Musik Eksperimental

Festival Musik Eksperimental Nusasonic Adalah Gelaran Budaya Terpenting Tahun Ini

Musisi eksperimental Indonesia, Asia Tenggara, dan Eropa saling berkolaborasi setara selama 11 hari acara. Kalian bisa mendengar musik dari penampil pilihan VICE di artikel ini.

oleh Yudhistira Agato Dan Tiitah AW
06 Desember 2018, 8:21am

Sore itu, seorang supir bus Trans Jogja rute 4B, Heru mendapatkan pengalaman yang berbeda. Hanya beberapa jam sebelum shift-nya usai, busnya digeruduk sekitar 20 orang, didominasi bule, di halte Embung Langensari Yogyakarta. Mereka masuk membawa speaker berukuran besar dan beberapa alat yang terlihat asing. Kabel-kabel tersebut dicolok dan mereka seketika berdiri mengerubung di bagian tengah bus. Satu orang tiba-tiba jongkok dan memainkan alat aneh itu. Seketika, bebunyian yang kasar dan melengking nyaring bersahut-sahutan mengudara di bus mengalahkan lagu pop yang diputar lewat radio bus.

“Ini acara apa e?” Heru bertanya pada saya yang berdiri paling dekat dengan kursi sopir.

“Festival musik eksperimental Mas,” jawab saya berusaha fokus pada kerumunan.

“Oh, musik-musik horor gitu ya?,” balasnya sambil melirik sekilas.

Saya mengangguk saja, kebingungan menjelaskan pada Heru bahwa peristiwa di busnya itu didalangi oleh kolektif noise asal Yogya, Jogja Noise Bombing yang memang secara harafiah sudah manggung di mana-mana, mulai dari taman, kampus, di pinggir jalan depan stall ayam goreng, dan bahkan di luar Indonesia.

Jogja Noise Bombing hanyalah satu dari 57 seniman musik eksperimental dari Asia Tenggara dan Eropa yang ambil bagian dari festival musik Nusasonic. Festival ini diinisiasi oleh Goethe-Institut di Asia Tenggara dan merupakan kolaborasi antara Yes No Klub (Yogyakarta), WSK Festival of the Recently Possible (Manila), Playfreely/BlackKaji (Singapura) dan CTM Festival for Adventurous Music & Art (Berlin). Nusasonic berlangsung selama 11 hari (yup, sebelas) sepanjang 2-13 Oktober lalu dan bukan hanya menampilkan konser live, tapi juga menghadirkan diskusi, workshop, lokakarya dan bahkan program residensi singkat bagi beberapa seniman pegiatnya.

1544082113131-45515225031_379f36c09e_m
Jogja Noise Bombing. Foto oleh DISK/CTM via flickr
1544083168723-30573856337_7f28b3aef0_z
Indra Menus bermain bersama Jogja Noise Bombing. Foto oleh DISK/CTM via Flickr

Wok The Rock, salah satu penggodok program-program Nusasonic dan pencetus Yes No Klub—acara musik yang melahirkan Senyawa—mengaku festival ini memang ambisius. “Dengan keterlibatan Goethe, kami bisa bikin acara dengan skala yang lebih besar,” ujar Wok, “Kami bisa memetakan inisiatif-inisiatif yang sudah ada dan berbagai bentuk musik eksperimental di wilayah Asia Tenggara.”

Geliat musik eksperimental di tanah air memang sedang menarik-menariknya. Tidak bisa dipungkiri, kesuksesan Senyawa dalam meramu racikan musik tradisi dengan musik avant-garde kontemporer telah menjadikan mereka sensasi global dan langganan manggung di festival-festival di Eropa dan negara-negara lainnya dalam beberapa tahun terakhir. Ini menyebabkan semakin banyak pasang mata tertuju kepada Indonesia, dan wilayah Asia Tenggara, menantikan kemunculan bebunyian-bebunyian atau pendekatan musik yang berbeda.

Karena itulah, rasanya justru agak mengagetkan bahwa Nusasonic 2018 adalah festival musik eksperimental berskala besar pertama yang diadakan di Indonesia (dalam skala yang lebih kecil, pernah ada Jogja Noise Bombing Festival, Jakarta Noise Fest, dll). Rully Shabara, bagian dari duo Senyawa, bertutur, “Memang sudah saatnya kita memiliki festival-festival yang fokusnya adalah hal-hal seperti ini,” ujarnya. Rully juga mengkritik bagaimana kebanyakan festival musik di Indonesia terlalu berfokus di menjaring massa sebanyak mungkin, penjualan tiket dan dana sponsor. “Banyak yang melupakan esensi-esensi fungsinya dan malah menjadikannya industri,” tambah Rully, “Itu sebabnya perlu ada festival-festival yang memiliki visi, misi dan tema jelas seperti ini. Di luar negeri banyak sekali yang seperti ini.”

