Iklan
Panduan Kesehatan ala VICE

Ini Dampak Buruk buat Tubuh dari Strategi Belajar Sistem Kebut Semalam

Begadang semalaman mempengaruhi tubuh dan pikiran. Sedikit bocoran: kalau mau sukses ujian, justru kalian wajib tidur malam sebelum Hari H.

oleh Nick Keppler
24 September 2018, 5:59am

Unsplash/Arthur Savary/Lia Kantrowitz

Kamu sebetulnya punya waktu seminggu sebelum ujian akhir semester. Walau sudah mengumpulkan niat untuk mencicil belajar tiap materi ujian, kamu malah keasyikan main sampai lupa waktu. Akhirnya, apa yang kamu lakukan sehari sebelum ujian? Tentu saja, menerapkan 'Sistem Kebut Semalam'—alias begadang sambil baca sebanyak mungkin materi yang kayaknya bakal keluar pas ujian. Klise.

Kamu akan beli dua kaleng minuman energi dengan dosis taurin+kafein tinggi, menumpuk semua bacaan di atas meja, buka laptop, lalu begadang di meja kosan. Supaya enggak ketiduran, kamu berniat enggak tidur sama sekali. Sehabis belajar, langsung jalan ke kampus atau ruang ujian. Tapi, sebenarnya kamu ragu: katanya, tidur itu penting. Apa jangan-jangan kamu justru merusak kemampuan kognitifmu untuk mengisi lembar jawab saat ujian karena tidak tidur?

Nih kami beri jawabannya menurut keterangan para ahli. Jawaban mereka sederhana: caramu untuk meraih sukses kayak deskripsi di atas tidak akan efektif.

Kaitan Antara Tidur dan Proses Mengingat

"Banyak orang cenderung terlalu percaya diri dengan kemampuan mereka saat berkegiatan tanpa tidur," ujar Emily Papazoglou, pakar neuropsikologi dari Atlanta, Amerika Serikat. "Dari sudut pandang kognitif, terbukti banyak efek buruk muncul akibat tidak tidur."

Emily menambahkan bahwa kurang tidur menimbulkan dampak negatif terhadap "kemampuan memberi perhatian, seberapa cepat kamu bisa bereaksi, dan seberapa baik kamu memproses informasi." Satu penelitian menyimpulkan tidak tidur semalaman mengakibatkan seseorang memiliki kemampuan kognitif yang tidak lebih baik dari seseorang yang sibuk minum alkohol semalaman.

Terkait kinerja akademis, tidur malah membantu orang mempertahankan dan memanfaatkan informasi. Meskipun ahli saraf masih mencoba memahami dengan tepat bagaimana memori dikodekan ke otak, sebagian besar pakar sepakat prosesnya terjadi dua langkah di mana fakta atau pemahaman segera terbentuk dan kemudian dikodekan di otak untuk retensi, pengambilan, dan analisis jangka panjang. Proses ini disebut konsolidasi memori. Proses tersebut dari temuan saat ini, senantiasa terjadi saat kita terlelap.


Tonton wawancara VICE bersama sutradara Mouly Surya yang tidak percaya bakat akan membantu kita mencapai karir yang diimpikan:


Tidur, seperti memori, masih belum sepenuhnya dipahami dunia sains (banyak ilmuwan masih mencari tahu alasan pasti seseorang harus tidak sadarkan diri selama berjam-jam setiap hari.) Tetapi teori yang populer adalah bahwa informasi yang diambil pada siang hari disortir dengan benar ke dalam otak saat tidak sadar. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa manusia mempertahankan urutan informasi yang tidak berguna, seperti angka atau suku kata, dalam jangka waktu yang lama lebih mudah setelah tidur malam.

Semua ini intinya menghasilkan kesimpulan sederhana. "Tidur penting untuk membuat semua memori kita tergabung dan terproses dalam otak," kata Alex Dimitriu, psikiater dan dokter spesialis gangguan tidur di Menlo Park Psychiatry and Sleep Medicine, San Francisco. "Berbagai hal yang kamu pelajari sepanjang hari bisa diibaratkan bakal diputar ulang melalui tidur."

Sebaliknya, kalau otakmu dipaksa begadang, kamu dapat membaca tentang bagaimana mitokondria bekerja. Tetapi tanpa hippocampus memproses informasi itu ke dalam pikiran kita yang hanya terjadi sewaktu manusia mengalami siklus tidur, akan sulit untuk mengakses pengetahuan macam itu selama ujian atau diskusi kelas.

Begini Cara Terbaik Belajar Ngebut Sambil Berusaha Tidur (Namanya Juga Kepepet)

Mengingat kerasnya tuntutan akademis zaman sekarang—belum lagi kondisi lingkungan asrama, kosan, atau kontrakan yang kacau dan sempit—mahasiswa sudah jelas tidur tidak teratur. "Tidur delapan jam sehari bahkan masih terlalu muluk untuk anak kuliahan," kata Dimitriu. Setidaknya, akan lebih baik kalau mahasiswa mengupayakan "tidur tiga atau empat jam tiap hari, karena itu lebih baik daripada tidak sama sekali."

