Iklan
Konflik Papua

Kisah Gereja Jadi Tempat Berlindung Warga Muslim Saat Kerusuhan Wamena

Mendapati bahwa perusuh tak berani masuk gereja, para tokoh gereja membantu menyembunyikan warga muslim pendatang di rumah ibadah itu.

oleh Ikhwan Hastanto
07 Oktober 2019, 8:46am

Suasana kerusuhan di Wamena pada 23 September 2019. Foto oleh Vina Rumbewas/AFP

Tokoh Gereja Baptis Wesaroma pasang badan untuk melindungi warga muslim dan pendatang yang menjadi sasaran kerusuhan saat huru-hara terjadi di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, sejak 23 September. Amuk di kota itu menyebabkan 32 orang meninggal serta rusak dan terbakarnya 787 bangunan, 122 mobil, dan 101 motor.

Gereja berjasa besar menahan angka korban tewas tidak bertambah ketika tegas memilih kemanusiaan ketimbang perbedaan kepercayaan.

"Pada 23 September 2019 terjadi kerusuhan, sebagian kami selamatkan di gedung ibadah, sebagian kami lindungi di belakang rumah saya, dan sebagian mereka dilindungi di rumah Hengky Yikwa, anggota Jemaat Baptis dan juga anggota DPRD Mamberamo Tengah," ucap Simet Yikwa, tokoh gereja, dikutip Suara.

Simet dianggap berkhianat karena ketahuan melindungi keluarga muslim. Ia mengaku sempat diteriaki sebagai kelompok Barisan Merah Putih oleh perusuh. Setelah bertahan dari cercaan massa selama lima jam, seluruh pengungsi langsung dievakuasi TNI ke markas Kodim Wamena. Aksi kemanusiaan ini berhasil menyelamatkan sedikitnya 370 keluarga muslim pendatang dari ancaman perusuh.

Selain Gereja Baptis Wesaroma, perlindungan atas kaum muslim dan pendatang juga terjadi di Gereja Baptis Walani. Tidak ada berita pasti mengenai berapa orang yang berlindung di sana, namun Bendahara Gereja Walani Yafet Wakur mengatakan semua yang mengungsi dipastikan selamat.

Durasi mengungsi lebih lama dialami suami istri warga Sampang di Wamena bernama Nasir (55) dan Rohmah (45). Keduanya telah 12 tahun tinggal di Wamena dan sehari-hari bekerja sebagai pedagang ayam. Menurut pengakuan Rohmah, ia dan suaminya harus mendekam di gereja berhari-hari sebelum akhirnya dijemput aparat TNI untuk dibawa ke Kodim.

“Ngeri bagaimana sekelompok orang yang tak dikenal datang membawa parang dan bahan bakar langsung melukai dan membakar warga yang ditemuinya. Saat terkepung massa itu kami berada di dalam rumah. Kami menerobos pagar belakang rumah kemudian lari. Saya lihat bagaimana rumah saya dibakar massa. Setelah itu kami nekat menyeberangi sungai menuju sebuah gereja. Kami sembunyi di sana (gereja). Di dalamnya sudah ada banyak orang. Semua, Islam, Kristen, campur,” ungkap Rohmah, dilansir Okezone.

Ketua Dewan Adat Papua Domi Sirabut mengaku gereja merupakan tempat pengungsian darurat paling aman dari kerusuhan karena ternyata para perusuh tidak berani merusak dan membakar gereja. Domi dan pengurus Gereja Katolik Bunda Maria di pinggiran Wamena turut mengevakuasi kurang lebih 25 korban kerusuhan yang mayoritas muslim. Bersama pengurus gereja dan para calon pastor, ia pasang badan berjaga di depan gereja untuk mengadang perusuh yang mengincar pengungsi.

"Massa tidak berani minta yang kami lindungi karena sudah di dalam gereja. (Yang mengungsi) ada pendatang, ada guru-guru, ada juga tenaga medis," kata Domi kepada Republika. Hampir 24 jam dihabiskan pengungsi di dalam gereja tersebut sebelum aparat menjemput untuk diamankan ke tempat pengungsian.

Presiden Persatuan Gereja Baptis Papua Dr. Socratez S. Yoman menjelaskan, penyelamatan yang dilakukan tokoh gereja adalah bentuk penegasan bahwa musuh yang harus dilawan bukanlah penduduk asli, pendatang, Kristen, ataupun muslim. Menurutnya, yang paling utama harus diberantas adalah rasisme, berita kebohongan, dan kekerasan atas nama agama.

Tagged:
indonesia
hoax
Papua
Kisah Inspiratif
Gereja
Kerusuhan
Papua Barat
Toleransi