Berbincang dengan Sutradara Ziarah Membahas Kematian, Perang, dan Tanah

Debut film panjang sutradara kenamaan BW Purba Negara menawarkan renungan tentang sejarah gelap Indonesia serta kisah cinta dari sudut pandang tak biasa.

|
11 November 2016, 2:45am

Mbah Sri menziarahi kubur suaminya. Foto dari arsip BW Purba Negara.

Sutradara Indonesia ternama, BW Purba Negara, merilis film panjangnya yang pertama berjudul Ziarah. Kisahnya indah sekaligus rumit. Ziarah menceritakan perjalanan Mbah Sri, seorang wanita sepuh menelusuri kota-kota di Jawa Tengah, dalam upaya menemukan makam suaminya yang hilang.

Film ini membahas hubungan Indonesia dengan sejarah, masa-masa perang kemerdekaan, pemaknaan atas tanah, dan kematian. BW Purba mengatakan bahwa dia termotivasi membuat film membahas kehidupan dan kematian setelah merenungi kembali pengalamannya sebagai sukarelawan bencana Tsunami Aceh yang mengakibatkan lebih dari 220 ribu orang meninggal atau hilang pada 2004 lalu. Di Aceh, Purba yang saat itu masih muda terpaksa menimbun ratusan mayat tanpa identitas ke sebuah kuburan massal.

Pengalaman itu berdampak bagi Purba. Dia menghabiskan bertahun-tahun merenungkan arti kehidupan dan kematian sebelum akhirnya membawa tema ini ke dalam layar lebar lewat Ziarah.

VICE: Ziarah mengangkat banyak topik. Boleh diceritakan sedikit tentang isu-isu yang ingin diangkat?
Purba: Isu sentralnya adalah sebuah sejarah personal. Film Ziarah bercerita tentang perjalanan Mbah Sri mencari makam suaminya yang hilang pada zaman perang. Tujuan pencarian ini sederhana saja, dia ingin dimakamkan di sebelah makam orang yang paling dicintainya. Bisa dikatakan bahwa ini adalah film tentang cinta, tapi dengan sudut pandang yang tidak biasa.

Saya sengaja memilih karakter yang sangat tua karena dengan cara inilah kita bisa menghadirkan keterhubungan antara masa sekarang dan masa perang. Perang selalu meninggalkan jejak panjang, dan itu penting untuk dibicarakan.

Meskipun sudut pandang sejarah yang saya pakai adalah personal history, namun cerita pencarian yang dilakukan oleh mbah Sri ini membuka kesempatan untuk membicarakan berbagai hal penting dalam rentang sejarah bangsa ini. Bagi Mbah Sri, perjalanannya mencari makam sang suami ini tidak sekadar menjadi perjalanan menyusuri sejarah cintanya, tapi juga menyusuri luka-luka sejarah bangsa ini. Ketika pada akhirnya perjalanannya ini berujung pada temuan fakta yang begitu menyakitkan, mbah Sri menyadari bahwa salah satu ujian terberat manusia adalah sejarah. Tidak ada sejarah yang tidak berdarah dan bebas dari luka. Dengan membicarakan luka-luka ini, kita bisa menemukan cara untuk memaknainya.

Saya yakin kita harus belajar dari sejarah. Tetapi bukan sejarah dengan tafsir tunggal versi penguasa. Sejarah itu plural, tidak tunggal. Kita perlu cara-cara pandang lain dalam memandang sejarah. Ziarah dibuat dengan spirit itu.

Bisa ceritakan sedikit proses mendapat ide untuk film Ziarah?
Saya suka berpetualang. Dalam berbagai perjalanan saya, sering sekali muncul hal-hal yang tak terduga. Saya sering bertemu dengan orang-orang lansia yang di usia senjanya masih memiliki tenaga yang luar biasa. Ketika saya mengobrol dengan mereka, banyak sekali cerita menarik yang mereka sampaikan. Dari cerita sederhana soal harga palawija, sampai cerita tentang jaman penjajahan. Orang-orang lansia suka sekali bercerita tentang masa lalu. Dari situlah saya terinspirasi untuk membuat cerita perjalanan yang tokohnya orang tua. Dalam perjalanan itu kita bisa mengeksplorasi berbagai kepingan cerita sejarah. Melalui film Ziarah, saya mencoba mengeksplorasi cara tutur yang khas nusantara.

Anda tidak menggunakan aktor-aktor ternama dalam film ini. Bagaimana anda memilih orang yang tepat untuk memainkan karakter-karakter dalam cerita anda?
Saya ingin Ziarah menjadi ruang ekspresi bagi orang-orang yang tidak pernah mempunyai tempat di media mainstream. Ketika memilih aktor untuk film ini, pertimbangan yang utama adalah otentisitas dan pengalaman hidup, bukan pengalaman akting. Film ini perlu diperankan oleh orang-orang yang benar-benar mengalami masa perang.

