Iklan
Pesta Pernikahan

Kenapa Sih Anak Muda Indonesia Bersedia Terbebani Resepsi Pernikahan Mahal?

Jangan syok ketika tahu ongkos resepsi di Indonesia tidak berbeda dari AS. Jadi, kami bertanya pada pasangan sudah dan hendak menikah. Apa memang semua pengeluaran itu sepadan?

oleh Syarafina Vidyadhana
22 Januari 2017, 4:13am

Foto via Indi dan Rani Soemardjan (Flickr)

Saya membahas topik yang sebetulnya semua orang juga paham, kecuali mereka yang masih terjebak impian-impian romantis tak berdasar: pernikahan itu rumit dan mahal. Celakanya, menjaga biduk pernikahan bukan perkara gampang— membaca sebanyak apapun buku panduan engga akan membantu.

Sepanjang 2010-2015, di Indonesia angka perceraian melonjak 15 persen secara nasional. Pemerintah menyatakan sekurang-kurangnya terjadi 40 perceraian setiap jam di Indonesia. 

Saya jadi teringat anekdot tolol yang pernah diucapkan salah satu kawan. "Jika kau datang ke pesta pernikahan prasmanan, sikat dulu semua makanan enak, baru salami mempelai. Sebab, seburuk-buruknya, pernikahan mereka bertahan setahun, sementara makanan pesta tak sampai hitungan jam."

Suram betul. Saya jadi bertanya-tanya apa monogami adalah hubungan alamiah bagi manusia. Jika risiko yang dihadapi sedemikian besar, ngapain coba kita dari zaman baheula sampai sekarang menjaga tradisi menghambur-hamburkan uang untuk pesta pernikahan (ada situs menyatakan biaya minimal bikin resepsi pernikahan di Jakarta tahun lalu mencapai Rp116 juta, Ya Rabb...).

Calon pengantin pria dan wanita, tentu dengan intervensi keluarga masing-masing, bisa tersibukkan oleh jutaan hal selama beberapa bulan menjelang pernikahan: susunan panitia, venue, dekor, katering, suvenir, seragam, undangan—jangan lupa, tamu VIP wajib diprioritaskan melewati antrean salaman ya! 

Di Amerika Serikat, sebagai perbandingan, pesta sudah dianggap besar kalau si empunya hajat mengundang 120 orang. Di Indonesia, jumlah segitu sedikit banget. Jangan heran kalau rerata ongkos menggelar pesta pernikahan di Indonesia dan AS tidak jauh berbeda.

Meski, harus saya akui, menggelar pesta pernikahan kayaknya membawa manfaat tersendiri. Kita menerima banyak amplop (yang semoga berisi duit), bikin mantan menyesal, dan melegakan hati orang tua. Bonus: akhirnya hidup seorang perempuan dan laki-laki dianggap sempurna oleh masyarakat patriarkis! #blessed :)

Tapi kembali lagi, apa sebetulnya mungkin kita di Indonesia mengadakan pesta pernikahan bebas-pusing? Saya menemui empat orang yang sudah menikah maupun yang sedang sibuk menjelang resepsi. Saya bertanya pada mereka, seperti apa rasanya mempersiapkan pesta masing-masing? Ada engga sih, kawinan paket hemat? Dan, tentunya, apakah semua uang yang dihamburkan sepadan?

Inilah jawaban mereka:

Teo Minaroy, 30, Guru

VICE Indonesia: Hai, Teo. Kamu sedang proses persiapan pesta pernikahan ya? 
Teo Minaroy:
 Iya, rencananya kami akan menikah Oktober 2017. Sebelumnya kami sudah pacaran empat tahun.

Boleh ceritakan konsep pesta pernikahan kalian? 
Kita sudah sepakat mau bikin acara yang sederhana saja, isinya keluarga dan teman-teman yang sudah dianggap keluarga. Gue menganut agama Katolik, tunangan gue Kristen—serupa tapi tak sama. Kami akan mengadakan upacara pernikahan di Kapel Kanisius. Kami mengundang sekitar 300 orang, tapi paling yang datang 200. Biasalah, habis upacara bagi-bagi nasi boks. Malam harinya, kami akan mengadakan makan-makan di restoran. Paling hanya mengundang sekitar 100 orang.

Engga pakai acara adat?
Kami keturunan Tionghoa. Gue sudah generasi kelima atau keenam. Pasangan gue dan orang tua engga mewajibkan ada upacara minum teh, tapi malah gue yang kepengin. Mumpung Oma masih ada. Dan ini kan bentuk rasa hormat gue buat orang tua.

Bikin pesta kayak begitu berapa bujetnya? 
Ya, Rp70-an juta. Mentok-mentok kalau mau aman Rp100 juta lah.

