Opera Sabun Jadi Senjata Menghentikan Praktik Sunat Perempuan
Culture

Opera Sabun Jadi Senjata Menghentikan Praktik Sunat Perempuan

Sebuah tim peneliti asal swedia kemungkinan berhasil menemukan solusi menghentikan tradisi barbar terhadap perempuan ini, melalui uji coba di Sudan.
25 Oktober 2016, 2:15am

Artikel ini sebelumnya muncul di Broadly

Praktik sunat perempuan masih populer dan tersebar luas. Usaha menghapus praktik itu sebagian besar tidak berhasil. Salah satu pendekatan baru dari Swedia berusaha mengubah kebiasan ini.

Sunat perempuan adalah praktik yang sangat-sangat merusak. Sunat perempuan berarti pemotongan sebagian atau seluruh bagian luar alat kelamin anak perempuan atau gadis tanpa ada alasan medis. Praktik ini masih dilakukan di pelbagai penjuru dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada lebih dari 200 juta gadis dan perempuan yang terpaksa menjalani ritus sunat.

Pemerintah beberapa negara dan pelbagai organisasi berusaha mendorong komunitas-komunitas di Afrika, Timur Tengah, dan Asia untuk meninggalkan praktik sunat perempuan. Namun, usaha ini belum berhasil. Persoalannya, sunat perempuan adalah sebuah ritus yang terlanjur mengakar dalam kepercayaan tradisional tentang kesucian, kebersihan, dan kepantasan perempuan sebelum dinikahi. Alhasil, mengkritik pelaksanaan sunat perempuan adalah sebuah hal yang sensitif, lagi tidak begitu efektif.

Namun, sebuah tim peneliti dari Swedia tampaknya sudah menemukan sebuah solusi inovatif memerangi praktik sunat perempuan dalam bentuk sebuah tayangan opera sabun. Sonja Vogt dan Charles Efferson, yang bekerja untuk Badan Pemerhati Anak Dunia (UNICEF), telah menciptakan tiga "film bergaya telenovela" yang disiarkan secara acak ke beberapa keluarga di Sudan, negara yang menurut PBB memiliki 87 persen perempuan berumur 15-49 tahun yang pernah disunat.

Tiga serangkai film ini sengaja dibuat untuk memicu sikap yang saling bertentangan menyangkut pandangan terhadap sunat perempuan yang berkembang dalam masyarakat, tanpa berusaha menjadi polisi moral. Dengan kata lain, film-film ini dibuat demi memicu diskusi. Seperti yang dikutip di Nature Journal, "Rangkaian film pendek itu memperbaiki pandangan seseorang terhadap gadis-gadis yang tak pernah disunat dan salah satu film malah memiliki efek yang langgeng."

Penduduk desa menonton sinetron khusus. Foto oleh Amy Elhadi

Tiga film ini begitu efektif justru karena film-film tak sekadar bicara tentang sunat perempuan. Di dalam pelbagai plot dalam seri film tersebut, anda bisa menemukan cerita tentang rasa sakit hati seorang kakek yang menduda, seorang anak muda dengan ambisi musik yang besar, dan itu belum ditambah intrik-intrik pencurian dan penipuan antar karakter. Diskusi tentang sunat perempuan dengan halus ditambahkan dalam cerita-cerita yang variatif dan menggugah.

Tiap film ini berfokus pada kehidupan sehari-hari sebuah keluarga pedesaan Sudan, termasuk di dalamnya perbincangan-perbincangan yang kerap terjadi dalam komunitas mereka. Salah satunya, efek dari disunat atau tidak terhadap prospek pernikahan seorang perempuan.

Seperti yang ditulis dalam sebuah makalah riset, film-film ini "tidak melulu menyuguhkan argumen yang mendukung penghentian prakter sunat perempuan tanpa mengasosiasikan dukungan terhadap sunat perempuan sebagai suatu yang negatif".

Malah, ketiga film ini mendramatisasi proses menyunat anak perempuan sebagai sebuah keputusan pelik yang harus diambil orangtua. Para orang tua itu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya - di tengah masyarakat yang masih melazimkan sunat perempuan - meski sebetulnya mereka tidak ingin memaksakan sunat pada sang anak.

Film-film itu rata-rata berdurasi 90 menit , menyuguhkan obrolan antara para suami dan para istri tentang praktik sunat perempuan. Dengan begitu, film ini merupakan sebuah "Inovasi yang penting di Sudan," di mana orang susah membicarakan sunat perempuan secara terbuka ketika perempuan dan laki-laki duduk bersama. Film ini diakhiri sebuah adegan yang melibatkan kakek dalam keluarga itu.

Ketika keluarga itu bicara dengan sang kakek, dia akhirnya merestui keputusan mereka meninggalkan praktik sunat perempuan. Dia menduga mendiang istrinya pun akan menyetujui usulan ini. Lebih jauh, sang kakek juga menganalogikan sunat perempuan dengan praktik melukai wajah, yang dulu lazim di Sudan namun sekarang sudah jarang dilakukan. Reaksi sang kakek inilah yang meneguhkan keputusan keluarga ini untuk meninggalkan praktik sunat perempuan. Beginilah cara film ini menunjukkan pelibatan baik generasi muda maupun generasi tua dalam diskusi tentang sunat perempuan.

Tim asal Swedia ini bekerja sama dengan penulis naskah asal Sudan, Waleed Omer Babikir Alalf. Peneliti Sonja Vogt, yang mempelajari penerapan norma sosial dalam masyarakat, sudah akrab dengan karya Alalf. "Saya pernah menonton teater yang naskahnya dia tulis," ujar Vogt. "Ceritanya tentang pemerkosaan: apa yang dirasakan korban pemerkosaan ketika keluarganya menyalahkannya? Spesialisasi Alalf adalah masalah-masalah yang sensitif."

Charles Efferson, seorang ahli biologi populasi, berpendapat telenovela ini harus bisa menyeimbangkan unsur hiburan dan pendidikan di dalamnya, sembari tetap berfungsi sebagai sarana penelitian dengan cakupan yang luas. "Kami menyebut salah satu dari tiga film tentang sunat perempuan ini 'film nilai'," ujar Efferson. "Karena fokusnya pada pertanyaan tentang nilai-nilai personal: Apakah saya harus menyunat anak perempuan saya agar bisa jadi muslim yang soleh? Apa risiko kesehatan dari sunat perempuan?

Menurut Sonja, film-film ini adalah "pendekatan yang lebih halus" untuk bicara tentang sunat perempuan, sebuah topik yang sangat sensitif. Film ini bukan untuk memaksakan kepercayaan budaya Sonja. Sebaliknya, film ini berusaha melecut perbincangan antara mereka yang mulai meragukan sunat perempuan. "Jika sudah ada perbedaan pendapat, jika ada penduduk setempat yang tak lagi menjunjung tradisi, biarkan saja mereka memulai diskusi dari dalam."

Dalam usaha menghentikan praktik sunat perempuan, mengandalkan dukungan dari penduduk setempat adalah unsur paling penting. Para peneliti ini melatih tim terdiri dari tenaga lokal asli Sudan sebagai pengumpul data. "Ada sekitar 100 penduduk Sudan yang menolong kami dengan urusan logistik—'apakah musim hujan akan segera mulai?' 'Bagaimana caranya mencapai komunitas terpencil ini?' penelitian semacam ini bukan suatu yang lumrah di Sudan, jadi ini jelas sebuah tantangan bagi semua orang."

Penduduk Sudan tengah bekerja di proyek film. Foto oleh Amy Elhadi

Anggota komunitas yang menonton film-film ini akan dilindungi identitas dan privasinya. Mereka kemudian diundang memberikan skor sikap mereka terhadap perempuan yang tak disunat setelah menonton film ini. Lewat penilaian inilah, para periset bisa mengukur efektivitas film-film tersebut. Sejauh ini, hasil awal proyek ini sangat menggembirakan dengan adanya "peningkatan sikap positif terhadap perempuan yang tidak disunat yang signifikan."

"Kenyataan bahwa film selama 27 menit itu menghasilkan sebuah efek yang bisa diukur dan hasilnya sangat signifikan selama minggu penayangan... Menurut saya sangat menggembirakan," kata Charles. "Ini menunjukkan bahwa film-film itu manjur. Ada banyak riset yang menunjukkan bahwa film dan tayangan TV bisa memiliki efek kuat pada cara orang melihat kesetaraan gender, jadi kami harap film bisa mengikuti jejak riset-riset tersebut."

"Anda tidak harus masuk ke sebuah komunitas dan berasumsi bahwa orang perlu dididik atau mereka tak mengerti," tambahnya. "Anda cukup menangkap perbedaan opini yang sudah ada dalam masyarakat, memamerkannya dan mendramatisasinya, hingga orang bisa mengidentifikasi diri mereka dalam proses pengambilan keputusan... dan pada akhirnya mendukung ide penghapusan sunat perempuan."