Kesehatan Tubuh

Sorry Bosku, Air Lemon Enggak Meningkatkan Metabolisme Tubuh

Detoks? Paling kaya Vitamin C? Menetralkan Ph tubuh? Coba cek lagi saran ahli-ahli ini yang mungkin berseberangan dengan yang kamu percaya selama ini

oleh Elizabeth Brown
30 Januari 2019, 12:00pm

Sains Photo Library / Getty

Mungkin karena lemonnya. Atau mungkin juga karena airnya. Yang jelas, air lemon sedang jadi komoditas hot di dunia kesehatan, apalagi di akun-akun Instagram yang mengkampanyekan cara hidup sehat kekinian. Banyak blogger instan yang kadung menahbiskan air lemon sebagai “obat instan” untuk segala macam masalah kesehatan dari jerawat sampai bengkak-bengkak pada sendi. Gisele Bündchen tak pernah alpa memulai harinya dengan meneguk air lemon. Beyonce lebih loyal lagi. Diva yang satu ini malah mengaku bisa meminum satu galon air lemon sehari.

Tapi, apa sih sebenarnya air lemon? Secara teknis sih sederhana penjelasannya: air yang ada lemon di dalamnya.

Gampang kan? Memang. Tapi, seperti biasa tafsiran buat hal-hal yang sederhana biasanya ribet. Ambil contoh perkara air lemon ini deh. Saat ini, salah satu mitos berhubungan dengan faedah citrus bagi kesehatan adalah klaim bahwa air lemon bisa mempercepat metabolisme tubuh. Parahnya lagi, air lemon juga dijuluki sebagai booster kekebalaan tubuh, pelancar proses pencernaan, pengoptimal fungsi kelenjar adrenal hingga pembersih hati.

Klaim yang mengagumkan bukan? Tentu saja. Cuma, biasanya klaim-klaim adiluhung macam ini banyak bocornya (baca: hoaksnya). Makanya, kami mencoba menguji klaim-klaim tersebut. Sayangnya, dari penelitian kami, tak semua yang disebutkan di atas benar.

Apakah air lemon bisa bisa meningkatkan metabolisme tubuh dan membantu menurunkan berat badan?

Oh tentu tidak, apalagi kalau yang kamu maksud air minum biasa.

Begini, air bening yang biasa kita minum—dengan atau tanpa kandungan lemon di dalamnya—memang terbukti bisa meningkatkan metabolisme tubuh kok. Tapi ada satu catatan: tubuh kita harus membakar kalori untuk memanaskan dan memetabolisme air itu, kata Niket Sonpal, dokter spesialis penyakit saluran pencernaan (gastroenterologist) dan seorang adjunct professor di Touro College of Osteopathic Medicine. Jika airnya dingin, kita mungkin bisa membakar sejumlah kalori. Cuma jangan ngarep banget sih, jumlah tak sebanyak yang kita bayangkan, menurut sejumlah penelitian.

Mengenai penambahan lemon ke dalam air, Sonpal mengaku riset yang sudah-sudah belum sampai ke sana. Sebuah penelitian pada 2010 yang dikerjakan oleh sekelompok ilmuwan di Jepang menunjukkan bahwa tikus-tikus laboratorium yang sudah diprogram agar kebal terhadap insulin (gejala awal diabetes) susut berat badannya setelah diberikan antioksidan polyphenol yang terkandung dalam lemon. “Apakah hasil serupa bisa terjadi pada manusia? Kami belum tahu. Belum ada buktinya,” katanya.

Sonpal juga menunjukan bahwa minum air secara teratur bisa menyebabkan perut terasa kenyang. Jika ini terjadi, tubuh akan mengirim sinyal ke otak untuk berhenti makan pecel lele atau ngemil gorengan. Di sisi lain, air juga membantu penurunan berat badan pada pecandu kopi tinggi kalori. Hanya saja, camkan ini: lemonnya sendiri tak serta-merta membakar lemak dari makanan kita.

Oke deh, terus bagaimana kalau saya terlanjur melahap gorengannya? Saya kan perlu mencerna makanan ini. Bukannya lemon membantu proses pencernaan makanan ya?

Gini deh, bila kamu memadankan “membantu proses pencernaan” dengan merapatkan frekuensi boker, lemon jelas sangat membantu.

“Gagasan bahwa lemon bisa membantu pencernaan berasal dari pengobatan ayurveda,” terang Sonpal. “Begitu juga gagasan bahwa makanan yang asam membantu perutmu mengosongkan isinya. Maksud sebenarnya sih seperti ini: vitamin C dalam dosis tinggi bersifat laksatif. Vitamin C tak akan membantu proses pencernaan. Yang ada, vitamin C bikin kita berak lebih lancar.”