Pakai Wedding Organizer atau engga? Mana lebih hemat menurutmu?
Pasangan gue maunya pakai WO. Kalau gue lebih prefer pakai panitia, teman-teman sendiri. Kita kan di kampus sering ngadain acara. Banyak kemudahan kalau memberdayakan teman-teman sendiri. Fotografer gue juga pakai teman sendiri. Dia bilang proses sampai jadinya lebih lama. Ya santai lah, gue kan engga ngeliatin album foto kawinan tiap hari juga.

Jadi, menurutmu apa sih tujuan menggelar pesta pernikahan yang butuh biaya tidak sedikit?
Untuk menghindari fitnah. Elo sebarin deh berita ini ke sebanyak-banyaknya orang, tapi undang seperlunya saja. Kompor tuh mahal lho, daripada bikin resepsi besar mending beli kompor. Bikin acara kecil tapi intim.


Chaulla Jawwas, 24, Wiraswasta


Chaulla! Kapan nikah? 
Chaulla Jawwas: 10 hari lagi nih.

OMG. Deg-degan engga? 
Mungkin bukan degdegan, ya. Cuma pengin buru-buru kelar saja, biar lega. Lagipula, semakin lama prosesnya, semakin ditunda, nanti semakin mikir-mikir. Sunnahnya kalau sudah dipinang ya secepat mungkin gelar akad.

Ceritain dong, tentang rencana pernikahanmu. 
Persiapannya sejak Juli tahun lalu. Aku dikasih pilihan orang tua mau di balai-balai gitu atau di hotel tapi tamunya lebih sedikit. Ya aku pilih di hotel supaya engga terlalu ramai. Aku dan pasangan sama-sama Arab, jadi konsepnya sendiri sangat islami dan lebih ke Arab juga. Nanti akad nikahnya aku engga hadir. Jadi cowok-cowok saja, baru setelah ijab qabul baru ketemu. Ballroom dibagi dua: perempuan dan laki-laki. Tapi makannya doang sih yang dipisah. Salaman sama fotonya bareng-bareng, kan pelaminannya hanya satu.

Bagaimana dengan bujetnya?
Untuk konsep pernikahanku Rp200 jutaan, karena ada empat acara, malam pacar, akad nikah, resepsi, dan ngunduh mantu.

Pesta sebesar itu memang keinginanmu atau kemauan orang tua?
Dulu aku suka banget fairy tale, lighting, dll. Btw, acara ini [resepsi] yang bikin keluargaku saja, kalau keluarga lakiku minggu depannya. Jadi total ada empat acara. Aku menyebar 400-an undangan. Sudah mending banyak acara tapi intim dan berasa. Kalau acara akad aku undang 500-an orang. Soalnya kalau akad lebih sakral jadi yang mau datang banyak. Apalagi laki-laki, kan dapat pahala kalau menghandiri pernikahan. Yang tepenting adalah pasangan di sebelahnya bukan pestanya.

Kalau datang ke acara akad mulu, dosa gue ilang kali ya?
Engga tahu juga hahahahaha.

Anggi Miranda Tanjung, 24, dokter

Hai, Anggi. Kamu sudah menikah ya?
Hai. Aku menikah tahun lalu, saat itu aku berumur 23 tahun.

Boleh ceritakan persiapan pernikahanmu dulu?
Aku dan pasanganku Alhamdulillah menganut agama yang sama. Tapi, kami berasal dari daerah berbeda. Aku keturunan Sumatra Utara, suamiku asli Sunda. Pesta pernikahan kami bertema nasional with a little touch of acara adat. Sebenarnya aku kepengin banget pakai adat daerah asalku, Sumatra Utara. Tapi, karena daerah asalku itu termasuk pesisir, engga ada sanggar yang bisa menfasilitasi. Yasudah deh, akhirnya kita ambil tema nasional saja dengan sentuhan adat sedikit di aksesoris, baju, dan dekorasi.

Berapa banyak jumlah pesta atau upacara yang kamu lalui?
Pestaku diadakan dua kali. Sekali pas akad di rumah, lalu besoknya dilanjutkan dengan resepsi di gedung. Acara akad digabung dengan acara adat, jadi lebih ringkas dan engga repot.

Kira-kira berapa jumlah tamu yang diundang?
Kami menyebar 1.000 undangan, jadi jumlahnya tamunya 2.000 orang.

Pegal engga, harus menyalami segitu banyak orang?
Engga berasa sih, paling baru berasa pegal pas setelahnya. Hihi.

Berapa range bujet yang dibutuhkan untuk pesta pernikahan seperti yang kamu bikin?
Untuk tamu segitu, range bujetnya Rp200-400 juta. Tapi bujet tergantung pintar-pintarnya kita memilih konsep dan vendor. Kalau mau terima bagus dan engga capek-capek mikir, kita perlu mengeluarkan bujet lebih. Tapi kalau kita mau mengurus semuanya sendiri dan rela capek sedikit, we can cut budgets. Jadi semuanya tergantung pilihan kita, sih.

