Best Of 2019

Deretan Cerita Terbaik VICE Indonesia Sepanjang 2019

Redaksi menyusun kompilasi artikel paling berkesan dan berdampak luas. Mulai dari melacak pemicu bencana asap, hingga menguak problem kekerasan seksual yang amat laten di berbagai kampus.

oleh VICE Staff
04 Desember 2019, 10:09am

Kolase oleh VICE. Kredit foto tersedia di masing-masing artikel yang ditautkan.

Tiba-tiba 12 bulan kembali berlalu begitu saja, dan VICE tanpa terasa sudah tiga tahun menemani pembaca di Indonesia.

Berbagai hal terjadi sepanjang 2019 yang nyaris berakhir ini—tak sedikit peristiwa dapat membuat kita depresi. Apalagi jika kalian anak muda yang tinggal di Indonesia. Pemerintah membuat bermacam kebijakan menyebalkan, yang dapat mengancam masa depan demokrasi, kebebasan individu, serta pemberantasan korupsi (sehingga ratusan ribu anak muda memberanikan diri turun ke jalan); kerusakan lingkungan tak kunjung serius ditangani; ditambah YouTube kian hari kian diisi berbagai konten menyebalkan.

Untunglah, tentu saja, hidup bukan sekadar semua yang membuat kita frustrasi. Ada banyak harapan, berbagai kisah menarik, serta kepedulian dan aksi nyata bahwa dunia yang lebih baik dapat kita ciptakan bersama. VICE Indonesia berusaha merekam serba-serbi tersebut lewat artikel-artikel yang kami publikasikan. Baik itu laporan budaya, isu perkotaan, lingkungan, politik, hingga shitposting sekalipun—semua dengan semangat melayani anak muda, segmen pembaca terbesar kami.

Tiap hari kami sebisa mungkin menawarkan pada kalian cerita yang tak bisa kalian dapatkan di situs lain. Cerita-cerita kaya warna, yang menantang tabu, yang mengguncang konservatisme, yang memperkaya hidup dan perspektif semua orang. Syukurlah kerja keras tersebut perlahan terbayar, baik dari sambutan antusias publik membaca dan menonton video kami, hingga keberhasilan VICE Indonesia meraih penghargaan jurnalistik bergengsi the Society of Publishers in Asia (SOPA) untuk kategori liputan tema lingkungan terbaik, saat kami mendatangi Mentawai.

Sebagian cerita paling menarik yang kami terbitkan bersumber dari jaringan freelancer. Tim VICE sendirian saja mustahil bisa memperoleh akses terhadap berbagai peristiwa, sosok, ataupun mitologi menarik tanpa bantuan kontributor yang tersebar di seluruh Indonesia. Maka, jika kalian termasuk dalam jejaring kontributor tersebut—mulai dari jurnalis, fotografer, hingga videografer lepas—yang telah menghadirkan beragam cerita ini untuk pembaca sekalian, redaksi mengucapkan beribu terima kasih.

Berikut beberapa sepilihan laporan terbaik, yang menurut kami sayang sekali bila sampai pembaca lewatkan sebelum 2020 menjelang:

Indonesia menggelar pemilihan umum serentak tahun ini, menggabungkan momen pemilihan presiden dan anggota legislatif untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Ketika semua orang membicarakan siapa yang harus dipilih jadi RI-1, antara Jokowi atau Prabowo, VICE mencoba menilik pemilu legislatif yang jarang dilirik. Kenapa politikus kita di parlemen berulang kali terpergok korupsi? Liputan kami ini turut menggambarkan penyebabnya. Sebab biaya maju menjadi kandidat sangat mahal. Bahkan, ongkosnya bisa lebih mahal dari harga rumah.

Tak heran bila politikus yang gagal terpilih rentan mengalami depresi. Di negara yang masih abai pada ilmu psikologi klinis macam Indonesia, paranormal lebih dipercaya buat menawarkan solusi. Mereka bilang, calon anggota DPR yang kalah menjadi linglung akibat ketempelan jin dan perlu diruqyah. Baca laporan staff writer kami, Arzia Wargadiredja, yang menggambarkan betapa absurd (sekaligus komikal) lanskap politik Indonesia.

Redaksi VICE juga bergegas menyajikan cerita menarik dan mendobrak tabu, hanya beberapa hari setelah pergantian tahun. Yakni wawancara eksklusif kontributor andalan kami untuk isu LGBTQ, Amahl S. Azwar, bersama Fabio Toba. Sosok bintang porno gay asal Indonesia yang kini bermukim di Jerman. Kisah hidupnya menerbitkan harapan, bahwa minoritas seksual di negara ini tetap bisa berdaya sekalipun gerakan anti-LGBTQ menguat di Tanah Air selama beberapa tahun terakhir. Keberanian Fabio tentunya akan menginspirasi pembaca semua.

Isu lingkungan merupakan salah satu fokus andalan VICE. Ketika bencana tumpahan minyak terjadi di pesisir utara Jawa, tanpa banyak media meliputnya, maka kami bertekad mengirim staff writer terbaik kami: Adi Renaldi. Dalam seri laporan yang dipecah menjadi dua bagian itu, Adi mendapati bila bencana ini selain menghancurkan harapan penduduk, juga penuh persoalan prosedur penangan serius. Proses pengangkutan limbah tumpahan minyak berlangsung alakadarnya, membahayakan petugas, dan tak ada transparansi dari semua pihak terkait atas pengelolaannya.

