Seputar SAR

Berpaling ke Petunjuk Mistis, Saat Upaya tim SAR Mencari Orang Hilang Temui Jalan Buntu

Kontributor VICE mengikuti proses pencarian orang hilang di Gunung Lawu, menyandingkan prosedur resmi tim SAR dan petunjuk mistis yang terpaksa diperhatikan karena semua upaya rasional mentok.

oleh Titah AW; foto oleh Umar Wicaksono
01 Februari 2019, 9:55am

Ilustrasi tim SAR oleh Yasmin Hutasuhut.

Di kejauhan awan putih pekat menutup separuh Gunung Lawu, pada Selasa 22 Januari lalu. Kawasan puncak gunung ditelan mendung, tanda di sana hujan badai sedang melanda. Saat bersamaan di Cemoro Kandang, salah satu basecamp jalur pendakian, hujan turun rintik dengan termometer di dinding menunjuk angka 12 derajat celcius. Suhu di puncak bisa lebih rendah lagi.

Ketika VICE tiba di Cemoro Kandang, beberapa orang sedang sibuk berkoordinasi di dalam posko sementara lainnya beraktivitas di dapur umum di samping musala. Selain posko, tempat ini jadi titik pusat koordinasi tim Search and Rescue (SAR) mencari Alvi Kurniawan, 20 tahun, pendaki asal Magelang yang hilang sejak 2 Januari.

Mereka yang ada di posko adalah relawan SAR gabungan yang bertugas menangani logistik dan pemantauan. Meski sekilas tampak santai, sejatinya mereka sedang bersiaga. Pasalnya satu regu anggota mereka masih berada di dekat puncak, tepatnya di Pos 4, sejak 21 Januari. Sesekali radio HT yang ditaruh di pojok ruangan mengeluarkan bunyi kemeresek, tanda ada komunikasi. Di papan informasi, foto Alvi dan data-data tim terpampang.

"Di atas hujan badai dan jarak pandang hanya sekitar 1,5 meter. Enggak bisa ditembus, makanya pencarian dihentikan dulu," ujar Muhammad Adhlan, salah satu anggota SAR independen asal Magetan yang hari itu berjaga di posko. Regu yang masih berada di puncak terdiri dari SAR Independen, tim medis Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), komunitas Anak Gunung Lawu (AGL), serta ayah dan adik Alvi Kurniawan. Mereka dikawal tim K9 dari Polres Karanganyar yang membawa anjing pelacak bernama Jack Milenais.

Regu ini adalah rombongan pencarian terakhir yang berangkat swadaya. Pencarian resmi dari Basarnas dihentikan sejak 8 Januari, setelah memenuhi prosedur standar (SOP) SAR terhadap orang hilang di gunung, yaitu menggelar pencarian selama tujuh hari. Karena tetap nihil setelah tenggat dilewati, tim resmi menarik semua personel dan logistik. Dikutip dari laporan situs berita VIVA.co.id, meski pencarian dihentikan Humas Basarnas Pos Surakarta Yohan Tri Anggoro berjanji timnya tetap melakukan pemantauan dari posko.

Sebulan hilang, Alvi tak kunjung ditemukan.

1548919351241-Poster-pencarian-Alvi-terpasang-di-jendela-Basecamp
Foto oleh Umar Wicaksono.

Hari itu, pada 1 Januari, harusnya Alvi bertemu dua temannya di puncak Hargo Dalem, turun kembali ke posko Ceto, lalu pulang dan melanjutkan hidup seperti biasa. Selepas memisahkan diri di daerah batas Sabana Pasar Dieng dekat Pos 5, ia seolah ditelan bumi. Cerita di berbagai media menyitir keterangan Alvi diajak balapan mencapai puncak oleh pendaki perempuan asal Wonosobo. Versi lain menyebutkan Alvi sendirilah yang berinisiatif mendahului rombongannya.

Temannya ingat, saat itu cuaca mulai mendung. Alvi cuma mengenakan kaos dalam yang didobel t-shirt lengan pendek dan celana jeans. Karena berangkat dari Pos 5, dia tidak membawa logistik sama sekali. Di tubuh Alvi, saat terakhir kali terlihat, hanya melekat tas selempang berisi telepon genggam dan sejumlah uang.

Selain diangkat media massa, kabar hilangnya Alvi Kurniawan beredar di sosial media. Terutama di akun-akun instagram yang mendedikasikan kontennya seputar tren pendakian gunung yang beberapa tahun terakhir ini melanda anak muda, seperti @jejak_pendaki, @mountnesia, @id_pendaki, @gunungindonesia, dan lainnya.


Tonton dokumenter VICE menyorot praktik pengusiran setan yang mendadak kembali populer di Meksiko:


Di akun-akun ini turut beredar berbagai spekulasi soal hilangnya Alvi. Mulai dari pembahasan terhadap Gunung Lawu yang dianggap salah satu gunung paling mistis di pulau Jawa, angkernya Pasar Dieng alias Pasar Setan yang jadi lokasi terakhir Alvi terlihat, sampai hasil penerawangan netizen yang mengaku pendapat petunjuk mistis soal keberadaan Alvi.

