Quantcast
Menyelami Dunia Horor Ganjil Tontey

Seniman muda Natasha Gabriella Tontey menggelar pameran di Footurama, Jakarta. Dia membahas kanibalisme, kemiripan horor sosial Jepang dan Indonesia, hingga kenangan buruk film G30S/PKI.

Di dunia seni rupa Indonesia, tidak ada seniman lain yang terobsesi pada horor-horor ganjil melebihi Tontey. Nama Natasha Gabriella Tontey lima tahun belakangan semakin sering terdengar meramaikan berbagai pameran dan proyek kolaborasi. Baik di tanah air ataupun di luar negeri. Tontey meramaikan pameran poster Mata Perempuan sebagai bagian dari Jakarta Bienalle 2011, terlibat Body Festival besutan Ruang Rupa pada 2013. Dia pun berkolaborasi dengan seniman asal Australia dalam proyek 'Angkot Alien' yang ditampilkan dalam New Wave Festival di Melbourne pada 2016. Tontey menjamah bermacam medium, mulai dari desain grafis, fotografi, performance art, hingga video eksperimental.

Kini Tontey siap menyajikan deretan karya terbarunya, Little Shop of Horrors. Seniman yang menghabiskan waktu mukim di Yogya dan Jakarta itu meramaikan Perhelatan Footurama, Como Park, Kemang Timur. Konsep pamerannya banyak menampilkan citra-citra ganjil. Diantaranya jajaran boneka bayi yang dimutilasi sampai prosesi 'makan mayit'. 

Konsep awal Little Shop of Horrors rupanya sudah pernah dia tampilkan di Jepang, ketika diundang mengikuti residensi seniman di Distrik Koganecho, Kota Yokohama dua tahun lalu. Kawasan itu satu dasawarsa lalu adalah lokalisasi besar dihuni ratusan pekerja seks. Pemerintah setempat kemudian menggusur pelacuran, mengubahnya menjadi distrik seni. Tontey tertarik menggali cerita kelam ini, karena melihat respon warga dan pejabat setempat yang enggan membahas soal pelacuran. Dia menggubah cerita itu menjadi karya seni performatif.

Untuk memperkuat gagasan pameran yang kini disesuikan dengan konteks Indoensia, Tontey mengundang Ken Jenie (Jirapah) dan musisi elektronik Dipha Barus berkolaborasi.

VICE Indonesia ngobrol bersama Tontey, membahas hal-hal yang membuatnya tertarik pada gagasan serba ganjil, kesadarannya bahwa ada kemiripan kultur Jepang dengan Indonesia soal horor, serta mengurai pandangan seniman muda ini tentang kanibalisme.

VICE Indonesia: Nama pameran elo 'Little Shop of Horror', diambil dari film horor Amerika Serikat 60-an berjudul sama bukan sih?
Tontey: Namanya emang dari situ inspirasinya. Gue emang suka filmnya, biarpun cerita filmnya beda banget. Cuman karena cocok sama konsepnya jadi gue ambil nama itu.

Kapan pertama kali elo tertarik menyelami dunia horor?
Tontey: Jadi sebenernya horor yang gue maksud bukan hantu-hantuan sih, lebih ke personal horor gitu. Horor itu kan luas banget, kalo dalam berkarya gue tertarik untuk mempertanyakan ulang bagaimana ide dari ketakutan itu bisa dimanifestasi dan dibuat untuk mengontrol orang lain dan publik gitu.

Jadi konteksnya bukan horor supernatural, tapi horor sosial?
Iya.

Kejadian apa misalnya yang elo kategorikan horor sosial?
Kayak waktu kecil gue nonton film Pemberontakan G30S/PKI (arahan sutradara Arifin C. Noer-red) dan gue percaya banget gitu kan. Tapi setelah kuliah dan ngobrol sama orang lain, ternyata itu bohongan ya. Propaganda gitu.

Apa dampak menyadari adanya upaya pembohongan publik dan horor sosial, ke karir elo sebagai seniman?
Gue jadi kayak penasaran, 'karya gue itu bisa dikembangin dengan cara apa nih?' Biarpun kemasannya hantu-hantuan, tapi maksud gue engga gitu sih. Gue cuma mau mengemas karya gue lewat cara yang gue suka.

Bagaimana elo menghubungkan tema horor sosial yang elo pengen utarakan, menggunakan obyek-obyek yang berbau supernatural?
Karya gue Little Shops of Horrors itu pertama kali gue bikin pas residensi di Yokohama, tepatnya di Koganecho. Di situ tuh tadinya semua rumah bordil dan pelacuran lalu dibersihkan oleh pemerintah,  dijadikan art side. Tapi gue bingung kenapa mereka sebagai institusi seni engga mau ngomongin sejarah gelap daerah Koganecho. Jadi gue mencoba masuk ke sejarah kelam itu, bikin Little Shop of Horrors yang lebih fun, today's amusement, jualan mainan gitu.

