Iklan
The VICE Guide to Right Now

Buruknya Polusi Udara di Indonesia Berisiko Memotong Usia Harapan Hidup Hampir 6 Tahun

Polusi ini tak bisa ditangkal hanya pakai masker lho. Ternyata yang nasibnya lebih buruk dari warga Jakarta adalah penduduk wilayah yang jadi korban kabut asap imbas kebakaran hutan.

oleh Adi Renaldi
13 Agustus 2019, 5:40am

Ilustrasi polusi di Jakarta via Shutterstock.

Kalau kamu berpikir bahwa polusi udara di Indonesia cuma sekedar informasi yang bisa diabaikan, mungkin kini saatnya berpikir ulang. Ternyata polusi udara tak cuma menyebabkan infeksi saluran pernafasan jangka pendek, tapi juga memotong usia harapan hidup lebih dari empat tahun berdasarkan kesimpulan penelitian terbaru.

Merujuk Air Quality Life Index (AQLI) yang dirilis baru-baru ini pusat studi Energy Policy Institute at the University of Chicago (EPIC), usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata menurun sampai 1.2 tahun akibat polusi. Warga Sumatra Selatan lebih parah lagi, usia harapannya hidupnya dikorting sampai 5.6 tahun. Sementara warga Jakarta, hidup di bawah naungan asap kendaraan, usia harapan hidup mereka menurun sampai 2.3 tahun jika terpapar oleh polusi udara sepanjang hidupnya.

"Saat negara-negara menghadapi dua tantangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sembari menjaga lingkungan serta kesehatan warga, index AQLI tak cuma menunjukkan kerusakan yang disebabkan oleh polusi udara tapi juga langkah apa yang perlu diambil untuk mengatasi itu," kata Michael Greenstone dari University of Chicago yang bersama rekan-rekannya menyusun indeks itu.

Indeks AQLI menunjukkan dalam dua dekade belakangan, polusi udara sudah mengancam di sebagian besar kota di Indonesia. Dalam kurun 1998-2016, terjadi peningkatan konsenstrasi polusi sebesar 171 persen, yang membuat Indonesia masuk dalam jajaran 20 besar negara dengan tingkat polusi parah. Pada 2016, 80 persen dari total penduduk Indonesia tinggal di daerah dengan rata-rata partikel polusi melebihi standar WHO.

Greenstone dan kawan-kawan menggunakan metode eksperimen natural dalam penelitian tersebut. Dengan metode tersebut, Greenstone bisa memfokuskan penelitian hanya pada efek kesehatan yang disebabkan oleh polusi udara, dan bukan karena faktor-faktor lain (gaya hidup, diet, kebiasaan buruk). Metode tersebut kemudian digabungkan dengan pengukuran partikel polusi yang sifatnya hiper-lokal, sehingga kita dapat melihat kondisi udara di kota terkecil sekalipun.

Dari hasil tersebut, tak heran EPIC menobatkan polusi udara sebagai ancaman terbesar umat manusia di Bumi. Menurunnya usia harapan hidup itu melebihi kebiasaan merokok, peperangan, serta penyakit menular macam tuberculosis dan HIV/AIDS.

"Tapi masih ada cara untuk menghentikan ini," tulis pengantar penelitian tersebut. "Jika Indonesia bisa mengikuti jejak Tiongkok dalam memperbaiki kualitas udara dalam lima tahun terakhir, orang Indonesia bisa memperpanjang usianya hingga delapan bulan."

Persoalan polusi udara memang berbeda-beda di setiap provinsi. Di sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, persoalan utamanya adalah kebakaran hutan, asap, dan berkurangnya hutan hujan. Sementara di Jakarta, apalagi kalau bukan polusi asap kendaraan dan industri. Sehingga, kebijakan pemerintah juga tak bisa asal pukul rata.

Jakarta misalnya, dengan penduduk mencapai 10 juta rutin lalu lalang saban siang, selalu rutin menduduki peringkat atas kota berpolusi terburuk di dunia. Satu-satunya polusi bisa berkurang cuma ketika hari libur dan pemadaman listrik serentak kayak awal Agustus lalu.