Mbah Sri diperankan oleh mbah Ponco Sutiyem, seorang nenek berusia 95 tahun warga kecamatan Ngawen, Gunung Kidul. Pada masa agresi militer Belanda II, suaminya ditangkap oleh Belanda. Pada saat itu, mbah Ponco sedang hamil tua. Rumahnya dihujani mortir dan peluru dan Mbah Ponco harus terus berlari, berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil menghindari kejaran peluru. Untungnya dia selalu menemukan cara untuk menyelamatkan diri. Beberapa potongan pengalaman mbah Ponco ini saya masukkan sebagai bagian dari cerita film ini.

Wah gila. Gimana bisa ketemu Ponco Sutiyem?
Saya keliling ke desa-desa untuk mencari orang-orang lansia yang memungkinkan untuk diajak berakting. Kami pergi dari rumah ke rumah dan berbincang-bincang dengan mereka satu demi satu. Akhirnya kami dipertemukan dengan mbah Ponco Sutiyem. Mbah Ponco secara fisiologis menarik. Ketika melihat kerut-kerut wajah dan postur tubuhnya, orang akan langsung percaya bahwa beliau memang benar-benar mengalami masa perang.

Selain itu, beliau juga sangat komunikatif. Film Ziarah membutuhkan karakter seperti beliau. Beliau sama sekali tidak memiliki pengalaman berakting, tetapi setelah melalui tahap demi tahap latihan yang panjang, akhirnya beliau bisa berakting dengan sangat cemerlang. Dan aktingnya sangat otentik di depan kamera.

Film ini banyak membahas pertentangan cara pandang tradisional dan modern tentang konsep tanah. Kini, kita masih juga melihat sering terjadi protes dipicu sengketa tanah dan penggusuran. Apa yang Mas coba sampaikan dalam film ini?
Saya tidak bisa menjelaskan tentang tata kelola agraria yang dilakukan pemerintah. Tapi yang jelas, hingga saat ini memang banyak sekali persoalan pertanahan yang muncul. Penggusuran di mana-mana. Banyak petani yang tidak berdaya ketika tanahnya dirampas oleh kekuatan-kekuatan penguasa, ataupun kekuatan korporasi besar. Sejak kecil, tidak jauh dari tempat saya tinggal, saya melihat bagaimana petani-petani dipaksa untuk menjual tanahnya dengan harga sangat murah. Mereka mencoba melawan, tapi akhirnya kalah juga. Akhirnya tanah itu sekarang sudah menjadi lapangan golf dan hotel bintang lima.

Cara pandang Jawa agraris menghendaki keadilan dalam hal pengelolaan tanah. Dari sudut pandang ini, tanah harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Hubungan antara manusia dengan tanah menjadi dasar perspektif dalam memandang berbagai hal. Pembicaraan tentang tanah adalah pembicaraan mengenai perasaan-perasaan terdalam dalam hidup.

Dalam perjalanan panjangnya, mbah Sri bertemu dengan orang-orang yang yang tengah berdialog, berjuang, kehilangan dan merindukan bekas tanahnya. Hal itu menimbulkan sebuah sensasi perasaan yang membuat mereka saling terhubung satu sama lain.Obrolan tentang tanah menjadi cara mereka untuk menyiratkan perasaan-perasaan... dan sejarah mereka.

Anda sempat menceritakan tentang beratnya dan memilukannya sejarah Indonesia. Bagaimana Indonesia harus menghadapi persoalan tersebut? Bagaimana itu mempengaruhi kita sekarang?
Sejarah perlu dibongkar dengan tafsir yang tidak tunggal. Kita perlu melihatnya dari banyak perspektif, agar kita bisa benar-benar belajar darinya. Selama ini negara ini masih ragu-ragu untuk menerima versi sejarah yang lain. Menurut saya, itu menghambat kemajuan. Kita gagal belajar dari sejarah. Seharusnya kita lebih terbuka terhadap berbagai perspektif sejarah.

Bagaimana seni dan film berperan dalam bagaimana kita memahami atau mendiskusi isu-isu ini?
Seni (dan juga film) bisa menjadi pemantik bagi munculnya perenungan tentang isu-isu ini. Perenungan adalah awal yang baik untuk munculnya pemahaman yang mendalam.

Film adalah gambaran kisah kehidupan yang mengajarkan kita tentang hidup itu sendiri. Kita perlu banyak mengamati apa yang ada di sekitar kehidupan kita. Banyak mengamati akan membuat kita peka. Peka terhadap berbagai persoalan hidup adalah modal terpenting untuk seorang sutradara.

Dea Karina adalah seorang penulis lepas yang tinggal di Jakarta. Follow dia di akun Twitter-nya.