Tentu saja Nusasonic bukanlah festival musik pertama di Indonesia yang tidak mengandalkan dana dari perusahaan besar (baca: rokok), namun banyaknya isu dan ide-ide sosial dan kultural yang ditekel oleh festival, serta pendekatannya yang cenderung organik dan sabar telah menjadikannya sebuah wadah yang unik dan segar, terlepas dari fokusnya ke musik eksperimental atau tidak.

Berikut tiga poin penting yang menurut kami membuat Nusasonic sangat relevan kehadirannya secara kultural.

BUKTI INDONESIA DAN ASIA TAK KEKURANGAN MUSIK MENARIK

Di dunia musik, sound-sound baru selalu muncul dari mereka yang berani mengambil risiko, bereksplorasi dan bereksperimen. Melihat beragamnya program dan penampilan para musisi di Nusasonic, mulai dari yang berbau elektronik, ambient, bernuansa nge-jam dan rock, sampai yang menggunakan bebunyian alam, kalau kamu berpikiran terbuka, rasanya enggak mungkin enggak ada satupun yang nyangkut.

Sayangnya sampai ketika artikel ini dimuat, video dokumentasi resmi Nusasonic belum selesai diedit, jadi kamu harus bersabar sebelum bisa menyaksikan kegilaan-kegilaan yang terjadi bulan Oktober lalu di Yogyakarta (percaya deh, musik-musik macam ini lebih maknyos kalo ditonton bareng visualnya).

Tapi jangan sedih, sebagai pemanasan, berikut sedikit dari beberapa proyek musik favorit kami yang manggung di Nusasonic kemarin—maklum, performernya banyak banget, enggak mungkin ditulis semua.

Fauxe

Lewat album terbarunya Ikhlas, produser Singapura, Fauxe menggabungkan downbeat, breakbeat dan hip-hop dengan sampel-sampel musik Hokkien, Tamil, dan dialog film yang semuanya dia ambil dari YouTube. Kurang gokil apa coba? Kapan lagi kamu bisa joget sambil menyelami sejarah kaya musik Malaysia?

Cheryl Ong

Drummer Singapura ini tergabung dalam The Observatory, kelompok rock avant-garde yang baru saja merilis split bareng legenda psych-rock Jepang, Acid Mothers Temple & The Melting Paraiso U.F.O. Dia juga pernah bermain untuk SA, trio yang memainkan musik ambient menggunakan instrumen tradisional Cina. Intinya Cheryl bukan drummer kemarin sore. Di tautan berikut, kamu bisa menemukan dia menggebuk drum dalam settingan musik yang lebih bebas dan eksperimental.

Nadah El Shazly

Jujur, saya tidak tahu apa-apa soal scene musik Mesir, tapi kalau Nadah El Shazly salah satu representasi talenta negara tersebut, rasanya saya perlu mendengarkan lebih banyak. Produser asal Kairo tersebut menggabungkan elemen elektronika, avant-garde dengan scale musik Mesir. Namun bintang utamanya adalah vokal Nadah yang indah, menerawang, melodik, khas cengkok wilayah tersebut yang sulit diimbangi oleh banyak vokalis perempuan lainnya.

Potro Joyo


Proyek baru dari Wukir Suryadi—dari Senyawa—dan Eko Hadi Wijaya, Potro Joyo menyuguhkan musik yang terasa amat spiritual—entah dimaksudkan begitu atau tidak. Memadukan neotribal dan musik tradisional Jawa, kabarnya Potro Joyo terbentuk ketika para anggotanya melakukan penelitian di desa Tumpang, kaki gunung Semeru, Jawa Timur. Intro dari “Uluk uluk”, diambil dari album self-titled mereka, yang menyajikan vokal berbahasa Jawa melalui semacam efek filter sebelum berubah menjadi lagu folk tribal selalu membuat saya terkesima.

Setabuhan

Rully Shabara, vokalis Senyawa tidak hanya sibuk mengurus program Kombo di Nusasonic, tapi juga menampilkan proyek musik terbarunya. Setabuhan merupakan semacam interpretasi ulang musik trance tribal modern yang menghadirkan dua perkusionis, Ramberto Agozalie and Caesarking (kalau kamu pernah nonton proyek Rully lainnya, Zoo, manggung dalam 1-2 tahun terakhir, kamu pasti sudah paham betapa handalnya mereka) saling mengisi dan melengkapi detak jantung Setabuhan sementara Rully bebas mengekspresikan diri. Serunya lagi, penampilan live grup ini selalu ditemani oleh pencak silat atau bela diri lainnya, menambah intensitas dan energi yang dibawa oleh Setabuhan.