Sonpal menambahkan asam askorbat (alias Vitamin C) dalam lemonlah yang menjadikan buah ini pencahar yang mujarab. Malah, dirinya mengaku meresepkan lemon bagi pasiennya yang hendak menjalani ritual menjelang lanjut usia: pemeriksaan kolonoskopi.

Oke, tapi air lemon akan mendetoks badan saya, yang akan meniadakan efek gorengan, kan?

Enggak. Minum air lemon pagi-pagi takkan membersihkan toksin dari makanan dari restoran cepat saji malam sebelumnya. Sekali lagi ya, buat yang belum ngerti: Tubuhmu melakukan detoks sendiri–hatimu, ginjalmu, ususmu, dan kulitmu melakukan detoks. Menurut Sonpal, berusaha mendetoks tubuhmu dengan mengkonsumsi minuman takkan berhasil.

“Manusia itu bukan kayak wastafel, yang kalau mampet tinggal dituangin zat tertentu biar semuanya turun,” kata Sonpal. “Ginjal kita mengencingkan zat. Usus kita juga membuang zat-zat tertentu. Hati dan ginjal kita bertugas untuk menyaring. Menggunakan air dengan lemon untuk ‘mendetoks’ takkan mendetoks apapun. Dia hanya akan membuatmu hidrasi dan membuat air terasa lebih enak.”

Oke, lupakan gorengannya. Saya cuman mau minum air lemon untuk meningkatkan imunitas pas lagi musim flu.

Kamu memikirkan vitamin C, dan kamu masih keliru.

Pertama, lemon itu enggak mendominasi pasar vitamin C. Buah sitrus lainnya, melon, brokoli, kale, dan banyak makanan lain merupakan sumber vitamin C yang baik, dan lemon enggak mengandung unsur ajaib yang akan mencegah virus. Kedua, vitamin C belum tentu akan meningkatkan imunitas.

Ada bukti bahwa mengonsumsi vitamin C pas lagi batuk dapat mengurangi intensitas dan durasi penyakit, tetapi hanya sedikit (sekitar 8 persen untuk dewasa dan 14 persen untuk anak-anak), tapi vitamin C bukan solusi efektif untuk mencegah virus. Vitamin C enggak bisa menyembuh batuk, menurut Sonpal. “Yang dilakukan vitamin C adalah mengurangi durasi kamu merasakan penyakitnya,” lanjutnya. “Ia tidak membantu dalam hal infeksi. Vitamin C hanya membantumu merasa sembuh lebih cepat.” Ya, setidaknya ada gunanya.

Lemon mengandung 30 mg Vitamin C, sedangkan kadar vitamin yang direkomendasikan yaitu sekitar 65 hingga 90 mg. Dosis yang dipakai dalam penelitian ini sebanyak 1 hingga 2 gram (1.000-2.000 mg) setiap hari, makanya tingkat penurunan demamnya bisa sampai 8-14 persen. Kalau menurut kalkulator, kamu harus minum sekitar 33 jus lemon per hari supaya bisa mendapatkan manfaat yang sama.

Kalau lemon bersifat asam, itu artinya tubuh saya bisa jadi alkali dong?

Tubuh kita enggak bisa di-alkali. Itu semua cuma akal-akalan saja. Marc Hellerstein, dosen ilmu gizi dan toksikologi di University of California, Berkeley, mengatakan dalam artikel Tonic tentang diet alkali kalau tubuh memiliki “metode yang sangat efektif untuk mengatur pH dalam darah. Apa yang kamu makan enggak akan memengaruhi pH darahmu, kecuali kalau kamu sedang sakit atau kondisi ginjalmu buruk.”

Paru-paru dan ginjal mengontrol pH tubuh dan kamu enggak akan mengubahnya dengan minum air lemon (atau yang lainnya). Asalkan kamu sehat walafiat, kamu enggak perlu mengubah alkalinitasnya.

Saya bakalan tetap minum air lemon, sih. Enggak berbahaya kan?

Kebanyakan minum air lemon bisa berdampak buruk pada enamel gigi.

Kalau kata Lee Gause, dokter gigi di Manhattan dan dosen di College of Dentistry, New York City, gigi jadi lebih sensitif dan mudah sakit akibat sering memasukkan air lemon ke pola makan sehari-hari. Pasiennya banyak yang berobat karena alasan ini. Asam dalam lemon bisa menggerogoti enamel gigi, lapisan yang melindungi gigi dari rasa dingin, panas, dan sakit pada saraf mulutmu.

Gause menyarankan sebaiknya kamu membersihkan gigi setelah minum air lemon. “Segera bilas dengan air selama 30 detik hingga satu menit. Habis itu kumur-kumur pakai obat kumur yang mengandung fluoride selama 30 detik,” katanya. “Tingkat fluoride pada pelindung gigi akan turun, dan sensitivitasnya juga berkurang.”