Semua foto dari arsip Danny Fields. Diunggah seizinnya.

Foto-Foto Langka dari Awal Karir The Ramones

Danny Fields menjadi manajer The Ramones selama lima tahun. Fields rajin mendokumentasikan tahun-tahun awal The Ramones. Dari dialah, kita dapat menengok dokumentasi legenda punk ini di awal-awal karir mereka.

|
Apr 26 2018, 1:16siang

Semua foto dari arsip Danny Fields. Diunggah seizinnya.

Punk rock tak akan pernah ada tanpa campur tangan Danny Fields. Dilahirkan di kawasan Queens, magnet musik legendaris itu menghabiskan seluruh dekade 60an di East Village, nongkrong bareng seniman pop Andy Warhol dan beberapa superstar yang selalu ada di sisinya. Fields memuja band-band seperti Velvet Underground saat bekerja sebagai penyiar radio WFMU. Fields juga pernah berperan sebagai publisis The Doors dan band proto-punk The Stooges. Memasuki dekade ‘70an, Fields mulai menulis kolom musik penting di Soho Weekly News. Jasa Fields lainnya dalam sejarah musik dunia adalah menemukan The Ramones.

Pada 1975, band punk asal Queens, New York itu memohon-mohon Fields datang menonton mereka manggung di klub legendaris CBGB. Fields langsung terpana. The Ramones merayu Fields untuk menulis tentang mereka. Ditodong seperti itu, Fields malah menawarkan diri jadi manajer band punk asal daerah kelahirannya itu. Selama lima tahun, Fields mengurusi segala perjanjian rekaman, mengatur syuting video dan membook tur pertama The Ramones, yang mencakup lawatan The Ramones ke Inggris untuk berbagi panggung dengan Sex Pistols, the Clash, dan the Damned.

Namun, selepas lima tahun bersama Fields, kebelet ingin jadi superstar, The Ramones memecat manajer pertamanya dan menggantinya dengan Phik Spector, orang yang kelak menodongkan pistol ke arah Johnny Ramone agar terus bermain riff yang sama berkali-kali. Untungnya, Fields tak pergi dengan tangan hampa. Selama mengurusi The Ramones, Fields dengan sangat rajin mendokumentasikan kebangkitan The Ramones dan mengumpulkan foto-foto langka tahun-tahun awal Johnny Ramone dkk. Jumlah yang tak sedikit. Dua tahun yang lalu, Fields merangkum foto tersebut dan melepasnya dalam bentuk buku yang beredar terbatas.

Tahun ini, My Ramones—judul buku tersebut—akan diterbitkan oleh Reel Art Press dan dirilis besar-besaran. VICE berhasil melacak keberadaan Fields dan mengajaknya ngobrol tentang tahun-tahun terliar dalam karir The Ramones.

Silakan simak obrolan kami di bawah ini.

The Ramones main di Phase V. © Danny Fields / Reel Art Press

VICE: Bisa ceritakan seperti CBGB di tahun 1975?
Fields: Ada semacam pertemuan talenta penulis lirik dan musik di sana serta keinginan menjadi berbeda. Kalau kamu berada di sana waktu, kamu pasti ingin mengembangkannya ke level yang lebih tinggi. Dan waktu itu, New York adalah tempat yang cocok untuk melakukan semua itu. CBGB berada di lantai dasar sebuah hotel murah di kawasan Bowery. Tempat ini sebenarnya sebuah bar berbentuk lorong sempit panjang yang gelap. Tiba-tiba saja tempat ini jadi titik berkumpul orang-orang yang dulu kerap nongkrong di ruang belakang Max’s Kansas City.

Pahlawan besar dalam sejarah New York, salah satunya, adalah mereka yang menemukan tempat yang asik untuk orang-orang nongkrong. Hilly Kramer, pemilik CBGB, mengawali karirnya sebagai seorang penulis lagu dan penyanyi country. Dia sempat bikin album loh. Makanya, enggak aneh kalau orang ini punya insting musik yang bagus. CBGB punya akustik ruangan yang baik. Kalau kamu nongkrog di sana, kamu akan merasa duduk di dalam sebuah gitar.