Sote


Mendengarkan musik Sote alias Ata Ebtekar, komposer musik elektronik dan seniman sound dari Tehran, Iran benar-benar membuka mata—dalam kasus ini, telinga—saya. Minimalis, abrasif, sulit ditebak, Sote menggabungkan musik komputer modern dengan bebunyian tradisional Iran. Hasilnya? Seperti mendengarkan soundtrack film post-apocalyptic di masa depan yang penuh kehancuran.

MEMBERI PEREMPUAN LEBIH BANYAK RUANG

Di Nusasonic, Sarana, kelompok noise asal Samarinda yang beranggotakan tiga perempuan mengaku bahwa di lewat program Sonic Wilderness-lah untuk pertama kalinya mereka merasakan workshop yang sepenuhnya berisikan perempuan. “Ada yang basednya elektronik, ada yang nyinden, ada yang noise kayak kita,” ujar Sarana, “jadi beragam, gak ada yang dominan.”

Dyah Isaka Parameswara atau Woro yang lebih dikenal lewat moniker Menstrual Synthdrone, mungkin salah satu musisi noise/eksperimental perempuan pertama di Indonesia—semenjak 2012—mengaku langsung merasa terhubung dengan performer lainnya. “Langsung satu jiwa gitu, tek-tokan tanpa ngomong, langsung enak,” urainya.

1544082196258-44789650864_8c15614040_z
Laboratorium artistik - Sonic Wilderness. Foto oleh DISK/CTM via flickr

Di Indonesia, dan banyak negara lainnya, pegiat skena musik—terutama musik sidestream—masih didominasi oleh pria. Komunitas yang sehat harus memiliki banyak perspektif yang berbeda, yang tentunya hanya bisa didapat lewat keheterogenan. Oleh karena itu, penting bahwa teman-teman perempuan mendapat dukungan yang cukup untuk berkarya dan mengekspresikan diri, baik secara struktural maupun moral.

Nusasonic nampaknya telah mengambil satu langkah lebih jauh untuk memastikan ini terjadi. Selain topik diskusi “Building and Amplifying Female Networks” yang memberi wadah bagi seniman-seniman perempuan untuk berjejaring dan membangun solidaritas dan koneksi, panitia juga memastikan bahwa seniman perempuan akan punya andil yang besar di festival. “Rasio musisi perempuan ke laki-lakinya itu 40:60,” ujar Wok The Rock, “memang sengaja kami buat seperti itu.”

Maya selaku asisten program dari Goethe-Institut Indonesia mengamini. “Kita merasa hal ini penting,” ujar Maya, “jadi kita mikirin performer cewek yang terlibat, perempuan di tim panitianya, dan juga mengakomodasi para peserta perempuan yang terlibat.” Program Sonic Wilderness yang seharusnya membutuhkan waktu lebih lama, harus dipersingkat demi mengakomodir inisiator AGF, atau Antye Greie, seorang musisi/komposer/produser asal Jerman Timur karena statusnya sebagai ibu yang sulit berpisah terlalu lama dari anaknya, jelas Maya. “Ada juga peserta yang baru punya bayi jadi enggak bisa ikut program penuh dari pagi, ya itu enggak papa juga,” ujarnya menambahkan.

1544082230787-44601181315_63c1950e90_z
Sonic Wilderness. Foto oleh DISK/CTM via flickr
1544082965092-45515121431_1416e17b3b_z
Sonic Wilderness. Foto oleh DISK/CTM via flickr

Cheryl Ong, musisi eksperimental asal Singapura mengatakan ada banyak musisi perempuan di luar sana, dan banyak yang bagus, tapi banyak yang tidak mendapat kesempatan untuk unjuk gigi atau berkembang. “Akhirnya ada festival yang programnya mempedulikan keseimbangan gender,” ujar Cheryl, “Scene akan berkembang apabila perempuan diberikan ruang yang proporsional.”

ADA PROSES BELAJAR SETARA, MENGHAPUS SUDUT PANDANG EROPA-SENTRIS

Tidak bisa dipungkiri bahwa pusat industri musik dunia masih berada di negara-negara barat. Sejak kecil kita sudah kenyang makan musik—dan budaya pop—barat, tapi seberapa banyak yang mereka pahami soal kultur kita, atau negara-negara berkembang non-barat lainnya? Apabila kita menginginkan terjadinya sebuah bentuk kolaborasi atau kerja sama yang seimbang antara Eropa—diwakili CTM Festival dari Berlin—dan pihak pegiat musik—dalam kasus ini, musik eksperimental—Asia Tenggara, maka diperlukan sebuah bentuk pendekatan yang baru, alih-alih Nusasonic menjadi sekedar transfer informasi satu arah atau bentuk eksotifikasi yang dilakukan oleh teman-teman kita dari dunia barat.