Jadi selama tiga bulan di Yokohama, gue mencari tahu ketakutan orang Jepang, ketakutan penduduk setempat situ. Dari situ gue klasifikan ulang riset-risetnya, lalu gue gabungin lagi dengan tokoh hantu Jepang. Gue tulis ulang jadi cerita baru. Dari 12 cerita yang gue bikin, gue cari mainan yang konteksnya sesuai dengan cerita yang gue buat. Jadi orang engga tau maenannya apa tapi yang mereka baca itu ceritanya dulu. Apalagi pada saat itu mereka sangat sensitif dengan Koganecho itu dulunya rumah bordil dan banyak prostitusi di situ.

Jadi apa ternyata ketakutan orang-orang di sekitar Koganecho?
Lebih ke pride gitu kali ya. Kayak karena tempat itu sekarang setengah institusi pemerintahan, jadi mereka engga bisa radikal. Tapi gue tetap mencari celah gimana caranya biar gue bisa ngomongin [sejarah prostitusi Yokohama] tapi engga ditolak sama pengelola pameran.

Pameran elo agak bersifat politis juga ya berarti?
Iya

Apa benang merah ketakutan yang dialami penduduk Jepang dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini?
Kayak propaganda PKI gitu misalnya. Gue  pernah pake baju gambar Frida Kahlo terus ada palu aritnya terus bokap gue takut. 'Eh kamu nanti ditangkep.' Masih ada hal-hal kayak gitu juga [di Jepang]. Kayak campur tangan pemerintah itu gede banget ke masyarakat secara umum.

Menurut elo kenapa pemerintah Indonesia dan Jepang segitu intrusifnya masuk dalam kehidupan publik?

Pastinya ada kepentingan-kepentingan yang kita engga tahu. Mereka berusaha mengontrol publik, sama kayak kenapa agama dibikin.

Jadi apa kemiripan horor Indonesia dan Jepang yang elo temuin?
Kemiripan secara visual. Kayak di Indonesia ada kuntilanak. Di Jepang namanya yurei. Di Indonesia ada kolor ijo, di Jepang ada Kappa. Cerita asal-usulnya juga mirip. Yurei itu kayak sundel bolong. Dia mati, tapi masih pengen nyari anaknya. Kalo kolor ijo mau merkosa orang, kalo kappa sebetulnya mau mengambil bola dari pantat orang. Cerita-cerita folklore ini engga jelas siapa yang buat, dan fungsinya buat nakut-nakutin orang. Elemen seperti itu sih.

Beberapa karya-karya elo merupakan hasil kolaborasi. Little Shops of Horror yang edisi Jakarta ini mengusung ide kolaborasi juga?
Little Shops of Horror yang di Yokohama itu gue kolaborasi dengan Sonotanotanpenz. Tulisan-tulisan yang gue buat, dibikin jadi musikalisasi oleh mereka. Kalau yang di Jakarta, kolab sama Ken Jenie dan Dipha Barus. Gue emang temenan deket sama Ken dan dia tertarik dengan konsep pameran gue. Kalo Dipha kebetulan sih, pas ngobrol dia tertarik dan pengen bikin sesuatu yang lain.

Gue sempet liat teaser pameran elo di Footurama. Ada banyak muncul boneka bayi dan tubuh bayi yang dipotong-potong. Apa-apaan nih?
Untuk pameran yang di Jakarta, karena gue berkolaborasi dengan Footurama, gue mencoba mengkontekskan ulang kalo di Indonesia horornya itu bagaimana. Jadi gue mau bikin toko di dalam toko tapi juga ada performance-nya dan topiknya itu tentang kanibalisme. Makanya gue bikin namanya 'makan mayit' dan bentuk parodi dari free-form publication jadi "Fresh flesh feast".

Ide kanibalisme datang dari mana?
Pas gue ngobrol sama temen wartawan yang pernah wawancara Sumanto. Terus Sumanto sekarang udah bebas. Terus gue jadi tertarik ngomongin itu. Gue pernah buat karya dengan boneka bayi beberapa waktu lalu, baru sekarang coba pake lagi. Karena di sini gue bikin cerita fiksi tentang toko daging bayi yang men-support panti asuhan yang diasuh oleh suster.


Gue berusaha mempertanyakan apakah sifat kanibal itu dimiliki oleh semua orang. Karena pas kita masih bayi menyusui, itu juga terhitung minum darah. Kalo zaman sekarang, bayi baru lahir, ari-arinya disimpen di cord blood bank, kalo misalnya sakit tinggal dimakan buat menyembuhkan.

Kenapa topik segila ini yang elo pilih?
Gue pengen ngetes orang-orang yang daftar dinner gue. [Gue penasaran] mereka akan berdiskusi tentang apa.

Jadi ini semacem eksperimen sosial?
Iya.