Jalal, peneliti dari lembaga lingkungan progresif Thamrin School of Climate Change and Sustainability, mengatakan statistik bahwa polusi menyebabkan kematian dini hanyalah puncak gunung es dari rangkaian masalah yang terkait satu sama lain. Pada akhirnya, polusi juga menyebabkan turunnya produktivitas yang berimbas pada pendapatan ekonomi.

"Itu semua adalah puncak gunung esnya," kata Jalal kepada VICE. "Mereka yang harus rawat inap di rumah sakit, harus berobat ke dokter dan rawat jalan, serta yang kehilangan hari bersekolah dan bekerja jumlahnya jauh lebih besar lagi. Hal yang sama pasti terjadi di Jakarta, dan ini menyebabkan kerugian kesehatan, kehilangan produktivitas ekonomi, dan masalah kualitas lingkungan yang parah."

Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen pada 2020. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan memberlakukan standar emisi Euro 4. Meski begitu, penggunaan standar emisi Euro 4 tak serta merta menghentikan tingginya polusi. Masih ada segudang persoalan terkait pemberlakuan kebijakan itu. Salah satunya terkait fasilitas uji emisi yang jarang dan mahal.

Pada akhirnya warga lah yang tetap merasakan dampaknya. Dinas Kesehatan Jakarta, dilansir dari The Jakarta Post, mencatat peningkatan jumlah orang yang terkena infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Pada Januari hingga Mei tahun ini, 905,270 orang terkena ISPA. Sementara pada 2018 ada 1.846,180 orang Jakarta yang menderita infeksi pernafasan. Angka itu naik dari 2016 yang mencapai 1.801.968 orang.

Mungkin kalian berpikir, "Ah bisa dicegah pakai masker." Tunggu dulu. Tidak semua masker bisa menahan polutan dengan partikel kecil. Masker tipis yang dijual di minimarket tak bakal sanggup menyaring polutan. Hanya masker jenis N95 yang lumayan bisa menyaring polusi. Tentu harganya lebih mahal.

Pada 25 Juni lalu, Jakarta dinobatkan sebagai kota dengan kualitas udara terburuk sedunia, mengalahkan kota-kota besar India dan Cina. Berdasarkan AirVisual, situs penyedia peta polusi udara dunia, indeks kualitas udara Jakarta sempat mencapai 240 dari maksimal 500. Angka tersebut berarti kualitas udara sangat tidak sehat.

Di bawah Ibu Kota kita ada Lahore, Pakistan; Hanoi, Vietnam; Dubai, Uni Emirat Arab; serta Wuhan, Cina. Mumbai di India yang rajin menduduki peringkat lima besar kini berada di urutan 6 kota dengan polusi udara terburuk sejagat. Sekadar perbandingan, kualitas udara London cuma 12 dan San Francisco di angka 26 pada hari yang sama saat data diambil. Buruknya kualitas udara hari itu memicu warganet mengunggah serangkaian foto dengan tagar #SetorFotoPolusi. Kualitas udara Jakarta tercatat masih buruk hingga artikel ini dilansir, tepatnya angka 159.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang bakal menjadi salah satu tergugat, mengatakan polusi merupakan masalah bersama. Dia menyalahkan 17 juta kendaraan yang lalu lalang di Jakarta sebagai penyebabnya. Tidak mengejutkan, mengingat Jakarta bagaikan lahan parkir raksasa yang disesaki mobil, sepeda motor, sampai bus serta truk. Pemprov DKI pernah mencatat 70 persen polusi udara terbesar bersumber dari mobil.

Tak ayal, sejumlah koalisi warga sipil melayangkan gugatan kepada pemerintah atas buruknya kebijakan untuk mengatasi polusi udara. Gugatan tersebut tengah diajukan ke pengadilan. Suka tidak suka, gugatan itu patut didukung semua pihak yang setiap hari bergumul dengan polusi demi sesuap nasi.

Sebab pilihannya cuma dua: membeli masker mahal yang bakal membuat dompet semakin tipis atau menantang maut dengan menghirup asap kendaraan.