Iklan
Opini

Menelusuri Sejarah Foto Ikonik dari 1999 Membuatku Menyadari Alasan Wiranto Abadi

Foto jumpa pers Wiranto dengan SBY di latar TV membuatku merenungi komposisi elite politik Indonesia dari masa ke masa. Anak muda bilang #ReformasiDikorupsi, masalahnya OrBa memang tak pernah pergi.

oleh Mahisa Cempaka
30 September 2019, 1:30am

Panglima ABRI Jenderal Wiranto (tengah), kini Menkopolhukam kabinet Jokowi, berpidato di televisi pada 18 Oktober 1999. Foto oleh Reuters.

Sejauh yang aku tahu, akun @mouldie_sep yang pertama mengunggah perbandingan foto menggelitik pada Selasa (24/9) pekan lalu. Di hari itu, demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota sedang berlangsung, termasuk aksi #GejayanMemanggil.

Di saat yang sama, Menteri Koordinator Politik, Hukum, HAM Wiranto menggelar konferensi pers di Kantor Kemenkopolhukam yang disiarkan di televisi. Dengan perolehan 21 ribu likes dan 28 ribu retwit, foto ini pantas disebut viral.

Aku, yang masuk kategori millenial tapi tak ingat persis peristiwa semasa Reformasi, penasaran karena tak tahu konteks situasi di foto berwarna sepia sebelah kiri. Kalau yang kanan, aku menonton konferensi persnya dan tahu banget situasi latarnya. Di sebelah Wiranto ada Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian, dan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Letjen (Purn.) Hinsa Siburian.

Teks di twit viral itu berbunyi, "Dua demo besar di Indonesia, yang muncul di TV orang yang sama." Kukira twit itu mau bilang, baik di demo mahasiswa dan pelajar 2019 maupun di demo mahasiswa dan pelajar 1998, orang yang bertanggung jawab atas kebijakan pengamanannya ya Wiranto lagi, Wiranto lagi. Kebayang sih, 21 tahun sudah berlalu, aktivis 1998 sebagian sudah pada jadi pejabat dan berubah ideologinya, sementara Wiranto tetap abadi.

Tapi aku butuh tahu persis, foto sepia itu diambil pas acara apa, Wiranto sedang ngomong apa, dan terutama, ini hal yang paling bikin aku penasaran, siapa sih bapak berwajah "jutek" di belakang Wiranto dan di sebelah SBY itu?

Aku menunjukkan foto itu kepada beberapa kenalan via WhatsApp. Yang kuhubungi mencakup wartawan, sejarawan amatir, dan aktivis ’98 yang yang lumayan ngerti sejarah militer. Mereka kemudian mengajukan sejumlah opsi nama.

"Tyasno Sudarto ya?" kata temanku, editor di satu media online. Aku googling foto Tyasno Sudarto. Enggak mirip. Wajah Tyasno oval, orang yang kucari punya wajah lebih panjang. Habis itu, temanku menyebut satu per satu nama petinggi militer. Tedjo Edhy Purdjiatno? Beda mukanya. Fachrul Razi. Enggak, hidungnya lain. Johnny Lumintang? Bukaaan. Sampai akhirnya temanku nyerah.

Teman kedua, wartawan sekaligus sejarawan militer, menebak orang itu sebagai Syarawan Hamid. Kurasa bukan. Sementara teman ketiga, mantan aktivis ’98 yang menurutku mestinya masih ingat peristiwa tahun-tahun itu menjawab singkat dan lugas: Waduh, enggak tahu.

Gerilya kulanjutkan ke grup WhatsApp teman-teman sealmamater. L.B. Moerdani? tebak satu teman. Terlalu ngawur sampai aku nggak perlu googling buat mencocokkan profil wajah. Arie J. Kumaat? Usul satu teman lain. Beda deh mukanya. Endriartono Sutarto? Bukaaan.

Aku hampir frustrasi memikirkan tulisanku yang bakal mangkrak. Tapi aku terpikir ke pacarku, dia seorang programmer yang di beberapa kesempatan pernah mendemonstrasikan kemampuan googling yang menurutku jago banget dan enggak bisa aku tiru. Kepadanya aku minta tolong mencarikan siapa yang pertama menyebarkan foto sepia itu di Internet.

Dia tidak berhasil membuatku menemukan nama tentara misterius itu, tapi ada clue penting yang aku dapat darinya. Petunjuk itu adalah video yang memuat footage konferensi pers jadul Wiranto itu. Aku jadi tahu, foto itu diambil dari video konpers Wiranto saat mengupdate masalah Timor Timur. Artinya, sejarawan yang mendalami isu itu barangkali bisa menjawab.

Untunglah aku teringat peneliti militer Aris Santoso yang sering menulis di Tirto.id termasuk untuk topik Timor Leste. Aku merasa bego. Kenapa dari awal enggak nanya sama doi ya?