Johnny Ramone pernah dilarang masuk Max’s dan dia enggak pernah memaafkan hal itu. Inilah awal perang kelas di daerah Bowery. Dalam sekejap terjadi peningkatan kemunculan produk kelas pekerja yang gila dan keren. Apa aku dulu menyebut apa yang terjadi di sana sebagai produk kelas pekerja? Jelas enggak. Aku dulu menyebutnya sebagai rock n’ roll. Pada saat itulah, The Ramones membuat keonaran dengan menampilkan sikap nyeleneh yang keren.

Di The Club in Cambridge. © Danny Fields / Reel Art Press

Terus, bagaimana kamu bisa kenalan dengan the Ramones?
Aku nonton mereka manggung di CBGB lantaran Tommy Ramone memohon-mohon padaku untuk datang; Mereka ingin aku nama band mereka muncul di kolom mingguanku di Soho Weekly News. Mereka keukeuh dan aku enggak keberatan sama sekali karena aku suka orang-orang yang gigih.

Jadi, aku bilang pada Tommy kalau aku akan datang. Aku menyapa meraka sebelum mereka manggung dan bilang akan bakal menemui mereka setelah manggung di depan bar. Lalu mereka main dan aku langsung mikir, “Anjirr, ini band keren bener. Ini keren sekali. Aku suka. Lebih keras! Lebih keras! Lebih cepat! Lebih cepat lagi!”

Nah balik lagi ke cerita perjumpaanku dengan The Ramones: 12 menit kemudian, setelah mereka beres memainkan 17 lagu, kami bertemu di trotoar depan klub. Mereka langsung bertanya tanpa ragu, “Eh, jadi kamu suka band kami enggak?” Lurus banget memang mereka. Tentu, aku bilang aku suka band mereka. Lalu, mereka bertanya apa aku akan menulis tentang band mereka. Aku bilang, “Iyalah, aku bakal menulis tentang kalian, lebih dari itu, aku ingin jadi manajer kalian.”

Rekaman album pertama © Danny Fields / Reel Art Press

Johnny tanpa malu langsung ngomong, “Kami butuh 3.000 dollar buat beli drum.” [tertawa]. Rupanya, mereka punya asumsi kalau aku akan memberi semacam uang muka dan 3000 dollar itu jumlah yang tak terlalu besar. Alhasil, aku pulang ke Florida dan meminjam uang dari ibuku. Ibu langsung menulis cek dan bilang ,” Aku harap kamu tahu apa yang kamu lakukan.”

Di venue legendaris CBGB. © Danny Fields / Reel Art Press

Kepribadian masing-masing anggota asli The Ramones itu gimana sih?
Johnny ingin berhenti jadi tukang bata, menikah muda dan—seperti yang dia katakan sendiri dalam otobiografinya—tipe orang yang bisa melempar bata ke jendela sambil berjalan dengan santai. Lalu tiba-tiba suatu hari, dia berhenti dan berniat menata hidupnya, jadi orang baik, ingin jadi terkenal dan tak lagi menyakiti orang asing lagi.

Joey adalah anggota The Ramones yang paling pendiam dan tak pernah bicara. Awalnya, dia malas jadi vokalis. Joey adalah geek di dunianya sendiri. Makanya, butuh keberanian yang besar baginya untuk bisa berdiri dan bernyanyi di depan banyak orang. Aku selalu kagum dengan selera humor Joey dan kemampuannya mengejek dan mengata-ngatai orang. Gelak tawa Joey bisa bikin orang malu dan ingin dipancung saja. Aku nervous di depan Joey.

Joey di tangga-tangga Roundhouse. © Danny Fields / Reel Art Press

Dee Dee adalah anggota yang paling supel. Dee Dee pernah hidup satu atap denganku dan punya keinginan bertemu anggota band lain—sesuatu yang malas dilakukan personel The Ramones lainnya. Yang lain cuma pengin groupies cewek. Dee Dee punya hasrat untuk bergaul dan jadi rockstar.

Tommy adalah anggota yang paling pemalu, paling kutu buku dan paling tahu apa yang tengah terjadi di kancah film, seni dan dunia avantgarde. The Ramones pada awalnya adalah bandnya Tommy. Dia dan Johnny lah yang mengurusi tetek bengek musik. Dia juga bersama Arturo Vega yang merancang konsep visual The Ramones. Cuma Tommy tak nyaman manggug di depan banyak orang dan memilih hidup yang lebih tenang. Tommy cabut dari band pada 1978.