Akun @jejak_pendaki misalnya mendapat beberapa direct message maupun komentar yang menyuruh tim SAR mencari ke arah tenggelamnya matahari, di dalam goa, hingga petunjuk untuk melakukan ritual dengan membawa macam-macam sesaji seperti ayam dan bunga tujuh rupa. Ramainya spekulasi mistis ini membawa VICE ke kaki Gunung Lawu, untuk mengetahui bagaimana Tim SAR menanggapi petunjuk-petunjuk tersebut.

"Saya percaya Gunung Lawu itu mistis, toh di agama juga kita disuruh percaya sama yang gaib. Tapi kami sih prinsipnya enggak boleh mementahkan opini apapun dari orang atau faktor X, misalnya petunjuk mistis. Itu pilihan terakhir," ujar Adhlan. Ia mengaku 'bantuan' petunjuk mistis sudah jadi hal lumrah bagi kerja SAR, setidaknya di Indonesia.

1548919333731-petunjuk-indigo
1548919597034-DM-di-jejak-pendaki-4
Screenshot via Twitter dan Instagram

Sekalipun tersedia petunjuk mistis, Adhlan dan tim berusaha mematuhi SOP dari Badan SAR Nasional. "Misalnya SOP dari Basarnas tujuh hari, berarti tujuh hari ngikutin aturan main logika, setelah itu baru kita mempertimbangkan faktor X," ujarnya.

Dalam praktik SAR di Indonesia selama ini terdapat satu istilah populer yaitu 'Sarkun' (Saran Dukun). Sarkun adalah praktik pencarian dan penyelamatan yang didasari oleh penglihatan atau petunjuk-petunjuk mistis dari mereka yang memiliki kepekaan spiritual. Di berbagai kasus orang hilang di gunung atau kecelakaan laut, Sarkun biasanya dikerahkan setelah prosedur tim SAR resmi tidak kunjung mendapat hasil. Karena bukan berlandaskan rasio, pencarian dengan dukun jarang sekali dikabarkan lewat kanal resmi.

Selain petunjuk mistis oleh netizen, seperti yang terjadi di insiden Alvi, keterlibatan Sarkun banyak terjadi di kasus SAR lain. Baru-baru ini, tim SAR melibatkan dukun untuk mencari Ali Ajir (32), seorang warga Aceh Barat Daya yang hilang ditelan arus Krueng (sungai) Beukah Blangpide pada 16 Januari 2019. Begitu pula Juni 2018, ketika dukun dikerahkan Basarnas mencari lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, seperti dilansir Liputan6.com. Nyatanya bangkai KM Sinar Bangun akhirnya ditemukan setelah 11 hari tak terlacak di kedalaman 450 meter di bawah air, walau seberapa besar kontribusi dukun cukup sulit diukur.

Pada kasus hilangnya Angelina Yofanka, mahasiswi Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung di Sungai Cikandang, pada 2012, Sarkun juga terlibat. Letnan Kolonel Armed Edi Yusnandar, Komandan Kodim 0611 Garut, terang-terangan mengaku minta bantuan dukun. "Cara ini untuk mempercepat pencarian," ujarnya kepada Tempo .

Batamnews pernah melansir berita 39 dukun yang menggelar ritual di lokasi yang mereka duga sebagai tempat hilangnya pesawat Air Asia 2014 lalu. Pesawat ini bertolak dari Juanda menuju Singapura, namun hilang kontak diperairan Belitung.

"Pesawat itu jatuh karena adanya kerusakan mesin. Saat ini posisi pesawat di dalam laut dekat karang timur laut Pulau Nangka. Untuk membuktikannya perlu dilakukan ritual khusus. Wilayah Belitung, baik darat, laut maupun udara dipenuhi hal gaib," tutur Mukhti, ketua perdukunan dan adat Belitung.

Dalam ritualnya, Sarkun biasanya meminta barang-barang aneh yang tidak ada hubungannya dengan prosedur standar SAR. Seperti ayam jenis tertentu, aneka macam kembang, kemenyan, hingga tali rafia warna khusus. Biasaya barang-barang ini ditujukan sebagai sesajen saat melakukan ritual atau ‘memohon’ kepada makhluk halus yang menyulitkan usaha tim SAR, agar mereka melunak dan memudahkan jalan tim pencari.

Aiptu Agus Andriono, salah satu anggota tim K9 dari Polres Karanganyar yang sejak beberapa hari berada di pos, tak menampik petunjuk mistis kadang membantu. Tapi dia tidak ingin upaya pencarian terlalu dipengaruhi takhayul sejak awal. "Kalau saya realitanya aja gimana. Kami ini usaha udah lama, biar tim kami untuk sementara kerja seperti ini dulu aja," tukasnya. "Soal dukun atau paranormal, pengalaman saya banyak. Saya itu di reserse 17 tahun, pernah juga mencari pelaku kejahatan pakai [dukun]."

Kata Agus, aparat tidak bisa begitu saja menjadikan keterangan dukun sebagai pedoman menjalankan operasi. Informasi dukun memang dipertimbangkan, tapi pengambilan keputusan tetap mengacu pada hasil penyelidikan lapangan.

