Musik

Ngobrol Bareng Eks Punggawa Cocteau Twins yang Rajin Merilis Bejibun Band Keren

Simon Raymonde di Jakarta meramaikan Archipelago Festival 2018. Kami ngobrol panjang membicarakan label rekamannya, proyek musik terbarunya, serta kenapa Cocteau Twins enggak akan reuni lagi.

oleh Yudhistira Agato
13 Oktober 2018, 2:40am

Kebanyakan orang akan merasa beruntung kalau namanya diingat karena pernah melakukan satu hal yang hebat. Simon Raymonde sudah pasti akan dikenang untuk paling tidak dua proyeknya yang telah menorehkan warisan dalam sejarah musik. Lelaki Inggris berumur 57 tahun ini sempat tergabung dalam Cocteau Twins, band legendaris yang memainkan musik indah dan mengawang dan hingga kini masih disebut sebagai pengaruh besar oleh siapapun yang memainkan musik dream pop dan shoegaze.

Tapi ketika band tersebut bubar pada 1997, Simon terjebak dalam situasi yang sulit. Dia sudah kadung mendirikan Bella Union, sebuah label rekaman yang tadinya dibentuk guna merilis materi Cocteau Twins. Mencari pelarian dari kekecewaan, Simon memutuskan untuk bekerja dengan band-band lain, mumpung sudah punya record label sendiri. 21 tahun berjalan, Bella Union tercatat sudah merilis musik dari beberapa musisi independen tersukses dalam beberapa tahun terakhir, di antaranya Fleet Foxes—yang mencapai status platinum—Father John Misty, Beach House, Explosions in the Sky dan masih banyak lagi.

Kesuksesan Simon dan pengetahuan luasnya mengenai industri musik membuat dia sering diundang untuk berbicara di berbagai acara. Dan untuk pertama kalinya, dia akan berbagi pengalamannya di Jakarta sebagai bagian dari program Archipelago Festival. Beberapa hari sebelum acara, saya bertemu dengan Simon dan ngobrol panjang lebar tentang suka duka menjalankan label rekamannya, proyek musik terbarunya dan kenapa Cocteau Twins kemungkinan besar enggak akan pernah reunian.

VICE: Gimana rasanya menjalankan sebuah label rekaman lebih dari 20 tahun?
Simon Raymonde: Rasanya normal-normal aja sih [tertawa]. Rasanya sama saja seperti kemarin. Ya agak luar biasa sih. Saya mengerjakan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan. Mulai sebagai musisi, saya sekarang malah menjalankan label rekaman bekerja dengan musisi lain. Enggak pernah kebayang hidup saya akan jadi seperti ini. Tadi saya enggak komplain. Hidup saya menyenangkan.

Selama 20 tahun lebih menjalankan label, pernah enggak ketemu masa-masa sulit yang bikin kamu hampir menyerah?
Ya kurang lebih 20 kali lah [tertawa]. Ketika menjalankan label independen seperti ini, kamu sudah pasti akan menghadapi momen ketika kamu bertanya-tanya ‘ngapain sih gue ngelakuin ini semua?’ ataukah kamu bisa melewati cobaan-cobaan yang datang. Kebanyakan cobaannya bersifat finansial. Semuanya berubah dalam 10 tahun terakhir. Kita bergeser dari dunia rilisan fisik ke dunia streaming yang tidak banyak membawa pendapatan. Jumlah orang yang mengonsumsi musik via streaming mungkin bertambah banyak, tapi angka pembelian rilisan fisik jatuh secara dramatis. Harus ada penyesuaian besar-besaran. Banyak label membuat kesalahan memperbesar bisnis setelah meraup sukses. Masalahnya kesuksesan tidak diikuti dengan kesuksesan. Ada faktor yang tidak bisa terlihat. Saya enggak tahu kenapa satu rilisan sukses dan lainnya enggak. Maka dari itulah, saya enggak pernah melihat angka penjualan, itu tidak menarik bagi saya. Mengeluarkan rilisan, itu kesuksesan. Memiliki band dalam roster yang senang dan puas, dan punya hubungan baik denganmu, itu kesuksesan.

Banyak sekali masa-masa sulit dalam 21 tahun ini. Sempat juga saya kepikiran untuk memulai dari nol lagi, dengan label baru, nama baru, masih bebas stres, belum ada utang-utang. Tapi kemudian saya sadar sudah bekerja sangat keras mendirikan label ini. Kamu tidak bisa menyerah hanya karena satu hal buruk terjadi. Misalnya ketika distribusi kami hancur pada 2008, ketika Fleet Foxes sedang besar-besarnya. Wah itu bencana sih, saya kehilangan ratusan ribu poundsterling. Buat label kecil, dampaknya besar sekali. Tapi ya seperti yang saya bilang, saya sangat keras kepala. Bisnis musik itu sangat sulit. Mulailah dari bawah dan bersenang-senang. Enggak usah stres tentang duitnya dan begitulah prinsip saya menjalankan label ini. Jadi ya begitulah, sudah 21 tahun, label saya masih bertahan dan saya enggak tahu alasannya.