Nah pertanyaannya. Kami butuh tetap ngebut baca materi, terus tidur bentar, adakah tips supaya hasil belajar tetap maksimal? "Berusaha tidur adalah perkara pengoptimalan kerja otak," imbuhnya. "Kalau kamu harus membaca satu bab cobalah dapatkan satu jam tidur sebagai gantinya."

Kebiasaan begadang buat belajar ala SKS kadang bisa menipu mahasiswa atau pelajar. Mereka mengira tubuh mereka sudah biasa dipacu kayak gitu, sampai-sampai rasa letih tak terasa lagi. Tapi jangan mau dikelabui. Sebagian sensasi tidak capek saat begadang terjadi berkat pelepasa stres hormon seperti kortisol dan norepinefrin (adrenalin). Itu penjelasan W. Christopher Winter, spesialis terapi tidur, ahli saraf, dan penulis buku The Sleep Solution.

"Sensasi tidak capek lagi saat begadang ini mirip sama apa yang digambarkan orang ketika mereka berbicara tentang napas," katanya. "Otak sebenarnya tinggal memiliki sedikit gelombang energi, tapi tubuh terus mengatakan 'wah, kita harus melakukan ini.'" Kamu lantas merasakan penurunan suhu tubuh yang memicu kantuk.

Dalam jangka pendek, itu berarti kamu mungkin merasa baik-baik saja. Tetapi jangan tertipu. Kata Winter, molekul yang mengatur tidur seperti adenosin terakumulasi di otak, keletihan akhirnya akan membanjirimu. "Kebutuhan untuk tidur selalu menang dari ambisimu begadang."

Itulah salah satu alasan mengapa strategi terbaik sukses belajar, kata Dimitriu, adalah berusaha keras tidur. Dengan tidur maka gerak mata (atau REM), aktivitas yang membantu mengkonsolidasikan memori dan informasi, dapat dimasukkan melalui tidur. Sementara Winter merekomendasikan agar semua orang yang berniat begadang mengupayakan 90 menit tidur pada malam hari, sebisa mungkin. Proses ini setidaknya lebih baik daripada kalian tidur kelamaan pas sore, dengan harapan malam akan melek terus. Sebab, mengubah waktu alamiah tidur akan mengacaukan sensor tubuh dalam mendeteksi rasa lelah serta mengganggu kesiapan tidur normal di malam berikutnya.

Tips Menghindari Begadang Tiap Mau Ujian

Salah satu cara terbaik agar tidak jatuh ke dalam jebakan di mana kamu membaca buku teks pada pukul 3 pagi adalah menjadikan tidur rutin sebagai bagian dari rencana sukses akademis. Beban perkuliahan (apalagi yang banyak praktikumnya) memang tidak kondusif untuk tidur reguler yang disarankan oleh para pakar. Setidaknya ada beberapa langkah yang dapat kamu ambil supaya tidak keterusan memakai strategi SKS.

Punya penyumbat telinga dan penutup mata untuk memaksa tubuhmu tidur adalah solusi cerdas. Itu kata Michael J. Breus, seorang psikolog klinis dan rekan dari American Academy of Sleep Medicine. Selain itu, Breus mengakui kalau "sedikit berlebihan" bila pakar mengharapkan mahasiswa bersedia meletakkan ponsel dan laptop mereka satu jam sebelum tidur. Breus menyarankan para pelajar yang selama ini hobi begadang mengenakan kacamata biru-terang ketika sedang ngebut belajar dini hari. Kacamata tersebut dapat menghalangi frekuensi cahaya dari layar komputer atau tablet yang mengganggu pasokan melatonin otak.

Ingat, sistem SKS (ini yang betulan artinya Sistem Kredit Semester ya) membuat mahasiswa bisa mengatur jadwal perkuliahan secara mandiri. Kalau bisa menghindari kelas paling awal, Breus bilang itu akan lebih baik. Harus bangun pagi dan datang ke kampus untuk kelas pukul 7 pagi, tiga hari dalam seminggu, dapat membuat siklus tidur harian berantakan. Apalagi kalau ada jadwal ujian juga yang membuatmu harus pakai sistem ngebut semalam. Makin berabe pasti.

Nah, ini saran lain. Asupan kafein harus dihindari pada sore hari. Secangkir kopi yang kalian teguk pas nongkrong sesudah kelas terakhir jam 5 sore, memiliki efek yang berdampak selama enam jam berikutnya. Jadi selalu ingat prinsip yang sama ketika kamu ingin menenggak sekaleng minuman berenergi yang mengandung kafein+taurin.

Semoga kalian lebih cerdas dalam belajar. Cintai tubuh dan utamakan tidur yang cukup. Toh, masih ada remedial atau ambil ulang matkul itu kali lain. Langit tidak akan runtuh hanya nilai ujian kalian jelek.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic