Iklan
Pilkada Serentak 2018

Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Pilkada 2018 Sebagai Modal Pemenangan Para Aktor Utama Pilpres

Seberapapun jauh elektabilitas calon kesayanganmu dibanding Joko Widodo, jangan menyerah. Harapan itu masih besar dan nyata.

oleh Sattwika Duhita
29 Juni 2018, 11:01am

Joko Widodo dan Prabowo Subianto nanti kuda bersama di kediaman Prabowo di Bogor. October 31, 2016. Antara Foto/Puspa Perwitasari/via REUTERS 

Pilkada serentak yang kemarin baru terlaksana tak ubahnya piala dunia 2018, penuh kejutan dan plot twist. Di Piala Dunia, tim juara bertahan yakni Jerman malah pulang duluan karena keok lawan Korea Selatan. Ini seperti kekalahan calon wali kota Makassar Munafri Arifuddin yang kalah lawah kotak kosong padahal dia disokong partai-partai besar ditambah ia dekat pula dengan elit-elit politik di tingkat pusat.

Hasil hitung cepat telah memberikan pada kita sedikit gambaran akan peta politik terkini yang teramat wajib dipantengin oleh para tim sukses dan juga simpatisan kandidat RI 1 yang akan bertarung di pemilihan presiden 2019 mendatang.

Lantas apa saja pelajaran yang bisa kita petik dari pesta demorasi pemilihan kepala daerah kemarin? Berikut kami petik beberapa pelajaran yang barangkali dan mudah-mudahan bermanfaat bagi calon presiden, tim sukses, simpatisa, ataupun handai taulan masyarakat awam sekalian:

1. Dinasti Politik Makin Tak Laku

Ini peringatan keras bagi AHY alias Agus Harimurti Yudhoyono yang jelas-jelas membawa nama bapaknya ke mana-mana: dinasti ternyata tak laku-laku amat di pilkada serentak 2018. Entah orang sudah capek atau sudah jengah dengan keluarga-keluarga yang berusaha terus berkuasa, yang jelas perwakilan-perwakilan dinasti di pilkada 2018 banyaknya gagal menang.

Tiga provinsi yang jadi medan kekalahan dinasti adalah Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan. Di tiga tempat itu, anak-anak serta keponakan dari gubernur terdahulu kalah oleh calon-calon non dinasti. Ini membuktikan menjadi anak pembesar atau pejabat tak serta-merta membuat orang jadi tertarik memilih.

Jadi saran bagi Agus Harimurti -yang lagak-lagaknya berniat membangun poros ketiga pada pilpres 2019 nanti- sebaiknya mulai dari sekarang ia menjaga jarak dari bapaknya yang mantan presiden itu. Atau sebaiknya jika mau berkampanye, harus mulai lebih mandiri, jangan apa-apa bapaknya yang bicara. Apa-apa, bapaknya lah yang nge-twit. Dan saran bagi bapaknya, mulailah memberi kepercayaan lebih pada anaknya untuk pergi ke mana-mana sendiri.

2. Partai Pepesan Kosong''

Sama sekali bukan informasi baru jika rakyat makin ke sini makin tak percaya partai. Lucunya, di pilkada kali ini ketidakpercayaan yang selama ini tak kasat mata menjadi nyata. Di Makassar, pasangan calon satu-satunya, Munafri Arifuddin – Andi Rahmatika Dewi, perolehan suaranya tak lebih dari 50% alias kalah dari kotak kosong. Wkwkwk…

Padahal modal politik dan logistik Munafri kuat betul. Pencalonannya didukung oleh 10 partai, plus ia adalah seorang penggede di Makassar. Tapi terlalu gegabah begitu saja menyalahkan partai. Mungkin kekalahan ini sebabnya karena Munafri dianggap sebagai perwakilan dinasti. Ia adalah keponakan dari Aksa Mahmud, taipan dari Indonesia timur yang jadi pemilik kerajaan bisnis Bosowa. Aksa Mahmud tak lain dan tak bukan adalah adik ipar dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Melihat jejaring kekerabatannya yang begitu dekat dengan elit penguasa, sulit menduga Munafri kekurangan sokongan logistik.

Dari pilkada di Makassar, calon presiden yang bertarung di 2019 nanti bisa belajar bahwa kerja sama antar partai belum tentu membuahkan suara. Terlebih bagi para pemilih citra personal ketimbang partai yang berada di balik sosok tersebut, sebagaimana disampaikan pengamat politik LIPI Wasisto Raharjo Jati. “Kapitalisasi figur menjadi salah satu faktor yang naik daun dalam pemilu 2018 ini,” katanya.

3. Swing Voters = Plot Twist

Pilkada Jawa Barat, provinsi dengan penduduk terbanyak di Indonesia (31,7 juta), jadi contoh bahwa yang namanya plot twist alias tikungan cerita yang tak terduga bisa terjadi. Pasangan PKS Sudrajat-Syaikhu, yang oleh kebanyakan lembaga riset elektabilitasnya dinyatakan selalu di bawah 10 persen, tiba-tiba saja melejit hampir menyamai perolehan Ridwan Kamil.

Si pasangan underdog Sudrajat-Syaikhu tiba-tiba Cuma selisih 3 persen dari Kang Emil yang memperoleh 32,54 persen suara versi hitung cepat. Konon peningkatan suara yang meroket itu berkat balabantuan swing voters, alias para peragu yang sampai hari pencoblosan masih ragu memilih siapa.

Dalam hal pilpres 2019, si underdog tentu saja adalah kubu Prabowo Subianto yang elektabilitasnya kini tertinggal jauh dengan Joko Widodo. Maka saran bagi Prabowo untuk mempersengit kompetisi perebutan kursi RI 1 tahun depan adalah fokus pada peragu-peragu itu, goyahkan lalu yakinkan mereka, maka niscaya plot twist akan tercipta.

4. Jangan lupa #endorse sis

Pilkada tahun ini akan menjadi kunci penting dalam memainkan kampanye endorsement calon tahun depan. Calon-calon yang maju, berhubung suasana sudah panas karena akan ada pilpres, jadi ikut bawa-bawa nama capres pilihan mereka ketika berkampanye. Untungnya bagi si capres, calon-calon kepala daerah ini potensial ‘menentukan’ arah suara masyarakat di pilpres mendatang. Apa lagi jika menang mereka punya kekuasaan jaringan sampai ke semua daerah yang bisa digalang untuk membantu pemenangan, terlepas dari adanya keharusan pejabat pemerintah mesti netral.


Tonton dokumenter VICE Indonesia mengenai bagaimana pilkada Jakarta 2017 memicu sentimen ras dan agama parah yang melukai bangsa ini hingga jangka panjang:


“Pemilih akan memilih kandidat yang punya ikatan dengan dirinya. Misalnya, mereka yang memilih Ridwan Kamil kemungkinan besar akan memilih Jokowi di 2019 mendatang karena mengikuti pilihan presiden Emil. Atau yang memilih Sudirman Said di Jawa Tengah akan cenderung memilih Prabowo. Ini karena ada latar belakang partai dan dukungan yang diberikan oleh kepala daerah itu sendiri kepada calon di 2019,” kata pengamat politik LIPI Wasisto Raharjo Jati

5. Apakah ini artinya Prabowo Baiknya Menyerah Saja?

Tentu saja tidak. Tagar #2019GantiPresiden ternyata masih ramai dipakai dan berhasil menuai simpati, contohnya pada pilkada Jabar. Plot twist masih dimungkinkan terjadi. Di pilkada 2018, banyak pula hasil-hasil tak terduga, sebagaimana diceritakan tadi soal politik dinasti. Bisa saja kejadian tak terduga terjadi pula di pilpres 2019 nanti.

Dan kalaupun Prabowo kalah 2019 nanti, ia bisa mencontoh kegigihan yang ditunjukkan oleh Khofifah Indar Parawansa, kandidat yang unggul di pilgub Jawa Timur setelah tiga kali mencoba mencalonkan diri. Pelajarannya bagi Prabowo, jika kalah dua kali, maka coba dan cobalah lagi, siapa tahu di percobaan ketiga bisa berhasil seperti Khofifah.

Positifnya, lawan bebuyutan Prabowo kini, yakni Jokowi, tak lagi bisa maju karena sudah menjabat dua periode. Saran kami, jaga-jagalah kesehatan dan yakinlah Indonesia belum mendekati bubar.