Iklan
Hari Perempuan Muslim

Deretan Ilustrasi Penghormatan Buat Sosok Muslimah Berpengaruh

Lima seniman beragama Islam dari berbagai negara membuat ilustrasi sekaligus berbagi cerita tentang sosok perempuan muslim yang menginspirasi mereka.

oleh Leila Ettachfini
28 Maret 2018, 9:43am

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly

Tahun lalu, situs MuslimGirl menetapkan 27 Maret sebagai Hari Perempuan Muslim versi mereka. Hari itu dipilih beberapa bulan setelah Presiden Trump pertama kali mencoba memberlakukan pembatasan imigrasi bagi orang beragama Muslim masuk ke wilayah Amerika Serikat. Hari ini niatnya dirayakan untuk melawan Islamofobia yang memuncak setelahnya di Negeri Paman Sam.

Amani Al-Khatahtbeh,selaku penggagas MuslimGirl menciptakan Hari Perempuan Muslim, dalam rangka, “menciptakan preseden baru bagi representasi perempuan Muslim di media mainstream Barat,” ujar Al-Khatahbeth saat dihubungi CNN. “Hari Perempuan Muslim adalah panggilan untuk menyorot suara-suara perempuan Muslim, untuk memberdayakan kita, untuk membanjiri Internet dengan kisah-kisah baru, beragam, dan positif tentang perempuan Muslim.”

Dengan semangat yang sama, kini redaksi Broadly merayakan Hari Perempuan Muslim yang jatuh kemarin, dengan cara meminta lima seniman perempuan Muslim dari negara yang berbeda-beda menggambar dan berbagi kisah perempuan Muslim yang menginspirasi mereka. Inilah hasil karya para seniman tadi pembaca sekalian:

Taraneh Alidoosti oleh Asli Yazan

Taraneh Alidoosti adalah salah satu aktris Iran yang paling terkenal saat ini. Dia pernah berakting dalam film-film Asghar Farhadi di antaranya The Salesman dan About Elly. Sejak dia menjadi terkenal, Alidoosti menggunakan popularitasnya untuk menyorot isu-isu yang penting baginya di kampung halaman juga mancanegara, dari menampilkan tato feminis di sebuah konferensi pers di Tehran sampai memboikot Academy Awards untuk memprotes kebijakan imigrasi Trump terhadap Muslim.

Ilustrator Turki Asli Yazan memilih menunjukkan Alidoosti pada Hari Muslim Perempuan tahun ini karena dia mewakili “karakter perempuan yang bersemangat menantang dan mempertanyakan sistem sosiopolitik di Iran.”

Kamu bisa melihat karya-karya Asli Yazan lainnya di sini.

Silya Ziani oleh Merieme Mesfioui

Pada 2017, setelah pihak berwenang Moroko menyita gerobak seorang pedagang ikan bernama Mouhcine Fikri di kota Al Hoceima, dia loncat ke truk sampah tempat anggota kepolisian melemparkan mata pencahariannya. Dia kemudian mati dengan tragis saat mesin pengolah sampah mulai beroperasi.

Kematian Fikri menyebabkan amuk massa saat warga Moroko protes dan menuntut keadilan bagi praktik korupsi yang merajalela. Pada saat itu, penyanyi Moroko Berber dan pelajar Silya Ziani meninggalkan studinya untuk memimpin demonstrasi-demonstrasi yang kemudian dikenal sebagai Al Hirak al Chaabi atau Popular Movement. Dia tak lama kemudian ditangkap oleh pihak berwenang Moroko akibat aktivismenya, yang menyebabkan amuk massa lagi yang akhirnya membantunya mendapatkan pengampunan dari kerajaan .

“Saya memilih Ziani karena dia adalah ikon bagi anak muda Moroko,” ujar seniman Moroko Merieme Mesfioui. “Dia menginspirasi karena berani dan penuh tekad. Dia terus melawan bahkan saat pihak berwenang menempatkannya di dalam penjara. Dia berhak dirayakan untuk aktivismenya, dan saya harap lebih banyak perempuan menemukan kekuatan untuk melawan seperti dia, tanpa rasa takut.”