Ketika merekrut sebuah band, apa yang kamu lihat?
Musiknya justru bagian paling belakangan, itu sih gampang. Kamu bisa saja memainkan saya lagu sekarang dan saya langsung terpukau. Tapi kalau ternyata bandnya orang-orangnya rese, atau mereka menganggap saya gak asik, ya hubungannya gak akan bertahan lama. Semuanya tentang hubungan. Dan ini sesuatu yang tidak saya sadari ketika memulai label. Tentu saja musik tetap yang paling penting, karena tanpanya tidak akan ada percakapan ini, tapi musik hanyalah satu bagian dari semuanya. Suksesnya datang dari hubungan kedua belah pihak. Kadang kamu akan membuat keputusan yang benar, kadang salah. Tidak akan selalu sempurna. Kadang bandnya harus berani buka mulut ketika saya yang salah, dan kadang saya harus jujur ketika keadaan sedang tidak baik. Dengan cara itulah kita bisa saling mengerti dan hubungannya bertumbuh. Sama persis kayak hubungan dua orang dewasa lah. Begitulah saya ingin Bella Union dioperasikan, bukan hanya semata transaksi bisnis antara saya dengan kamu. Kalau tidak seperti itu, saya enggak akan mau repot-repot menjalankan label ini.

Kamu sempat merilis Jambinai, band asal Korea. Gimana ceritanya kamu bisa mendengar tentang mereka? Apakah kamu mengikuti perkembangan musik di Asia, khususnya Asia Tenggara?
Saya nonton Jambinai di bagian dari festival Primavera di Eropa. Mereka keren banget, jadi saya telusuri lebih lanjut. Saya mengontak booking agentnya, ngobrol dengan bandnya, bla bla bla. Sama persis kok dengan proses saya merekrut band lainnya. Enggak penting apakah band itu dari Seoul atau Jakarta. Yang penting itu pengalamannya, saling mendengarkan, dan hubungan antara kedua belah pihak. Salah satu alasan saya datang ke Indonesia ya karena saya belum pernah ke sini. Saya di sini selama seminggu jadi pasti bisa ketemu banyak orang, nonton beberapa acara musik, dan pulang ke rumah dengan koper penuh dengan cd, vinyl dan kartu download. Kemudian nanti pelan-pelan saya dengarkan dan siapa tahu ada yang nyangkut secara emosional atau spiritual. Saya sempat nonton beberapa band di Synchronize festival, ada yang bagus, ada yang biasa aja. Di Bandung juga sempet lihat beberapa musisi yang menarik. Apakah ada yang saya ingin rekrut? Entahlah. Mungkin enggak sekarang. Tapi yang terpenting adalah saya di sini, bertemu banyak orang, itu yang penting.

Di negara Barat, di Inggris, semuanya sangat nyaman. Masyarakatnya kebanyakan kelas menengah. Memang masih ada kemiskinan, masih ada gelandangan, tapi semua orang kurang lebih aman. Di sini, kondisinya jauh lebih sulit bagi banyak orang. Masalahnya, pengetahuan kami tentang scene musikmu hampir tidak ada sama sekali karena yang kami baca tentang Indonesia hanyalah gempa bumi, tsunami, pokoknya hal-hal yang tidak melambangkan kehidupan kalian sehari-hari. Bukan tentang gairah kalian, keyakinan kalian. Lantas bagaimana kami akan belajar kalau informasi ini tidak bisa ditemukan di sekitar kami, lewat media-media barat? Salah satu alasan kami datang adalah kesempatan untuk mengubah hal itu. Apakah itu artinya saya akan merekrut band Indonesia? Mungkin, saya harap begitu. Tapi saya tidak akan tahu hingga saya mendengar lebih banyak musik dari kalian. Setelah saya suka musiknya, saya harus suka dengan orangnya, kemudian ngobrol dengan manajernya, dan mungkin sampai tim pengacaranya. Barulah nanti kita bisa membicarakan kesempatan kerja sama. Ini proses yang panjang. Sayangnya, ini bukan hanya soal musiknya doang. Tidak semudah itu.

Ini pertama kalinya kamu diundang ke Asia Tenggara? Gimana ceritanya dan bagaimana pengalaman kamu di Indonesia sejauh ini?
Saya ketemu Teguh [Wicaksono, pencetus Archipelago Festival-red] beberapa kali sebelumnya. Dia mewawancarai saya di London 3-4 tahun lalu dan sempet ketemu lagi setelah itu. Tapi dia sama sekali enggak cerita tentang Indonesia atau musik negaramu. Dia cuman nanya-nanya tentang label saya. Jadi hubungannya satu arah doang, haha... Nah mengingat dia terlibat dengan festival ini, mungkin dia berpikir mengundang saya sebagai bentuk timbal balik. Saya sama sekali tidak sadar banyak orang di sini yang suka label dan band saya. Saya baru diceritain begitu kemaren. Ini menarik dan saya penasaran bagaimana ini bisa terjadi. Enggak setiap hari ada orang mengantri untuk ngobrol dan minta foto-foto denganmu. Pengalaman sehari-hari saya normalnya enggak kayak gitu. Biasanya mana ada yang kenal saya, dan itu justru enak. Tapi di sini, situasinya berbeda. Sangat tidak terduga.