Posko Cemoro Kandang telah didatangi beberapa orang yang mengaku punya petunjuk mistis atas keberadaan Alvi. Untung, salah satu anggota komunitas AGL, bercerita kalau datang satu orang Suku Anak Dalam dari Jambi, satu dari Kalimantan Timur, serta ada dua cewek dari Malang. Semua minta izin melakukan ritual mistis untuk mendapatkan petunjuk keberadaan Alvi.

"Kami sih mempersilahkan mereka melakukan ritual, pokoknya tujuannya sama [mencari orang hilang]," ujar Untung.

Tapi Untung tak selalu merespons positif mereka yang mengaku dapat petunjuk mistis. Ia dan tim menghimbau pengguna sosial media yang merasa punya penerawangan terhadap keberadaan Alvi, agar datang langsung ke lokasi dan berkoordinasi dengan tim SAR membuktikan omongan mereka. Ia mengaku gerah menanggapi netizen yang mengaku tahu lokasi si orang hilang. "Mungkin beberapa ada yang beneran, tapi pasti kebanyakan cari sensasi aja," imbuhnya.

1548919530897-Sesajen-di-pintu-masuk-jalur-Cemara-Kandang
Sesajen di gerbang pendakian Cemoro Kandang. Foto oleh Umar Wicaksono.

Dalam mencari orang hilang di gunung, tim penyelamat biasanya menggunakan teknik Explore Search and Rescue (ESAR) untuk menghadapi medan berupa hutan. Patokan utama dalam menentukan lokasi adalah saksi mata, yaitu enam teman mendaki Alvi dan orang-orang di sekitar area. Prosedur SAR untuk kejadian di air, udara, dan darat tentu saja berbeda. Usaha pencarian di darat, apalagi di gunung, lebih rumit lantaran tak ada perhitungan pasti. Berbeda dengan prosedur SAR di air yang bisa menggunakan hitungan titik koordinat, diperkirakan dari arah arus air, debit air, dan berat badan korban. "Jenazah kalau di air makin lama makin ringan dan mengembang, 2-3 hari normalnya sudah ngambang di atas air," kata Adhlan.

Pencarian Alvi sempat kembali digelar pada 11-13 Januari, disusul misi tambahan pada 18-20 Januari. Mengingat kondisi terakhir Alvi dan cuaca Gunung Lawu yang buruk selama dua pekan, tim SAR berusaha realistis. Anjing SAR yang diturunkan oleh tim K9 Polres Karanganyar adalah jenis kadaver, kemampuannya mencari jenazah. Pemilihan anjing ini menunjukkan perhitungan tim SAR terhadap kondisi Alvi.

"Soalnya tanggal 18 Januari di Pos 4 muncul bau menyengat, tapi belum ketahuan apakah itu bau jenazah atau belerang," ujar Aiptu Agus. "Soalnya survivor Alvi kan hanya membawa apa yang melekat di badan. Ada kemungkinan [masih hidup] lah, tapi kecil."

1548919647068-Suasana-di-dalam-Base-camp-cemara-Kandang
Suasana di posko pencarian Alvi. Foto oleh Umar Wicaksono.

VICE sempat melacak keberadaan juru kunci Gunung Lawu, untuk mencari kemungkinan lain terlibatnya Sarkun. Tiap gunung di Indonesia umumnya punya juru kunci yang menguasai hal tak kasat mata. Rupanya informasi dari beberapa warga lokal senada: gunung Lawu tak memiliki juru kunci, berbeda dari Gunung Merapi. "Gunung Lawu itu istimewa, enggak ada orang yang sanggup jadi juru kunci. Kalau kamu nyari terus ada orang yang ngaku jadi juru kunci Lawu, berarti kamu dibohongi," ujar salah satu warga yang kami temui.

Saat artikel ini ditulis, laman Facebook Gunung Lawu 3265 Mdpl mengunggah kabar bila pencarian terhadap Alvi resmi ditutup total pada 23 Januari 2019. Regu terakhir yang menyertakan keluarganya turun dari puncak. Mereka merasa semua usaha lahir dan batin menemukan Alvi sudah dilakukan.

Alvi hanya satu dari sekian kasus pendaki hilang atau tersesat di gunung yang tak kunjung ditemukan. Dua minggu sebelum Alvi, seorang siswa SMK hilang di Gunung Arjuno dan belum ada kabar hingga artikel ini dilansir.

Kejadian tragis serupa pasti akan kembali dihadapi di masa mendatang. Semua elemen tim SAR berusaha sesigap mungkin menghadapi insiden seperti ini. Termasuk mengapresiasi dan tidak langsung mengabaikan petunjuk mistis yang diberikan banyak pihak.

"Bolehlah [pakai petunjuk mistis], satu tujuan menemukan survivor, ditempuh dengan berbagai cara," tutup Aiptu Agus sambil menarik resleting jaketnya ke atas. Saat panggilan tugas pencarian berikutnya datang, Agus hanya bisa berharap akhir dari misinya dapat berakhir dengan kabar gembira.