Dalam proses persiapan, momen atau hal apa yang bikin pusing?
Alhamdulillah, engga ada momen yang sampai bikin aku stres. Paling hanya berantem-berantem kecil sama pasangan dan Mama [tertawa]. Alasannya mungkin mirip dengan calon pengantin lain, yaitu perbedaan selera dan pendapat.

Apa hal penting yang kamu pelajari dari pesta pernikahanmu?
Menikah itu sebenarnya gampang dan murah, yang sulit dan mahal itu gengsinya.


Teddy W. Kusuma, 36, Pemilik Toko Buku POST

Hai Teddy. Kamu sudah menikah ya. Bisa diceritakan prosesnya?
Teddy: Kami menikah 2013. Saat itu saya berusia 32 tahun dan pasangan saya 28 tahun. Saya dan pasangan menganut agama berbeda. Agama saya di KTP Hindu, pasangan saya di KTP Katolik. Kami juga berasal dari suku berbeda—saya asli Bali, pasangan saya Tionghoa. Kami kepengin mengadakan pernikahan yang kami sukai, yaitu tanpa mengubah agama satu sama lain. Saat itu kami dibantu Yayasan Indonesia Bahagia. Kami mengadakan tiga pesta. Yang pertama, di sebuah halaman belakang restoran di Kemang. Di situ kami menandatangani dokumen catatan sipil, setelah mengucapkan janji pernikahan yang kami buat sendiri. Pada acara itu kami hanya mengundang keluarga inti dan 10 teman terdekat masing-masing. Kita makan-makan, dansa, minum-minum. Yang kedua adalah upacara minum teh, sederhana juga. Hanya mengundang dua pihak keluarga. Acara ketiga di Pura keluarga di Denpasar, juga sederhana dan santai. Normalnya dua hari upacaranya, tapi acara kami cuma setengah hari. Total bujet tiga pesta itu sekitar Rp70-100 juta.

Dengan konsep seringkas itu, masih ada kompromi?
Meski saya yakin orangtua kami ingin kami berbahagia, menikah beda agama adalah hal baru bagi keluarga kami. Jadi itu suatu bentuk kompromi juga dari orangtua. Di samping itu, kalau saya betul-betul ditanya, inginnya bikin satu pesta pernikahan saja. Tapi kemudian karena menghormati dan rasa sayang pada orang tua masing-masing, kami melakukan upacara adat. Ngomong-ngomong, pada upacara minum teh adat Tionghoa ketika saya kasih teh untuk nenek dan orangtua Maesy itu sangat mengharukan, dan it comes with respect karena mereka mau menerimaku dan perbedaan kami. Selain itu, ibuku membelaku di pertemuan keluarga besar Bali karena aku mau acara yang lebih simpel. Sedangkan Bali kan banyak upacara adatnya. Ibuku sangat memudahkan hal-hal bagi kami.

Sedih juga ya, di Indonesia pasangan beda agama kayak kalian jalannya lebih panjang biar bisa menikah, boro-boro bikin resepsi.
Untung ada Yayasan Indonesia Bahagia. Kalau dipikir-pikir hal yang bikin kesal hanya [sulit menikah beda agama]. Selain urusan itu, pesta pernikahan kami sangat menyenangkan, tidak ada stress atau drama. Semuanya santai, dilakukan dengan gembira. Dari keputusan untuk menikah hingga diresmikan menikah, prosesnya hanya lima minggu. Simpel banget deh. Meski begitu, saya sempat khawatir Maesy kaget atau overwhelmed dengan hal-hal di Bali. Misalnya, aksesoris pernikahan Bali yang berat, dan dia ada asma. Eh tapi dia senang-senang saja tuh. Contoh lain, ada kerabat jauh yang meminta kami menjulurkan lidah lalu disentuh dengan jari membuat tanda rajah. Niatnya untuk mencegah hal buruk terjadi. Lidah kan organ privat, tapi Maesy engga merasa aneh, karena kami tahu kerabat ini datang dengan niat baik. Jadi ya, semua dibawa santai. Oleh sebab itu pesta pernikahan kami sangat berkesan.

Pernah khawatir jadi bahan omongan karena tamu pestamu engga ada seujung kuku dari resepsi yang mengundang 1.000 tamu?
Engga khawatir. Karena pesta pernikahan ini untuk keluarga inti saja dan lingkaran pertemanan terdekatku memang kecil banget. Kerabat dan teman di luar lingkaran itu kayaknya bisa mengerti. Selain itu, lingkaran yang lebih besar kami undang untuk acara di Bali. Dan karena untuk datang harus beli tiket dan segala macamnya, yang akhirnya hadir ke bali ya mereka yang cukup dekat juga. [Tertawa]

Tagged:
indonesia
Perceraian
Ekonomi
Ongkos Pernikahan
Tradisi
Masalah Sosial