Cerita paling berkesan lainnya kembali datang dari kontributor kami. Titah AW, penulis lepas yang amat berbakat dari Yogyakarta, mendatangi sebuah desa legendaris bernama Kampung Pitu. Itu nama sebuah desa di puncak timur situs gunung api purba Nglanggeran, DIY, di ketinggian 740 meter di atas permukaan laut. Kampung Pitu begitu terpencil dan berbahaya, hingga cuma ada tujuh keluarga yang mendiami desa itu selama lebih dari 10 generasi—tentu dengan selubung cerita mistisnya yang sangat menggambarkan realisme magis ala Indonesia.

Bencana asap yang bermula dari Indonesia selama bertahun-tahun meneror negara tetangganya. Permasalah lingkungan ini seakan ditakdirkan terus terjadi. Kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan itu senantiasa meluas, dan berujung pada semua pihak saling menyalahkan. Tapi VICE selangkah lebih jauh, kontributor kami Hendra B dari Jambi, dibantu Ardyan M. Erlangga melacak pelakunya. Sebab kebakaran hutan itu tidak terjadi begitu saja karena campur tangan alam. Di Indonesia, manusia lah biang kerok yang melahirkan bencana asap. Dari pertemuan kami dengan pelaku pembakaran hutan, dapat disimpulkan bahwa bencana ekologi ini adalah kombinasi tradisi yang problematis, inkompentensi pemerintah, dan kerakusan korporasi.

Seri laporan #NamaBaikKampus adalah hasil kolaborasi VICE Indonesia, The Jakarta Post, dan Tirto.id. Tiga redaksi itu menggabungkan diri untuk menyorot isu penting yang bahkan tidak segera terangkat seusai gerakan #MeToo ramai di berbagai negara. Rupanya butuh penyintas yang berdaya, dan berani menyuarakan pengalamannya, yang akhirnya menggulirkan gerakan besar berbagai kampus Indonesia untuk merespons abainya otoritas terhadap kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi.

Selain Agni, kami berterima kasih pada Meliana—penyintas asal Bali—yang bersedia menceritakan pengalaman pahitnya di hadapan kamera, agar semua pengambil kebijakan serius merespons situasi genting ini. Kami semua yang terlibat dalam laporan ini cukup bangga, karena desakan mahasiswa mulai berbuah manis. Mulai ada kampus di Tanah Air bersedia berbenah dan mengubah kebijakan yang lebih tegas terhadap pelaku kekerasan seksual, agar universitas menjadi ruang aman bagi semua penghuninya. Simak dokumenter panjang kami bagian dari kolaborasi #NamaBaikKampus di tautan ini.

Esai foto menarik selalu menjadi ciri khas VICE. Redaksi di Indonesia juga berkomitmen menghadirkan narasi visual yang kuat untuk membawa pembaca sekalian dalam peristiwa yang unik. Salah satunya adalah tradisi adu kerbau di Toraja, Sulawesi Selatan. Sekalipun kejam, namun kerbau justru dianggap sebagai hewan suci dalam upacara kematian setempat. Dan cara warga menghormati kerbau adalah dengan mengadunya. Fotografer lepas Iqbal Lubis, menangkap momen-momen sureal sekaligus brutal dari ritual tersebut.

VICE sangat peduli pada budaya populer, termasuk seni kitsch yang seringkali diabaikan padahal keberadaannya dekat dengan keseharian anak muda di republik ini. Ilustrasi spanduk pecel lele salah satunya. Di kota-kota besar, warung tenda pecel lele khas Lamongan adalah penyelamat lapar kita semua. Maka kontributor kami, Muhammad Ishomuddin, berjasa besar mengingatkan publik bahwa seni gambar warung kaki lima itu sebenarnya memiliki akar sejarah yang bisa dilacak. Bahkan, Ishom—panggilannya—berhasil mewawancarai sang maestro yang dianggap pelukis warung pecel lele terbaik dalam format '10 Pertanyaan Penting' ala VICE yang ikonik.

Kami juga berusaha menyorot latar munculnya konten viral yang marak diperbincangkan di Internet. Ikhwan Hastanto, penulis kami spesialis isu-isu viral yang sangat prolifik, secara jeli mengangkat satu isu yang amat menarik: mendalami penyebab game Zuma dan Onet bisa sangat populer di kalangan aparatur sipil negara (dan sering jadi bahan meme). Laporan menariknya dapat menjadi gambaran betapa ada aspek budaya menarik yang bisa diulik jika kita meluangkan waktu mendalami sebuah isu yang ramai dibicarakan netizen.

Isu urban seringkali dipotret seragam: seputar kriminalitas dan politik di balai kota-DPRD. Padahal, kota hadir berkat manusia-manusia penghuninya. Kontributor andalan kami dari Jawa Timur, Reno Surya, berusaha menghadirkan lanskap urban dari kacamata manusia. Terkait sejarah pahit mereka, harapan-harapanya, hingga pengelolaannya yang seringkali tanpa konsep. Kompleksitas tersebut dihadirkan Reno melalui penceritaan yang menarik mengenai sebuah bangunan bersejarah di Surabaya, biasa dijuluki 'gedung setan'. Ada sejarah kelam penindasan terhadap etnis minoritas hingga problem hunian layak yang berhasil digambarkan dalam artikel penting tersebut.

Terakhir, VICE selalu menawarkan opini yang bernas dari staf redaksi maupun kontributor. Tantangan seputar keberagaman—baik dari ras maupun agama—ternyata masih menjadi salah satu isu krusial yang tak kunjung berhasil dituntaskan di Indonesia. Karenanya, sangat menyegarkan membaca opini yang amat jujur dari Carissa Atrianty di atas ketika dia membicarakan latar keluarganya yang mencerminkan kebhinekaan Indonesia. Bahwa kondisi yang ideal sebetulnya masih bisa dicapai. Kita hanya perlu terus merawat harapan.