Ketika merumuskan Nusasonic, Wok menghabiskan banyak waktu ngobrol dengan Jan—perwakilan dari CTM Festival—untuk memastikan pemikiran-pemikiran dan aktivitas dalam festival dilakukan atas dasar kesetaraan. “Eksotisme itu sebetulnya enggak apa-apa, karena memang mereka akan melihat hal-hal yang baru,” ujar Wok, “tapi ada hal-hal historis dan politis yang melatarbelakanginya, seperti pemikiran kolonialisme.” Membongkar pemikiran macam inilah yang menjadi PR utama kita, tambah Wok.

1544082314564-44601171145_40e7759cd4_z
Fauxe saat beraksi. Foto oleh DISK/CTM via flickr.
1544082341425-31642656158_42fea35588_z
Gabber Modus Operandi. Foto oleh DISK/CTM via flickr

Nusasonic awalnya hendak menggunakan sub-judul New Geography, yang langsung diprotes oleh Wok. Dia merasa judul tersebut menyiratkan bahwa negara-negara baratlah yang “menemukan” musik “baru” Asia Tenggara. “Karena kanal media dunia dikuasai oleh AS dan Eropa Barat, mereka cenderung melihat daerah-daerah lain sebagai penemuan,” ujar Wok, “padahal kan kita saling menemukan, saling belajar.”

Perwakilan dari CTM Festival, Jan mengaku bahwa dalam beberapa tahun terakhir, dia perlahan menyadari bagaimana perspektif Eropa-sentris kerap berdampak negatif. Namun ada rasa keingintahuan yang semakin besar, dan keinginan untuk bisa keluar dari itu dan belajar dari sudut pandang lain, tambahnya. “Oleh karena itulah kami memulai dialog dengan banyak wilayah di dunia lewat festival kami,” ujar Jan, “dan itu jugalah salah satu inti dari Nusasonic.”

Jan sadar hubungan kerja sama antara Eropa dan Asia Tenggara memang masih sangat kurang. “Tidak banyak hubungan dan mobilitas dari musisi Asia Tenggara,” ujar Jan, “dan lebih sedikit lagi pengetahuan yang dimiliki pecinta musik di Eropa perihal apa yang terjadi di wilayah ini, termasuk kami CTM.” Jan juga menyadari bahwa di Indonesia dan Asia Tenggara dukungan akan beberapa bentuk kesenian sangatlah sedikit, atau tidak ada sama sekali.

1544082383130-31642640468_338ea86de6_z
Setabuhan. Foto oleh DISK/CTM via flickr
1544082551302-30573798887_52f6f63dca_z
Sote. Foto oleh DISK/CTM via flickr
1544083134224-43697992120_3aa7dbabc5_z
Mobilegirl. Foto oleh DISK/CTM via flickr

Lebih dari sekadar memberikan kesempatan bagi musisi Asia Tenggara untuk bisa tampil di Eropa, dan meneruskan proses pembelajaran ini kembali ke tanah air, Nusasonic diharapkan memulai dialog dan mendorong orang-orang di Berlin, Jerman, dan Eropa untuk mendapatkan perspektif baru, dan menghapus stereotip yang mereka punya akibat kurangnya pengetahuan akan situasi di wilayah lain di dunia.

"Ini hanya bisa terjadi lewat kontak langsung," ujar Jan, "Kamu harus bertatap muka, mendengarkan pengalaman orang lain, kalau tidak, perubahan tidak akan terjadi."

Suasana politik dan sosial di dunia saat ini mencerminkan banyaknya kebencian. Banyak orang menutup diri terhadap kultur lain dan menolak berusaha memahami hal-hal di luar pemikirannya sendiri. “Penting bahwa kita selalu bersikap terbuka, dan mengadopsi banyak perspektif di dunia ini,” ujar Jan, “Kalau kita menginginkan masa depan di mana ketidaksetaraan bisa dikikis, termasuk dalam budaya musik, penting untuk selalu memastikan proses menuju itu terus berlangsung, dan Nusasonic adalah sebuah proyek yang bagus untuk itu."


Nusasonic tidak hanya diadakan tahun ini saja. Nantikan program-program lainnya dari mereka tahun depan dan seterusnya. Artikel ini terwujud berkat kolaborasi VICE X Goethe Institut