Dee Dee dan gitar Rickenbacker cadangannya. © Danny Fields / Reel Art Press

Cerita dong tentang ketegangan yang terjadi dalam The Ramones?
Anggota The Ramones tak pernah rukun—mereka saling benci satu sama lain. Mereka berbeda satu sama lain dan terus berantem. Dan mereka berantem terang-terangan, cuma memang tidak di depan orang-orang. Setelah manggung, mereka akan mengurung diri di kamar ganti. Aku harus berjaga di depan pintu karena undangan VIP datang setiap saat. Kalau kejadiannya seperti itu, aku bakal bilang “Oh mereka cuma sedang mengeringkan keringat.”

Ramones di Park Lane, London. © Danny Fields / Reel Art Press

Sementara itu, di dalam mereka ribut. Kamu bisa mendengar Johnny menjotos Dee Dee dan melemparkanya ke salah satu sisi ruangan cuma karena dia telat main gitar beberapa 1/64 detik doang. Johnny akan berteriak-teriak. Lalu mereka minum bir. Baru deh, setelah itu mereka membuka pintu dan bilang padaku, “Okay, tamunya sudah boleh masuk.” Mereka akan duduk di dalam dengan manis. Darah yang mengucur karena perkelahian sudah mengering [tertawa] dan mereka siap bertemu orang.

Yang lebih penting dari itu, ada sekumpulan fan yang menunggu di dekat pintu panggung—Johnny tahu mereka adalah fan-fan penting yang membawa anak mereka. Johnny memerintahkan agar mesin mobil tak boleh dinyalakan dulu sampai semua orang dapat tanda tangan personel The Ramones.

Syuting video pertama Ramones di M.P.C.’s TV studio. Di video berdurasi 17 menit lewat ini ada delapan lagu yang direkam sampai sekarang tak pernah dirilis © Danny Fields / Reel Art Press

Kenapa kamu cabut?
Aku dipecat. The Ramones tak banyak menjual album. Padahal, mereka kadung percaya lagu mereka bagus banget. Sehingga, di alam pikiran mereka, album The Ramones harusnya laku jutaan kopi dalam tiga bulan. Lalu dalam tiga tahun mereka akan terlalu kaya dan bisa pensiun muda. Sebuah rencana yang pada awalnya kedengaran kurang praktis. Cuma ya itu, aku hanya jadi manajer mereka selama lima tahun doang

Ramones di tahun 1977. © Danny Fields / Reel Art Press

Maaf, tapi aku sudah enggak mengurusi mereka saat mereka manggung di stadium di depan 80.000 penonton. Ah ngomong-ngomong tentang hal ini, waktu mereka main di Argentina, Polisi sampai harus menjaga kawasan tempat The Ramones bermalam karena mereka sudah terlalu besar. Aku tak pernah mengalami masa-masa ini. Aku baru rujuk lagi dengan mereka pasca Joey meninggal.

Ramones main di Roundhouse © Danny Fields / Reel Art Press

Menurutmu apa warisan The Ramones bagi musik rock?
Mereka sudah tak lagi bermain musik, tapi mereka tetap The Ramones sampai akhir umur mereka. The Ramones punya pengaruh yang besar pada generasi setelah mereka layaknya Velvet Underground, the Stooges, dan New York Dolls sangat memengaruhi The Ramones. New York Dolls tak becus main musik dan itu adalah sesuatu yang sangat inspirasional—kami tak perlu jadi sejago Eric Clapton atau Eddie Van Halen. Kamu toh bisa membanting, mengenjreng gitarmu ke satu arah saja dan membuat suara bising yang ingin kamu dengar.

The Ramones tak pernah punya hit single. Album pertama mereka saja baru diganjar gold setelah 38 tahun. Kalau dibandingkan dengan impian mereka untuk pensiun setelah tiga tahun main musik sih, ini jelas gagal total. Hanya saja, aku harus akui mereka jadi tajir mampus dari iklan TV. Teriakan “Hey! Ho! Let’s Go!” itu melodik, cepat dan sangat bertenaga. Rapalan itu sudah jadi lagu anthem punk dan banyak orang yang tahu dari siapa teriakan itu berasal.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE AS

More VICE
Vice Channels