Iklan
Pilkada Serentak 2018

Salah Satu Dinasti Politik Terbesar di Indonesia Kalah di Pilkada Sulawesi Selatan

Calon gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah-Andi Sulaiman, unggul telak mengalahkan kandidat lain. Padahal pesaingnya berat, ia berhadapan dengan dinasti politik Yasin Limpo dan juga petinggi Golkar Nurdin Halid.

oleh Ananda Badudu
27 Juni 2018, 2:47pm

Warga menyumbang suara dalam Pilkada Serentak 2018 di Sulsel. Semua foto oleh Eko Rusdianto.

Hasil hitung cepat sudah keluar dan untuk pilkada Sulawesi Selatan, hasilnya mencolok. Calon nomor urut tiga, Nurdin Abdullah-Andi Sulaiman, keluar memimpin dengan perolehan suara quick count versi SMRC sebesar 43,15%. Si profesor -gelar yang sering digembar-gemborkan dalam kampanye pencalonannya- semakin dekat untuk naik tingkat dari Bupati Bantaeng jadi Gubernur Sulawesi Selatan.

Nurdin Abdullah-Andi Sulaiman berhasil mengungguli pasangan lain yang lebih senior dan lawas dalam perpolitikan. Keunggulannya mengalahkan pamor Nurdin Halid, eks narapidana korupsi yang akrab dengan elit-elit nasional Golkar. Ia juga mengungguli Ichsan Yasin Limpo, yang meski maju tanpa dukungan partai apapun, merupakan perwakilan dari dinasti keluarga Yasin Limpo.

Pendek kata, Nurdin Abdullah berhasil mengungguli gembong Golkar dan juga gembong dinasti Yasin Limpo yang telah berkuasa di Sulawesi Selatan sejak 2008.

selebaran kampanye pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sulaiman

Lantas siapa sebenarnya Nurdin Abdullah?

Sebelum menjadi bupati Bantaeng di tahun 2008, ia mengaku diri sebagai seorang newbie dalam perpolitikan. Ia tak pernah sekalipun bekerja di pemerintahan sebelum terpilih pada 2008. Ia adalah seorang profesional yang mendaku diri sebagai seorang akademisi. Maklum, ia belajar soal agrikultur hingga jenjang doktor di universitas Kyushu, Jepang. Ia juga banyak mengajar di Unhas, dan mendapat gelar profesor di sana.

Setelah menjadi bupati, ia menerapkan sejumlah kebijakan nyeleneh yang menarik simpati, mirip seperti yang dilakukan Joko Widodo dulu saat jadi wali kota Surakarta. Salah satunya, ia minta agar pejabat pemerintahan di Bantaeng jangan pakai sepatu pantofel yang bagus mengkilat, karena dikhawatirkan membuat mereka emoh blusukan, takut sepatunya kotor.

Nurdin Abdullah juga melarang pejabat pemda menggunakan mobil mahal untuk dinas. Buat pejabat sekelas kepala dinas, ia minta pakai mobil Avanza saja. Sementara dia, cukuplah Kijang Innova. Untuk mencoblos pagi tadi pun ia jalan kaki ke TPS, kontras berbeda dengan Nurdin Halid misalnya yang datang ke TPS diantar sopir dan ajudan mengendarai Toyota Alphard berwarna putih.

Pada Pilgub kali ini, Nurdin didukung oleh partai-partai yang di tingkat pusat saling bersaing dan tak harmonis, yakni PDI P, Gerindra, PKS, PAN, dan PSI. Dalam sebuah wawancara di Mata Najwa, Nurdin Abdullah ditanya perihal ketertarikannya menjadi pejabat teras partai politik. Bahkan ada partai yang menawarkannya menjadi ketua. Dalam wawancara itu Nurdin menjelaskan ia mentah-mentah menolak bahkan tak berminat masuk partai.

“Saya sekolah tinggi-tinggi ke Jepang, masak pulang jadi Ketua Partai?”

Meski tak simpatik pada partai, terlalu naif melihat Nurdin Abdullah sebagai orang yang polos dalam berpolitik. Waktu 10 tahun jadi bupati lebih dari cukup untuk mengangkat dia dari seorang newbie politik jadi politisi yang paham intrik. Manuver politik pada Pilgub 2018 yang dilakukan Nurdin Abdullah kemarin lumayan ekstrem.