Kamu bisa melihat karya-karya Merieme Mesfioui lainnya di sini.

Iqbal Begum oleh Ayqa Khan (Ayqa adalah cucu Begum)

Seniman visual berbasis New York City Ayqa Khan memilih menggambar neneknya, Iqbal Begum untuk Hari Perempuan Muslim kali ini.

“Saya sangat terinspirasi oleh nano saya karena dia menganut nilai-nilai yang saya rasa sudah pudar di dunia ini,” ujar Khan. “Nilai-nilai ini saya rasa diperlukan supaya jiwa kita damai—sesuatu yang saya rasa hampir mustahil untuk dipertahankan dalam masyarakat kapitalis kita yang sangat berfungsi. Saya berpikir bahwa beberapa rasa pedih saya muncul dari fakta bahwa saya sangat jauh dari nenek moyang saya, baik secara fisik maupun spiritual. Saat saya bisa melihat nano saya, saya merasa lebih jejek tanah. Nano saya adalah seorang perempuan yang merawat orang-orang selama hidupnya. Dia percaya untuk melakukan hal yang benar secara moral, dan untuk berbagi meski kamu tak punya apa-apa, percaya bahwa dunia akan mengembalikannya padamu. Saya selalu kagum pada cara nano bersiap-siap pada hari itu, bahkan saat dia hanya duduk di rumah. Dia mengabdikan diri untuk dirinya dan keluarganya. Coba saya bisa lebih sering bertemu dengan nano, tapi dia telah mengajari banyak hal soal cara hidup yang semoga terus saya pegang teguh sampai tua nanti.”

Kamu bisa melihat karya-karya Ayqa Khan lainnya di sini.

Asma Jahangir oleh Nashra Balagamwala

Seniman Pakistan Nashra Balagamwala memilih untuk mengilustrasikan pengacara hak asasi manusia Asma Jahangir, yang meninggal dunia Februari lalu. Inilah pendapatnya soal Jahangir:

“Pahlawan hak asasi manusia, perempuan yang berani, Asma Jahangir adalah salah satu perempuan Muslim yang paling menginspirasi di masa sekarang. Asma melepaskan implikasi-implikasi sosial bagi perempuan Pakistan, dan menghabiskan hidupnya membela orang-orang yang tersingkirkan di negara kami. Dia adalah pejuang sejati, dan terlepas dari oposisi dan ancaman-ancaman yang parah, dia tidak pernah ragu dalam misinya. Kekuatannya telah memberikan kita keberanian untuk melawan tradisi-tradisi misoginis di Pakistan.”

Kita kehilangan pahlawan kita hari ini, tapi kenangannya terus hidup di hati saya dan keberaniannya akan terus menginspirasi saya.”

Kamu bisa melihat karya-karya Nashra Balagamwala lainnya di sini.

Samira Kanji oleh Farida Zaman

Seniman yang tinggal di Kanada, Farida Zaman, memilih menggambar sosok Samira Kanji, presiden dan CEO Noor Cultural Centre di Toronto. Samira berupaya “menumbuhkan apresiasi terhadap keragaman dan keindahan warisan budaya di dunia Islam.”

“Samira Kanji adalah panutan sejati bagi perempuan Muslim karena nilai-nilai progresif yang dia anut dalam Islam,” kata Zaman. “Dia berhasil menantang prekonsepsi agama dan budaya patriarkal. Di Noor Cultural Centre di Toronto, tempat laki-laki dan perempuan berdoa beriringan, dia menyambut orang-orang dengan latar belakang dan kepercayaan. Samira mendukung Muslim untuk merayakan kesatuan.”

Kamu bisa melihat karya-karya Fairda Zaman lainnya di sini.