Saya menghabiskan beberapa hari di Bandung dan bertemu sekitar 100 orang, dan mereka semua luar biasa. Saya mendengarkan kisah mereka, kenapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan, sepak terjang komunitas-komunitas, mulai dari metal, punk hingga elektronik yang aneh-aneh. Apakah saya tergugah secara musikal, itu belum saya proses. Tapi dari sudut edukasi, sudah pasti. Luar biasa rasanya bertemu dengan orang-orang dari belahan dunia lainnya. Itu jauh lebih penting daripada apakah sekarang saya hendak merekrut band dari sini atau tidak. Sekarang saya mulai ada kesadaran tentang apa yang terjadi di sini. Indonesia kan negara besar, aneh kalau tidak ada musik yang keren dari sini. Masalahnya terletak di aksesnya. Tidak pernah ada orang yang mengirimkan saya materi band Indonesia manapun. Saya tidak punya hari kosong kemudian berpikir ‘wah hari, ini dengerin musik dari Malaysia, atau Indonesia, atau Cina ah!’ Saya lebih sering bereaksi daripada proaktif karena label saya besar padahal staf dan sumber dayanya sedikit, jadi hari-hari saya sangat sibuk. Kalau kamu kirimkan saya sesuatu, akan saya dengarkan. Tapi apakah saya akan mencari sendiri? Kemungkinan enggak.

Band-band seperti My Bloody Valentine dan Slowdive pada reunian beberapa tahun terakhir dan bahkan merilis materi baru. Apakah pernah ada diskusi tentang reuni Cocteau Twins? Apakah hubungan kalian semua baik?
Kami enggak pernah ngomongin itu karena kesibukan masing-masing. Dan Cocteau bubar karena hubungan Robin dan Liz yang tidak baik. Jadi mau orang cuap-cuap kayak apa juga, hubungan mereka enggak akan sembuh dengan sendirinya. Untuk bisa menghidupkan kembali sebuah band, kita semua mesti legowo dan bersikap ‘ya udahlah, lupain aja yang sudah lewat, mari main musik dan cari duit’. Tapi itu prakteknya susah apalagi ketika orang-orang yang terlibat lumayan emosional dan sensitif. Tur bareng orang yang tidak kamu sukai selama tiga bulan itu repot lho, hahahaha...

Apakah kamu pernah dapat tawaran?
Sudah pasti. Beberapa tahun lalu kami sempat mempertimbangkan ketika diajak oleh lelaki yang sukses membangkitkan The Pixies. Dia teman kami, dan dulu pernah jadi booking agent kami. Tapi kemudian itu tidak pernah terjadi. Apakah menurut saya reuni ini akan terjadi? Sekarang sih enggak. Apakah saya sebel faktanya seperti ini? Enggak juga. Apakah reuni Cocteau Twins akan menyenangkan? Belum tentu juga. Saya suka dengan proyek musik saya sekarang karena suasananya menyenangkan.

Band baru kamu Lost Horizon maksudnya?
Iya. Menyalurkan gairahmu dengan orang-orang tersayang. Kami semua akur dan bersenang-senang. Reuni Cocteau Twins belum tentu bisa seperti ini. Hidup itu lucu, jadi minggu depan bisa saja jawaban saya berbeda. Tapi sekarang sih, kayaknya reuni enggak akan terjadi dan saya juga enggak tertarik mewujudkannya. Bukan ide yang bagus sepertinya. Bagi penggemar, tentu saja itu ide bagus. Ada beberapa generasi pendengar yang enggak pernah menonton kami manggung. Ya sama bagaimana saya enggak pernah nonton Talking Heads manggung. Saya pengin banget mereka reunian, tapi itu tidak akan terjadi, hahaha... Jadi kalau saya bisa menerima itu, kalian juga harus bisa menerima kalau Cocteau mungkin tidak pernah akan balikan.

Gimana rasanya mulai main musik lagi?
Perasaan paling adem di dunia. Saya tidak mengira akan manggung lagi karena proyek kami ini aneh dan semuanya musik improvisasi antara dua orang, dan melibatkan 15 vokalis yang berbeda. Bagaimana ini bisa diterjemahkan ke dalam aksi panggung live, saya enggak tahu, tapi toh nyatanya kejadian juga. Kami sudah tur selama setahun dan setiap acara rasanya seru banget. Kami semua dari latar belakang yang berbeda. Saya, Chris dan Ritchie sudah berumur 50-an. Jadi isi bandnya tiga bapak-bapak tua dan beberapa anak muda. Saya enggak menyangka bakal merilis album segala! Kalau kami berhenti di sinipun, saya sudah puas karena sempat melakukan itu semua.