Sebelum berpasangan dengan Andi Sulaiman, wakilnya saat ini, ia pernah mendeklarasikan akan maju dengan Tanribali Lamo. Di tengah jalan, sebagaimana ditulis Koran Kompas, Nurdin tiba-tiba pindah memilih berpasangan dengan Andi Sulaiman, adik Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Padahal pasangan Nurdin-Tanribali telah direstui oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Kandidat Gubernur Agus Arifin Nu;mang saat hendak memasukkan surat suara. foto oleh Eko Rusdianto

Satu hal besar yang jadi titik lemah Nurdin Abdullah pada pencalonan kemarin adalah tingkat kemiskinan Bantaeng yang naik di masa pemerintahannya. Hal ini juga sempat jadi peluru yang digunakan Ichsan Yasin Limpo mengkritisi Nurdin dalam debat kandidat.

Mendapat pertanyaan seperti itu dari Ichsan, layaknya pejabat, Nurdin ngeles dengan menyalahkan data. Ia mengaku keberhasilannya memimpin adalah penilaian rakyat. “Datanya yang harus kita evaluasi. Karena jalanan di Bantaeng bagus,” jawab Nurdin Abdullah.

Masalah kemiskinan ini tak hanya buruk di atas kertas. Beberapa bulan lalu kita ingat ada kasus pernikahan anak di bawah umur di Bantaeng yang viral jadi isu nasional. Pemicunya? Kurangnya pendidikan dan juga kemiskinan.

Melihat semua prestasi dan juga titik lemah itu, Wakil Direktur LBH Makassar Muhammad Haedir tak begitu terkesima. Di Mata Haedir, semua calon gubernur Sulsel sama saja. Sekarang kita lihat semua calon, bagaimana Visi dan Misi semua calon, tidak ada yang bicara mengenai bantuan hukum. Bicara keadilan hukum tidak ada sama sekali,” kata Haedir. Ia melihat calon-calon yang ada juga tak hirau akan isu hak azasi manusia juga pemenuhan hak-hak buruh. “Jadi saya kira siapapun yang terpilih akan sama saja. terulang kembali seperti sebelumnya.”

Ichsan Yasin Limpo diwawancara wartawan usai pencoblosan. Foto oleh Eko Rusdianto

Lalu apakah keunggulan Nurdin Abdullah juga berarti akhir dari klan Yasin Limpo. "Enggak, sama sekali enggak," kata Direktur Eksekutif Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Syamsuddin Alimsyah. "Memang mereka kehilangan posisi strategis sebagai gubernur, tapi kan masih banyak yang lain. Anaknya Gubernur terdahulu Syahrul Yasin Limpo ada yang anggota DPR. Ponakannya ada yang bupati. Dan saudara-saudaranya jadi komisaris di banyak perusahaan. Jadi masih akan berlangsung dan bisa kembali lagi di Pilgub berikutnya," kata Syamsuddin.

Analis Kebijakan Publik Universitas Negeri Makassar Risma Niswaty mengatakan Nurdin Abdullah terbantu banyak oleh kejenuhan publik Sulawesi Selatan akan dinasti yang dominan mewarnai iklim politik lokal. Publik Sulsel ingin perubahan, bersamaan dengan itu ada calon yang menjanjikan. “Momen itu pas bertemu di satu titik,” kata Risma. “Ditambah lagi banyak permasalahan kota seperti macet, banjir, dan lambatnya birokrasi. Jadi semua itu bertemu.”

Publik Sulsel menurut Risma juga tak begitu mempermasalahkan partai yang mendukung para calon, juga nama-nama besar di belakang kandidat. Partai dan nama besar di belakang mereka tak serta-merta menjamin publik akan memilih mereka. “Buktinya di Makassar, calon wali kota didukung Jusuf Kalla, tapi yang menang kotak kosong,”katanya.

Risma mengatakan Nurdin Abdullah diuntungkan juga oleh situasi karena warga Sulsel ingin mencoba wajah baru dalam pemerintahan provinsi, itulah sebabnya ia unggul dalam hitung cepat kali ini.

Eko Rusdianto berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Tagged:
Makassar
Sulawesi Selatan'
profesor
Pilkada
nurdin halid
jusuf kalla
Sulsel
piilkada
Nurdin ABdullah
Amran