangis karena kids mealnya habis terjual.


Pada titik itu sudah bukan masalah apakah akan terjadi kematian lagi, melainkan kapan insiden selanjutnya terjadi.

Pemerintah AS mengkritik Burger King karena tidak bertindak cepat. Suksesnya promosi Pokémon, merupakan alasan mengapa waralaba tersebut ragu-ragu untuk menarik mainan bonus kids' mealnya.

"[Burger King] akhirnya bersedia menarik mainan tadi, tapi harus sedikit dipaksa," kata Brown kepada The Washington Post pada akhir Januari 2000.

Perintah penarikan mainan dilakukan Burger King bersama CPSC pada Senin, 28 Desember 1999. Brown muncul di acara berita NBC News untuk membahas kebijakan itu. Tujuannya, seingatnya, adalah untuk “meninggalkan kesan pada masyarakat bahwa pemerintah sudah melakukan sesuatu soal demam mainan Pokemon."

Tanggal ini penting untuk diingat pembaca. Burger King mengadakan jumpa pers soal penarikan mainan lebih awal pada 27 Desember, saat itu jatuh pada hari Minggu, yang menurut Brown dilakukan agar tidak menarik terlalu banyak perhatian dari publisitas negatif.

"Biasanya tidak banyak berita yang muncul pada hari Minggu," katanya kepada MUNCHIES. "Saya jelas tidak senang dengan keputusan Burger King." CPSC bermaksud melakukan siaran pers bersama Burger King pada 29 Desember. Tujuannya agar mereka punya cukup waktu untuk mengembangkan strategi penarikan nasional.

"Manajemen tidak menginginkan pemberitaan buruk. Burger King adalah restoran keluarga. Bukan ini yang mereka cari," kata Brown.

Ketika penarikan mainan diumumkan secara nasional, konsumen didesak segera mengembalikan atau membuang Pokéball anaknya. Pelanggan dijanjikan dapat pengganti sekantong kecil kentang goreng gratis untuk setiap pokéball yang dikembalikan. Anak-anak masih bisa menyimpan mainan Pokémon di dalamnya.

Upaya penarikannya dilakukan secara besar-besaran. Selain segmen nasional Brown pada Today, mereka juga menempelkan pemberitahuan di lebih dari 8.100 restoran Burger King di seantero Amerika. Mereka memasang iklan di USA Today.

Surat pemberitahuannya disebarkan ke 56.000 klinik dan 10.000 ruang UGD, serta situs web “ yang sering dikunjungi penggemar Pokemon.” Peringatan dicetak di mana-mana: alas nampan, kotak kemasan jinjing dan kantong kentang goreng. Burger King juga membeli waktu iklan di televisi untuk mengumumkan penarikannya kepada publik. Mereka tak lupa mencantumkan nomor telepon darurat. Sayangnya, semua upaya ini belum cukup untuk mencegah kematian.

Pada Selasa, 25 Januari 2000, hampir sebulan setelah penarikan, Zachary Jones yang masih empat bulan ditemukan tewas di tempat tidurnya. Bayi asal Indianapolis, Indiana ini juga tersedak Pokéball. “Sangat sulit dipercaya. Kamu ingin membelikan makanan buat anak, dan malah membawa pulang mainan mematikan,” kata sang kakek, Michael Jones, kepada Chicago Tribune. Kematiannya adalah insiden terakhir yang dikaitkan dengan mainan Pokéball dari Burger King.

Penarikannya sebagian besar dianggap sukses. Brown bahkan memuji langkah yang telah diambil Burger King. Keluarga Kira Alexis Murphy dan Zachary Jones mendapat kompensasi dari Burger King dan perusahaan mainan Equity Marketing atas kematian anak mereka. Burger King tidak menanggapi beberapa permintaan kami untuk berkomentar, baik melalui telepon maupun email.

1501173109510-16467833335_8a790bb1d7_o
Papan imbauan agar konsumen mengembalikan mainan Burger King yang ditarik dari pasaran. Foto via akun Flickr Mike Mozart

Beberapa tahun kemudian, Burger King semakin jarang melakukan menawarkan bonus mainan. Tampaknya, Burger King sudah berniat menghentikan pemberian hadiah mainan di tahun-tahun mendatang. Mainannya sekarang diganti dengan kue.

Ezelna Jones, eksekutif pemasaran Burger King di Afrika Selatan, mengatakan Burger King “tidak akan lagi memberikan mainan gratis” untuk "mengurangi jumlah sampah plastik di dunia."

Insiden Pokémon ternyata terus berlanjut. Kita tentu masih ingat, dirilisnya game Pokémon Go di seluruh dunia pada Juli 2016, memicu histeria Pokémania yang lagi-lagi berujung tragis.

Game ponsel ini menewaskan lebih dari 10 orang saat mereka secara teledor berusaha "menangkap semua Pokémon" di luar ruangan.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES