Perempuan Independen

Potret Perempuan Mandiri India Bersiasat Atasi Bahaya Saat Berpergian Sendiri

Di India, perempuan keluar rumah tanpa teman berisiko jadi korban kejahatan. Tapi mereka punya trik melawan siapapun yang berniat melecehkan dan membahayakan nyawa.

oleh Maansi Jain
05 Februari 2019, 9:55am

Semua foto oleh Maansi Jain 

Hal sepele macam bepergian sendiri, bagi perempuan di India, kadang bisa jadi perkara hidup mati. "Saya sedang susah payah berdiri tegak supaya enggak jatuh ketika perempuan di depanku nyeletuk, ‘Bisa geser dikit, gak? Kamu bikin saya risih.’ Saya menengok dan menatap matanya. Mau geser ke mana lagi! Saya juga enggak sengaja nyender ke dia kali. Keretanya sudah penuh banget."

Sushmita*, asisten di salah satu galeri seni Mumbai, menceritakan pengalamannya naik kereta menuju distrik seni di pusat kota Mumbai setiap pagi. Dia selalu menaiki gerbong perempuan yang ditandai panah merah muda dan tulisan "Gerbong Khusus Wanita." Meskipun kereta termasuk transportasi umum, sebagian orang di gerbong ini merasa miliknya sendiri. Sambil tertawa, Sushmita mengenang momen saat ada orang yang digigit karena enggak kasih jalan buat yang mau keluar.

Perempuan di India bisa memilih angkutan umum apa saja saat bepergian, baik itu kereta, bajaj, bus kota, maupun taksi online Ola dan Uber yang lebih murah daripada taksi konvensional. Namun, ada ancaman pelecehan seksual yang menunggu ketika mereka pergi sendirian (perempuan 23 tahun Jyoti Singh tewas setelah diperkosa sekelompok laki-laki di bus Delhi). Geram dengan banyaknya kasus kekerasan seksual di India, aplikasi keamanan pribadi pun diluncurkan. Ancaman bahaya ini tak menghentikan ribuan perempuan—baik warga maupun turis—melintasi jalanan India.

Shreya dan Anvesha, sepasang kakak-beradik yang masih berusia 20-an, memberitahuku bagaimana rasanya hidup di Mumbai dan Delhi. Mereka pergi kerja sendiri dengan percaya diri sekaligus hati-hati agar “terhindar dari bahaya” saat ada di luar rumah.

“Kami pilih angkutan yang lebih aman," kata Shreya, "saya biasanya naik bajaj saat bepergian jauh. Mending naik taksi kalau pulang malam. Saya juga meng-SMS kode taksinya ke orang tua atau teman."

Dia terkadang lebih pilih menginap di rumah teman daripada harus naik angkutan umum di malam hari.

riding-solo-women-travelers-in-india-body-image-1456228720

Beberapa perempuan yang harus bepergian malam berkumpul di halte tengah kota Mumbai.

Tak ada nada kesal di suara mereka ketika bilang kalau teman cowoknya enggak perlu mengkhawatirkan keselamatan mereka setiap pergi hingga larut malam. “Mereka enggak pernah repot-repot memikirkannya, tentu saja. Bisa dibilang lebih aman untuk cowok.” Teman-teman cowok ini sering mengantar mereka sampai rumah sehabis nongkrong malam-malam. “Orang tua enggak mengizinkan kami pulang sendiri pas tengah malam. Enggak aman. Bukan ide bagus,” kata Anvesha.

Ketika ditanya apakah mereka sering bepergian sendiri di India, Shreya menjawab: “Kami baru pergi sendiri kalau memang harus. Misalnya, kamu mau ke luar kota tapi enggak ada yang bisa menemani, makanya kamu pergi sendiri.” Mereka melakukannya saat perlu saja, seperti Anvesha yang tidak mengindahkan nasehat orang tuanya dan nekat tes wawancara masuk kuliah di Bombay. Dia 20 tahun saat itu, dan pergi tanpa sepengetahuan mereka. Orang tuanya ternyata tak marah saat dia pulang ke Delhi. Anvesha tampaknya bingung menyaksikan reaksi di luar perkiraannya itu.

riding-solo-women-travelers-in-india-body-image-1456229490

Penumpan kereta di India belum tentu aman dari risiko pelecehan.

Saya bertemu Erica di sebuah hostel di Bangalore. Perempuan Kanada ini sudah beberapa bulan jadi backpacker usai putus dengan pasangannya setelah empat tahun pacaran. Tantangan terbesar yang dia hadapi sebagai traveler perempuan sangat berputar pada kemandiriannya.

