Syariat Islam di Aceh

Foto Lelaki Bugil Protes Syariat di Google Street Bikin Pemerintah Aceh Kebakaran Jenggot

DPRA menganggap ada kesengajaan, Menkominfo berniat mengusutnya. Google dua kali bikin warga Aceh marah. Sebelumnya, kata Aceh berubah jadi makian di fitur Google Translate.

oleh Elisabeth Glory Victory
05 November 2019, 10:09am

Ilustrasi poster menolak pelaksanaan hukum syariat. Foto oleh Ishara S. Kodikara/AFP

Tak sampai satu bulan, produk bikinan raksasa teknologi Google memicu kontroversi bagi warga Nangroe Aceh Darussalam. Sejak awal pekan ini, beredar tangkapan layar (screenshot) sosok lelaki kulit putih sedang telanjang bulat di antara hasil pencarian Google Street View untuk kawasan Banda Aceh. Sepanjang Senin (4/10), gambar itu beredar di grup-grup WhatsApp komunitas Aceh. Dia memakai tongsis untuk mengambil gambar itu dalam mode 360 derajat. Tapi belum jelas di lokasi mana lelaki kaukasian itu berswafoto.

Kontroversi makin kencang, sebab ada pesan yang tertulis di tangan pria yang difoto tersebut, yang terbaca "Protest Sharia Law." Foto itu memicu kegeraman banyak pihak, termasuk pemerintah kota Banda Aceh hingga Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

1572946801332-Aceh-Syariat

Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfotik) Banda Aceh segera melaporkan konten negatif tersebut melalui situs aduankonten.id Kementerian Kominfo. Secara paralel, Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh juga sudah melakukan laporan konten ke Google Indonesia.

"Menurut saya ini kesengajaan," kata Wakil Ketua DPR Aceh Safaruddin saat dikonfirmasi awak media. "Nanti ketika Pemkot tidak ditanggapi [oleh Google], maka kita sama-sama nanti kita ajak semua elemen terutama pemerintah. Ini pelecehan. Jangan sampai terulang lagi ke depan."

Terselipnya foto bule bugil ini diduga lantaran adanya fitur kontribusi user ke bank data Google Maps. Fitur ini memungkinkan siapapun yang memiliki akun email Google untuk mengunggah foto, memberi ulasan, mengedit peta, dan berbagai kontribusi pada detail peta lain di Googel Street View.

Saat ini foto bugil tersebut sudah hilang dari hasil pencarian jika kalian membuka maps dengan kata kunci 'Banda Aceh'. Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman ikut menggerakkan masyarakat untuk melaporkan fotonya di Google Maps. "Karena jika banyak aduan yang diterima (report), maka pihak Google pun akan segera mengambil tindakan penghapusan konten," kata Aminullah.

Senator (DPD) Aceh Fadhil Rahmi mengaku sudah berkomunikasi dengan Head Government Affair Google Indonesia. Dalam lama Facebooknya Fadhil mengatakan langkah selanjutnya adalah menyelidiki siapa pengunggah foto tersebut.

Menanggapi protes dari berbagai elemen pemerintah di Aceh, Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G. Plate berjanji serius meresponsnya. Termasuk bila ditemukan indikasi pelanggaran pidana, sehingga pengunggah fotonya di database Google Street View bakal dituntut dengan hukum Indonesia. "Kalau ada yang tidak layak ya kita take down. Mohon maaf hal hal yang seperti itu yang melanggar hukum di Indonesia tidak boleh ditolerir," kata Johnny seperti dikutip Republika.

Insiden foto protes syariat ini berselang dua pekan, setelah sebelumnya penduduk Aceh dibikin geram sama hasil terjemahan kata Aceh yang berubah menjadi sumpah serapah di Google Translate. Kala itu, Forum Masyarakat Melayu dan Aceh mengirim surat terbuka pada Google Indonesia, lantaran muncul temuan bila beberapa kata dalam Bahasa Aceh diterjemahkan menjadi makian bahasa Jawa dalam fitur penerjemahan mereka.

Google, saat dikonfirmasi CNN Indonesia, meminta maaf atas adanya kekeliruan penerjemahan tersebut. Menurut raksasa teknologi itu, hasil penerjemahan berdasarkan database dibantu algoritma untuk memindai pola penafsiran kata dari jutaan entri di mesin pencari mereka. "Kami sangat mengapresiasi pihak-pihak yang memberi tahu kesalahan terjemahan ini, sehingga kami bisa langsung mengambil tindakan untuk menangani dan mengatasi masalahnya."

Atas dua kasus yang sensitif terhadap budaya tertentu ini, pakar IT Teuku Farhan meminta Google menurunkan tim verifikasi buat memantau hasil terjemahan atau foto mereka yang dirasa merepresentasikan wilayah tertentu. Jika hanya mengandalkan mesin, kekeliruan bisa kembali terjadi. "Manusia memiliki rasa, kebijaksanaan. Hal ini yang tidak pernah dimiliki oleh mesin. Google jangan hanya mengandalkan mesin," kata Farhan saat dihubungi Kumparan.

Tagged:
Internet
Google
indonesia
The VICE Guide to Right Now
Budaya
aceh
Berita
Agama
Kritik Buat Syariat
Pencarian Foto Google