Aku makin merasa bodoh ketika Aris langsung mengenali orang di foto itu dalam sekali pandang. Bahkan jawaban Aris lengkap banget. "Oh iya, itu Letjen Soegiono. Dulu ajudan Suharto, kemudian sempat jadi Paspampres. Seingat saya, beliau adalah Pangkostrad yang kemudian digantikan Prabowo pada 1998. Ada kabar apa soal beliau? Beliau lama enggak ada kabar. [Soegiono] Salah satu kepercayaan Suharto."

Aku googling nama itu dan benar, itu dia!

Aris juga benar bahwa dia lulusan Akabri tahun 1971, pernah menjadi ajudan Suharto, dan pernah menjabat Komandan Paspampres. Pada Juni 1997 ia naik sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD (Pangkostrad) menggantikan Letjen Wiranto. Lalu di 20 Maret 1998, ia digantikan Letjen Prabowo Subianto.

Prabowo menjabat selama 63 hari, kemudian dicopot oleh B.J. Habibie yang baru resmi menjadi presiden selama sehari. Pengganti Prabowo adalah Mayjen Johny Lumintang yang tadi sempat disebut temanku. Sedangkan Soegijono sendiri, selepas menjadi Pangkostrad, menduduki posisi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Jabatan militer terakhirnya adalah sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan.

Aris sedang menyusun buku tentang sejarah militer dan aku merasa, kayaknya aku harus banget beli.

Wiranto, Muka Lama di Rezim Baru

Zodiakku Pisces. Mungkin pseudosains zodiak bisa menjelaskan mengapa aku merasa kasihan setiap melihat wajah Wiranto di media online maupun di TV. Ia tampak tua dan lelah. Sentimen yang sama kurasakan kalau memandang SBY, sampai kemudian aku ingat, sekasihan-kasihannya aku sama mereka, aku ini sipil biasa yang hidup melarat, sementara mereka ada di jajaran orang terkuat dan paling berpengaruh di Indonesia yang harta kekayaannya tumpah ruah.

Dulu Wiranto juga orang sipil biasa. Waktu kecil ia pernah hampir berselisih jalan dengan maut, aku tahu ini dari buku Doorstoot Naar Djokja (2009) karangan Julius Pour. Pada 19 Desember 1948 Agresi Militer II dilancarkan di Yogya, saat itu keluarga Wiranto menetap di Yogya dan bapaknya bekerja sebagai guru sekolah dasar.

Untuk menyelamatkan diri, keluarga itu mengungsi bersama Wiranto yang masih bayi ke Solo dengan menggunakan andong. Tragisnya, di tengah perjalanan, kuda andong itu mati karena kelelahan. Bagaimanapun, keluarga mereka berhasil selamat dari serangan militer yang mematikan itu.

Aku selalu merasakan sensasi ini ketika mengenang masa lalu, termasuk saat membaca sejarah. Yang kumaksud adalah, Wiranto dan Megawati sama-sama lahir di Yogyakarta pada 1947. Mega lahir Januari, Wiranto bulan April. Lalu ketika keluarga Wiranto lari ke Solo, Mega, kakaknya Guntur, dan ibunya, Fatmawati, kehilangan perlindungan sang ayah. Kala itu Sukarno ditangkap pasukan Belanda dan dibuang ke Bangka. Fatma dan anak-anak kemudian diselamatkan Uskup Agung Semarang Romo Soegijapranata di Gereja Bintaran, Yogyakarta.

Agresi Militer II terjadi Desember 1948. Tiga bulan kemudian, pada Maret 1949, tentara Indonesia merebut balik Kota Yogya, yang notabene ibu kota negara, lewat aksi yang dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret. Salah satu tentara yang terlibat di serangan ini adalah Suharto, kelak presiden kedua Indonesia.

Sensasi yang kumaksud di atas tadi ialah, betapa menggelitik kenyataan bahwa orang-orang tak saling kenal berada di lokasi berdekatan kemudian di masa depan mereka jadi saling kenal dan terikat.

Maksudku, ketika peristiwa Kudatuli 26 Juli 1996 terjadi Wiranto adalah Pangkostrad, sedangkan Megawati adalah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia. Jabatan Mega kontroversial karena saat itu PDI punya dua ketum dan menciptakan masalah nasional saat itu. Menariknya, dalam pemilu presiden langsung 2004 dan 2009, mereka berdua berhadap-hadapan sebagai lawan.