"Saya enggak sadar kalau selama ini saya terlalu khawatir soal keselamatan. Saya enggak percaya siapa pun beberapa minggu terakhir. Laki-laki yang saya temui dari couch surfing menyuruhku menyewa motor, dan malah saya yang bayar. Saya penasaran dia ngambil uangnya atau enggak. Saya baru sadar kalau saya enggak gampang percaya. [Saya penasaran] kira-kira orang lain pada jahat sama saya atau enggak, terutama laki-laki."

"Enggak ada yang mau jadi parnoan," imbuhnya, "tapi banyak hal buruk yang terjadi pada perempuan ketika mereka pergi sendirian."

Selama seminggu terakhir, dia sedang mempertimbangkan antara pergi ke Mysore atau enggak. Tahun lalu, dia banyak menghabiskan waktu di sana untuk belajar yoga ashtanga. "Saya lagi sakit dan lelah belakangan ini, jadinya saya mengandalkan orang lain. Pergi sendirian itu mitos, karena kamu enggak pernah sendirian. Atau setidaknya enggak perlu sendirian."

riding-solo-women-travelers-in-india-body-image-1456229427

Tiga perempuan yang tak saling mengenal berjalan bersama di trotoar kawasan Mysore, Karnataka.

Di kereta rute Bangalore-Nagpur, saya ngobrol bareng Kajal*. Dia mengaku ini pertama kalinya naik kereta sendirian karena ada masalah keluarga. Dia seharusnya ada di beberapa ruangan dari sini, tapi dia menghabiskan sebagian besar perjalanan 24 jamnya di ruangan perempuan enggak resmi kami. Dia merasa lebih aman kalau ada di sekeliling perempuan.

Dia menjelaskan kegelisahannya duduk dekat laki-laki di kompartemen kami saat ada di sleeper class. "Laki-laki mabuk bakalan masuk, rebahan di depanmu, dan duduk sangat berdekatan. Kamu sering melihat mereka, berdiri di depan pintu kamar kecil dan mengganggu orang yang lewat."

Menurut Kajal, naik pesawat jauh lebih aman daripada naik kereta sendirian di India. "Di negara ini, baik laki-laki, perempuan, remaja atau anak-anak, setiap orang punya masalah dengan pergi sendiri [naik kereta]. Bakalan ada keributan kalau kamu ngomong dengan nada mengejek. Itulah mengapa ada nomor darurat yang bisa kamu hubungi kalau kena masalah."

riding-solo-women-travelers-in-india-body-image-1456229559

Karishma berusaha tidur di sela perjalanan kereta rute Bangalore to Nagpur.

Kajal pernah hampir disentuh laki-laki dari bawah koran ketika naik kereta. Dia meneriakinya, "Duduk yang benar! Jangan macam-macam!"

Lelaki itu berhenti karena malu. Terlepas dari pengalaman buruknya, dia berpendapat bahwa enggak ada yang perlu ditakuti di angkutan umum. "Kamu enggak boleh takut. Kalau ada yang duduk terlalu dekat, langsung protes saja. Laki-laki enggak akan ngomong apa pun ke laki-laki lainnya. Jadi kamu harus mempermalukannya di depan umum supaya mereka berhenti."

Kami satu ruangan dengan perempuan tua bernama Karishma*. Sebagai kepala keluarga, anak cucunya, yang memesankan tiketnya, menelepon Karishma beberapa jam sekali selama perjalanan. "Keluargaku selalu menelepon untuk tanya kabarku," katanya bangga. "Mereka beli tiket di internet. Mereka jago banget main internet."

Dia bilang kalau anaknya kepingin membelikan tiket pesawat, tapi dia menolak. “Harga tiketnya 8.000 rupee (Rp1,5 juta). Anak-anakku sudah bekerja keras, dan saya enggak mau menghamburkan uang mereka. Perjalananku enggak mendesak, jadi mending naik kereta selama dua hari. Lagipula hal penting apa sih yang harus kukerjakan?” Dalam gerbong perempuan mereka, Karishma dan Kajal menghabiskan sebagian besar waktunya menatap ke luar jendela, menyaksikan pemandangan indah yang berlalu.

*Beberapa nama narasumber artikel ini diubah untuk melindungi privasinya

riding-solo-women-travelers-in-india-body-image-1456229691

Perjalanan 26 jam naik kereta kadang membahayakan perempuan yang bepergian sendiri.

riding-solo-women-travelers-in-india-body-image-1456229851

Seorang perempuan berjalan sendirian di kawasan Mysore sembari memegangi dompet.

riding-solo-women-travelers-in-india-body-image-1456229674

Perempuan sepuh tidur di bangku dekat Stasiun Mysore Kota Karnataka.

riding-solo-women-travelers-in-india-body-image-1456229935

Perempuan yang hendak pulang naik bus di Mysore.

riding-solo-women-travelers-in-india-body-image-1456230400

Perempuan yang pulang sendirian di India harus rajin bersiasat.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.