Pasangan capres dan cawapres pilpres 2004:
1. Wiranto + Salahuddin Wahid
2. Megawati Soekarnoputri + Hasyim Muzadi
3. Amien Rais + Siswono Yudo Husodo
4. Susilo Bambang Yudhoyono + Jusuf Kalla
5. Hamzah Haz + Agum Gumelar

Pasangan capres dan cawapres pilpres 2009:
1. Megawati + Prabowo Subianto
2. SBY + Boediono
3. Jusuf Kalla + Wiranto

Pada 2014, Wiranto sempat mau nyapres lagi berpasangan dengan Ketum Partai Perindo Harry Tanoe. Tapi mereka kemudian undur diri walau publik hampir mustahil lupa aksi televisionil Wiranto yang bikin pencitraan publik dengan nyamar jadi tukang becak dan kernet bus untuk tayangan reality show TV.

Agak melenceng, soal sensasi tadi, aku juga mendapatinya ketika menulis obituari Habibie. Waktu remaja Habibie tinggal di Parepare, Sulawesi Selatan bersama orang tuanya. Di depan rumah mereka ada markas tentara.

Salah satu tentara yang ada di markas itu adalah Suharto. Bahkan ketika ayah Habibie meninggal mendadak, Suharto adalah salah satu orang pertama yang dimintai tolong oleh remaja Habibie. Dan kamu tahu sendiri, di kemudian hari Habibie menjadi anak emas sang jenderal penuh senyum itu di paruh akhir pemerintahan Orde Baru.

Tulisan ini akan jadi draf buku kalau mau aku teruskan dengan pembahasan dendam kesumat Prabowo terhadap Wiranto. Atau rekam jejak Wiranto yang disebut oleh dokumen Amerika Serikat bertanggung jawab atas kejahatan HAM di Timor Leste tahun 1999. Atau soal tudingan Mayjen (Purn.) Kivlan Zen bahwa Wiranto adalah dalang kerusuhan 1998—saat itu Wiranto menjabat sebagai Panglima ABRI—dan Wiranto sendiri menuding Prabowo sebagai otak kerusuhan. Atau trivia tentang posisi Wiranto sebagai Ketua Dewan Pembina Paguyuban Warung Tegal dan Pembina Paguyuban Spiritual Indonesia. Atau dugaan peran Wiranto dalam pembentukan Front Pembela Islam (FPI).

Kurasa asumsi keabadiaan Wiranto dalam twit foto @mouldie_sep yang menginspirasi artikel ini tadi tepat sekali, meski jika benar ia merujuk foto sepia itu sebagai demo 1998, ia agak salah data. Bagaimanapun pesannya bisa aku dan orang-orang lain tangkap dengan jelas. Republik ini berkali-kali mengalami peristiwa besar yang menentukan, yang tujuannya ingin mengubah situasi sosial-politik Indonesia lebih mendingan bagi rakyat biasa. Namun, momentum Reformasi yang agung itu bahkan tak sanggup menggusur Wiranto dari layar kaca kita.

Ia masih di sana, di ring satu pemerintahan, sangat digdaya dan berkuasa. Surat perintah penangkapan dari pengadilan PBB kepada Wiranto atas tuduhan melakukan kejahatan HAM di Timor Leste juga tak menyurutkannya mendirikan dan memimpin salah satu partai terbesar di Indonesia. Sekalipun tidak lolos ambang batas masuk parlemen, dalam Pemilu 2019 Partai Hanura masih sanggup mendulang dua juta suara.

Memori ini jadi tetap relevan: Senin kemarin (23/9) sejarawan Muhidin M. Dahlan menulis di Facebooknya betapa pada musim demo 1998, mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang kesal pada Wiranto pernah membuat aliansi aksi bernama “Mas WIRANTO”, singkatan dari Masyarakat Wirobrajan Anti-Suharto.

"Hidup sekali, kelahi sama Wiranto dua kali," tulis sastrawan Puthut EA, aktivis ’98 yang ikut mendirikan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi. Dan sekarang, yang dihadapi Wiranto adalah demonstrasi dari siswa-siswa Sekolah Teknik Menengah (STM), anak-anak yang bahkan belum lahir ketika demonstrasi ’98 terjadi.

Tetap ada yang luput dari amatan @mouldie_sep. Tengoklah sejarah dan kau akan dapati: Muka lama yang sudah lalu lalang sejak era Orde Suharto bukan cuma wajah milik Wiranto. Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto adalah contoh lain. Mau contoh lebih ekstrem? Di daftar nama caleg 2019 dari dapil Papua, pada calon Partai Berkarya nomor urut 1 akan kita jumpai nama ini: Hutomo Mandala Putra.

Jadi Wiranto memang abadi. Dia menjadi lawan bagi gelombang aktivis muda 1998 maupun 2019. Tapi dia tak sendirian. Gerbong tokoh-tokoh Orde Baru masih nyata menghantui kita semua sampai sekarang.

Tagged:
indonesia
Suharto
Views My Own
Pelanggaran HAM
Sejarah Indonesia
Sejarah
SBY
Militerisme
Reformasi
ABRI
Aksi Mahasiswa
Gerakan Mahasiswa
#ReformasiDikorupsi
Foto Wiranto
Zaman Edan